Author Pov.
Dirgantara memarahi Maara setelah ia pingsan sejam lalu, big D menceramahi dirinya tentang betapa pentingnya makan teratur, menghindari kopi, dan berhenti berpikir buruk tentang little D dan kedua orangtuanya. Semua orang berubah, semua orang berhak bahagia, tidak ada masalah yang tak ada penyelesaiannya termasuk tentang little D yang menjadi sumber pikiran Maara.
Maara memasang tampang lempeng, ia sungguh kesal dimarahi seperti remaja begini, matanya masih berkunang-kunang, perutnya masih perih, kepala masih sangat pusing.
"Pak D please hentikan, aku semakin mual mendengarmu" Maara beranjak turun, dengan sigap Big D membantunya membawa botol infus. Maara mengabaikan pertanyaan hendak kemana dari pria itu, Ia segera menuju westafel kamar mandi ruang rawatnya ini, memuntahkan segala isi perutnya yang kosong. Tiga hari ini ia hanya makan nasi sekali, selebihnya hanya air putih dan beberapa cangkir kopi hitam menemani kesendiriannya, di luar gangguan pria disampingnya ini tentu saja.
Maara tak tahu diluar kamar rawatnya Anita sesenggukan ditemani pria dengan kaki cacat disebelahnya. Sementara little D berdiri angkuh dan cemberut dengan raut khawatir diantara kedua Oma dan opanya. Ada kakek dan Neneknya yang memandang penuh ketidaksetujuan kepada Anita saat Samudra Jillian memeluknya menenangkan. Mereka merasa takjub juga sejak kapan cucunya akrab dengan keluarga ayah biologisnya, tapi mengingat Maara bekerja di perusahaan orang kaya itu, membuat mereka tak terlalu kaget. Maara keterlaluan, pikir Papa Maara.
Sebelum dijemput kesini, Tuan dan Nyonya Jillian datang menemui kedua orangtua Maara dengan seribu kata maaf dan penjelasan bagaimana Anita berakhir melahirkan D kecil seorang diri tanpa suami. Bagaimana parahnya keadaan Sam hingga terkesan lari dari tanggung jawab pasca kecelakaan maut yang menewaskan beberapa orang sekaligus. Dan bagaimana rasa tanggung jawab mereka sekarang setelah Sam dinyatakan pulih. Ya, Samudra sekarang hanya pria cacat karena kaki remuk dan cangkok organ dalam dimana-mana dalam tubuhnya. Meski dalam otak kedua orangtua Maara dan Anita, masih belum bisa menerima penjelasan keluarga Jillian sepenuhnya.
Tentu saja, kalau memang kecelakaan itu terjadi di depan mata Anita kenapa Anita tidak pernah membuka suara, justru berakhir setengah gila. Tidak mungkin Sam tidak melakukan kesalahan terlebih dulu hingga menyakiti Anita begitu dalam seperti beberapa tahun lalu.
Pintu kamar rawat terbuka, Ada Dirgantara memandang tak mengerti seluruh manusia yang ada di depan kamar rawat Maara menelisik ekspresi tiap-tiap orang yang berbeda.
"Jadi ada apa dengan wajah-wajah ini? Apakah little D ingin menemui bunda?" Big D memecah kecanggungan diantara mereka. Little D langsung menerobos dengan gaya cool ke dalam kamar bundanya. Kakak Nenek ingin mengikuti, tapi dicegah oleh Big D.
"Papa Mama Maara" Dirgantara menyalami orangtuanya Maara.
"Saya atasannya Maara, sekaligus kakak dari pria b******k yang disana" Ia menunjuk Sam, sungguh ia bisa membaca raut ketidaksukaan diwajah dua orang paruh baya ini. Tak ada raut tersinggung diwajah pria dengan beberapa bekas luka diwajah tampannya itu. Siapapun akan tau apa yang pernah menimpa Sam hanya dengan melihatnya saja.
"Maara ingin menemui little D dulu setelah apa yang mereka lalui beberapa hari ini, tunggu sebentar saja"
"Mereka keluarga saya" Papa Maara berujar dingin.
"Tentu saja, saya hanya menyampaikan apa yang disampaikan Maara. Disini saya hanya bertindak sebagai atasan Maara, dan saya pamit, saya ada meeting di kantor, sebenarnya papa saya juga" Dirgantara menjaga nada bicaranya, tak ingin terdengar menantang apalagi meremehkan. Ia juga menoleh kearah Paul Jillian yang masih mengenakan jas kerja yang sama dengannya.
"Tapi sepertinya banyak yang harus dihadapi papa saya diusia tuanya ini, Aku pamit Pa, Ma..." Dirgantara berlalu dengan janji kepada dirinya sendiri, akan membawa Maara berobat ke ujung dunia sekalipun asal membuat wanita itu tenang dan bahagia.