Aku tak habis pikir dengan keputusan Anita yang tiba-tiba memilih untuk kembali bersama Samudra, atau Pak D menyebutnya Sam. Kalau aku jadi Anita, aku tidak akan memberi ampun Sam begitu mudahnya. Enak saja, sudah dihamili dan ditinggalkan, kini tiba-tiba datang dengan kaki pincang, badan hampir remuk untuk meminta kembali bersama. Aku kesal sekali mendengar Anita memohon maaf untuk Sam kepada ku.
Aku berada di ruang kerja ku, membaca beberapa file pegawai. Aku perlu memilah mana pegawai yang layak mendapat rekomendasi dan naik jabatan. Tapi sepanjang waktu ini, aku hanya membaca satu file pegawai saja hingga berulang-ulang. Sekali lagiku katakan aku masih kesal, marah, terutama kepada Anita. Belum lagi keinginan Sam mengganti waktu yang terlewati untuk merawat little D jika mereka menikah.
Sungguh aku benci mereka berdua, semudah itu Anita melupakan apa yang telah dia lewati demi Samudra Jillian. Tidak ingatkan ia hampir gila, hampir bunuh diri, bahkan hampir membunuh bayinya gara-gara pria yang kini cacat itu. Aku akhirnya menyerah terhadap file-file itu, memutuskan datang ke kantin kantor dan memesan secangkir kopi pahit. Sepertinya Americano tidak buruk, rasa pahitnya akan membantu tetap dalam orientasi.
Little D bunda kangen, aku menghembuskan nafas berat. Seperti ada yang menyumpal jalan nafasku. Pening merambat melalui mata keseluruh syaraf-syaraf kepala ku. Ngomong-ngomong soal little D, apakah ia bisa dibujuk dengan pergi ke Seaworld? Atau jalan-jalan ke Transmedia seperti keinginannya tempo hari. Ah benar, jam makan siang nanti aku akan menelpon Nyonya Jillian. Sudah 3 hari D tak mau pulang. Sampai-sampai tadi pagi aku berniat membawakan seragam sekolahnya demi agar aku bisa melihat anak itu. Tapi D-ku malah menolak berangkat sekolah. Ia terus mengurung diri di dalam kamar di kediaman Jillian. Haruskah aku mencari psikiater. Maara ingin menangis rasanya saat mengingat wajah hancur dan kecewa D kecil.
"Maara...." Suara bas itu, akhir-akhir ini terlalu familiar, memecah lamunan ku. Aku juga sedang tak ingin peduli ketika pemilik perusahaan memergoki diriku bersantai di kantin seperti ini. Toh dalam ruangan ku, aku tak bisa bekerja sama sekali. Hingga sekretaris ku pun ikut gusar melihat ku hanya termenung mulai pagi tadi.
"Iya... Ada apa Pak D?" Aku menjawab datar karena sedikit enggan. Selalu bersama Big D sepanjang hari menimbulkan perasaan aneh. Pria ini menjemput ku sebelum jam 6 untuk membawa ku bertemu D kecil.
"Americano....?" Dirgantara mengerutkan kening dengan minuman yang kini ku sesap. Sementara aku hanya mengendurkan bahu setelah pertanyaannya. Aku merasa tak bebas untuk bercakap-cakap dengan pria ini. Ada rasa malas dan bosan, juga sedikit rasa tak nyaman, mengingat Dirgantara sang Playboy selalu menatap intens kearah mata ku, jangan lupakan sikapnya yang cerewet sekali, sangat berbeda dengan imej yang selama ini dikenal.
"Kenapa disini?" Pak D melirik arloji mahal di pergelangan tangan besarnya. Jam masih menunjukkan pukul 10.30 untuk seseorang bersantai seperti yang tengah ku lakukan. Mengangkat kedua alis sembari mencebikkan bibir ku sekilas. Mungkin saja aku sudah berlaku tak sopan dengan gestur tak acuh dan terkesan tidak peduli.
Aku yakin Big D pasti merasa bingung, apakah perempuan ini benar-benar terganggu dengannya.
"Maara, kamu marah?" Tentu saja Pak D, hanya batin ku tapinya yang menjawab.
"Ya" bibir ini cuma bisa bilang ya saja.
"Maara" Oh, kenapa Suara big D terdengar semakin seram.
"Pak D please, ini dikantor" suka tidak suka aku wajib mengalah dengan melunakkan suara ku. Dipikir lagi aku akan terkesan sangat keterlaluan kepada atasan jika terus saja mencuekinya.
"Ini kantorku" oke kenapa sekarang big D yang jadi sewot.
"Tapi Pak D..."
"Terserah aku. Mau aku disini bersamamu atau aku akan menyeretmu masuk keruangan ku, Maara" oke, positif aku akan gila sebentar lagi.
"Big D..." Aku masih terus berusaha tenang. Amarahku, kecewaku sudah menumpuk diujung mataku sekarang.
"Maara..." Pak D menggeram tak sabar padaku.
Aku tau aku memang dalam mode menyebalkan karena sepanjang jalan tadi pagi sudah mengacuhkannya. Sekarang pun sama. Dari tatapannya seolah Big D Ingin sekali ini menggigit bibir ku, yang selalu irit bicara tapi terlalu banyak protes kepadanya.
Shittt, umpat ku hanya dalam benaknya. Aku marah pada semua Jillian, tidak mengertikah pria ini, Aku hanya sedang butuh sendiri. Ku seka air mata yang tak mau dikondisikan. Dirgantara meraih ku, memeluk menenangkan. Pria ini pastilah memahami kegusaran yang hari ini tak lagikuat ku tahan.
Putra ku tak mau pulang, adik kua memilih tak mengangkat telpon karena aku tak setuju dengan keputusan Anita yang ingin memaafkan Samudra.
Tentu awalnya aku menolak pelukan yang ternyata sangat hangat ini. Tapi akhirnya aku menutup mata menghadap d**a bidang Dirgantara yang menenangkan. Tak peduli ada mata-mata yang tampak bertanya-tanya dengan interaksi kami yang mungkin saja akan jadi topic panas dunia pergosipan kantor.
"Big D...." Suara ku melemah. Aku menumpukan seluruh bobot tubuhku kepada Dirgantara. meski aku tak tau lagi tubuh besar ini akan menggendong ku kemana. Diiringi guncangan bersama aku yang mendengar big D meneriaki dengan kepanikan yang luar biasa, aku pingsan.