Dirgantara Russell ada dirumah ku pagi ini, saat jarum jam menunjuk angka setengah 7. Aku menawarinya masuk dan dia menginginkan secangkir kopi hitam yang segera ku kabulkan.
Pria Jillian itu mengikuti ku ke dapur, dan duduk sendiri di kursi meja makan tanpa ku persilahkan. ART ku menatap heran sekaligus takjub, ada makhluk berjakun berjas necis menyambangi rumahku.
"Masih adakah kopi hitam mbak Sri?" Aku bertanya pada ARTku dengan suara serak karena terlalu banyak menangisi putraku yang tak mau pulang dari kediaman Russell. ART-ku tersadar dari keterpesonaanya kepada Pak D segera setelah mendengar suaraku. Lalu tangannya mengangsurkan wadah kopi murni ke depanku.
"Apa dia sudah bangun?" Aku mengaduk kopi yang telah ku seduh langsung di depan Pak D. Aku tahu iris pria itu terus menghujamku dengan pandangan sedikit khawatir. Apalagi suaraku dalam mode serak tak bertenaga.
Aku mengambil duduk di sisi Pak D, tepat di kursi yang biasa ditempati D kecil.
"Little D menolak saat mama membujuknya pulang" pria ini sungguh santai saat berucap khas Big D sekali. Seakan itu bukan masalah besar.
Semalam Pak Paul melarangku pulang sendiri dan memaksaku meninggalkan mobil di bagasi rumahnya dengan fasilitas supir yang paling handal yang kini ada di ruang makan rumahku. Sangat handal hingga melajukan mobil mahalnya dengan kecepatan 30km/jam. Sungguh menyebalkan, iya 30km/ jam, ughhff.
"Pak D, aku harus bagaimana?" Aku meletakkan citraku jauh sekali dari aku yang biasanya. Aku butuh penyelesaian. Aku tidak tahu bagaimana Anita di Jogja sekarang, bagaimana mama papa dan Gama jika tahu ayah biologis D telah jelas. Aku menghela nafas berat tak sanggup berspekulasi terlalu dini.
"Kamu tidak ingin mencarikan ayah untuk little D?" Pak D memandangku sekilas dengan senyum miringnya yang begitu tipis, bahkan orang yang tidak jeli tak akan menyadari ia baru saja tersenyum. Lalu pandangannya berangsur kearah jarinya masih menekuni cangkir yang kemudian ia sesap anggun.
"Apa?!" Sinisku, tentu akujadi kesal sekali dengan pertanyaan konyolnya "Jangan gila" sahutku menjawab malas. Pria itu terkekeh, menimbulkan gaung yang sayangnya terlalu unik di pendengaranku.
"Menikah saja denganku, kita akan membesarkan little D bersama. Itu mudah bukan?" Pria itu mengunci tatapanku. Tidak ada seringai nakal seperti biasanya, tidak ada fake smille yang menantang. Hanya tatapan lurus yang mengisyaratkan agar aku mempercayai usulnya yang justru terdengar seperti hendak menambah masalah baru.
Aku berdecak, mengabaikan apapun yang dipikirkan pria itu. Suara bel rumah ditekan-tekan tak sabaran. Menyelamatkanku dari situasi yang tak ku tahu harus bagaimana. Aku bergegas keluar dan membuka pintu tak kalah terburu. Mengingat si tamu sungguh tak sopan bermain bell.
"Mbak....!" Anita memelukku erat, ada isakan tertahan disana. Sementara di belakangnya pria mirip... Oh my God kanapa kakinya, aku jelas saja shock meskipun berusaha tak terusik dengan keadaan pria mirip Pak D itu yang membawa ransel di pundaknya. Dia nampak menyunggingkan senyum tipis kearahku.
"Masuk dulu Nit...." Aku merangkul pundak adikku dan membawanya menuju ruang tamu. Sedangkan pria itu, meluruskan kakinya sebelum duduk tanpa permisi dengan sedikit kesulitan. Apa yang terjadi padanya, aku membatin dan memaklumi sikapnya yang tiba-tiba duduk sebelum ku persilahkan.
"Hay brother...." Suara khas di belakangku itu mulai ku hafal.
"Kau di sini D?" Selain berwajah lebih muda dan berkulit lebih terang, pria yang ku terka adalah ayah kandung little D itu memiliki suara yang lebih nyaring dari pada Big D yang lebih rendah dan ngebas. Ada tatapan heran di mata Jillian muda itu saat tatapannya beralih dari Pak D kearahku.
"Aku sedang berusaha, kalau kau mau tahu" jawab si pria yang tengah bersedekap di sampingku ini, berperan selayaknya tuan rumah berwibawa. Aku tak mau mengartikan apa-apa kalimat yang diutarakan oleh Big D, aku terlalu lelah menghadapinya. Dirgantara Russel sedang kesurupan sepertinya.
"Duduklah my queen..." Pak D berbisik lirih, namun aku tak yakin orang lain tak mendengarnya. Aku membalas bisikan itu tak kalah lirih.
"Bersikaplah seperti orang dewasa sekarang, setidaknya di depan mereka" semoga Dirgantara paham pelototan mataku ini. Sungguh Tak akan bagus jikalau orang dewasa seperti kami harus saling lempar candaan absurd seperti remaja baru gede.
"Its ok" katanya acuh sembari membawa kedua lengannya ke d**a.
"Mbak.... Dia...." Anita sedikit memicing penuh tanda tanya. Ragu-ragu ia tak melanjutkan kalimatnya.
"Kakaknya dan bosku" aku mengendikkan dagu ke arah pria yang ku yakini adalah Ayah biologis little D. Anita menganga tak percaya. Aku tau pasti apa yang dipikirkan adikku kala ia menurunkan bahunya dramatis.
Aku duduk anggun, menata gaun rumahanku sebatas lutut ku agar tak harus menyajikan kakiku secara berlebihan. Dirgantara terus berdiri di sisiku. Entah apa yang terlintas di kepalanya. Tapi aku sekarang benar - benar tak sabar menunggu penjelasan yang harusnya keluar dari mulut dua orang sejoli yang saling berpegangan tangan di depan kami ini.
"Jadi, siapa yang akan terlebih dulu menjelaskan?" Haruskah Mbak bertanya dulu?