Di usia putraku yang ke 3 bulan, aku menghubungi mama melalui Videocall bahwa aku mau mereka menerima putraku. Bukan sebagai bayi Anita tapi sebagai bayiku. Putra yang seharusnya lahir dari rahimku bukan rahim Anita. Mama kaget dan terisak, papa terdiam membisu.
Setelah sekian lama berkubang dengan masalah Anita, mama dan papa mengigat lagi kenyataan yang membelengguku. Kesedihan keluarga kami sebelum Anita memporak porandakan hati kami.
"Maaraku, putri mama. Kamu selalu dewasa menyikapi semua hal nak. Kamu harus yakin, kalau perlu kamu ke Singapura lagi memeriksakan rahim kamu nak" Mamaku sudah meneteskan air matanya.
"Papa yakin, putri papa akan mendapatkan jodohnya kelak, yang menerima Maara dengan kurang dan lebihnya. Papa yakin, akan ada pria yang beruntung memiliki Maara kelak." Papa memandangku menguatkan.
Aku mengakhiri Videocall tersebut dengan ceria. Berusaha melupakan apa yang pernah menimpaku. Mama berusaha tersenyum, membelai wajahku melalui layar ponselnya. Papa menunduk seolah menghindari tatapan mataku yang penuh luka mengingat masa lalu kelamku sendiri.
Dirgantara Mareeta Jillian. Dirgantara artinya angkasa, putraku harus punya hati seluas angkasa. Apalagi suatu saat ia harus mengetahui kenyataan akan kedua orangtuanya. Dia harus punya kesabaran selapang angkasa. Jillian artinya, ah... Itu kesalahan petugas pembuat akta sih, seharusnya Jullian. Dia lahir di bulan Juli.
Begitupun namaku, aku lahir di bulan Maret, sehingga namaku Mareeta. Gama Aprillio lahir bulan April. Si bungsu Anita Oktavia lahir di bulan Oktober. Begitulah papa menamai kami agar mereka mudah mengingat hari kelahiran kami. Jadi aku juga menerapkannya kepada D putraku. Benar sekali, Dirgantara jadi D, mudah sekali panggilan itu kurasa.
**
"Bunda.... Aku mau kerumah kakek" D bersedekap penuh keangkuhan. Kadang aku penasaran, pria macam apa ayahnya hingga menurunkan sifat semacam ini. Aku yakin, ayah D seorang tampan yang digilai banyak wanita dengan sifat cool dan dingin seperti D.
"Kamu kangen kakek, sayang?" Aku mengelus kepalanya.
"Aku mau belajar berkelahi sama kakek karena om Gamma masih di Singapura" katanya mengagetkanku.
"Kiddos, kau tidak boleh berkelahi lagi"
"Mereka mengataimu Bun, aku benci"
Aku tertawa, selalu seperti ini reaksinya jika teman-temannya mulai mengoloknya.
"Abaikan mereka, sayang" D cemberut, berlalu dari ruanganku entah kemana. Kantor ini adalah area bermainnya. Begitulah ia, sering menghabiskan waktu di kantorku. Beruntung aku kenal baik dengan pemilik perusahaan ini hingga membiarkanku membawa anak.
Aku Manager HRD di perusahaan asing yang telah beroperasi lama di Indonesia ini. Pemiliknya seorang kakek tua yang mendamba menantu dan cucu. Anak pertamanya ada di Surabaya, menangani cabang yang 3 tahun lalu pernah ku jabat kepala HRD nya. Lajang 36 tahun populer yang pernah masuk majalah Time, sebagai pria tampan kaya raya dan berprestasi.
Anak keduanya, juga seorang pria yang tidak pernah sekalipun terlihat ke kantor. Hanya sesekali tampak hadir saat acara besar perusahaan. Paul Jillian si kakek tua begitu menyukai D, bahkan istrinya Rachel Jillian tak pernah lupa membelikan oleh-oleh mainan saat pulang dari luar negeri.
Dan apakah kalian bertanya-tanya sepertiku, kenapa kesalahan pembuatan akta putraku berakibat putraku seperti menyandang nama pemilik perusahaan tempatku bekerja. Entahlah, kurasa kebetulan saja. Tapi, perkataan Rachel Jillian suatu hari saat tak sengaja kami terpaksa makan malam dalam satu meja, membuatku bertanya apakah D adalah hasil karya salah satu putranya. Tentu saja aku menggeleng kuat. Ku bilang aku janda.
Namun segera lamunan menguasaiku, putra pertama adalah Pak Dirga yang waktu itu sempat bertemu aku dan Anita di salah satu mall Surabaya. Dan reaksi mereka berdua biasa saja. Tak ada wajah tegang, marah, apalagi shok hingga sedih pada raut mereka berdua. Tentu saja aku ingat, wajah bertanya Pak Dirga kearahku saat Anita bergerak seperti zombie. Mata kosong dan gerakan yang tak bersemangat seperti ibu-ibu hamil lain saat belanja kebutuhan calon bayinya membuat siapapun merasa aneh. Anita juga tampak tak pernah mengenal Pak Dirga sama sekali.
Kalian tahu, apa kata nyonya Rachel Jillian, malam itu.
"Oh, darling putramu jiplakan kedua putraku saat mereka seumuran dengannya" saat itulah aku menyadari kemiripan putraku dengan kedua orang tua di depanku malam itu.
My God, dulu aku sempat mengumpat kenapa nama yang ku berikan pada putraku terlalu mirip dengan boss mudaku itu. Nama lengkap pak Dirga, "Dirgantara Russel Jillian" dan panggilan orang terdekatnya juga D.
Lalu, apa yang bisa ku simpulkan dari ketidaksengajaan ini. Betapa aku merutuki kebodohan Anita yang menutup bibirnya rapat mengenai siapa nama ayah kandung putranya.