Semakin hari Tuan Jillian semakin dekat dengan putraku. Beliau selalu menyempatkan waktu setiap minggunya untuk bermain bersama D. Aku tak pernah berpikir terlalu jauh mencurigai kebetulan ini, toh aku mengenal baik atasanku. Aku pernah menjadi sekertaris sementaranya selama satu tahun diawal-awal aku bekerja di perusahaan ini. Jauh sebelum aku mutasi ke Surabaya.
Tidak ada yang tahu identitas putraku selain keluargaku dan para pegawai di Surabaya. Tentu saja aku tidak pernah menikah dan tidak pernah terlihat berbadan dua. Aku pikir Pak D putra Pak Paul tak seember itu membahas pegawai tidak penting sepertiku. Jadi aku menduga si kakek tua hanya mencari hiburan dari putraku. Tak mungkin ada motif tersembunyi bukan.
"Hallo sayang"
"Bund aku menginap dirumah Opa ya..." Kalimatnya membuatku seolah disambar petir di siang bolong. Seperti biasa to the poin sekali putraku ini.
"Apa, D?" What apa katanya, menginap di rumah pak Paul.
"Hmm Maara, aku menganggap dia cucuku. Kau tau kan kakek tua ini tidak seberuntung ayahmu yang telah memiliki cucu." Pak Paul menyerobot diantara obrolanku dan D.
"Tapi pak..." Aku tak mengijinkan, bagaimana bisa anakku menginap dirumah orang asing.
"Sudahlah, tak usah khawatir. Istriku ada dirumah, ia yang meminta" jawaban tenang dari seberang sana tak membuatku lantas mengijinkan.
"Emmm... Pak Paul, aku ijinkan dia bermain seharian. Tapi biarkan aku menjemputnya jam 9 malam nanti, karena besok pagi kami memiliki acara keluarga" ini terdengar lebih baik.
"Tak apa kan, Pak Paul?" Lanjutku setelah tak mendengar jawaban dari sana. Aku berbohong sebenarnya, tapi besok pagi aku akan membawa D kerumah mama papa saja agar tidak jadi berbohong.
"Baiklah, datanglah waktu makan malam kerumah ya. Dirgantara juga datang" huuuft akhirnya aku menghembuskan nafas lega. Jangan lupakan, si playboy yang akan terus menggoda sepanjang hari disaat ada kesempatan berdua. Oh pria itu sungguh pandai mengatur diri. Di depan karyawan dan koleganya ia akan memasang topeng acuh tak acuh, berkebalikan saat hanya denganku. Ayolah, kalian pasti paham maksudku. Aku pernah bekerja dengannya. Meskipun rumor yang terdengar Jillian yang ini adalah playboy dingin nan kaku.
Aku menengok pergelangan tanganku yang menunjuk pukul 11 siang. Ini hari juma'at, D libur sekolah. Ia hanya bersekolah selama 4 hari dan 3 hari libur. Sebentar lagi makan siang. Tapi sepertinya aku akan menghadapi Jillian si casanova saat makan siang nanti.
***
"Apakah sudah lama menunggu, Pak D?" aku sedikit membungkuk memberi hormat. Tapi pria matang itu malah berdiri dan menarikkan kursi untuk ku duduk. Aku menggumankan terimakasih yang dibalas anggukan ringan. Tak heran tiap kali matanya memandang, ada ungkapan pemujaan untuk ku disana. Bukan karena dia menyukaiku tapi karena dia memang penakluk wanita yang selalu memancarkan aura penggoda, disetiap bahasa tubuhnya. Meskipun ku akui dia tak akan menyadarinya.
"Tidak" jawabnya atas pertanyaanku yang pertama.
"Aku sudah memesan, by the way Maara, aku tidak suka basa-basi" pria ini benar-benar mirip dengan si kecil D. Aku tak bisa mencegah untuk tidak mengangkat sebelas alisku.
Mencoba tak terintimidasi dengan sifatnya yang sedikit arogan di mataku.
"Dirgantara Russel Jillian, itu namaku." Oh, aku bisa meraba kemana arah pembicaraan ini.
"Lalu Dirgantara Mareeta Jillian, siapa dia?" Lanjutnya dengan sorot yang sulit k*****a.
Mungkinkah pria ini ayah kandung D."Putraku" jawabku tenang.
"Kenapa ada namaku disana?" Pak D terus memuaskan dahaga ingin tahunya.
"Ada namaku juga disana" Aku terus mencoba agar terdengar biasa.
"Jillian?" dia menyipitkan matanya.
"Harusnya Jullian, dia lahir di bulan Juli. Tapi karena aku malas berurusan lagi dengan catatan sipil, ku biarkan saja kesalahan cetak itu, ada lagi?" Dia tak langsung menjawab. Matanya masih menelisik kedalam mataku, mungkin mencari kemungkinan aku membohonginya.
"Dia bukan anakmu, keponakanmu mungkin" Sial, mana mungkin aku menyangkal. Nadanya sangat meremehkan bahkan terlalu santai. Aku sudah menahan nafasku, khawatir akan banyak kemungkinan setelah ini.
"Dia putraku" aku bersikukuh.
"Kau sama sepertiku, belum pernah menikah" Sahutnya cepat.
"Kata siapa? Dia anakku" jawabku tegas.
"Bukan Anak kandungmu" pria matang yang sayangnya selalu tampan ini memberi tekanan. Ada sorot intimidasi di matanya.
"Apa urusannya dengan anda, tuan" aku mulai jengah bahkan aku sudah memutar bola mata, sementara dengan tajam matanya menatap lurus kearahku.
"Dia juga keponakanku" ungkap pria Jillian ini akhirnya setelah tercium nada pertimbangan dari gelagatnya.
"Apa?" Aku sedikit histeris. Beruntung masih terkendali.
Dua orang pelayan menginterupsi, menyajikan makanan di meja kami.
"Makanlah, aku lapar" Pak D mengambil segelas air putih dan menenggaknya sedikit dengan bahasa tubuh yang luwes dan tenang. Seolah yang ia ungkap barusan adalah angin lalu.
"Bisakah kau lanjutkan dulu?" Aku tak sabar. Ini tentang misteri siapa ayah kandung D-ku yang Anita tutup rapat selama 8 tahun ini.
"Setelah ini, makanlah dulu bundanya D" my God, kenapa suaranya terdengar hangat saat mengatakan bundanya D. Aku tak habis pikir, kenapa pria ini baru ku sadari begitu hot. Selama ini diantara kami hanya hubungan profesional. Aku termasuk sering berinteraksi dengan petinggi perusahaan. Tapi, selain aku yang telah paham sepak terjangnya dengan wanita dan aku juga terlalu sibuk dengan diriku hingga melewatkan pesona yang ia semai terhadapku selama ini.
"Makan yang banyak, kau terlalu kurus. Pasti susah membesarkan bocah keras kepala dan bandel sepertinya sendirian"
Tangannya mengarahkan sendok berisi daging cincang ke piringku. See, pria ini memang pandai mengambil hati. Pantas ia dikelilingi banyak wanita.
"Seminggu lagi, aku akan menempati posisi Dirut di kantor pusat" ucapnya, aku tak berniat menjawab. Ku kunyah nasi di mulutku dengan anggun. Berusaha tak terganggu dengan kenyataan yang pria ini sampaikan di awal.
"Papa bilang kau berpotensi, kau bagus dalam menyaring orang baru dan memilah orang lama" Pak D selalu terlihat acuh takacuh, tampak dingin dan jauh, misterius dan b*******h disaat bersamaan sekaligus. Oke, kalau D keponakannya, lalu ayah D adalah..... Aku termenung beberapa saat memikirkannya. Jawabannya sudah pasti, putraku memang keturuanan Jillian.
" Hey, jangan melamun saat makan." Huh, kenapa Pak D terdengar cerewet sekali sekarang. Bukankah dia selalu irit bicara, setidaknya yang ku tahu di dalam lingkaran profesional kami.
"Pak D....." Aku tak tahan ingin bertanya soal ayah D-ku, tak bisa lagi rasanya menunggu beberapa menit lagi.
"Makan Maara..." Perintahnya telak.
Aku mengalihkan atensi sepenuhnya pada piringku. Berusaha menandaskan isinya segera. Aku tidak sanggup menahan kecamuk di otakku.
"Pelan-pelan bundanya D" oh shiit, aku mengumpat dalam hati. Kenapa suaranya justru membuatku meremang.
Aku tetap menghabiskan makanan ini secepat yang aku bisa. Bahkan aku tidak menyentuh yang lain lagi demi penjelasan yang harus segera ku dapat. Pria itu masih makan dengan anggun sesuai menner orang-orang kaya berkelas.
Setelah dia mengelap bibirnya dengan lap, tak disangka datang seseorang dengan tampilan memukau yang tanpa sungkan mengecup pipinya mesra. Spontan pak D melirikku, yang ku balas kendikan bahu acuh. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela karena kebetulan meja kami makan langsung menghadap taman restoran.
"Oke, ku hubungi kau lain kali. Aku masih sibuk" itu Pak D, setelahnya terdengar jawaban manja dari gadis muda itu. Gadis itu pamit pergi bahkan tanpa basa-basi menghiraukan aku. Dasar playboy.
Setelah gadis itu terlihat menjauh, aku tak mau menunda lagi "Pak D, please.... Segara beri saya penjelasan mengenai apapun itu yang berkaitan dengan anak saya"
"Begitu tidak sabar, hmm"
Memangnya siapa yang akan sabar setelah teka-teki yang telah begitu lama terkubur akhirnya bisa diketahui "Apa saja yang anda tahu?"
"Semuanya"
Aku mengernyitkan dahi, memaknai arti ambigu yang terselip dalam satu kata yang keluar dari mulut Pak D. sehingga aku mengulangi jawabannya "Semua?"
"Semua" Katanya yakin.