Aku mengikutinya keluar restoran setelah ia menggesek kartu ajaib platinumnya di meja kasir. Ia membawaku duduk di bangku taman mini tak jauh dari restoran dan gedung kantor kami.
"Sejak kapan Pak D tahu?" Aku tidak basa-basi lagi, untuk apa? Toh pria disampingku ini juga tak kenal basa-basi.
"Sejak kamu membawa bayi berumur 1 tahun ke acara gathering dan menarik seluruh perhatian di kantorku di Surabaya."
Aku menerawang peristiwa 8 tahun lalu saat aku bertugas di Surabaya. Aku ingat, pria ini hanya menoleh sesaat tepat ke mataku saat itu. Kemudian kami hanya saling bicara jika itu berkenaan tentang pekerjaan. Tapi tiap ada kesempatan berdua saja, Dirgantara Russel akan melempar topik picisan kepadaku.
"Kau bisa membohongi semua orang disini. Tapi tidak dengan kami di Surabaya. Semua tahu, bayi itu bukan anakmu meski kau selalu bilang dia putramu."
Jeda sejenak, pria Jillian ini selalu tampak tenang.
"Kau pikir pria mana yang mampu menghamilimu dalam semalam dan membuatmu melahirkan bayi dalam sekejab, hmm?" Aku diam, sedikit malu dengan kalimat yang ia gunakan. Ku lempar pandanganku lurus ke depan. Semoga pipiku tak sampai memerah di depan playboy satu ini.
"Pak D, lalu apa tujuanmu?" Aku kembali menekuni matanya yang ku tahu sering mengarah ke bibirku. Sial, aku sedikit terganggu dengan itu. Pria ini menyebalkan.
"Kami hanya ingin yang terbaik buat little D"
Dia menyebut anakku little D?
Kami? Yang terbaik? oke, kami disini berarti seluruh keluarganya sudah tahu.
"Kenapa tidak sejak awal adikku hamil? kenapa tidak ketika ia diusir dari rumah, hingga ingin mengakhiri hidup dan berakhir setengah gila?"
Aku tak bisa tak meluap hingga jadi sedikit histeris. Suaraku naik satu oktaf tanpa perintah otakku sementara pria ini mengeraskan rahang kokohnya. Dan aku segera mengangkat telapak tangan kala Pak D hendak merangkul bahuku. Tidak, aku tidak sedrama itu sampai butuh pelukan seoarang pria ditengah umum begini.
"Adikmu kan? Siapa namanya?" Aku kembali menemukan suaraku setelah ku rasakan oksigen kembali memenuhi dadaku.
"Kau tidak tahu?" Dia heran akan pertanyaanku tentang siapa nama si b******k itu.
"Andai aku tahu, sejak awal sudah ku seret dia agar bertanggung jawab" aku menggeleng frustasi. Harus ya, dunia sesempit ini.
"Adikmu tidak bilang?" Aku menggeleng muak.
"Anita hanya membisu waktu itu." Suaraku masih tak terkontrol, emosi membuat paru-paruku kembang kempis, mungkin saja sebentar lagi asap akan menguap dari ubun-ubunku sangking beratnya aku menahan marah ini. Kenyataannya Anita hanya akan menyebut pria b******k berkali-kali sambil menangis dan merintih.
"Samudra Travis Jillian, ia ada di Jogja sekarang. Mengejar maaf Anita."
"What?" Spontan aku memegangi tangannya, mengguncangnya agar aku yakin ia tidak berbohong.
"Adikmu, akan membuat Anita terguncang kembali. Aku tidak mau itu terjadi!”
Sial, ini benar-benar tindakan sembrono. Bagaimana Jika psikologi Anita merosot kembali.
“Satu tahun pertama aku harus bolak-balik Surabaya-Jogja hanya untuk memastikan dia datang ke psikiater" imbuhku tak sabar.
"Aku tahu" Pak D memiringkan wajahnya untuk memastikan ekspresiku yang mungkin sudah sangat panik dan tak sabar.
"Kau tahu? dan kalian masih melakukannya. Oh, apa yang tidak kalian tahu?" Aku berdiri, reflek sebenarnya, geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Tidak ada yang tidak ku tahu tentang mu" Dirgantara menarik tubuhku hingga aku terduduk kembali.
"Apa….?” Suaraku merendah karena kata penuh ambiguitasnya. “Kenapa jadi tentangku" emosi di dadaku semakin naik, namun ku telan bulat-bulat apapun itu yang sedang berkecamuk di dalam sini. Pak D terkekeh, dengan gaya masih anggun menurut ku.
"Tentu saja jadi tentangmu, karena kau satu-satunya yang menerima little D kami" Pak D berkilah, tapi otakku yang cerdas mengingatkan aku untuk memicingkan mata galak.
"Maara, dengarkan aku." D menarik jemari ramping ku ke dalam pelukan tangan besarnya. Aku pura-pura tak merasakan efek apapun, padahal jantung ini sudah ngebit tak teratur. Jauh di dalam lubuk hatiku bertanya-tanya kenapa dia melakukan hal konyol ini.
"Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita hanya perlu melihatnya dari jauh"
"Tapi Pak D...." Kenapa suaramu terdengar mendayu dengan irama kebajikan yang menyejukkan.
"Tidak akan terjadi apa -apa, percaya padaku, aku menempatkan orang untuk mengawasi mereka bila terjadi hal yang tidak kita inginkan." Dirgantara menyela, kedua tangan besar pria itu berpindah untuk kemudian bertengger di pundak ku. Meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku mengangguk akhirnya, meski masih ragu.Haruskan ku hubungi Gama untuk membantuku menangani ayah kandung D-ku?
Aku kembali ke kantor saat jarum jam menunjuk pukul 2. Memang melelahkan sangat. Pak D mengantarku sampai di lobby. Kami berjalan kaki saja, karena tempat makan yang kami datangi masih di area kantor. Tak akan ada yang berani berkasak-kusuk di belakangku. Meski aku tahu mereka melempar tatapan heran akan kedatangan Pak Dirgantara yang menjemput dan mengantarku di jam makan siang. Tapi apa peduliku? Jawabnya, tidak ada.
"Nita..." Suara adikku di seberang sana terdengar baik-baik saja. Otomatis aku merasa sangat lega.
"....."
"Are you okey"
"..."
"Tell me something about Jogja"
"...."
" Are you sure?"
"..."
"Baiklah, jangan segan menceritakan apapun sama mbak, kamu ngerti?"
"...."
"Bagi kami, kamu tetap si bungsu yang manja"
"...."
"Love you more" Dia terkekeh sebelum mengakhiri dengan ucapan dia menyayangiku.
Sekali lagi aku menghembuskan nafas lega. Mungkin Pak Dirgantara benar, Anita sudah dewasa, ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin sekarang. Dengan situasi yang berbeda tentunya, yang tidak selalu menyudutkannya. Aku akan selalu berdoa untuk itu. Kini aku tinggal menghadapi keluarga Jillian saat menjemput si kecil D nanti. Kira-kira situasi seperti apa yang akan daku hadapi. Pikir ku sungguh enggan.