"Bunda, aku punya kamar baru disini" aku mengernyit heran, untuk apa D mendapat kamar baru di rumah bos besarku.
“Hallo, Big D” terang saja terperangahlah diriku saat melihat D-ku bersalaman ala pria dengan Pak D setelah menyapa dengan menyebut Big D. Mereka menabrakkan masing-masing d**a, membuatku semakin melongo dibuatnya. Sudah seakrab ini, mereka bertemu dimana sebelumnya. Tidak mungkin hanya dengan sekali dua kali pertemuan membuat mereka berdua sebersahabat itu kan?
"Aku bisa menjelaskannya padamu, Maara Sayang?"
"Sayang? Big D?" aku bertanya pada duo D sekarang.
"Yeah, bunda. I'm little D and he's Big D. Tapi kalau soal "sayang" tanyakan sendiri padanya."
Aku mengikuti gerakan D kecil yang berlalu menuju meja makan, seakan dia sudah terbiasa dengan rumah ini. Oh, apakah ada yang aku lewatkan?
Kembali aku melirik si tuan rumah disebelahku.
"Kau terlalu banyak mengerutkan keningmu, Maara" pria ini justru mengusap dahiku tanpa dosa. Aku menghindar malu tapi merasa tidak cukup muda lagi untuk salah tingkah. Yeah, aku wanita dewasa 33 tahun. Lagi pula kenapa Pak D bertingkah sangat konyol seolah kami sudah terbiasa satu sama lain, padahal aku sangat yakin sebelum ini aku tidak pernah terlibat secara pribadi dengannya.
"Hay, darling. Kau sudah datang rupanya." Cipika-cipiki wajib antar hawa kami lakukan. Rachel Jillian yang tak pernah menua menyambutku hangat seperti biasa. Bicara basa-basi sebentar dan sang nyonya menggiringku ke meja makan.
Jantung ini terasa berhenti, kala melihat anakku sedang mengotak-atik duplikat prototipe robot produksi seperti di pabrik kami bersama Pak Paul di meja makan. Mainannya mahal sekali nak, harganya bisa sampai satu bulan gaji bunda. Batinku protes tidak setuju dengan kebiasaan memanjakan anak ini.
Aku menyalami pria tua itu dan beliau balas memelukku hangat. Ini terlalu berlebihan bagiku, selama aku mengenalnya pria ini bukan tipe familiman. Pak D mewarisi sikap dingin dari pria ini, itu yang aku tau. Meski semakin tua Paul Jillian dikenal semakin ramah, tapi tidak juga seakrab ini hingga memperlakukanku selayaknya keluarga sendiri.
Aku beralih pada D kami. Sumpah ini tak biasa. Haruskah aku mendapat perlakuan atasan seakrab ini. Ini pasti karena little D memang cucu mereka. Jadi kenapa hatiku masih ragu tentang D yang adalah keponakan Dirgantara.
"Kau tidak merindukan bunda, sayang" aku mengecup puncak kepalanya. Tapi apa jawabannya.
"Bunda, sudah ku bilang jangan menciumku di depan orang banyak. Aku malu Bun" Dan semua orang tertawa menyisakan aku yang cuma tersenyum kesal akan tingkahnya.
"Little D bilang, bundanya pandai memasak" itu nyonya rumah. Beliau menata piring bersama seorang asisten rumah tangganya. Aku yang tak enak turut melakukan hal yang sama. Entah benar apa tidak yang ku lakukan, tapi Bu Rachel hanya tersenyum dan membiarkan aku.
"Ya, hanya makanan yang biasanya kami makan Bu" aku bicara jujur. Untuk apa berbohong. Hanya makanan rumahan yang sederhana dan praktis untuk dilakukan, meski terkadangaku perlu mengikuti petunjuk di cookpad ataupun youtube.
"Masakan bunda enak, eskrim buatan bunda juga enak, semua yang dimasak bunda enak" putraku menyahut antusias. Sementara beruang besar di sebelahnya hanya bersedekap sambil terus menatapku. Biarkan saja, kalau bosan nanti juga akan berpaling. Dia memang beruang, badannya tinggi besar, jangan lupakan lirikan matanya juga menyebalkan.
"Ah D, kau sedang merayu bunda" jawabku paham. Sementara si kecil hanya cengengesan tak jelas.
"Kira-kira kenapa D merayu bunda?" Itu si Oma Rachel, begitu D kecil memanggilnya.
"Bun......"
"Ya...." Aku mengalihkan atensiku sepenuhnya untuk si kecil.
"Emmm" Dia menundukkan kepelanya, mata tajamnya melirikku ragu.
"D....." Aku memecah keraguannya.
"Boleh ya prototipe ini kubawa pulang?" Aku menganga, kembali gelak tawa memenuhi ruang makan keluarga ini.
"Kenapa, Iyem merasa kelurga ini sedang sempurna kedatangan menantu dan cucu ya Bu?" Asisten rumah tangga mulutnya sekelas akun lambe-lambean. Gila saja sampai pak D terbatuk-batuk. Otomatis aku yang sedang menuangkan air putih di gelas-gelas mengulurkannya satu kepada Pak D. Batuknya masih hebat hingga putraku menyarankan agar aku menepuk punggung pak D.
"Bund, tepuk punggung Big D bunda"
Tanpa pikir panjang ku lakukan, ini seperti saat D-ku tersedak. Dan tanpa ku duga....
Klik
Klik
Klik
"Bagus, den, non, hasilnya. Buat insta story iyem pasti bs tembus ribuan nih." Ucapnya, Bu Rachel terbahak.
"kamu Yem, bisa aja. Udah kasihkan ibu nanti fotonya, biar dipajang nanti di dinding."
Aku yang sejak awal heran dengan keluarga ini, semakin heran. Untuk apa foto yang pasti jelek itu di pajang.
"Hapus aja ya Bi, ntar masuk lambe turah banyak yang gagal paham" aku berkata sok bijak dengan gelagat yang ku buat tak terganggu. Sekali lagi, aku adalah wanita dewasa, oh my God. Padahal, bisa berabe juga nanti kalau sampai di up itu photo.
"Kamu nggak ngerti, apa pura-pura nggak ngerti sih Maara?" Suara berat itu akhirnya kembali normal. Aku malas berpikir, terus terang ya. Sudah terlalu tua buat begitu-begituan. Jadi aku berpikir mereka hanya sedang bercanda.
"Big D, jangan suka bundaku. Bunda cuma punyaku" D-ku kini memelukku erat. Pak Paul tertawa hingga matanya menyipit, Bu Rachel terkikik sampai ia terduduk sambil mengusap-usap perutnya.
"Heee, Pak D please deh, jangan membuat semua orang berprasangka" bukankah sudah ku bilangdi awal, dia sudah melempar sinyal merah jambu. namun aku tertawa tanpa humor alih-alih menggerutu kepada pria yang masih disampingku yang tangannya tengah mendekap satu lenganku, sementara tanganku yang lain dipeluk erat oleh D kecil.
"Big D, ayo membuat penawaran" mereka berdua kekeh memperebutkan ku.
"Little D jangan diteruskan." Aku menegurnya.
"Tidak baik berlaku seperti ini dengan orang yang lebih tua." Aku memulai petuah ku. Sungguh malu putraku bersikap seperti ini di undangan makan malam atasan. Sekalipun kalau benar mereka keluarga biologis putraku.
"Gara-gara Uncle, aku jadi little D Bun." Uncle, putraku sudah memanggil pamannya uncle. Kenapa disini aku yang tidak tahu.
"Penawaran apa D junior?" Pak D justru makin menyulut emosi si kecil.
"Kalau kau membuat bunda mengijinkanku membawa pulang prototipe itu, aku akan berbagi bundaku denganmu" Pak D menyunggingkan fake smille nya.
"D sayang, kau tidak boleh bertransaksi seolah bunda ini dagangan" aku mengingatkan dalam hati sungguh greget dan ugh aku mulai hilang kesabaran. Pak D masih tersenyum dan mengangkat satu alisnya kearah D kecil.
"Tapi bunda, dia menyukaimu sejak aku mengenalnya" oh, D-ku kata siapa itu. Tapi Astaga, kenapa terdengar kau sudah lama mengenal keluarga ini nak? Kenapa aku tidak tahu.
"Sial, bocah" Pak D mengumpat, dan kami semua melotot kearahnya.
"Sudah-sudah, little D biarkan orang dewasa menyelesaikan masalahnya nanti. Bawa pulang saja robotnya dan kita makan. Uncle mu masih punya banyak kalau kau meminta" suara penuh wibawa Pak Paul menginterupsi.
"Hore..." Sorak putraku bahagia. Dia melepaskan tanganku dan memilih duduk diantara Oma Opanya. Lihatlah si kecil D sudah mulai melupakanku. Tentu saja aku sangat terheran-heran. Apakah waktu sehari mampu membuat D kecil lengket dengan keluarga ini. Nyatanya darah lebih kental dari air. Aku terpaksa duduk bersebelahan dengan si tukang ambil kesempatan yang terus mengawasi ku, yang tentu saja ku abaikan. Dan aku pun menanti bahasan berat setelah dinner ini dengan ke-3 orang dewasa dari keluarga Jillian setelahnya.