Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak, menatap Senja dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya sangat menjijikkan bagi Senja, sebuah tatapan yang dingin, persis seperti seorang saudagar yang sedang menilai kualitas barang dagangan cacat yang baru saja dibeli dari pasar loak. Matanya tertuju lama pada gamis kain pasar milik Senja yang longgar dan murah, mencemooh penampilan bersahaja itu tanpa suara. Pandangan tajamnya kemudian beralih, berhenti tepat pada sudut bibir gadis itu yang lebam keunguan serta bercak kemerahan di ceruk lehernya yang menyembul dari balik kerah pakaian.
"Nama saya Broto. Saya adalah pengacara pribadi sekaligus orang kepercayaan Kakakmu, Nyonya Melani," ucapnya dengan suara berat, dalam, dan tanpa emosi. "Saya di sini untuk memastikan 'investasi' klien saya tidak rusak atau sia-sia karena kecerobohanmu."
Investasi.
Satu kata itu melesat bak anak panah beracun, menghantam tepat di ulu hati Senja. Darah gadis desa itu seketika mendidih. Rasa perih di sekujur tubuhnya akibat perlakuan brutal Danu semalam, ditambah dengan hinaan para pelayan di dapur tadi siang, kini memuncak menjadi sebuah gelombang amarah yang tak lagi bisa ia bendung. Harga dirinya diruntuhkan, diinjak-injak hingga lumat ke dasar bumi oleh orang-orang yang menganggapnya tak lebih dari seonggok benda mati. Udara di sekelilingnya mendadak terasa begitu panas, membakar habis ketakutan yang sejak pagi mengurungnya.
"Investasi?" Senja mengambil dua langkah maju, keluar dari balik bayangan pintu depan. Ia menegakkan bahunya yang ringkih, meskipun seluruh sendi di tubuhnya menjerit kesakitan akibat paksaan badai semalam. Kedua tangannya mengepal kuat di balik kain gamisnya, mengabaikan rasa perih pada luka lepuh di punggung tangannya yang tertekan akibat uap sup panas di dapur tadi.
"Saya manusia, Pak Broto! Bukan barang dagangan yang bisa kalian atur, kalian pantau, dan kalian periksa setiap detiknya! Sampaikan pada Kak Melani, saya sudah menuruti semua kemauan gilanya! Saya sudah di sini, di rumah j*****m ini, menggantikan posisinya di atas ranjang suaminya! Apa lagi yang kalian inginkan dari saya?!" Suara Senja menggema tinggi di langit-langit ruang tamu yang luas, bergetar hebat di antara tiang-tiang marmer yang kokoh.
Pak Broto tidak terkejut sama sekali dengan ledakan amarah Senja. Pria tua itu justru terkekeh, sebuah suara tawa yang kering, hampa, dan terdengar sangat meremehkan di dalam kesunyian ruang tamu yang luas. Ia memperbaiki letak kacamata tebalnya dengan ujung jari, menatap Senja seolah melihat seekor semut yang mencoba meronta di bawah sepatu botnya.
"Kamu pikir tugasmu hanya sekadar ada di sini dan bernapas, Senja?" Pak Broto mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Senja dengan kilat mata yang kejam dari balik lensa kacamatanya. Aura penindasan yang ia pancarkan begitu kaku dan mutlak.
"Nyonya Melani sekarang sudah berada di Paris, sedang menandatangani kontrak modeling internasional terbesar dalam kariernya. Dia tidak ingin ada noda atau skandal sekecil apa pun yang merusak reputasinya di Eropa. Dia tidak ingin mendengar kabar bahwa adiknya yang kampungan ini tidak becus melayani suaminya sendiri, atau lebih buruk lagi... mencoba bertingkah murahan mencari simpati dan belas kasihan dari Tuan Danu."
Setiap patah kata yang keluar dari mulut pria paruh baya itu mengandung racun yang pekat. Nama Melani seolah menjelma menjadi bayangan raksasa yang mencekik tenggorokan Senja, menepis kenyataan bahwa mereka adalah saudara satu darah. Kemegahan karier Melani di benua Eropa ternyata dibangun di atas fondasi penderitaan dan kehancuran adiknya sendiri.
"Saya bukan dia!" seru Senja, suaranya pecah menjadi serak yang menyedihkan. Air mata amarah yang sejak tadi ditahannya kini mulai merebak di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya. "Saya tidak akan pernah menjadi seperti Kak Melani yang licik dan berhati iblis! Jika dia memang sangat menginginkan kemewahan dan nama baik itu, kenapa dia tidak melayani suaminya sendiri?! Kenapa harus saya yang ditarik untuk jadi tumbal keserakahannya?!"
Senja melangkah maju satu kali lagi, napasnya memburu beradu dengan air mata yang mulai meluncur melewati pipinya yang pias. Seluruh tubuhnya gemetar, bukan lagi hanya karena hawa dingin ruangan, melainkan karena rasa sakit hati yang teramat pekat. "Keluar dari sini, Pak! Keluar! Saya tidak punya urusan lagi dengan Anda ataupun Kak Melani!"
Pak Broto tidak bergerak satu milimeter pun dari sofa kulitnya. Wajah kakunya tetap tenang seolah-olah teriakan histeris Senja hanyalah hembusan angin lalu. Namun, senyuman tipis yang terbit di bibirnya justru memancarkan aura predator yang siap mencabik mangsanya. Ketegangan di ruangan itu merayap naik, mengikat udara hingga terasa mencekat jalur pernapasan Senja.
"Kamu ingin saya pergi? Tentu, saya akan pergi setelah urusan saya selesai," ucap Pak Broto dengan nada suara yang perlahan merendah, berubah menjadi bisikan yang teramat dingin dan mengancam.
Pria itu merogoh tas kerja kulit buayanya, mengeluarkan sebuah map berwarna biru tua yang tebal, lalu membukanya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Setiap gesekan kertas di dalam ruangan itu terdengar seperti bunyi gergaji yang siap memotong urat nadi keberanian Senja. Dari dalam map itu, ia mengeluarkan selembar foto berukuran besar dan menggesernya ke tengah meja marmer yang dingin.
"Tapi sebelum saya pergi... lihat ini baik-baik. Pastikan matamu menatapnya dengan jelas."
Senja reflex melemparkan pandangannya ke atas meja, terpaku pada lembaran kertas berkilat di bawah temaram lampu kristal. Dan di detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Senja seolah ditarik paksa. Jantungnya terasa berhenti berdetak, dan darahnya mendadak membeku di dalam pembuluh darahnya.
Di atas selembar kertas foto itu, tampak wajah seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenali, ibunya. Ibunya sedang terbaring lemah, tak berdaya di atas ranjang rumah sakit yang kaku dan berbau obat. Tubuh kurusnya dikelilingi oleh berbagai mesin medis yang rumit, dengan selang oksigen yang menempel ketat di hidungnya, dan kabel-kabel yang menempel di dadanya yang kembang kempis dengan sangat lemah. Wajah ibunya begitu pucat, kelopak matanya terpejam rapat, berada di ambang antara hidup dan mati.
"Ibu..." bisik Senja parau. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang dingin.
Melihat foto itu, ingatan Senja langsung melayang pada gubuk bambunya di Desa Sukatani. Ia merindukan pelukan hangat ibunya, merindukan aroma jamu tradisional yang biasa ia siapkan, dan merindukan senyuman kurus yang selalu menguatkannya. Namun kini, ibunya terjebak di tengah hutan peralatan medis modern, menjadi sandera tak kasat mata dari sebuah kesepakatan iblis.
Kakinya seketika kehilangan seluruh kekuatannya. Sendi-sendinya yang linu akibat kebrutalan semalam mendadak lemas tak bertulang. Tubuhnya goyah, dan ia terpaksa mencengkram pinggiran meja makan di dekatnya dengan sangat erat agar tidak jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang kaku.
"Kau tahu, bukan? Biaya perawatan intensif di ICU, obat-obatan impor dari Jerman, dan ongkos dokter spesialis jantung itu tidak murah," lanjut Pak Broto, suaranya terdengar merdu namun membawa malapetaka besar di telinga Senja. "Sebulan saja, biayanya bisa menyamai harga satu unit mobil mewah yang terparkir di garasi depan."
Pak Broto mengetuk foto wajah ibu Senja dengan ujung jarinya yang berkerut, memberikan penekanan yang menyiksa batin gadis di hadapannya. "Klien saya, Nyonya Melani, sampai detik ini masih berbaik hati membiayai setiap sen dari napas ibumu itu. Namun... kontrak kebaikan itu bisa diputus dalam hitungan detik. Jika kmau membangkang, jika kamu mencoba melarikan diri, atau jika kamu membuat Tuan Danu marah sedikit saja hingga dia berniat menceraikanmu dan menagih utang keluarga kalian... saya yang akan menelepon pihak rumah sakit untuk mencabut semua bantuan alat medis ibumu saat ini juga."
"Jangan... saya mohon jangan..." ratap Senja. Kekuatannya benar-benar lenyap. Air matanya kini tumpah ruah tanpa bisa ditahan lagi. Isak tangisnya pecah, bergema memilukan di dalam ruang tamu yang sunyi. Ia menggelengkan kepalanya dengan histeris, menatap Pak Broto dengan pandangan menghamba yang teramat rapuh. "Tolong, jangan sakiti Ibu saya... hukum saja saya, tapi jangan sakiti Ibu..."
Pak Broto bangkit berdiri, merapikan lipatan jas hitamnya yang licin tanpa cela. Ia mengancingkan kembali kancing tengah jasnya, lalu menatap Senja yang kini sudah luruh bersimpuh di dekat kaki meja dengan pandangan tanpa belas kasihan. Bagi pria tua itu, air mata Senja tidak lebih dari sekadar reaksi kimia dari sebuah komoditas yang sedang bergolak.
"Pilihannya ada di tanganmu, Senja. Jadilah istri yang penurut. Layani Tuan Danu dengan baik di atas ranjangnya, buat pria itu puas, tekuk lututmu sedalam mungkin, dan mengandunglah darah dagingnya jika itu yang dia inginkan. Jika ibumu yang penyakitan itu ingin tetap melihat matahari besok pagi, kau harus belajar bagaimana caranya menjadi keset yang manis dan tidak bersuara bagi suamimu."
Kata-kata itu mengunci seluruh kebebasan yang tersisa di dalam jiwa Senja. Keset yang manis dan tidak bersuara. Kalimat itu terasa persis seperti belenggu besi panas yang membakar kulitnya, menetapkan takdirnya sebagai pelayan tak berharga di rumah mewah ini.
Senja memeluk lututnya sendiri di atas lantai marmer yang sedingin es, merasakan kehancuran mutlak yang meremukkan seluruh dunianya. Melani tidak hanya merenggut paksa kesuciannya semalam melalui tangan Danu, tapi wanita itu juga telah menyandera sisa napas ibunya sebagai tali kekang untuk memperbudaknya seumur hidup. Di tengah kemewahan ruang tamu Aryawangsa yang berkilau, Senja merasa dirinya tidak lebih dari sebutir debu yang siap diinjak kapan saja.
"Katakan pada Kak Melani..." Senja mendongak, menatap punggung Pak Broto dengan tatapan mata yang kosong, mati, namun sarat akan kepedihan yang teramat pekat, "dia benar-benar kejam. Dia... dia jauh lebih buruk dari iblis jahanam."
Pak Broto berhenti sejenak di dekat pintu ganda rumah, menoleh sedikit lalu melemparkan senyuman tipisnya yang terakhir, sebuah senyuman penuh kemenangan yang mengukir rasa sakit tak terhapuskan di benak Senja.
"Dalam hidup ini... ada orang yang memang terlahir beruntung untuk menjadi ratu yang memerintah, dan ada orang miskin sepertimu yang terlahir hanya untuk menjadi tumbal demi keberhasilan orang lain. Terimalah nasibmu. Itu akan membuat segalanya terasa jauh lebih mudah."
BAM!
Pintu depan ditutup rapat, mengeluarkan suara dentuman berat yang mengguncang keheningan sore itu.
Suara itu meninggalkan Senja yang terduduk sendirian, terisak dalam kehampaan dan dinginnya ruang tamu yang kini menjelma menjadi kuburan massal bagi seluruh harkat, martabat, dan masa depannya. Ia telah kalah. Benar-benar kalah dan hancur, bahkan sebelum ia sempat memulai perlawanan. Tangannya yang melepuh menyentuh dadanya yang terasa sesak, seolah-olah jantungnya sendiri telah ikut mati bersama dengan kepergian pria tua itu.
Waktu merayap pergi dengan kejam. Cahaya jingga di balik jendela kaca besar perlahan meredup, digantikan oleh bayang-bayang hitam malam yang mulai menguasai seluruh sudut rumah. Keheningan kembali merajalela, membawa serta ingatan akan kebrutalan malam sebelumnya yang siap terulang kembali. Senja masih setia bersimpuh di atas lantai, menatap kosong ke arah meja marmer tempat foto ibunya tadi diletakkan. Di rumah sekokoh ini, ia merasa benar-benar terisolasi dari dunia luar.
Dan malam pun kembali datang menjemputnya dengan selimut kegelapan yang mencekam.
Di dalam kesunyian kamar tidur utama di lantai dua, ketakutan terbesar dalam hidup Senja kembali hadir saat suara deru raungan mesin mobil sport milik Danu terdengar merapat memotong keheningan halaman depan. Suara bising itu terdengar begitu tajam, meremukkan sisa-sisa ketenangan yang mati-matian Senja kumpulkan sepanjang hari. Pria itu telah pulang. Dan dari suara decit ban yang kasar, Senja tahu pria itu membawa serta sisa amarah yang mendidih dari luar rumah.
Senja mematung di dekat jendela besar, jantungnya berdegup liar menghantam rongga d**a. Samar-samar, telinganya menangkap suara bantingan pintu mobil yang kasar di bawah sana, disusul suara pintu utama yang dibuka dengan sentakan kuat.
TAK. TAK. TAK.
Suara ketukan sepatu pantofel Danu yang berat mulai menaiki anak tangga satu demi satu. Ritme langkahnya lambat, bertenaga, dan sarat akan d******i yang siap menghancurkan apa pun. Setiap derap langkah itu terdengar seperti hitungan mundur menuju penghakiman bagi batin Senja. Dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi, Senja bergerak mundur menjauhi jendela, berdiri kaku dengan jemari yang saling meremas di tengah ruangan.
BRAKK!
Pintu ganda kamar utama dihempaskan kasar hingga membentur dinding. Danu melangkah masuk dengan rahang mengeras sempurna. Aura di sekelilingnya begitu pekat oleh kekecewaan dan kemarahan, membuat atmosfer ruangan seketika merosot tajam hingga sedingin es. Pria itu bahkan tidak sudi melirik ke arah Senja yang berdiri pucat pasi.
Danu melangkah lurus menuju kamar ganti yang pintunya terbuka lebar. Jas kerja premiumnya ditanggalkan dengan sentakan frustrasi, lalu dilemparkan sembarangan ke atas sofa kulit di sana. Tangan kekarnya bergerak kasar meraih simpul dasi, menariknya hingga longgar, menyisakan kemeja abu-abu gelapnya yang kini tampak berantakan dengan beberapa kancing atas yang terbuka.
Pria itu membalikkan tubuh tegapnya. Dari dalam remang kamar ganti, sepasang mata elangnya yang sarat akan tirani mengunci mati pergerakan Senja.
"Kemari," panggil Danu. Suaranya singkat, dingin, rendah, dan tak terbantahkan.
Bersambung