Senja melangkah mundur dengan ritme yang lambat dan gemetar, hingga akhirnya tumit kakinya membentur pinggiran ranjang king size yang dibalut seprai sutra hitam yang masih rapi, saksi bisu kehancurannya semalam. Seluruh persendian di tubuh ringkihnya serasa digelayuti beban berton-ton. Rasa linu yang teramat pekat di pangkal paha akibat kebrutalan Danu beberapa jam lalu kian diperparah oleh rasa perih yang berdenyut-denyut dari luka melepuh di punggung tangannya. Namun, semua rasa sakit fisik itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun begitu sepasang mata elang Danu Aryawangsa mengunci pergerakannya.
Pria itu berdiri tegak di tengah remang kamar ganti yang pintunya terbuka lebar. Kemeja abu-abu gelapnya yang kini tanpa jas dan berantakan dengan dasi yang longgar justru membuatnya tampak jauh lebih berbahaya, kontras dengan kondisi Senja yang mengenaskan. Tanpa basa-basi atau peringatan apa pun, Danu mengambil langkah lebar yang sarat akan d******i. Setiap ketukan langkah kakinya di atas lantai kayu solid terdengar seperti hitungan mundur menuju penghakiman bagi batin Senja.
Hanya dalam tiga langkah besar, Danu sudah memangkas jarak di antara mereka. Tangan kekarnya bergerak secepat kilat, menyusup ke pinggang mungil Senja, lalu mencengkeramnya dengan sentakan kasar hingga tubuh mereka merapat tanpa jeda seujung kuku pun. Senja terkesiap, refleks menahan napas saat d**a bidang Danu yang terbungkus kemeja premium abu-abu gelap menekan dadanya yang sesak. Pria itu menundukkan kepala, memiringkannya sedikit, lalu menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari ceruk leher Senja yang dipenuhi bercak kemerahan pekat.
Dahi Danu sempat berkerut samar untuk sepersekian detik. Wangi tubuh gadis ini begitu asing di inderanya. Ini bukan aroma parfum kimia mahal berharga belasan juta yang biasa menguar dari kulit Melani, melainkan aroma sabun mandi batangan murahan yang polos, bersih, dan entah bagaimana justru terasa begitu tajam menginvasi sistem pernapasannya, memicu sepercik amarah yang tak berdasar di dalam dadanya.
"Apa yang dikatakan anjing peliharaan Melani padamu sore tadi? Dia datang ke rumah ini, bukan?"
Pertanyaan itu keluar bersama hembusan napas panas Danu yang langsung menerpa kulit leher Senja. Suaranya terdengar begitu rendah, dalam, namun membawa gemuruh bahaya yang nyata. Senja mematung di dalam kukungan posesif itu. Jantungnya berdegup begitu kencang, berpacu liar hingga memukul-mukul dinding dadanya sendiri. Seluruh bulu kuduknya meremang hebat. Pria ini... bagaimana mungkin dia bisa tahu?
"T-Tuan... tahu soal kedatangan Pak Broto?" bisik Senja dengan suara yang hampir habis, tersendat di tenggorokannya yang terasa sekering padang pasir. Matanya yang bengkak akibat menangis seharian kini membelalak menatap lurus pada simpul dasi Danu yang sudah sedikit longgar.
Danu terkekeh sinis. Suara tawa itu tidak membawa sebersit pun rasa humor, melainkan sebuah geraman rendah yang terdengar mengerikan di dalam kesunyian kamar yang luas. Ia semakin mempererat belitannya di pinggang Senja, memaksa tubuh mungil itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya yang kokoh, membuat Senja bisa merasakan detak jantung Danu yang beritme stabil, dingin, dan penuh tekanan tirani.
"Kau pikir ada seekor lalat pun yang bisa menyusup masuk ke pekarangan rumah ini tanpa seizinku, hmmm?" Danu melepaskan cengkeraman di pinggang Senja, namun sebelum gadis itu sempat menarik napas lega, jari-jari kekar Danu sudah bergerak ke atas, mencengkeram rahang bawah Senja dengan ibu jari dan telunjuknya. Tenaganya tidak main-main, memaksa wajah pias Senja mendongak kasar agar manik matanya terkunci pada obsidian hitam jelaga milik Danu yang berkilat kejam.
"Aku tahu setiap jengkal aktivitas di bawah atap rumahku, Senja. Aku tahu seberapa keras kau mengemis iba di lantai ruang tamuku tadi siang. Jadi, katakan padaku sekarang... ancaman apa yang dilemparkan cecurut tua itu kepadamu? Apa dia mengancam akan mencabut seluruh bantuan alat medis ibumu di ICU jika kau tidak becus memuaskanku di atas ranjang ini?"
Deg.
Dunia Senja serasa runtuh untuk yang kesekian kalinya. Rahasia terbesarnya, kelemahannya yang paling rapuh, kini terpampang telanjang dan tak berharga di depan pria yang paling ia takuti. Air mata amarah dan keputusasaan yang sejak sore mati-matian ia bendung, kini kembali merebak di pelupuk matanya, meluncur lambat melewati pipinya yang pucat tanpa darah.
"Jika Tuan... sudah mengetahui segalanya... lalu untuk apa Anda masih bertanya?" bisik Senja pedih. Nada suaranya sarat akan luka yang teramat dalam, seolah-olah ia sedang menantang maut yang berdiri tepat di depan wajahnya.
Danu tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Senja yang bergetar hebat. Bukannya melepaskan cengkeramannya, Danu justru menyeret Senja menuju tepi tempat tidur. Ia menghempaskan tubuh tegapnya sendiri untuk duduk di sana, lalu dengan satu sentakan kuat, ia menarik Senja untuk berdiri kaku di celah antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Sebuah posisi yang sangat intimidatif, menempatkan Senja sepenuhnya dalam kuasa dan kendali mutlak sang penguasa rumah.
"Karena aku ingin menguji, seberapa jujur 'barang pengganti' yang dikirim Melani ini untuk membayar utang keluarganya," ucap Danu dengan nada suara yang luar biasa dingin dan merendahkan.
Pria itu mengangkat tangan kirinya, lalu dengan perlahan, punggung jarinya bergerak membelai pipi kanan Senja. Gerakan jemari Danu terasa begitu lembut, namun kelembutan itu justru menghantarkan rasa ngeri yang mencekam, persis seperti mata belati yang sedang digesekkan perlahan di atas permukaan kulit korbannya untuk menguji ketajaman.
"Melani pikir, dia bisa mengendalikanmu dari Paris hanya dengan menggunakan pengacara sialan itu. Dia pikir dia bisa memastikan posisinya sebagai nyonya rumah ini tetap aman dan tidak tergantikan melalui bidak catur yang penurut seperti dirimu. Tapi kakakmu yang serakah itu sepertinya lupa satu hal penting..." Danu menjeda kalimatnya sejenak. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sekeras batu marmer, memancarkan aura kegelapan yang pekat. "...di dalam istana ini, aku adalah hukumnya. Aku penguasanya. Bukan Melani, bukan juga pengacara tua bangka itu."
Danu mendadak memindahkan kedua tangannya ke atas bahu Senja, lalu menekannya ke bawah dengan tenaga yang cukup besar hingga sendi-sendi tubuh Senja yang masih remuk akibat pergulatan semalam menjerit kesakitan. Senja meringis, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.
"Jika aku mau, aku bisa membeli rumah sakit tempat ibumu sekarat itu sekarang juga, lalu memerintahkan pihak keamanan untuk membuang wanita tua itu ke jalanan dalam hitungan detik. Atau..." Danu mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, "...aku bisa mengambil alih seluruh biaya pengobatannya, memberikan fasilitas medis terbaik dari Jerman yang bahkan tidak akan pernah mampu dibayar oleh seluruh nilai kontrak modeling Melani di Eropa. Pilihannya ada di tanganmu, Senja. Jangan pernah bermain dua kaki di hadapanku."
"Apa... apa lagi yang Tuan inginkan dari saya?" ratap Senja dengan sisa-sisa kekuatannya yang nyaris habis. Seluruh badannya gemetar hebat di bawah tekanan tangan Danu. "Saya sudah menyerahkan seluruh tubuh saya untuk Anda hancurkan semalam... harga diri saya sudah lumat tidak bersisa. Saya mohon... hukum saja saya sesuka hati Anda, tapi tolong... jangan sentuh ibu saya..."
Danu bangkit berdiri dari tepi ranjang, membuat tubuh tegapnya yang menjulang tinggi menjatuhkan bayangan hitam yang seolah menenggelamkan sosok mungil Senja di bawahnya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menyiksa mental dan mematahkan sisa keberanian Senja, Danu melepas kancing kemeja abu-abunya satu per satu, menanggalkan pakaian atasnya itu hingga menyisakan d**a bidangnya yang kokoh dan penuh otot.
"Aturannya sangat sederhana, Senja," Danu berbisik tepat di depan bibir Senja yang bergetar, hawa mengintimidasi menguar kuat dari tubuhnya. "Mulai detik ini, kau hanya milikku. Setiap embusan napasmu, setiap rintihan rasa sakitmu, bahkan sisa nyawa ibumu yang berada di ruang ICU itu... semuanya terkunci di dalam kepalan tanganku. Bukan di tangan Melani. Jika sampai aku mendengar kau mengirim satu pesan saja pada kakakmu, atau mengadu pada Broto mengenai apa yang terjadi di dalam rumah ini..." Danu menyeringai kejam, "...jangan harap kau bisa melihat ibumu bernapas lagi besok pagi. Paham?"
Senja tidak punya kekuatan lagi untuk membantah. Ia hanya bisa mengangguk kaku dalam kepasrahan yang mutlak dan hancur. Di dalam kepalanya, bayangan wajah ibunya yang pucat beradu dengan tatapan kejam Pak Broto dan seringai iblis Danu. Ia benar-benar telah terjebak di tengah peperangan antara orang-orang berkuasa, dan dirinya hanyalah seonggok debu tak berharga yang siap diinjak sampai lumat kapan saja.
"Bagus," Danu menarik Senja dengan satu sentakan kasar ke dalam pelukannya lagi, mencium puncak kepalanya dengan cara yang terasa sangat posesif sekaligus menghina. "Sekarang, lupakan soal pengacara itu. Aku sedang stres karena urusan saham di kantor, dan kau... harus memastikan malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan. Buka pakaianmu. Jangan membuatku harus mengulangi perintah yang sama."
Senja memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kegelapan kelopak matanya yang tertutup, senyuman kurus ibunya di desa kembali melintas, menjadi satu-satunya bahan bakar pahit yang memberinya kekuatan untuk kembali menanggalkan harga dirinya di depan pria yang memandangnya tak lebih dari sekadar barang pelampiasan. Dengan jemari tangan yang gemetar hebat, ia mulai meraih kancing gamis sederhananya.
Namun, kepasrahan Senja yang terlalu diam malam ini tampaknya justru memantik sisa amarah Danu yang belum padam. Saat kain gamis itu luruh ke lantai, Danu mencengkeram kedua pergelangan tangan Senja, bermaksud mengunci gerakan gadis itu ke atas kepala.
"Aaaakhhh!!"
Sebuah jeritan kesakitan yang luar biasa melengking lolos dari bibir Senja, memecah kesunyian malam. Tubuh mungilnya mengejang hebat di atas ranjang.
Danu tersentak sejenak. Sepasang matanya melirik ke arah pergelangan tangan kanan Senja yang berada di bawah cengkeraman telapak tangannya yang besar. Di sana, jari-jari kokoh Danu ternyata menekan tepat di atas permukaan kulit punggung tangan Senja yang melepuh merah akibat cipratan uap sup panas di dapur tadi siang.
Akibat tekanan kasar yang tiba-tiba, lapisan kulit yang melepuh itu seketika pecah. Cairan bening bercampur darah segar merembes keluar, mengalir melewati sela-sela jari Danu dan mengotori seprai sutra hitam di bawah mereka.
Bukannya melepaskan cengkeramannya karena merasa iba, sepasang mata Danu justru berkilat kian gelap. Ego dan dendamnya yang telanjur membakar d**a menolak untuk memberikan rasa kasihan pada wanita dari keluarga yang telah mengkhianatinya. Ia justru sengaja mempertahankan cengkeramannya di sana, mengabaikan tubuh Senja yang bergetar hebat menahan perih yang seakan membakar dagingnya hidup-hidup.
"Kenapa? Sakit?" desis Danu kejam, menatap lurus ke dalam manik mata Senja yang dipenuhi air mata yang tumpah ruah. "Rasa sakit di tanganmu ini tidak ada apa-apanya dibandingkan hancurnya harga diriku saat kakakmu membuangku, Senja! Jangan pernah berlagak menjadi korban yang paling menderita di sini!"
Danu menarik tubuh Senja tanpa mempedulikan luka yang kian berdarah tersebut. Malam itu, badai yang menerjang berjalan dengan jauh lebih intens, dingin, dan tanpa ampun. Di bawah kungkungan pria yang menjadikannya tumbal itu, Senja mati-matian menggigit bibir bawahnya sendiri hingga ikut mengeluarkan anyir darah, memaksakan dirinya untuk mematuhi aturan pertama Danu: jangan pernah merintih atau menangis meminta belas kasihan di hadapannya.
Ketika fajar menyingsing dan cahaya matahari pagi kembali menyengat tirai sutra kamar mewah tersebut, kehangatan tetap tidak kunjung datang bagi jiwa Senja yang kian hampa. Danu sudah terjaga sejak awal, tubuhnya kini telah terbungkus rapi oleh setelan jas kerja premium berwarna hitam pekat. Pria itu berdiri di dekat jendela besar, memunggungi Senja yang masih meringkuk kaku di tepi ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh penuh luka lebamnya. Punggung tangan kanan Senja tampak dibalut kasar menggunakan robekan kain putih seadanya.
Danu membalikkan tubuhnya perlahan, memecah keheningan pagi dengan nada suara yang kembali sedingin es batu marmer. "Bersihkan dirimu sekarang juga. Sore nanti, penata rias dan desainer pribadi akan datang ke rumah ini untuk merombak penampilan udikmu."
Senja tersentak pelan di balik selimut. Ia mendongak dengan tatapan mata yang kosong, mati, dan lelah. "Merombak... untuk apa, Tuan?"
Danu mendengus sinis, melirik pakaian gamis lusuh Senja yang tergeletak di atas lantai semen dengan pandangan yang sarat akan penghinaan murni. "Malam ini ada pesta gala dinner besar bersama seluruh kolega bisnis, investor utama, dan media massa di Jakarta. Dan kau... akan ikut berdiri di sampingku sebagai istri seorang Danu Aryawangsa."
Jantung Senja seketika mencelos. "T-Tuan... saya harus ikut ke tempat seramai itu?"
Danu melangkah mendekati ranjang, menatap Senja dari atas dengan tatapan yang mencekam. "Aku tidak ingin kau muncul di depan rekan-rekanku dengan penampilan seperti gadis kampung yang baru keluar dari kubangan sawah. Pesta malam ini adalah tentang citra, reputasi, dan harga diriku di mata publik. Di depan kamera nanti, aku tidak peduli seberapa hancur dan matinya perasaanmu di dalam sana, tapi kau... wajib terlihat sebagai istri yang paling bahagia, terhormat, dan berkelas di dunia ini. Mengerti?"
"Mengerti... Tuan," bisik Senja parau, menyadari bahwa panggung penyiksaannya kini tidak lagi terbatas di dalam kamar gelap ini, melainkan akan dipamerkan di bawah sorot lampu kilat ribuan kamera.
Danu membalikkan tubuhnya tanpa mempedulikan batin Senja yang kembali tercabik-cabik oleh kenyataan pahit itu. Ia berjalan menuju pintu ganda kamar utama, namun sebelum tangannya memutar knop pintu, pria itu berhenti sejenak dan menolehkan wajah tampannya yang beku.
"Ingat satu hal ini baik-baik di dalam otak kecilmu, Senja," desis Danu untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar, memberikan ancaman penutup yang mengunci seluruh kebebasannya. "Pesta nanti malam adalah segalanya untuk posisiku di perusahaan. Jika kau berani melakukan satu kesalahan kecil yang mempermalukanku, atau sengaja memasang wajah menangismu yang menyedihkan itu di depan para investor... aku sendiri yang akan menelepon pihak rumah sakit untuk memastikan malam itu menjadi malam terakhir bagi ibumu untuk menghirup napas di dunia ini. Jangan pernah menguji batas kesabaranku."
BAM!
Bersambung