Eliora tidak tahu harus merasa apa setelah Galen pergi. Kalimat terakhir pria itu masih menggema di kepalanya lebih keras dari suara deru MRI yang sempat ia lihat tadi pagi.
“Saya pernah mencintai seseorang yang matanya mirip denganmu… dan saya telah membunuh dia.”
Siapa yang bisa berkata begitu, lalu pergi begitu saja? Seolah kata-kata itu hanyalah angin lalu,Seolah membunuh seseorang yang dicintai bukan dosa, melainkan takdir yang disambut dengan segelas kopi.
Gadis itu masih duduk di bangku tua di taman sekolah,Tak bergerak,Tatapannya kosong menembus langit cerah, seolah pikirannya telah mengapung di tempat lain gelap, seperti mendung yang menolak pergi.
Di dalam tasnya, lembaran hasil MRI terasa seperti batu nisan yang menunggu dipasang. Kanker otak stadium lanjut. Kata dokter, bulan ini mungkin jadi bulan terakhirnya berdiri tegak.
Namun, anehnya, itu bukan hal yang membuatnya takut.
Yang terus menghantui pikirannya kini adalah Galen Asher Valesco guru baru dengan mata seperti labirin tak berujung dan rahasia yang seolah perlahan menyeretnya ke dalam jurang yang tak bisa ia jelaskan.
Ia menatap jemarinya. Ada goresan tipis di bawah kuku seolah habis mencakar sesuatu. Tapi ia tak ingat melukai siapa pun. Bahkan semalam pun ia hanya tidur. Atau… ia pikir ia tidur.
Sejak MRI itu, waktu seolah terlipat. Kadang ia merasa jam berdetik lebih cepat dari seharusnya, kadang terasa berhenti.
Tadi pagi ia merasa baru bangun pukul tujuh, tapi bel sekolah sudah berdentang saat ia tiba Dan tadi malam, ia yakin memimpikan seseorang…Seorang gadis Yang Wajahnya seperti milik Eliora, tapi rambutnya lebih panjang dan matanya bukan cokelat, melainkan hitam. Gelap, Hampa.
Gadis itu berdiri di lorong rumah sakit yang remang, berbisik:
“Waktumu hampir habis, tapi bukan waktumu yang kami cari.”
Eliora sempat terbangun dengan keringat dingin dan rasa logam di lidahnya. Ia pikir itu hanya efek samping dari tumor. Tapi sekarang, semua itu terasa seperti bagian dari teka-teki yang lebih besar.
Bel sekolah berdentang Eliora tak langsung menuju kelas. Ia berjalan menuju toilet, membasuh wajah, lalu menatap dirinya sendiri di cermin. Di lehernya, ada lebam samar… seperti bekas suntikan.
Ia tak ingat pernah ke rumah sakit minggu ini Atau… mungkin ia lupa?
Jari-jarinya menyentuh bagian lebam itu Rasa sangat Perih. Sesuatu terasa tidak beres. Tubuhnya ringan, tapi bukan seperti sehat. Lebih seperti… kosong. Seolah ada bagian dari dirinya yang telah dicabut, dan ia tak sadar kapan itu terjadi.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi email masuk dari alamat tak dikenal dari Arkanshervalesco.eye@sss.
Subjek: Don’t dig too deep, Zephyer.
Tanpa isi Hanya satu lampiran: foto buram seorang pria dengan mata penuh darah dan senyum yang dingin. Di dahinya, terukir jelas sebuah kata dengan tinta hitam pekat:
“CURSED.”Tangan Eliora gemetar. Ini bukan lelucon. Ini… entah ancaman atau peringatan.
Ia kembali ke kelas terlambat.
Kakaknya, Alex yang juga guru di sekolah itu hanya mengangkat alis, tanpa komentar. Seolah tahu bahwa pertanyaan hanya akan membuka luka yang lebih dalam.
Namun di meja guru, Galen tak ada. Sejak meninggalkannya di taman, pria itu seolah lenyap. Eliora mencarinya ke ruang guru, perpustakaan, hingga kantin tapi tidak membuahkan hasil semuanya Kosong.
Saat istirahat, ia membuka ponselnya dan mencoba mencari alamat email pengirim itu. Tidak ditemukan.
Ia bahkan mencoba mengeceknya lewat jaringan TOR dan VPN yang dulu pernah diajarkan Alex saat mereka berbagi minat terhadap keamanan digital. Tapi tetap nihil. Email itu seperti muncul dari tempat yang tidak ada.
Ia mulai bertanya ke beberapa teman“Kamu pernah lihat Galen hari ini?” Tapi semua jawabannya sama.
" Tidak." Bahkan salah satu guru mengatakan Galen sudah izin sejak pagi Tapi itu tidak mungkin.
Ia berbicara dengan Galen di taman kurang dari satu jam lalu.
Pulang sekolah, nalurinya tak bisa diam. Ia mengikuti sosok pria bertubuh tinggi dengan jaket abu yang berjalan cepat namun tenang.
Galen.
Lelaki itu menuju area pertokoan tua, lalu berbelok ke gang belakang yang sepi. Gang tanpa lampu jalan. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari toko antik dengan jendela berembun.
Eliora berdiri di seberang jalan, mengamati dari balik pohon. Etalase toko itu dipenuhi benda-benda aneh seperti topeng dari tulang, belati bengkok, dan lukisan wanita berwajah pucat dengan mata hitam legam.
Galen masuk ke dalam.
Tiga puluh menit berlalu Tak ada tanda ia keluar.
Eliora akhirnya mendorong pintu toko perlahan,Lonceng tua berdenting pelan. Ruangan itu kosong,Tak ada penjaga,Tak ada pembeli Hanya rak-rak kayu penuh debu dan radio tua di pojok ruangan yang memutar lagu instrumental kelam seperti nyanyian pemakaman.
Ia melangkah lebih dalam. Rak-rak itu dipenuhi buku tua tanpa judul, dan botol kecil dengan cairan hitam pekat di dalamnya. Salah satu botol bergetar halus, seolah ada sesuatu hidup di dalam.
Tangannya nyaris menyentuh botol itu tapi ia urungkan karna suara seseorang mengejutkannya.
“Sedang cari siapa?”
Galen berdiri di sana Bersandar di ambang pintu belakang. Senyumnya datar, tak menyentuh matanya.
“Kamu terlalu penasaran, Eliora Zephyer.”
“Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya.”
“Dan kalau kamu tahu, kamu akan menyesal.”
“Aku sudah hidup dalam penyesalan,” jawab Eliora.
Mata mereka bersitatap,Galen menatapnya lebih lama dari biasanya, lalu berjalan melewatinya, begitu dekat hingga aroma tubuhnya menguar maskulin, tajam, dan… ada sesuatu yang lebih gelap. Seperti petir dan hujan.
Ia duduk di balik meja penuh debu dan logam tua.
“Dulu aku bukan siapa-siapa,” katanya pelan.
“Sampai seseorang memberiku kekuatan… dan mengambil semua yang membuatku manusia.”
“Siapa dia?” tanya Eliora.
Galen hanya tersenyum tipis.
“Dia yang juga akan datang padamu… jika kamu terus menggali."ia merogoh dompet kulit tua, mengeluarkan selembar foto. Wajah seorang gadis muda tersenyum cerah, lembut,dan bersinar.
Wajah itu identik dengan wajah Eliora.
“Namanya Arleena Satu-satunya orang yang membuatku ingin hidup Dan aku… gagal menyelamatkannya.”
“Kamu bilang kamu membunuh yang membunuhnya?”Galen mengangguk pelan.
“Dan harga dari balas dendam itu adalah kutukan.”
“Kutukan?” bisik Eliora, nyaris tak terdengar.
“Tanda di lehermu itu… bukan kebetulan.”Napas Eliora tercekat mendengar panturan yang keluar dari mulut galen.
“Kau tahu tentang itu?”
“Tanda itu hanya muncul pada mereka yang terikat perjanjian.”
“Perjanjian apa?”Galen berdiri lalu Mendekati eliora Tatapannya serius, nyaris genting.
“Sesuatu yang tidak bisa kau batalkan.Sekali kau tahu, kau tak bisa keluar Mereka akan menuntut tubuhmu… jiwamu… dan ingatanmu.”
Langkah Eliora mundur Kepalanya berdenyut hebat, Dunia mulai berputar,Tapi ia tak jatuh.
Galen menangkapnya.
“Kenapa kamu tahu semua ini?” bisiknya lemah.
Galen menatapnya lama, dalam, dan penuh luka.
“Karena aku dulu juga begitu. Aku adalah subjek #01, Eliora. Dua puluh tahun lalu.”
Darah Eliora membeku.
Malam itu, di kamarnya, ia kembali membuka hasil MRI Namun ada yang aneh Tanggal pemeriksaan berubah Dari dua minggu lalu… menjadi besok.
Umurnya pun bukan lagi 17 tahun Tapi 25.
Nama dokternya bukan lagi Dr. Helena. Melainkan:
A.R.
Eliora menggulir ke bagian catatan Ada tulisan tangan samar, hampir menghilang:
“Subjek #07: Menunjukkan resistensi awal. Target inkubasi: 72 jam. Status: Berpotensi gagal.”Jantungnya tercekat.
"Subjek?"
"Inkubasi?"
Siapa yang sedang menguji dirinya?
Dan sejak kapan… dia bukan manusia biasa?
Untuk pertama kalinya, Eliora benar-benar merasa takut, Takut bukan karena kanker Tapi karena satu kesadaran baru:
Penyakitnya mungkin bukan kanker.
Dan Galen…
bukan sekadar guru.
Bukan sekadar mantan pecinta yang terluka.
Ia mungkin satu-satunya yang tahu mengapa Eliora masih hidup… saat seharusnya ia sudah mati.