Malam itu, Eliora tidak tidur,Ia duduk bersandar di dinding kamarnya, memandangi hasil MRI yang tampak berubah setiap kali ia menatapnya. Cahaya kuning lampu meja memperjelas tulisan tinta samar di sudut bawah kertas:
Subjek #07: Menunjukkan resistensi awal. Inkubasi: 72 jam.
"Resistensi?"
"Apa yang sedang diinkubasi di dalam tubuhku?"
Dengan napas tidak beraturan, Eliora bangkit dan membuka laptop. Jari-jarinya mengetik cepat alamat email yang pernah muncul sekilas di notifikasi ponselnya:
arkansher.valesco.eye.com@gmail.com
Satu kalimat ia kirim:
"Apa yang kalian lakukan padaku?"
Layar laptop hanya memantulkan wajahnya sendiri pucat, mata sembab, dan… sepasang urat keunguan samar yang menjalar dari bawah telinganya hingga ke tengkuk.
Urat itu… tidak ada kemarin,Tidak mungkin Refleks ia menyisir rambut untuk menutupinya. Dadanya sesak, seolah paru-parunya menolak menerima kenyataan. Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 02.19 dini hari.
Dan kemudian… bunyi itu.
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan, Pelan,Terukur.
Bukan angin,Bukan halusinasi,Eliora mendekati jendela, mengintip dari celah gorden.
Tak ada siapa pun.
Kecuali… satu amplop hitam yang terselip di bingkai kayu jendela. Jemarinya gemetar saat menariknya. Di bagian depan amplop, tulisan tangan miring rapi terbaca jelas:
Untuk Subjek #07 – Jangan Percaya Siapa Pun, Bahkan Dirimu Sendiri.
Di dalamnya, hanya ada satu foto Usang, dengan warna memudar. Tapi isi foto itu membuat Eliora nyaris menjatuhkannya.
Itu dirinya.
Tapi bukan dirinya yang sekarang Seragam sekolah yang berbeda,Gaya rambut lain, Senyum yang identik.
Foto itu tampak seperti berasal dari dua puluh tahun lalu.
Apa dia pernah hidup di waktu lain? Atau… ada seseorang yang mencoba menjadi dirinya?
Pagi harinya, Eliora tetap pergi ke sekolah. Langkahnya berat, pikirannya lebih kacau dari biasanya. Tubuhnya terasa ditarik ke dua arah satu ke rutinitas normal sebagai pelajar, satu lagi ke dalam kegelapan yang tak bernama.
Alex kakaknya, menatapnya dengan curiga saat sarapan, tapi tak bertanya apa pun.
Sebelum berangkat, ia sempat melihat pantulan dirinya di kaca dapur.
Ada semacam bayangan hitam samar di balik pupil matanyahanya terlihat sekilas, tapi cukup untuk membuatnya berhenti bernapas sesaat.
Di sekolah, Galen tidak tampak.Posisi mengajarnya digantikan oleh guru lain Tapi Eliora nyaris tak memperhatikan pelajaran.
Ingatannya terus melayang pada catatan MRI, pada urat keunguan, dan pada kalimat di amplop hitam.
Saat istirahat, ia berjalan ke perpustakaan, mencari satu buku tua yang dulu Galen pernah sentuh ChronoGenetics, Rekayasa Waktu dalam Biologi Manusia. Buku itu seharusnya tidak ada di perpustakaan sekolah. Namun kini, ia menemukannya di rak paling atas, tanpa label katalog.
Saat membukanya, ia menemukan coretan tangan pada halaman depan:
Jika waktu bisa diulang, harga yang dibayar adalah jati diri. — G.V.
Di halaman tengah, ada diagram tubuh manusia dengan garis-garis simbolik mengarah ke titik-titik saraf otak, jantung, dan sumsum tulang belakang. Salah satu diagram diberi lingkaran merah
Zonum Temporalis Sumber ingatan waktu sirkular.
Seketika kepala Eliora berdenyut. Ia menutup buku itu dan berlari keluar.
Ia kembali ke taman belakang sekolah. Di bawah bangku tempat ia biasa duduk, kemarin ia menyembunyikan catatan kecil berisi kronologi gejala yang mulai ia alami dua minggu terakhir.
Namun kertas itu hilang.
Sebagai gantinya, ada sesuatu yang lain: sebuah kalung tipis, dengan bandul berbentuk jam pasir. Pasirnya hitam dan mengalir ke atas, bukan ke bawah.
Di balik bandul, terukir tulisan kecil:
Phase 2 begins.
Eliora nyaris melempar benda itu ketika suara di belakangnya membuatnya membeku.
“Jangan dibuang Itu satu-satunya cara kamu tahu berapa banyak waktu yang tersisa.”
Galen,Ia berdiri di balik pohon, mengenakan jaket panjang gelap, wajahnya lelah, rambut acak-acakan Seperti seseorang yang tidak tidur semalaman.
Eliora menatapnya, tajam. “Kalau ini jam hitung mundur, apa yang terjadi saat pasirnya habis?”
Galen tidak langsung menjawab.
“Eliora… kamu bukan satu-satunya subjek Tapi kamu satu-satunya yang belum menyerah.”
“Subjek?” Eliora memucat.
“Kamu bicara seolah aku ini eksperimen laboratorium.”Galen mendekat dan duduk di sampingnya. Lebih dekat dari biasanya.
Wajahnya tampak berat menahan sesuatu.
“Dua puluh tahun lalu,” katanya pelan.
“sebuah proyek bernama Aetherium diluncurkan teknologi regeneratif berbasis genetik. Mereka mencoba menyelamatkan orang dari kematian, memulai dari anak-anak dengan penyakit mematikan Tapi proyek itu rahasia Tidak ada izin keluarga Mereka hanya memilih.”
Eliora membeku. “Mereka?”
“Organisasi di balik jaringan rumah sakit besar.
Mereka menyebut diri mereka Arkaneum.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Subjek #07,” lanjut Galen.
“adalah salah satu eksperimen paling berharga. Dia… adalah kamu.”Eliora berdiri, terguncang.
“Tidak. Aku baru tahu aku sakit dua minggu lalu! Hasil MRI baru keluar!”Galen menatapnya lekat.
“Kamu tidak baru tahu.”
“Ingatanmu dihapus. Diulang. Kamu diberi kehidupan baru yang sudah diskripkan Tapi sebenarnya… kamu sudah menjalani ini berkali-kali.”
Langit di atas mereka kelam. Suara daun yang diterpa angin terasa terlalu sunyi.
Eliora terduduk kembali.
“Jadi… ini bukan pertama kalinya?”
“Tidak,” jawab Galen pelan.
“Setiap kali pasir jam itu habis, siklusmu dimulai ulang Tubuhmu dipulihkan, tapi ingatanmu diganti. Jiwamu perlahan… menipis.”
Eliora memeluk dirinya sendiri, air mata mengalir tanpa suara.
“Kalau begitu… aku ini siapa?”
Galen memandangnya dalam. Untuk pertama kalinya, wajah dinginnya menunjukkan iba.
“Kamu Eliora Zephyer. Tapi kamu juga lebih dari itu.”Ia mengambil kalung dari tangan Eliora dan menggenggamnya.
“Saat kamu sadar sepenuhnya… kamu mungkin akan membenci siapa dirimu sebenarnya.”
Malam itu, di dalam kamarnya, Eliora menatap laptop yang menampilkan satu email baru dari pengirim anonim.
Subject: Project File #07: Timeline Recall Request Approved.
Isinya hanya satu tautan menuju rekaman video Dengan tangan gemetar, Eliora mengklik,
Gambar pertama: ruangan putih steril, seperti laboratorium Di tengahnya, seorang gadis duduk di kursi logam, tangan dan kaki terikat
Wajah gadis itu adalah miliknya.Namun lebih dewasa Tatapannya kosong Di pipi kanannya, ada luka gores panjang. Kamera merekam dari sudut atas ruangan.
“Subjek #07 menunjukkan perlawanan fase ketiga.Proses penghapusan memori tidak sepenuhnya berhasil. Intervensi dibutuhkan.”
Suara pria terdengar dari luar layar dalam , tenang, dan familiar.
Galen?Tidak Dia Lebih tua Tapi mirip Seperti… ayahnya?
“Jika ingatannya aktif lagi, semua protokol bisa gagal. Kita harus memilih hapus ulang atau aktifkan kode final.”
Video berhenti.
Eliora menutup laptop Nafasnya berat, terengah, seolah baru saja tenggelam dalam air es.
Jika semua yang ia kenal keluarga, sekolah, bahkan hobi kecil seperti melukis dan bermain piano ternyata hanyalah hasil dari skrip buatan…Lalu, siapa dirinya sebenarnya?
Ia menatap bayangannya di jendela.
Bayangan itu tak terasa seperti miliknya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Eliora merasa ia sedang diburu oleh versi terdahulunya sosok yang mungkin masih hidup dalam ingatannya,dan mungkin…tidak ingin dirinya yang sekarang hidup lebih lama dari dia.