Lingga Setiawan baru saja berbelok, ketika tubuhnya secara tidak sengaja menabrak Bodrax si preman yang sedang mabuk.
Bodrax tubuhnya lebih besar dua kali lipat dari ukuran tubuhnya, terdorong satu langkah ke belakang.
"Setan alas!" makinya sambil maju selangkah dan menyambar krah pakaian Lingga Setiawan dan mengangkatnya ke arah wajahnya yang seram.
Matanya merah berkabut, mulutnya tercium bau alkohol yang kuat, ada sisa cairan kuning di bibirnya.
"Hahh. Cari mati!"
"Bruukkk!"
Sekuat sisa tenaganya, Lingga Setiawan dibantingnya.
Tubuh kurus Lingga Setiawan beradu dengan jalanan. Remaja kelas satu SMP yang malang itu meringkuk merasakan semua tulang belulangnya seperti berpatahan. Tidak ada suara keluhan dari bibirnya hanya air mata meleleh karena menahan rasa sakit yang tidak terkira.
Bodrax belum puas membanting Lingga Setiawan, kakinya yang panjang dan besar melayang memberikan tendangan tepat menghantam pinggang, membuat tubuh Lingga Setiawan terguling-guling dengan rasa sakit yang semakin menyiksa.
"Bocah Tengik. Cari mati! Glek...Glek!"
Bodrax memaki dengan gusar sambil menenggak air keras yang ada di tangan kirinya. Setelah itu, kaki kanan terangkat siap menendang...
"Beegghh!" suara pukulan keras menimpa punggungnya.
"Adooww!" teriaknya kesakitan, Bodrax langsung berbalik mencari siapa yang berani memukulnya.
Dari matanya yang mulai berkabut karena kebanyakan minum, Bodrax menemukan remaja seusia dengan remaja yang dihajarnya. Badannya liat, matanya tajam buas dengan sepotong kayu tergenggam dengan kencang di kedua tangannya.
Remaja itu adalah Sandaka Tiger, teman karib Lingga Setiawan, yang kebetulan lewat di jalan yang sama malam itu. Melihat teman karibnya diperlukan seperti itu, ia tidak bisa terima. Meski ia tahu tubuhnya kecil, hanya setengah besar dari Bodrax, tapi ia tidak takut.
Sandaka Tiger mempunyai keahlian beladiri tidak seberapa tinggi tapi ia mempunyai keberanian tidak bisa diukur. Dengan pertimbangan sederhana seperti itu, maka ia nekat membela temannya, apapun resikonya.
"Wooi, lepaskan temanku!" teriak Sandaka Tiger sambil mengayun-ayunkan kayu mengancam.
Bodrax tertawa mendengar teriakan itu, malah sambungnya sambil mengejek.
"Ha... Ha... Ha... kau mau apa bocah. Apa kamu mau dihajar juga?"
Bodrax mengangkat kedua tangan dan memancang kuda-kuda, meski agak goyah.
Sandaka Tiger adalah remaja pendiam, ia bicara hanya seperlunya saja. Menerima respon seperti itu, ia semakin menggenggam erat kayu di tangannya. Matanya intens mengikuti gerak-gerik Bodrax dengan waspada.
"Mampus!... Swinggg... Prakk!
Bodrax memaki sambil meloncat maju, kemudian cepat melepaskan pukulan tangan kanan ke arah Sandaka Tiger. Gulungan hawa pukulan menyambar, Sandaka Tiger tidak takut, dengan sedikit menggeser kaki kanannya, ia menghindar dan membalas dengan mengayunkan kayunya, ke arah tangan Bodrax.
"Adooww! Bocah Setan!" teriaknya. Dua kali Bodrax terkena pukulan, tapi tidak kapok juga. Sumpah serapah keluar dari mulutnya yang meringis menahan sakit. Sedikitpun ia tidak menduga bahwa lawannya berhasil memukulnya.
"Sial, dangkalan. Cari mati kamu bocah tengik!"
Akhirnya perkelahian tidak dapat dihindarkan lagi.
"Prangg...!"
"Wuut... Wuut...!"
Bodrax itu meloncat terbang, sambil memecahkan botol. Sisa pecahan botol dipindahkan ke tangan kanan. Lalu diayun kuat dua kali ke arah Sandika Tiger.
Sayang lawan kecilnya sangat lincah, dengan mudah bergerak menyelinap dan menghindar pukulan botol dengan mulus. Ayunan botol yang terlalu kuat dan bernafsu tidak menemui sasaran hanya menerpa angin kosong, membuatnya malah kehilangan keseimbangan karena berat badannya terbawa ke depan ke arah ayunan dan sialnya botol itu malah lepas dari genggamannya. Tubuhnya sempoyongan tapi ia berhasil memperbaiki posisinya dan tidak jadi terjerembab jatuh.
Setelah posisinya stabil Bodrax melakukan serangan lanjutan dengan tangan kosong. Dua pukulan telak yang menghantamnya, membuatnya lebih waspada.
Gerakannya terus mengejar ke manapun Sandaka Tiger lari menghindar. Usahanya berhasil menutup pergerakan lincah lawan kecil yang masih memegang kayu sebagai senjata. Dua sambaran tangan kosong penuh tipuan dengan tujuan merebut kayu atau kalau bisa memukul hancur kayu yang dipegang lawannya.
Sandaka Tiger kalah pengalaman. Berkelahi dengan lawan kenyang berkelahi membuatnya keteteran juga. Apalagi tipuan yang dilepas Bodrax berhasil memancing Sandaka Tiger melakukan kesalahan.
Saat Bodrax terpojok antara tembok dan tiang baja, agak bernafsu Sandaka Tiger melakukan serangan, dengan harapan sekali pukul lagi, Bodrax akan kalah. Tapi, kenyataan sebaliknya, dengan gesit Bodrax menghindar pukulan kayu dengan menggulingkan tubuhnya. Akibatnya...
"Praaak!"
Ayunan kayu memukul tiang baja, dan patah menjadi tiga bagian. Sandaka Tiger terpaksa membuang kayu yang semula senjatanya. Dalam kesempatan sempit itu, Bodrax meloncat dan melepaskan empat lima pukulan dan dua tendangan.
Pukulan dan tendangan mengenai sasaran, tapi tenaganya terkuras banyak. Apalagi pengaruh minuman keras sangat menggangu konsentrasinya.
Dihajar seperti itu tidak membuat Sandaka Tiger menjadi gentar dan menyerah. Meski sakit menjalari seluruh tubuhnya yang terpukul. Ia terus melawan. Dipompa semangat dan dibangkitkan kekuatan dari dalam dirinya. Menyala keberaniannya. Seperti macan muda terluka. Ia balas menyerang Bodrax.
"Hiaaa..!"
Tendangan loncat dikombinasikan dengan tendangan balik dilancarkan Sandaka Tiger tanpa henti. Teriakannya mengagetkan Bodrax, stamina menurun membuat gerakannya sudah tidak stabil dan pandangannya goyah. Tangkisannya lolos dan tanpa ia sempat mengelak lagi, satu tendangan loncat Sandaka Tiger, berhasil menghantam ulu hatinya. Badannya limbung, dan rasa sakit menyengatnya. Belum juga hilang rasa sakitnya, tendangan balik Sandaka Tiger tepat menghantam lehernya.
Tubuh Bodrax yang besar itu tumbang tanpa sempat mengaduh.
Dengan menahan rasa sakit yang menyengat ulu hati dan lehernya, ia berusaha bangkit, melolos sebuah belati yang ada diselipan pinggangnya.
"Bocah tengik... rasakan ini...!"
Ia meloncat terbang ke arah Sandaka Tiger dengan tangannya yang besar melakukan serangan kombinasi demgan mengayun dan menyabetkan belati.
"Wuut... Wuut... Wuuut...!"
Karena marah dan rasa sakit yang tidak hilang-hilang di ulu hati dan lehernya, Bodrax bergerak tidak terkendali. Melihat itu dengan cerdik dan cekatan Sandaka Tiger berhasil menghindar dari serangan itu.
"Wuutt...!"
Dengan berteriak emosi, Bodrax terus memburu dengan serangan yang datang bagaikan badai.
"Harrrggggh..!"
Gerakannya menyilang mengarah perut Sandaka Tiger, Sandaka Tiger menarik perutnya ke belakang menghindari sabetan belati. Tangannya mengembang mengibas menangkis, memberi dorongan tangan yang memegang belati yang telah goyah, dengan cepat arah telapak tangan kanannya berubah mencengkeram pergelangan tangan dan kemudian ditariknya dengan sekuat tenaga ke arah samping.
Bodrax kehilangan sasaran, sabetan tangannya ke depan membawa beban tubuhnya, tak ayal ketika sasarannya mengelak ke samping, berbarengan tangan itu tertangkis. Lalu, Sandika Tiger mencengkeram tangannya kemudian menariknya kuat, seketika tubuh besarnya terjerembab ke depan. Saat terjatuh tangannya yang memegang belati berputar dalam posisi belati terbalik mengarah ke dadanya sendiri, Akibatnya...
" Jlebb... Aaaaa!"
Belati itu memasuki kulit, daging, sela rusuk dan melenceng menusuk jantungnya saking kerasnya ia jatuh dan ditambahi berat tubuhnya.
Tubuh besar itu terjatuh tertelungkup, dan belati menjadi senjata makan tuan. Berkelojatan, terkapar dan meregang nyawa.
Sandaka Tiger terkejut juga, tidak pernah menyangka akhir perkelahian berakhir seperti itu.
Bersambung....