Malam itu, hidup Lingga Setiawan berubah total.
Ia tidak pernah menyangka, bahwa peristiwa yang selama ini hanya ia tonton dari layar smartphone—perkelahian brutal, jeritan luka, dan kematian—akan terjadi langsung di depan matanya.
Langit gelap dan hujan baru saja reda. Lampu jalan yang temaram memantulkan bayangan-bayangan panjang di trotoar basah. Di gang sempit dekat apotik, tubuh preman mabuk bernama Bodrax tergeletak dalam genangan darah. Belati yang menusuk perutnya masih basah dan menancap. Matanya melotot, merah menyala, lalu melayu perlahan saat nyawanya lepas dari tubuhnya.
Dia mati. Karena Lingga Setiawan.
“Oh... Oh... Oh...” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Suaranya kacau. Nafasnya tercekat. Jari-jari tangannya gemetar.
---
“Lingga, cepat! Kita harus pergi dari sini!”
Itu suara Sandaka Tiger, sahabatnya. Tubuh mereka seukuran, tapi nyali Sandaka seolah milik seekor macan jantan. Dialah mengalahkan Bodrax. Meski tanpa sengaja, tapi secara tak terduga berhasil membuat preman itu jatuh tertikam oleh pisaunya sendiri. Sebuah perkelahian singkat, tangkisan, dorongan, sebuah refleks, dan... semuanya selesai.
Tanpa banyak kata, Sandaka Tiger menyeret Lingga pergi, menjauhi tubuh dingin dan nyawa yang sudah tiada. Sepatu mereka menciprat air dari genangan, bunyinya seperti suara pelarian yang tergesa.
Lingga Setiawan berjalan sempoyongan. Plastik obat untuk kakeknya tergenggam erat-erat, basah oleh keringat dingin. Pikirannya kalut. Sepasang mata merah yang perlahan redup itu—mata Bodrax di ujung maut—masih membayang terus di pelupuk matanya.
Ia mencoba memejamkan mata. Tapi bayangan itu tetap ada. Jeritan sekarat Bodrax masih menggema di telinganya. Dunia yang ia kenal telah retak.
---
Mereka tiba di depan rumah kakek Lingga Setiawan. Bangunan kecil dengan pagar besi berkarat, satu lampu depan menyala. Mungkin kakeknya belum tidur.
Sandaka Tiger menghentikan motor. Mesinnya dimatikan. Suasana sunyi.
Lingga Setiawan turun, langkahnya goyah. “Sandaka... Aku masih dengar suaranya. Suara napas terakhir dia...”
“Sudah. Cukup.” Sandaka Tiger berdiri dan menepuk bahunya. “Masuk. Lupakan semua!"
“Kamu yakin tidak ada yang lihat?”
“Tempat itu gelap. Tidak ada CCTV. Dan Bodrax… orang kayak dia mati, paling juga dikira ribut antar preman.”
“Aku takut…”
“Kamu gak sendiri, bro.”
Tanpa banyak kata, Sandaka Tiger memutar badan dan menghilang dalam gelap malam. Itu adalah terakhir kalinya Lingga melihat sahabat sejatinya itu.
---
Keesokan harinya...
Berita kematian Bodrax menyebar cepat di dunia jalanan. Tidak ada saksi, tidak ada jejak. Hanya satu senjata belati yang dikenali milik Bodrax sendiri. Polisi menyimpulkan: Konflik antar preman. Bukti tidak cukup. Berkas disimpan. Kasus ditutup. Tapi dunia jalanan tidak pernah melupakan.
Untuk mencegah segala kemungkinan balas dendam dari kelompok Bodrax, ayah Sandaka Tiger mengambil keputusan cepat.
--
Di Rumah Keluarga Tiger...
Barata Tiger, ayah Sandaka Tiger, berdiri memandangi halaman rumahnya. Pria baya yang menguasai dunia kelam kota itu tahu betul: ketika darah tumpah, dendam pasti menyusul.
“Bodrax mati… dan cuma satu yang punya alasan untuk itu,” gumamnya.
Sandaka Tiger duduk diam di sofa. Luka kecil masih terlihat di tangan kanannya.
“Lingga anak baik. Tapi terlalu polos untuk dunia seperti ini. Dan kamu… kamu bukan bocah SMP biasa lagi.”
“Dia menyerang duluan, Papa. Aku hanya membela Lingga,” jawab Sandaka Tiger.
“Papa tahu. Tapi itu tidak akan penting kalau peluru datang mengejarmu. Kamu pergi. Papa sudah atur segalanya. Ada orang kita di Marina Tundra, pamanmu sendiri! Kamu tinggal di sana, sekolah, belajar seni, musik, apapun. Bersih dari semua ini.”
Sandaka Tiger menunduk. “Aku tidak mau ninggalin Lingga.”
“Papa yang akan urus dia.”
---
Sementara itu...
Lingga Setiawan duduk di pojok kamar. Selimut membungkus tubuhnya meski cuaca panas. TV menyala tanpa suara. Matanya terus menerawang ke langit-langit. Darah, tatapan Bodrax, jeritannya… tak bisa hilang.
Kakeknya datang, mengetuk lembut. “Lingga...? Kamu belum tidur?”
“Belum, Kek. Aku... pusing.”
“Besok kita ke dokter, ya?”
“Ya, Kek…”
Ia tak tahu harus berkata apa. Setiap kali hendak bicara, tenggorokannya serasa dicekik kenangan yang terus menghantuinya.
---
Esok Harinya...
Sebuah SUV hitam berhenti di depan rumah. Seorang pria berseragam polisi turun. Wajahnya tegas. Namanya Mayor Hanafi, kakak almarhum ayah Lingga Setiawan.
“Ayah, apa kabar?” katanya pada Kakek. Kakek Lingga memeluk Hanafi dengan erat. Wajah tuanya terlihat cerah dan sepasang matanya berbinar terang melihat kemunculan anak keduanya yang tidak terduga.
"Ayo, masuk! Istirahat dulu. Kebetulan kamu datang," ujar Kakek Lingga sambil menggandeng sisa anak kebangganya masuk ke dalam rumah.
Di tengah ruang tamu, mereka bertemu. Lingga Setiawan keluar dari kamar perlahan. Matanya masih sembab.
“Paman...?” gumamnya.
"Hai... ada apa? Keponakan jagoan, Paman?" tanya Hanafi melihat keadaan Lingga Setiawan yang kacau dan murung.
"Itulah yang akan aku bicarakan!" ujar Kakek Lingga.
"Tapi... itu bisa nanti. Sekarang kamu istirahat, dulu!" ujar Kakek Lingga. "Kamarmu... Masih seperti dulu. Kamu tidur di sana, ya!"
Tanpa menunggu jawaban, Kakek Lingga menyiapkan makan malam untuk bertiga!
---
Setelah makan malam...
Betapa terkejut Hanafi ketika mendengar cerita ayahnya, tentang keadaan Lingga Setiawan yang mengalami trauma akibat tewasnya Bodrax.
Gampang disimpulkan melihat keadaan Lingga Setiawan yang dulunya periang, sekarang berubah menjadi gugup dan ketakutan.
Hanafi memeluknya. “Kamu sekarang aman. Paman akan bawa kamu ke tempat yang lebih tenang. Ke Flame City. Di sana kamu bisa mulai dari awal.”
Kakek Lingga mengangguk setuju, dengan air mata yang diseka cepat.
Lingga Setiawan tidak berkata apa-apa. Tapi dalam matanya, ada harapan kecil yang menyala: tolong aku. Bebaskan aku dari bayangan itu.
---
Sementara itu...
Malamnya, Sandaka Tiger mengemasi barang. Ia menulis surat pendek untuk Lingga Setiawan, kemudian menitipkannya kepada Papanya. Isinya singkat:
"Bro, maaf aku harus pergi duluan. Jaga dirimu. Suatu hari kita ketemu lagi. Jangan takut, kamu lebih kuat dari yang kamu pikir."
---
Lingga Setiawan membaca surat itu pagi harinya. Yang dikirim oleh orang suruhan Barata Tiger, ayah Sandaka Tiger.
Kebetulan Paman dan Kakeknya, belum pulang jogging.
---
Dibacanya surat itu. Ia mengenali tulisan tangan Sandaka Tiger. Hanya yang membuatnya sedikit heran, mengapa Sandaka Tiger memilih menulis surat, padahal lebih praktis kalau mengirim pesan lewat smartphone saja.
"Pasti, ada pertimbangan khusus dia melakukan ini!" batin Lingga Setiawan sambil membaca isi singkat surat itu.
Setelah membaca dan mencerna maksudnya, Lingga Setiawan merasakan kehilangan. Ada rasa hampa dan nyeri yang tak bisa dijelaskan.
Sejak itu, ia tak pernah lagi melihat Sandaka Tiger.
---
Di bandara, Sandaka Tiger menatap landasan pacu. Tiket ke Marina Tundra di tangannya. Masa lalu tertinggal, tapi luka itu masih membekas.
Sementara itu...
Di dalam mobil menuju Flame City, Lingga Setiawan duduk diam. Bayangan malam itu masih menghantui, tapi untuk pertama kalinya… ia merasa tidak sendiri.
Ia merasa lebih tenang, ketika melirik ke kanan. Melihat Paman Hanafi yang gagah dan penuh semangat.
"Aku harus mulai dari awal. Seperti kata Paman."
"Ayah dan Ibu... Aku harus kuat!"
Bersambung...