Sepuluh tahun kemudian...
"Buuughh...!"
Salah mengantisipasi serangan lawan. Dagunya tersengat rasa panas yang menjalar ke selebar wajahnya. Lumayan, kepalan tangan sebesar buah Jambu Kristal yang manis itu terasa menyengat kesadarannya. Ia harus lebih berhati-hati, kalau tidak hancurlah muka tampannya dihajar babak-belur.
Ia menggoyangkan kepalanya untuk mengusir melentingnya sedikit kesadaraanya.
Ia harus fokus... fokus!
Digertakan giginya keras-keras. Ia bangkitan insting bertarungnya yang paling liar. Semua tenaga yang ia punya terkumpul penuh di kedua kepalan tangannya.
"Hiaaaaa...!"
Tubuhnya mengawang di udara. Menggunakan efek lentingan, Dicobanya melepas setengah tenaga sebagai pancingan melalui pukulan tangannya melengkung mengincar wajah lawan.
"Wuuutt... !"
Angin pukulannya menerbangkan rambut di dahi lawannya yang segera menghindar dengan menundukkan kepalanya. Gerakan menghindar yang sempurna, masuk ke dalam perangkap serangan pancingan tadi.
"Hiaaa...!"
Bukan pukulan tangan kedua yang menyusul tapi tendangan kaki kanan yang mencuat mengincar dagu lawan yang tertunduk.
"Sial... Awas, kamu!"
Lawan terkejut tapi tidak sedikit pun terlihat gugup dengan cepat ia memindahkan gerak tubuhnya ke samping dan mengangkat kedua tangan menutup tendangan dan tangan satunya menjaga jika ada pukulan yang lain tersembunyi mencuri datang. Akibatnya...
"Dukkk... !" "Syuuut...!" "Blammm!"
Tangkisan tangan kirinya berhasil membendung tendangan kaki kanan lawan, sedang tangan kirinya sudah bersiap menunggu pukulan susulan, tapi perkiraannya kali ini meleset jauh.
"Licin!" gumamnya.
Dengan cerdik, setelah kaki kanannya tertangkis, lawan malah melentingkan tubuhnya berputar sambil melancarkan tendangan balik yang luar biasa keras. Ia kecolongan, dan hadiahnya sangat menyakitkan.
Cegatan tangan kirinya terlambat membendung tendangan balik kaki kiri yang deras menerobos pertahanannya dan bersarang telak di dadanya. Panasnya bukan main dan terasa sesak. Sepatu bersol karet itu, membuat kenangan di dadanya.
"Ha... Ha... Ha... satu sama!"
Lawannya berputar dengan lincah, kaki dan tangannya bergerak bergantian membuat lawan pecah konsentrasi dan menjadi lengah. Tapi, sudah cukup baginya. Satu kesalahan tidak boleh diulang lagi. Dadanya masih nyeri. Namun ia harus membalas lawannya...
"Sreett... !"
Dikeluarkan Bowie kesayangannya, ditimang-timang dan di lambungankan ke kiri dan ke kanan telapak tangannya. Wajahnya menyeringai, tatapannya lekat mengintimidasi, ia memperbaiki kuda-kudanya untuk bersiap melakukan pertempuran jarak dekat.
"Coba, kamu hadapi keliaran si Bowie!" jengeknya.
Karena pisau Bowie sangat pas jika lawan berada dalam jangkauan tusukan atau sabetan pisau.
Ia memainkan gerakan kakinya untuk menutup gerak lawan. Setelah dirasa musuh sudah masuk target sasaran, melesatlah tubuhnya dengan melakukan serangan berantai. Kombinasi antara tusukan dan sabetan pisau, bergerak lincah penuh tenaga dan sangat berbahaya.
"Hiaaaa...!" "Wuuutt... Wuuut... Wuut!"
Lawan ternyata sangat lincah, meski posisinya sudah terkunci, ia masih mampu melakukan elakan yang sangat tipis.
Pertempuran jarak dekat tidak membuatnya gugup dan ketakutan. Dilayani serangan pisau yang datang seperti air bah dengan perhitungan yang sangat akurat dan efektif. Hanya terpaut satu inci, sabetan, tusukan bisa dihindarkan dengan mulus.
Hanya dengan sedikit menarik tubuh, meliuk, atau bergesee setengah tapak saja, pisau ganas itu, hanya merobek udara kosong dan lawannya masih terus lincah membalas memberikan ancaman dan melolos ikat pinggang kulitnya dari ban celana.
"Wiir... Wiir... Wiirr!" "Syuuut.... Uugh!" "Kenaaa!"
Diputarnya dengan cepat, kemudian tanpa jeda diluncurkan untuk memotong arah tusukan pisau. Dengan cerdik ikat pinggang itu meluncur bukan untuk memukul tapi melibat pergelangan tangan yang menggengam pisau. Ikat pinggang yang lentur di tangan ahli adalah senjata yang sangat efektif untuk menaklukan gerak tangan lawan.
Putaran ikat pinggang sangatlah cepat datangnya dan berhasil melibat tangan kanan yang memegang pisau bukan untuk ditarik, tapi dengan berani, tubuhnya malah melayang ke depan. Menerjang dengan gelakan meliuk menghindari, area berbahaya gerakan pisau jika terlepas. Keberanian yang terukur dan mematikan, yang tidak pernah bisa dibaca oleh lawannya.
Tiba-tiba ia sudah ada di sisi luar lawan, dan dengan halus masuk ke dalam menyelinap, entah kapan ia mencabut pisau Bowie yang sama? Tapi kedua ini sudah menempel di pangkal leher lawannya!
"Nyerah... aku. Ling!"
Pemegang Bowie pertama adalah Andika, menyerah total oleh kecerdikan dan kehebatan lawan tandingnya.
"Heeh... kali ini, aku bisa membuatmu menyerah!"
Lingga Setiawan dengan senyum kemenangan, menyelipakan Bowie ke tempat asalnya. Dikendurkan tangannya, lepas lah ikat pinggang yang melibat tangan Andika yan tidak berkutik melanjutkan serangannya.
Keringat berlelehan di tubuh dan wajah keduanya.
Namun, senyum puas membayang, apapun hasil dari "duel" kali ini.
Letnan Andika adalah sahabat dan lawan tanding, Letnan Lingga Setiawan di kepolisian Wilayah Flame City. Mereka berada salam satu kesatuan yang sama.
Letnan Andika sangat gembira melihat perkembangan kemampuan bertarung dari sahabatnya. Padahal sebulan yang lalu, setiap bertarung seperti ini, untuk mengasah kemampuannya bertarung. Letnan Lingga Setiawan selalu kalah satu gerakan dengannya.
"Kringgg... Krinnggg!"
Suara smartphone Lingga Setiawan yang ada di meja kecil di dekat tempat berlatih itu, berbunyi dan bergetar.
"Brooo... aku cabut, dulu, ya!" "Chief... mencariku, nih!"
Lingga Setiawan melesat dan menyambar smartphone sambil berlari, ia menjawab panggilan Chief. Sempat dilambaikan tangan kirinya untuk pamitan. Yang dibalas oleh Andika dengan menangkat tangan dan tersenyum lebar.
"Luar biasa, kemajuannya!"
Andika membereskan semuanya, dan berlalu meninggalkan tempat latihan khusus mereka yang tersembunyi di balik reruntuhan gedung tua!.
---
Wajahnya tampan dengan rambut panjang dibiarkan tergerai lepas di bahunya. Tubuhnya tinggi tegap atletis. Dadanya bidang, perutnya tipis liat. Matanya tajam seperti mata elang, hidungnya tinggi mancung dengan bibir yang tipis yang jarang tersenyum.
Dagunya masih terlihat lebam, karena pukulan Andika.
Pembawaanya tenang, tapi gerakan bisa beradaptasi dengan keperluan tugasnya. Ia mampu merubah kebiasaan, karakter sesuai dengan penyamaran yang dilakukannya.
Tidak ada yang jelas tahu profesinya, kecuali orang-orang khusus yang memang mengetahui latar belakangnya. Hanya Letnan Andika dan Chief Gumawang saja yang tahu!
---
Ruang komando utama Flame City seperti biasa sunyi, hanya dipenuhi suara denting keyboard dan lampu indikator yang berkedip pelan. Di tengah ruangan itu, Chief Gumawang berdiri di depan layar hologram besar, menatap peta sektor utara yang mulai memerah oleh aktivitas Red Scorpion.
Pintu otomatis terbuka. Langkah sepatu tempur menggema.
“Letnan Lingga Setiawan melapor, Pak.”
Chief Gumawang menoleh. Pria muda itu berdiri tegap, dengan jaket kulit khas, wajahnya tenang tanpa ekspresi—seperti baja yang ditempa terlalu lama.
“Masuk,” ujar Chief Gumawang. “Duduk.”
Lingga Setiawan duduk tanpa bicara.
Chief Gumawang menyipitkan mata, mengamati. “Kau tahu kenapa kau dipanggil ke sini, Letnan?”
“Perkiraan saya: pergerakan Red Scorpion sudah melewati batas zona merah. Dan… mereka sudah pegang target kita.”
“Benar.” Chief Gumawang melirik layar. “Dan satu-satunya orang yang bisa masuk ke sarang mereka tanpa memicu perang terbuka, adalah kau.”
Ia menekan tombol di panel. Gambar wajah seorang pria tua dengan luka di pelipis kanan muncul.
“Dr. Arya Nandar. Ilmuwan biokimia kelas satu. Mereka culik dia dua hari lalu. Intel terakhir menyebutkan ia ditahan di zona 7-D, wilayah yang... cukup familiar buatmu, bukan?”
Lingga Setiawan mengangguk pelan. “Tempat saya nyaris mati waktu SMP, Pak.”
“Tempat pertama kau lihat darah tumpah, kan?”
Lingga Setiawan tidak menjawab. Ia hanya menatap layar dengan dingin.
“Lingga,” kata Chief Gumawang, suaranya lebih pelan tapi tajam. “Kau bukan bocah SMP yang gemetar setelah insiden Bodrax. Kau Letnan sekarang. Kau pemimpin tim. Tapi alasan kenapa aku pilih kau bukan karena pangkatmu.”
Ia berdiri, mendekat, menatap langsung ke mata Letnan mudanya.
“Kau tahu jalanan. Seperti, latihan yang pernah kamu terima dari Paman Hanafi. Kau ditempa, diterjunkan lagi ke tempat yang sama untuk menghilangkan trauma."
"Mereka juga tahu kau. Kau ibarat siluman yang kembali dari kematian buat mereka. Dan itu yang bikin mereka takut.”
Lingga Setiawan menahan napas, lalu berkata pelan, “Saya akan bawa Dr. Arya pulang, Pak.”
“Dan jika dia sudah mati?”
“…saya pastikan mereka tak pernah bisa mengulangnya.”
Chief Gumawang tersenyum tipis. “Bagus.”
Ia lalu berbalik ke meja, mengambil lencana hitam kecil—berlogo kepala serigala bertaring.
“Bawa ini. Kode hitam. Kau punya wewenang penuh. Tak perlu koordinasi, tak perlu laporan. Tapi jangan salah langkah. Dunia akan melihat apa yang kau lakukan.”
Lingga Setiawan menerima lencana itu. Sekilas, bayangan dirinya yang dulu—anak remaja dengan tangan gemetar dan kaus lusuh—melintas di matanya. Tapi kini, dia tak lagi berdiri di bawah bayang-bayang malam.
Kini, dia adalah malam itu sendiri.
“Perintah diterima, Chief.”
Dan saat pintu ruang komando tertutup kembali di belakangnya, Chief Gumawang bergumam pelan, nyaris seperti doa:
“Selamat jalan, Bara Muda. Jadilah api yang membakar gelap itu.”
---
Keluar dari kantor Chief Gumawang ia segera menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Polisi-polisi di markas malah mengenalnya sebagai informan karena penampilannya itu, padahal ia adalah polisi khusus yang menjadi andalan dari Chief Gumawang yang ditugaskan untuk memecahkan kasus berat dengan cara melakukan penyamaran.
Lelaki gagah dan tampan ini adalah Lingga Setiawan yang kecil kurus semasa remaja dulu. Sekarang bertransformasi seperti itu.
Bersambung...