Hari sudah terlihat sore.
Sore itu, sesudah ia berkeliling menikmati suasana sekitar istana, Edler kemudian menghampiri ayahnya yang baru saja selesai berbincang dengan Gubernur Jenderal.
Ia ingin menyampaikan apa yang menjadi maksud hatinya itu terhadap ayahnya.
Ia melihat ayahnya yang sedang berdiri di tepi jendela sembari menikmati pemandangan dengan cerutu yang ia hisap.
Ia memberanikan diri melangkahkan kaki ke arah ayahnya itu.
"Ayah, sepertinya aku akan tinggal di wilayah ini dulu. Mungkin aku akan mencari tempat tinggal di sekitar sini." ucap Edler.
"Benarkah? Karna hal apa kamu ingin berada tinggal di wilayah ini?" tanya Pieter.
"Aku hanya ingin sekedar menikmati keindahan tempat ini. Entah sampai kapannya, aku belum bisa menentukan." ucap Edler.
“Apa karena wanita itu yang menjadikan alasanmu untuk tinggal di wilayah ini?” Tanya Pieter.
“Mungkin iya, tapi ada alasan lain yang membuatku ingin di wilayah ini untuk sementara waktu.” Ucap Edler agar ayahnya tidak mencurigai karena memang tujuan utamanya tinggal di wilayah itu memang adalah untuk Lenna.
"Hmm.. Baiklah. Bagus kalau begitu. Mungkin kamu bisa sekalian membantu dan memantau secara langsung soal perdagangan disini." ucap Pieter.
"Iya. Tak masalah soal itu." jawab Edler.
"Sebentar lagi ayah, ibu dan yang lain akan segera pulang, pembicaraan soal urusan dengan Van Heots sudah selesai disini. Kamu mau langsung ikut kembali, atau akan di tempat ini dulu?" tanya Pieter.
"Aku akan ikut kalian dulu saja, sekalian aku akan mencari tempat tinggal disini untuk sementara waktu." ucap Edler.
Pieter hanya mengangguk. “Baiklah. Lebih baik kita segera bersiap.” Sambil ia membuang batang cerutu yang ia hisap.
Edler mengangguk. “Iya. Aku ingin mengelilingi pemandangan sekitar dulu sebelum meninggalkan tempat ini. Nanti aku akan menyusulmu.”
Lalu Pieter pun berjalan meninggalkan Edler dan kembali ke ruang utama untuk bersiap-siap dan berpamitan dengan tuan rumah.
Setelah berbincang dengan ayahnya, Edler kembali berjalan berkeliling di sekitar rumah itu.
Saat ia berjalan santai mengelilingi taman sekitaran istana, pandangannya seketika tertuju pada wanita yang sempat ia lihat, ia melihat Lenna. Kebetulan pula dia melihat Lenna yang sedang bersama ibunya yang tengah bersiap untuk pulang.
Lalu Edler bergegas menghampiri Lenna.
"Lenna!" teriak Edler sambil menghampiri Lenna.
Lenna dan ibunya menoleh ke arah yang memanggilnya itu.
Mereka melihat Edler yang berlari menghampiri mereka.
"Hallo, Lenna. Kamu mau kemana?" tanya Edler.
"Eh, tuan. Emm, aku hendak pulang bersama ibuku." jawab Lenna sambil ia menundukkan kepala.
"Oh maaf kalau begitu, jadi ini dia ibumu?" tanya Edler.
Lenna mengangguk, "Iya benar tuan."
Edler tersenyum. "Perkenalkan, aku Edler Van Schmidt. Senang bertemu denganmu.” ucap Edler tersenyum dengan setengah membungkuk sambil mengulurkan tangannya pada Ratih.
Lalu Ratih hanya tersenyum sambil meraih tangan Edler dan bersalaman.
"Apa anda akan pulang hari ini?” tanya Edler pada Ratih.
“Benar tuan. Setiap sore aku dan putriku selalu pulang. Karena kami tidak bisa untuk tinggal di asrama ini.” Jelas Ratih.
“Begitu ya. Apa kalian akan pulang berjalan kaki? Atau naik andong?” Tanya Edler.
"Iya tuan, jika sore begini kami sudah terbiasa pulang dengan berjalan kaki." jawab Ratih.
“Kenapa tidak menaiki andong?” Tanya Edler.
“Tidak tuan. Kami lebih memilih berjalan kaki agar lebih santai.” Jelas Ratih
"Oh jadi begitu. Apa rumah kalian berada jauh dari sini?" tanya Edler.
"Iya tuan. Cukup lumayan jauh." jawab Ratih.
Karena Edler berpikir kasihan jika mereka pulang dengan berjalan kaki, ia menawarkan diri untuk mengantar mereka berdua. Niat hati agar mencuri perhatian mereka juga.
"Oh ya, aku dan rombongan juga akan pulang hari ini, mungkin jika kalian mau, aku bisa mengantarkan kalian berdua sampai di rumah kalian.” ucap Edler menawarkan.
"Tidak usah tuan, kami berjalan kaki saja, lagipula kami sudah terbiasa. Lagipula aku dan ibuku tidak enak hati dilihat orang-orang jika di antar oleh tuan. Terimakasih atas tawarannya.” sahut Lenna.
"Ya sudah tuan, kami permisi dulu. Hari sudah semakin sore." ucap Ratih terburu-buru.
Lalu Edler mencegah mereka berdua.
"Tunggu. Tidak apa-apa. Jangan kawatir, jangan takut. Aku tidak ada maksud jahat pada kalian. Tadi aku juga sudah berkata pada Lenna jika kapan-kapan aku ingin berkunjung ke rumahnya. Dan bisa saja mungkin ini adalah waktunya." tutur Edler mencegah mereka.
Ratih dan Lenna saling menatap.
"Bagaimana? Jangan kawatir dengan rombonganku. Aku akan mengaturnya. Aku akan mengantar kalian dengan kereta kuda pribadiku.” ucap Edler.
“Trimalah tawaranku.” Sahutnya lagi.
Lenna dan Ratih saling menatap.
“Bagaimana bu? Apa kita akan menumpang dengan tuan Edler?” Tanya Lenna berbisik.
“Ya sudah. Kita lihat saja. Semoga ia tak ada niat buruk terhadap kita.” Ucap Ratih
Mereka berdua akhirnya menyetujui tawaran Edler untuk menumpang kereta kudanya. "Baiklah tuan." ucap Lenna.
Edler tersenyum gembira mendengar tawarannya di terima baik oleh Lenna.
"Baik, kalian berdua tunggu dulu disini. Aku akan meminta kusirku untuk membawa kereta kudanya." tutur Edler.
Ratih dan Lenna mengangguk.
Lalu Edler bergegas menghampiri kusirnya untuk bersiap menjalankan kereta kudanya.
Zaman itu, kereta kuda adalah alat transportasi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan elite atau bangsawan Belanda yang kaya pada masa itu.
Belum tercatat ada mobil bermesin di jaman itu.
“Broto, mari kita bersiap pulang.” Ucap Edler pada kusirnya yang bernama Broto itu.
“Baik tuan. Apa kita akan pergi lebih dulu?” Tanya Broto.
“Iya. Aku akan membawa 2 orang penumpang lain.” Ucap Edler.
“Kamu siapkan saja kudanya. Lalu tunggu aku di depan pintu masuk.”
“Baik tuan.” Ucap Broto.
Setelah Edler menghampiri kusirnya, lalu dia bergegas menghampiri kedua orang tuanya untuk berpamitan lebih dulu yang tadinya akan ikut pulang bersama mereka.
"Ayah, ibu, aku akan pergi lebih dulu, untuk anggota lain yang tadi berada di kereta kudaku, aku titipkan pada ayah saja." ucap Edler.
Laurens yang mendengar itu, merasa heran dengan Edler. Akan kemana dia terlihat buru-buru seperti itu.
"Memangnya kamu akan kemana pergi secepat ini?" tanya Laurens.
"Aku ada urusan lain bu. Ya sudah, aku pergi lebih dulu." ucap Edler pamit.
Laurens dan Pieter hanya saling melihat saja sikap dari anaknya itu.
Lalu dia menghampiri pada kereta kudanya dan menaikinya menuju samping istana tempat Ratih dan Lenna yang sedang menunggu.
"Berhenti dulu. Tunggu disini, ada orang yang akan ikut denganku." ucap Edler pada kusir.
"Baik, Tuan." jawab pak kusir.
Lalu Edler turun dari kereta kudanya menghampiri Ratih dan Lenna.
"Lenna, ibu, mari ikut denganku. Kereta kudaku sudah menunggu." ucap Edler.
"Iya, tuan. Trimakasih.” ucap mereka berdua.
Setelah itu mereka bergegas berjalan mengikuti Edler dan menaiki kereta kuda yang sudah di siapkan oleh Edler.
Laurens hanya diam sambil memandangi anaknya itu melalui jendela istana sebelum ia dan rombongannya pamit.
Kemudian terlihat Pieter datang menghampiri Laurens yang tengah melihat kelakuan Edler.
"Apa yang kau lihat disana?" tanya Pieter.
"Lihatlah putramu itu, aku kira dia ada urusan apa sampai terburu-buru seperti itu, aku benar-benar heran dengan sikapnya, baru saja pertama kali bertemu dengan wanita, langsung dengan mudahnya dia bertingkah seperti itu. Terlebih yang membuatku tak habis pikir, dia mendekati seorang pelayan rendah yang ada di rumah ini." tutur Laurens.
"Hmm. Biarkanlah saja. Mungkin dia baru mengalami rasa cinta yang sesungguhnya walau itu pada seorang pelayan. Yang penting dia tidak membuatku malu dan tidak merugikanku." ucap Pieter.
"Apa kau tidak memikirkan martabat keluarga kita?" tanya Laurens.
"Aku tidak terlalu memikirkan itu. Lagipula ada benarnya juga yang ia katakan. Dia sudah dewasa, dia mempunyai hak untuk menentukan hidupnya sendiri." tutur Pieter.
"Hm." Laurens mendengus dan pergi meninggalkan Pieter.
————————————————————-
Lalu di kereta kuda, di sepanjang perjalanan mereka bertiga selalu berbincang walau di antara Lenna dan Ratih ada sedikit ketegangan di antara mereka.
"Lenna, berapa jauh jarak rumah kalian?" tanya Edler.
"Lumayan Tuan, jika kami berjalan akan di tempuh 1 jam perjalanan. Tapi jika memakai kereta kuda kita harus sedikit memutar lebih jauh. Karena kita harus melewati jalur desa.” tutur Lenna.
"Begitu ya. Baiklah. Tidak masalah." ucap Edler.
Kemudian Edler memandangi mereka berdua yang terlihat selalu kaku dalam setiap obrolan.
"Kenapa kalian terlihat kaku seperti itu? Apa kalian masih merasa takut terhadapku?" tanya Edler.
"Maaf tuan, kami kaum yang di jajah oleh bangsa anda. Kami tidak bisa langsung begitu santai dengan situasi seperti ini." ucap Ratih.
Edler tersenyum kecil mendengar ucapan Ratih.
"Aku tau, jangan takut. Aku tidak ada niat jahat apapun terhadap kalian, aku bukan orang seperti bangsaku yang lainnya." ucap Edler berusaha meyakinkan.
Mereka berdua hanya terdiam dan menunduk.
Tak lama setelah itu, mereka berdua sampai di sebrang jalan menuju rumah Lenna.
“Di depan itu jalan menuju rumah kami tuan. Untuk menuju ke rumah kami harus berjalan kaki. Kereta kuda tidak akan bisa masuk.” Ucap Ratih.
"Baiklah. Kita berhenti disini saja. Kereta kudaku tidak akan bisa masuk menuju jalan sempit itu. Tunggu aku sampai kembali, aku akan mengantar kedua perempuan ini menuju rumahnya." jelas Edler pada kusirnya.
“Baik tuan.” Ucap Broto.
"Ibu, Lenna, mari kita turun." ajak Edler.
"Iya, tuan." jawab Lenna mengangguk.
Lalu mereka bertiga menyebrangi jalan menuju gang kecil yang mengarah pada rumah Lenna.
"Tuan, sebelumnya kami minta maaf, sebenarnya rumah kami tidak layak untuk menerima tamu seperti tuan, kondisi rumah kami sangat jelek." tutur Ratih menjelaskan.
Edler tersenyum, "Aku tidak mempermasalahkan soal rumah, jelek atau tidak, aku tidak peduli." jelas Edler.
“Syukurlah jika tuan berkenan. Mari tuan, ikuti saya.” Ucap Ratih sambil menuntuk Edler menuju rumahnya.
Lalu mereka bertiga pun sampai di depan rumah, dengan nuansa penuh pohon-pohon rindang, damai, dan sejuk.
"Inilah rumah kami tuan. Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini." ucap Ratih.
Edler tersenyum, "Wow, sangat indah alam di sekitar rumahmu ini. Benar-benar membuat damai suasana." ucap Edler sambil melihat-lihat sekeliling.
"Mari masuk tuan." ajak Ratih dan Lenna.
Dari kejauhan pun terlihat beberapa warga desa yang melihat hal itu. Dimana mereka melihat Ratih dan Lenna di datangi dan di antar oleh seorang bangsawan Belanda.
"Wah, lihat itu. Siapa bangsawan Belanda yang datang ke rumah mereka itu ya?" ucap salah satu warga yang melihatnya.
"Entahlah. Apa mungkin itu calon suami untuk Lenna?" tanya warga lainnya.
"Ah tidak mungkin. Mana mungkin seorang Bangsawan bisa terpikat oleh gadis desa."
"Atau mungkin Belanda itu mau menagih hutang?"
"Ah sudahlah. Jangan asal bicara kamu, sudah ayo kita lanjut jalan."
Ucap beberapa warga sekitar yang melihatnya.
Setelah berada di rumahnya.
Lalu Edler duduk pada kursi di luar balai rumah.
Di temani Lenna juga yang duduk berhadapan dengannya.
Lalu Ratih menawarkan minuman pada Edler.
"Tuan, jika anda sudi, apakah anda ingin dibuatkan minuman?" tanya Ratih menawarkan.
"Bolehlah kalau begitu." ucap Edler tersenyum.
“Baiklah. Tunggu sebentar tuan, akan saya buatkan dulu.” Ucap Ratih.
“Lenna, kamu temani dulu tuan Edler, ibu akan membuatkan minuman untuk tuan.”
“Iya bu.”
Lalu Ratih pun masuk ke dalam rumahnya dan menuju dapur untuk membuatkan minuman bagi tamunya itu.