Kemudian mereka berdua duduk di kursi taman.
Terlihat Lenna yang duduk sedikit berjaga jarak dari Edler sambil tertunduk. Karena ia masih merasa gugup, canggung, dan takut.
"Kenapa kamu terlihat sangat kaku?" tanya Edler.
Lenna hanya selalu tertunduk sambil menyelipkan tangannya diantara kedua pahanya.
"Apa kamu takut terhadapku?" tanya Edler lagi.
Lenna mengangguk. Tanpa menjawab apapun dari pertanyaan Edler.
Edler tersenyum, "Jangan takut, aku bukan orang jahat seperti bangsaku yang lainnya." jawab Edler sambil mengusap pundak Lenna.
“Aku datang hanya untuk mengurus organisasi perdagangan. Bukan untuk memicu perang ataupun kejahatan lainnya di negerimu.”
"Oh ya. Lenna, apa kamu pelayan yang setiap hari tinggal disini?" tanya Edler.
"Tidak, setiap sore aku pulang bersama ibuku." jawab Lenna.
"Oh. Begitu. Apa suatu nanti bolehkah aku datang berkunjung ke rumahmu?" tanya Edler.
"Boleh saja, Tuan. Semua tergantung ibuku." jawab Lenna.
Edler tersenyum, "Baiklah. Nanti aku akan menemui ibumu.” jawabnya.
"Oh ya. Apa kamu sudah menikah, atau mempunyai pasangan lainnya, Lenna?" tanya Edler.
Lenna menggeleng, "Belum, Tuan." jawab Lenna.
"Lalu jika kamu belum menikah, apa kamu sudah mempunyai pasangan kekasih disini?" tanyanya lagi.
Lenna menggeleng, "Belum juga tuan. Aku tidak begitu mengenal banyak pria. Aku masih terlalu polos untuk hal seperti itu.”
"Yang benar saja? Wanita secantik kamu belum mempunyai pasangan?" tanya Edler.
"Iya benar, Tuan." jawab Lenna.
"Syukurlah, jika memang benar dia belum mempunyai pasangan, aku bisa dengan leluasa mendekatinya. Kalaupun dia sudah mempunyai pasangan pun aku tidak peduli, aku bisa menyingkirkan siapapun laki-laki itu." batin Edler.
Terlihat Darius yang memperhatikan Lenna sedang berbincang dengan pria Belanda, lantas dia menghampiri Ratih saat itu yang masih sambil mengawasi Lenna.
"Ratih, siapa pria Belanda itu yang berbincang dengan anakmu?" tanya Darius.
"Aku tidak tau persis siapa dia, tapi tadi sempat menguping pembicaraannya dengan tuan Heots saat di ruang makan, dia tertarik pada putriku." ucap Ratih.
"Hmm. Awas saja kalau Belanda itu macam-macam dengan putriku, akan aku sembelih dia! Walau aku harus di eksekusi mati sekalipun!" ucap Darius sambil memandang Lenna dan Edler.
Ratih yang mendengar hal itu terkejut dan menoleh ke arah Darius.
"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan dia menjadi putrimu? Sejak kapan juga kita menikah?" tanya Ratih melongo.
Darius pun baru tersadar dari apa yang baru saja dia katakan dan menjadi salah tingkah.
"Eh, maksudku..calon putriku. Hehehe." ucap Darius sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Hm! Calon putrimu? Memangnya aku yang jadi ibunya mau menikah denganmu?" ucap Ratih.
"Hehehe.." Darius nyengir.
"Sudahlah, kerjakan saja pekerjaanmu yang lain, nanti tuan Belanda marah." ucap Ratih.
"Baiklah." jawab Darius.
Walau sudah puluhan tahun cinta Darius bertepuk sebelah tangan terhadap Ratih sejak suami Ratih meninggal, Darius tetap tidak menyerah untuk merebut hati Ratih.
Darius tetap menaruh harapan yang besar pada Ratih.
Berharap Ratih akan mau menjadi pendamping untuk hidupnya yang sudah lama seorang diri.
———————————————————-
"Tuan, sudah banyak sekali para tamu-tamu dari negeri anda yang berdatangan kemari, apa tujuan tuan datang kemari?" tanya Lenna memberanikan diri.
"Aku datang ke negerimu ini karna ayahku. Ayahku orang di beri kepercayaan untuk mengelola perdagangan dari perusahaan Vereenidge Oostindische Compagnie/VOC. Aku pun ikut serta dalam membantu ayahku." tutur Edler.
"Ayahku datang kemari untuk membicarakan tentang hasil rempah yang di kabarkan melimpah di wilayahmu ini pada tuan Gubernur Jenderal Van Imhoff." lanjut Edler menuturkan.
"Oh, begitu." ucap Lenna.
Edler mengangguk, "Iya. Begitulah."
"Emm..Maaf tuan, bolehkah aku kembali bekerja? Aku tidak enak jika dilihat pelayan lain." ucap Lenna.
"Oh, tentu boleh silahkan." ucap Edler.
"Trimakasih tuan, aku permisi." jawab Lenna.
Edler tersenyum dan mengangguk, "Ya. Sama-sama. Trimakasih juga sudah mau meluangkan waktu untukku Lenna."
“Senang berkenalan denganmu.” Sahutnya lagi.
Lenna mengangguk.
Saat Lenna berjalan meninggalkan Edler di kursi taman, terlihat Edler terus memandangi Lenna yang melangkah pergi darinya.
Dia memandangi Lenna sambil tersenyum kecil.
"Dia benar-benar sangat cantik mempesona, berbeda dengan perempuan bangsaku sendiri, maupun wanita-wanita malam yang sering aku tiduri. Aku tidak peduli dia pelayan atau apapun dia. Aku benar-benar menyukainya." batin Edler.
Lalu Lenna menghampiri ibunya.
"Ibu." ucap Lenna.
"Lenna, apa yang tadi dia bicarakan padamu?" tanya Ratih penasaran.
"Tidak ada bu. Tidak ada pembicaraan yang serius." jawab Lenna.
"Hanya saja, dia tadi mengatakan jika dia ingin mengenalku, ingin datang ke rumah kita, dan dia juga bilang kalau dia ingin menemui ibu." lanjut Lenna.
Ratih heran dengan rasa penuh tanda tanya.
"Menemui ibu? Memangnya dia ada urusan apa dengan ibu?" tanya Ratih.
Lenna menggeleng, "Entahlah bu. Aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu." jawab Lenna.
"Ya sudah, lekaslah kembali mengerjakan pekerjaanmu nak." ucap Ratih.
Lenna mengangguk, "Iya bu."
Kemudian mereka kembali mengerjakan segala sesuatu disana bersama pelayan-pelayan lainnya.
Kemudian terlihat Edler yang melanjutkan keliling-keliling di sekitar istana tuan Belanda itu.
Untuk sekedar menikmati sejuknya udara dingin yang berada di wilayah puncak.
Melihat indahnya pemandangan lembah di kaki Gunung Gede.
Ia merasa sangat nyaman dengan situasi yang damai seperti ini di wilayah negeri yang menjadi jajahan bangsanya.
Saat ia menikmati pemandangan dari taman, lalu ada seorang pelayan yang datang menghampirinya membawa minuman menawarkan minuman hangat itu padanya.
"Permisi, Tuan. Apakah tuan ingin menikmati minuman hangat ini?" ucap pelayan itu.
Tanpa berpikir ragu, Edler pun menerima tawaran pelayan itu. "Mmm.. Boleh. Trimakasih banyak." ucap Edler.
Pelayan itu tersenyum sembari menuangkan teh pada cangkir yang ia bawa di atas nampannya.
"Silahkan diminum tuan. Saya permisi." ucap pelayan itu sambil memberikan secangkir tehnya.
Edler lalu mengambil minuman teh hangat itu sambil kembali memandang indahnya pemandangan alam disana.
"Sungguh sangat indah sekali tempat ini, istana rumah yang berlokasi strategis dengan di kelilingi pemandangan dan hawa sejuk. Pelayan disini juga cantik-cantik, ah benar-benar seperti surga dunia. Disini juga aku dapat menemukan bidadari seperti Lenna itu." batinnya.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba ia mendengar suara yang memanggil namanya dari arah belakang.
"Edler."
Terdengar suara wanita memanggil namanya.
Lalu Edler menoleh ke arah suara itu.
Yang tak lain itu adalah ibunya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Laurens.
"Oh, ibu. Aku hanya sedang menikmati indahnya alam disini. Sambil menghirup udara sejuk yang belum pernah aku hirup di negeriku sendiri." tutur Edler.
Lalu Laurens berjalan mendekati Edler.
"Edler, sikapmu tadi saat di ruang makan benar-benar lancang di hadapan tuan rumah. Kita datang kemari dengan maksud tujuan lain untuk perdagangan, tapi sikapmu memalukan dengan bicara seperti itu pada tuan rumah hanya untuk berkenalan seorang pelayan? Lantas atas dasar apa kamu ingin mengenal wanita pelayan itu?" ucap Laurens.
Tanpa berpikir panjang, Edler menjawab apa yang menjadi pertanyaan ibunya.
"Sepertinya aku menyukainya. Apa ada yang salah?" tanya Edler.
"Jika memang begitu, Ibu tidak menyalahkan perasaanmu, tapi apalah kata jika kamu yang berasal dari keluarga bangsawan sampai menyukai selera seorang pelayan seperti perempuan itu?" tutur Laurens.
"Apa tidak ada wanita lain? Sampai kamu bisa menaruh hati pada wanita yang baru saja kamu kenal. Sedangkan Lucia yang menyukaimu sejak dulu di abaikan olehmu. Lagipula Lucia jauh lebih cantik dari pelayan itu, dan kastanya pun sama dengan keluarga kita." lanjutnya.
Lucia adalah perempuan yang menyukai Edler dan yang akan dijodohkan dengan Edler di negerinya itu. Di ketahui, Lucia sudah menyukai Edler sejak lama, namun Edler enggan untuk merespon dan memilih untuk menolaknya, walau Lucia juga wanita yang cantik.
Edler tidak mau jika orang tuanya selalu ikut campur dalam soal pasangan hidupnya.
Dia tidak mau di atur dalam hal seperti itu.
"Sudahlah. Sebaiknya ibu berhenti membicarakan wanita itu. Sudah kubilang aku tidak menyukainya. Dan jangan membandingkan antara Lucia dengan Lenna. Tanpa ibu jelaskan pun aku sudah tau jika kasta mereka jauh berbeda." jawab Edler.
Mendengar respon Edler, Laurens memasang wajah kesal terhadap sikap anaknya itu.
"Matamu memang benar-benar buta. Baru saja kamu bertemu sekali hari ini dengan pelayan itu, kamu langsung menyimpan rasa dan ingin mendekatinya." tutur Laurens.
"Terserah apa katamu ibu. Aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan sendiri untuk soal seperti itu. Aku harap ibu tidak ikut campur. Karerna perasaan seseorang tidak bisa di paksakan begitu saja." tegas Edler.
Karna kesal, Laurens mendengus dan pergi begitu saja meninggalkan Edler.
Sebelum ia pergi meninggalkan anaknya itu, ia membalikkan tubuhnya dan mengingatkan apa yang menjadi tujuan utama dari kedatangan mereka ke wilayah ini.
“Oh ya. Ibu harap kamu tidak lupa tentang tujuan sebenarnya dari kedatangan kita kemari. Uruslah jalur perdagangan, jangan sampai kamu melupakan hal itu hanya karna wanita.” Ucap Laurens.
“Iya. Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ingat itu. Dan aku akan mengelola cabang pemerintahan VOC dengan baik dan benar.” Balas Edler.
Dengan wajah dingin, Laurens pun kembali menuju ruang utama istana itu untuk kembali berkumpul dengan orang-orang disana.