Setelah kejadian itu, terlihat salah seorang pria Belanda paruh baya bertubuh gemuk, dengan kumis yang melintir panjang, yang sejak tadi memperhatikan kelakuan Edler pada Lenna tadi.
Dari raut wajahnya, sepertinya pria itu tampak tidak menyukai dari apa yang di lakukan Edler.
Lantas pria itu langsung menanyakan hal itu pada Edler.
"Apa kamu menyukai wanita itu? Sejak tadi pandanganmu nampak tak teralihkan dari wanita itu.”
"Iya ayah, aku rasa aku menyukainya sejak tadi pertama kali melihatnya. Menawan sekali wanita itu.” ucap Edler.
Ternyata sosok pria itu tak lain adalah ayah dari Edler.
Pria itu bernama Pieter Hendrick.
Di sebelah Pieter terdapat pula perempuan yang menjadi istrinya yang bernama Laurens Cornelia.
Ibu Edler.
Mendengar ucapan putranya, Pieter merasa sedikit kesal atas pernyataan putranya itu. "Apa aku tidak salah mendengar jika kamu menyukai seorang pelayan rendah sepertinya? Kita adalah bangsa yang bermartabat dan menunjung tinggi kasta.”
Mendengar ucapan ayahnya, Edler tampak masabodo dan merasa tidak mau di atur untuk kehidupannya mengenai masalah perempuan.
"Aku harap ayah tidak lagi mengaturku dalam hal wanita, aku berhak menentukan siapapun wanita yang aku sukai. Apa yang di rasakan hati, tidak dapat di bohongi.” ucap Edler menegaskan.
"Terserah apa katamu." ucap Pieter kesal. Sambil ia kembali melanjutkan menikmati hidangannya.
Laurens yang mendengarkan pembicaraan anak dan suaminya hanya diam tak menanggapi apapun.
Dia tetap menunjukkan sikap dingin dan angkuhnya untuk menjaga martabatnya.
"Aku akan mencari tau siapa dia dan dimana dia tinggal. Aku akan berada di negeri ini sedikit lebih lama lagi untuk mendapatkan wanita itu." batin Edler.
Tampaknya memang Edler menyukai sosok Lenna.
Ia merasa jatuh cinta pada pandangan pertamanya.
Sampai-sampai dia tidak memperdulikan walau orang tuanya melarang sekalipun.
Sambil membayangkan wajah Lenna yang ia amati tadi, kemudian dia bersama para tamu lainnya kembali melanjutkan menikmati hidangannya.
Sambil sesekali ia tersenyum sendiri.
————————————————————
Ratih yang melihat kejadian itu lekas mendatangi Lenna.
"Lenna, apa yang tadi di lakukan pria Belanda itu terhadapmu?" tanya Ratih.
Terlihat Ratih yang merasa kawatir akan hal itu karna tadi dia melihat sendiri apa yang di alami oleh anaknya itu.
"Tidak apa-apa bu, dia hanya ingin berkenalan dengan Lenna." ucap Lenna.
"Tapi dia tidak bermaksud jahat terhadapmu kan? Ia tidak ingin membelimu kan?” tanya Ratih kawatir.
Karna memang terkadang pelayan ataupun b***k disana suka di perjual belikan bagi bangsawan siapapun yang merasa tertarik.
"Sepertinya tidak bu. Jangan kawatir, Lenna bisa menjaga diri bu." ucap Lenna menenangkan ibunya.
"Ya saudah, syukurlah kalau begitu. Ayo kembali bekerja. Tetap jaga dirimu nak.” ucap Ratih.
Lenna mengangguk. “Iya bu.”
Lalu mereka kembali melayani semua tamu itu.
Sesekali terlihat Edler yang sambil makan mencuri pandang pada Lenna dan tersenyum saat Lenna kembali memandangnya.
Tapi Lenna berusaha tidak menghiraukan hal itu.
Dia mencoba mengacuhkan dan berpura-pura tak melihatnya.
"Kenapa pria itu selalu menatapku, dari wajahnya dia memang tampan, tapi aku takut, aku tidak benar-benar mengenal dia." batin Lenna.
Lalu Lenna berusaha menghindari pandangan dari Edler.
Dia masuk ke dalam dapur dengan mencari kesibukan disana. Agar ia bisa teralihkan dari pandangan Edler yang berada di ruang tengah.
Lalu setelah para tamu itu selesai dengan hidangannya, tamu-tamu itu terlihat saling berbincang dengan tuan rumah dan para perwira Belanda yang lain.
Lalu Edler berjalan menghampiri Van Heots.
Edler memberanikan diri untuk berbicara kepada Van Heots si tuan rumah soal Lenna pelayan istananya itu.
"Tuan Heots yang terhormat, maaf jika mungkin saya di pandang lancang oleh Tuan, tapi apa boleh saya menanyakan tentang salah satu pelayan anda disini?" tanya Edler.
"Ya. Tentu saja. Ada apa dengan pelayanku? Apa dia berbuat hal yang tidak sopan terhadapmu dan para tamu lain?” tanya Van Heots.
Terlihat kedua orang tua Edler yang menoleh ke arahnya seolah dia kawatir jika Edler akan berbuat tidak sopan pada tuan rumah.
"Tidak, tuan. Seluruh pelayan anda sangat ramah, sangat baik dalam melayani kami, hanya saja saya ingin bertemu pribadi dengan salah satu pelayan anda. Saya merasa tertarik dengan dia." ucap Edler terus terang.
"Silahkan. Jika kamu ingin mempekerjaan dia sebagai pelayan di tempatmu, aku tidak masalah." ucap Van Heots.
"Bukan itu maksud saya tuan, saya hanya ingin menemuinya." jawab Edler.
Van Heots hanya tersenyum, "Silahkan jika itu yang kamu mau, tuan muda."
Ayah Edler terbelalak melihat kelakuan anaknya itu. Dia tidak menyangka akan bersikap seperti itu hanya demi mendekati seorang pelayan.
Karena baginya, sikap Edler adalah sebuah hal yang mempermalukan.
Setelah berbicara dengan Van Heots, Edler pun kembali pada kursinya.
Lalu ayahnya segera menegurnya.
"Edler, jaga sikapmu. Jangan mempermalukanku di depan tuan rumah." ucap Pieter.
"Jangan kawatir ayah. Aku tidak akan mempermalukanmu." ucap Edler sedikit tersenyum.
Terlihat Ratih yang berada berdiri di belakang Edler menguping pembicaraan Edler.
Sontak dia tau siapa orang yang dimaksud Edler.
Dia kawatir terhadap Lenna.
Dia kawatir jika Lenna akan di bawa olehnya dan di jadikan pelayan olehnya.
—————————————————————-
Setelah semua tamu selesai menikmati hidangannya, seluruh pelayan kembali untuk membereskan sisa-sisa makanan di atas meja.
Ratih kemudian menghampiri Lenna yang saat itu juga ikut membereskan meja makan.
"Lenna, sebaiknya kamu hati-hati dengan pria Belanda itu. Dia menginginkanmu. Ibu sedikit mendengar percakapannya tadi dengan tuan Van Heots.” ucap Ratih.
Sontak Lenna kaget mendengarnya.
"Apa yang ia inginkan dariku bu?" tanya Lenna.
Ratih menggeleng, "Entahlah, ibu juga tidak tau. Yang jelas, kamu harus tetap berhati-hati terhadap dia." tegasnya.
“Jika ia meminta hal-hal aneh, sebaiknya kamu menolak.”
Lenna mengangguk, "Iya bu."
Lenna pun bergegas pergi ke dapur untuk mencuci segala perabotan makan bekas para tamu itu bersama pelayan lain disana.
Kemudian semua para tamu bangsawan itu di persilahkan untuk menikmati suasana di rumah istana tuan Belanda itu. Untuk menikmati indahnya suasana pegunungan yang sejuk, dingin, dan di sertai pemandangan indah dari belakang istana itu.
Beberapa tamu menyempatkan diri untuk berendam di air panas yang berada di belakang istana itu. Karena air panas di istana itu langsung mengalir dari sumbernya di lereng Gunung Gede.
Termasuk Edler pun menyempatkan diri untuk berkeliling disana, sembari ia basa-basi mencari keberadaan Lenna.
Entah memang kebetulan atau keberuntungan untuk Edler, dia mendapati Lenna yang sedang mengepel lantai di sebrang aula.
Kemudian Edler yang melihatnya langsung bergegas menghampiri Lenna.
"Hallo." sapa Edler dengan senyumnya.
Lenna terkejut dan menoleh ke arah suara itu yang berada di belakangnya, dia mengetahui jika yang menyapanya adalah Edler.
"Eh, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lenna.
Edler tersenyum.
"Tidak. Emm.. apa boleh aku berkenalan denganmu?" tanya Edler.
Lenna tertunduk malu.
"Bukankah tadi kita sudah saling berkenalan saat di ruang makan, Tuan." ucap Lenna.
"Oh iya. Maaf aku lupa." ucap Edler malu sembari mengusap tengkuk lehernya.
"Apa kamu sudah lama menjadi pelayan disini?" tanya Edler membuka pembicaraan.
"Sudah tuan, sekitar 3 tahun lalu saya menjadi pelayan disini bersama ibuku." jawab Lenna.
"Oh ya? Lalu dimana ibumu?" tanya Edler.
"Itu, yang sedang menyirami bunga. Dia ibuku." jawab Lenna sambil menunjuk ke arah Ratih yang sedang menyirami bunga.
Terlihat Ratih terus mengawasi putrinya itu diam-diam. Dia tidak mau jika sampai terjadi apa-apa terhadap Lenna, apalagi sampai Lenna harus di bawa oleh Edler untuk di bawa menjadi pelayannya, tentu dia akan terpisah dari Lenna. Dan jelas ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena harta berharga yang ia punya satu-satunya hanyalah Lenna, putrinya.
"Oh itu. Boleh kita duduk di kursi taman itu?" ajak Edler.
"Maaf tuan, aku harus kembali bekerja, jika aku terlihat santai-santai, tentu tuan Heots akan memarahiku." tutur Lenna.
Edler hanya tersenyum mendengar jawaban Lenna.
"Jangan kawatir akan hal itu, aku sudah meminta ijin pada tuan Heots untuk berbincang denganmu, lagipula dia juga mengijinkannya." ucap Edler.
Mendengar hal itu, Lenna tak bisa berbuat banyak. Karna Edler sudah membawa nama dan ijin dari tuan Heots. Kalaupun Lenna menolak ajakan Edler, dia bingung harus beralasan apalagi untuk menolak ajakannya.
Lenna hanya bisa mengangguk dan mengiyakan dengan ajakan Edler.
"Baiklah, tuan." jawab Lenna.
Edler tersenyum. "Baiklah, mari kita duduk di kursi taman itu."
Lalu Lenna mengikuti Edler dari belakangnya menuju kursi taman.
Lenna pun sempat menoleh ke arah ibunya yang sedari tadi memperhatikan Lenna dan Edler yang berbincang.