Setelah seharian penuh Lenna membantu ibunya bekerja di dalan istama Belanda itu, kemudian mereka bergegas pulang menuju rumahnya.
Upah ibunya harian itu sangatlah kecil, tapi Lenna yang tak mau rugi pun berhasil membawa beberapa makanan yang dia sembunyikan dalam kantong kain yang ia bawa.
Di tengah perjalanan, barulah Lenna membuka dan memperlihatkan isi kantong yang ia bawa itu kepada ibunya.
"Ibu, lihatlah ini. Lenna berhasil mengambil beberapa makanan dari dapur tuan Belanda itu." ucap Lenna dengan polosnya.
Terlihat Ratih kaget melihat perbuatan anaknya itu, karna sebelumnya dia tidak tau jika Lenna diam-diam membawa beberapa makanan dari sana.
"Ya ampun! Lenna, bahaya jika orang-orang Belanda disana mengetahui hal itu. Kita bisa di hukum dan di masukkan penjara nantinya!" ucap Ratih.
"Tapi kan ini tidak seberapa bu. Karna upah ibu juga sangat tidak adil dari tuan Belanda itu. Makanya Lenna mengambil beberapa makanan untuk kita dirumah. Jadi kan upah ibu bisa di gunakan untuk yang lain." sahut Lenna.
“Iya ibu mengerti! Tapi jika perbuatanmu sampai di ketahui penjaga disana, kita bisa fatal nak!” Ucap Ratih
“Perbuatan kamu sangatlah berisiko. Walau tidak seberapa, dan hanya makanan, tapi itu adalah perbuatan mencuri. Jika di ketahui pun kita akan benar-benar fatal!” Sambungnya.
Lenna mengerti apa yang di maksudkan ibunya itu.
Dia hanya terdiam.
Menyadari jika yang di lakukannya adalah tindakan buruk yang akan berakibat fatal. Walau yang di ambilnya hanyalah sebuah makanan.
“Iya bu. Maafkan Lenna. Lenna pikir ini tidak akan jadi masalah. Karena hanya makanan saja yang Lenna ambil.” Ucapnya.
“Lenna tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan Lenna ya bu.”
Ratih hanya terdiam tak bisa berbuat banyak.
"Ya sudah terserah kamu. Tapi untuk lain kali, jangan sampai perbuatan kamu itu di ulangi." tutur Ratih.
Lenna tersenyum dan mengangguk, "Iya bu."
Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di rumah, Lenna bergegas ke dalam dapur untuk meletakkan makanan yang ia bawa.
Kemudian ia masuk ke dalam kamar untuk memakai kemben.
Dan ia berjalan ke arah sumur, untuk mencuci kakinya sekalian mandi disana.
Lalu terlihat Ratih yang sibuk menyembunyikan makanan yang Lenna bawa.
Ia takut orang istana menyadari akan perbuatan anaknya dan lalu mengecek rumahnya.
Agar tidak ketahuan, dia ketakutan jika ada prajurit yang mengecek rumahnya. Jadi ia menyembunyikan dulu makanannya.
Selesai mandi, Lenna kemudian menghampiri ibunya yang berada di dapur.
"Ibu, kemana makanan yang Lenna taruh disini?" tanya Lenna.
"Ibu menyembunyikannya dulu, ibu takut jika nanti ada prajurit Belanda yang datang kemari untuk mengecek. Bisa saja mereka datang kemari jika mereka merasa kehilangan bahan makanan.” tuturnya.
“Semoga saja itu tidak terjadi bu.” Ucap Lenna.
“Kita tunggu sampai malam saja, baru kita makan.” Ucap Ratih.
“Iya bu.”
Lalu malam pun tiba.
Mereka berdua terlihat sedang duduk di dekat api tungku.
"Ibu, apa ibu sudah mengantuk?" tanya Lenna.
"Sedikit. Kamu sendiri sudah mengantuk belum?" tanya Ratih kembali.
"Sudah. Lenna merasa lelah sekali hari ini. Tidak seperti biasanya." tutur Lenna.
Ratih tersenyum kecil, "Jelaslah. Itu karena kamu baru merasakan pekerjaan yang ibu lakukan disana. Pantas kamu kelelahan."
"Kita istirahat yuk bu." ajak Lenna.
"Ayo." jawab Ratih.
“Lalu bagaimana dengan makananya yang disimpan? Apa tidak apa-apa untuk besok bu?” Tanya Lenna.
“Tidak apa-apa. Lagipula tidak akan bau juga. Kita pakai saja untuk besok kita sarapan. Sekarang kita istirahat saja. Sudah malam juga.” Ucap Ratih.
“Iya bu.” Terlihat Lenna menjawab dengan mata yang sayu.
Lalu mereka berjalan menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, mereka langsung tidur.
Terlihat Lenna yang begitu terasa kelelahan dalam membantu pekerjaan ibunya.
Waktunya untuk mereka beristirahat, karna esok pasti harus kembali.
Dalam hatinya, Lenna sudah berniat memutuskan untuk terus membantu ibunya bekerja disana.
Keesokan paginya saat subuh, terlihat mereka berdua sudah terbangun.
Lenna bergegas ke sumur untuk mencuci mukanya.
Lalu Ratih beranjak menuju dapur untuk menyalakan api tungku guna menghangatkan tubuhnya. Pagi hari di rumah itu memang selalu dingin. Dataran tinggi, dengan kabut tebal.
Kemudian usai dari sumur, Lenna terlihat menghampiri ibunya di dekat tungku.
"Bu, boleh tidak Lenna kembali ikut bekerja dengan ibu?" tanya Lenna.
Ratih terdiam sejenak mendengar permintaan Lenna.
Ratih bertanya, “Apa kamu tidak keberatan jika harus bekerja tiap hari tanpa di bayar upah?”
"Lenna sudah dewasa bu, bukan lagi anak-anak. Tentunya Lenna juga ingin merasakan apa yang dinamakan bekerja. Walau tidak di bayar pun tak masalah. Yang penting Lenna ingin merepotkan ibu lagi terus menerus." sahutnya lagi.
Ratih menghela nafas.
Dia berpikir ada benarnya juga apa yang di katakan anaknya itu. Lenna sudah dewasa, dia juga berhak mengenal dunia luar.
Ratih pun merasakan kesepian dan kebosanan yang di alami Lenna sehari-harinya.
"Ya sudah jika itu kemauanmu nak. Tapi berhati-hatilah dalam setiap langkahmu. Ibu akan tetap mendampingimu untuk terus membimbing kehidupanmu." ucap Ratih.
Lenna senang mendengar jawaban ibunya yang mengijinkannya untuk membantu bekerja bersama ibunya.
"Trimakasih, bu." ucap Lenna tersenyum sambil memeluk ibunya yang tengah duduk di samping tungku.
Ratih pun ikut tersenyum.
Lalu Ratih pun menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dengan bahan makanan yang kemarin Lenna ambil dari istana Belanda.
Setelah selesai sarapan, mereka berdua bersiap untuk berangkat kembali menuju istana tuan Belanda.
———————————————————-
Setelah 3 tahun berlalu, Lenna yang sebelumnya hanya terbiasa membantu ibunya dalam istana tuan Belanda yang tanpa di bayar upah sedikitpun, akhirnya kini dia telah menjadi pegawai disana. Dia pun mendapat upah yang sama halnya dengan ibunya.
Terlihat ibunya yang kini semakin bertambah usianya yang menginjak 48 tahun dan usia Lenna yang kini menginjak 28 tahun.
Mereka berdua terlihat hendak bergegas berangkat untuk kembali bekerja di istana tuan Belanda.
"Lenna, kamu sudah siap?" tanya Ratih.
"Sudah bu." jawab Lenna.
"Ayo kita berangkat." ucap Ratih.
Lenna mengangguk.
Kemudian mereka pun berangkat bersama.
Di tengah perjalanan mereka berdua bertemu Darius yang kebetulan akan berangkat pula.
"Ratih, Lenna!" teriak Darius.
Mereka berdua menoleh ke arah suara yang memanggil mereka berdua.
"Bu, itu ada pak Darius." ucap Lenna.
Lalu Darius menghampiri mereka berdua.
"Ratih, tumben berangkat agak siang begini." tanya Darius.
"Iya, tadi ada beberapa pekerjaan dirumah yang harus aku selesaikan dulu." jawab Ratih.
"Ya sudah, kita berangkat naik delman saja. Agar kita tidak terlambat sampai ke tuan Belanda." ajak Darius.
Ratih mengangguk, "Boleh, kita tunggu andong disini saja."
Tak lama kemudian datanglah delman yang menawarkan mereka tumpangan.
"Ratih, itu ada andong. Ayo kita langsung naik saja." ajak Darius.
Ratih dan Lenna mengangguk.
Lalu mereka bertiga pun menaiki andong.
Sesampainya disana, mereka bertiga turun dari andong dan terlihat Darius hendak membayarkan ongkos untuk delman yang mereka tumpangi.
"Darius, sudah biarkan saja aku yang membayar sendiri untukku dan Lenna." ucap Ratih.
"Ah tidak apa-apa biar aku saja." jawab Darius sambil memberikan beberapa koin untuk kusir andong yang mengantar mereka bertiga.
"Ya sudah kalau begitu, trimakasih banyak Darius." ucap Ratih.
Darius tersenyum. "Tidak masalah. Sama-sama Ratih."
"Ya sudah, aku langsung masuk dulu ya. Kamu bekerjalah dengan baik." ucap Ratih.
"Iya." jawab Darius sambil tersenyum pada Ratih.
Lalu mereka bertiga pun bergegas masuk dan hendak mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
"Ibu, aku akan menyapu halaman samping dulu." ucap Lenna.
"Iya, ibu akan ke ruang tengah dulu ya." jawab Ratih.
Mereka pun mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Setelah Lenna selesai dari apa yang ia kerjakan, kemudian ia menghampiri ibunya di aula tengah istana.
"Ibu, sini biar aku bantu." ucap Lenna sambil mengambil kain untuk mengelap meja dan perabotan lainnya.
"Iya, boleh." jawab Ratih.
Lalu terlihat seorang perempuan yang sama-sama pegawai istana menghampiri Ratih.
Dia hendak menyampaikan berita yang baru dia dengar.
Dia bernama Danar.
"Ratih, kita harus secepatnya membersihkan aula ini, aku dengar kabar kalau hari ini akan ada tamu bangsawan Belanda. Mereka hendak berkunjung untuk sekedar beristirahat." ucap Danar.
"Baiklah, tempat ini memang tidak pernah sepi dari tamu konglomerat yang ingin singgah." ucap Ratih.
"Lenna, ayo cepat kita harus segera membersihkan aula ini, akan ada tamu yang singgah disini hari ini." sahut Ratih lagi.
"Iya, bu." jawab Lenna.
Lalu semua pelayan disana bergegas membereskan pekerjaan mereka sebelum tamu itu tiba.
Setelah semua selesai, salah satu perwira Belanda memanggil semua pelayan dan memberitahukan untuk segera menyiapkan makanan untuk tamu yang akan datang nanti.
Seketika semua pelayan sibuk dengan berbagai pekerjaan disana.
Terlihat pula Lenna dan Ratih yang sudah berada di dapur untuk membantu menyiapkan hidangan untuk tamu Belanda nanti.
Setelah semua persiapan segala hidangan selesai, seluruh pelayan berkumpul dan berjajar di ruang makan.
Tak lama setelah itu kemudian masuklah seluruh tamu bangsawan Belanda itu.
Tuan rumah kemudian menuntun mereka ke ruang makan untuk dijamu sebagaimana mestinya.
Setelah semua tamu itu duduk di meja makan yang besar, masing-masing pelayan membantu melayani para tamu itu.
Terlihat Lenna yang hendak memberikan minuman pada seorang pria Belanda muda yang tampan.
Dengan setelan kemeja putih rapi, dasi kupu-kupu, rambut yang rapi mengkilat.
"Silahkan, Tuan." ucap Lenna pada pria itu.
"Trimakasih banyak, Nona." ucapnya.
"Sama-sama, Tuan." ucap Lenna sembari berjalan meninggalkan pria itu.
Tanpa Lenna sadari, pria itu sedari tadi sejak dia duduk, dia terus memperhatikan Lenna.
Dia terlihat tertarik dengan pesona kecantikan Lenna. Wanita dengan darah Sunda campur Belanda itu.
Namun disaat Lenna hendak melangkah meninggalkan pria itu, pria itu dengan cepat meraih tangan Lenna.
Lenna sangat terkejut akan hal itu.
"Nona, siapa namamu?" tanya pria itu yang masih menggenggam tangan Lenna.
"L-l-lenna, Tuan." jawab Lenna terbata-bata karna takut.
Lenna hanya menunduk malu dan takut, tak bisa berbuat apa-apa karna ia adalah seorang bangsa Belanda.
Pria itu tersenyum manis ke arah Lenna.
"Sepertinya kamu wanita keturunan Belanda ya?" tanya pria itu.
"I-i-iya, tuan. Ayahku dulu seorang perwira Belanda." jawab Lenna.
Pria itu tersenyum sambil mengusap tangan Lenna.
Lenna merasa sangat takut saat itu.
Dia berpikir macam-macam.
"Ya Tuhan, aku takut. Apa dia berniat jahat terhadapku." batin Lenna.
"Kamu sangat cantik, nona." ucap pria itu.
Pria itu tersenyum sambil menatap Lenna yang berdiri di sampingnya dan hanya tertunduk malu.
Wajar saja, selama ini dia baru merasa untuk yang pertama kali di perlakukan seperti itu oleh pria.
"Jangan takut, aku tidak ada maksud jahat terhadapmu." ucap pria itu sambil menatap ke arah Lenna.
"Ehem! Oh ya, perkenalkan, namaku Edler. Edler Van Schmidt." sahutnya lagi memperkenalkan dirinya.
Lenna begitu terlihat gugup dengan kepolosannya.
"Iya, tuan. M-m-maaf tuan, saya harus kembali bekerja." ucap Lenna.
Lalu pria itu seketika melepaskan genggamannya dari tangan Lenna.
"Oh. Baiklah. Maafkan aku. Silahkan." jawab Edler sambil melepaskan genggamannya.
"Senang berkenalan denganmu, Nona." ucapnya lagi sembari tersenyum pada Lenna.
Lenna hanya menggangguk malu.
Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Edler.
"Mari tuan. Saya permisi." ucap Lenna.
Tampak Lenna yang merasa gugup, malu, ada pula rasa takut. Tapi ada juga rasa senang dalam hatinya, bisa bertemu dengan pria tampan seperti Edler.
Disinilah di ketahui awal pertemuan Lenna dengan pria itu. Pria bangsawan Belanda.