Mereka bertiga yang baru saja sampai pertigaan. Rumah Jupri memang tidak jauh dari pertigaan, tapi Jupri berniat baik untuk tetap mengantarkan mereka berdua sampai ke rumah.
Karena dia kawatir terhadap anggota gerombolan yang suka berbuat jahat. Terlebih mereka berdua adalah perempuan.
"Mari bu, biar saya antarkan sampai ke rumah." Kata Jupri.
"Sudah pak, biar saya pulang sendiri saja sama Lenna, lagipula sudah dekat kok." Jawab Ratih.
"Ah tidak apa-apa bu, masih agak jauh loh rumahnya, kalian perempuan, saya kawatir nanti ada apa-apa. Mari bu." Ucap Jupri.
"Tapi saya nanti malah merepotkan bapak. Padahal rumah bapak tinggal belok saja sudah sampai, tapi malah harus mengantar dulu kami berdua, tambah jauh nantinya." Ucap Ratih.
"Tidak apa-apa bu, saya mengkhawatirkan keselamatan bu Ratih dan Lenna." Balas Jupri.
“Ya sudah jika bapak tidak keberatan. Maaf ya pak jika saya merepotkan.” Ucapnya.
Lalu mereka kembali berjalan menuju rumah Ratih.
Di sepanjang perjalanan, mereka bertiga saling mengobrol untuk mengisi kekosongan dan keheningan malam itu.
Setibanya di rumah...
"Akhirnya sampai juga. Jupri, trimakasih banyak ya sudah mau mengantarkan aku dan Lenna. Maaf sekali malah jadi merepotkanmu." Ucap Ratih.
"Tidak apa-apa bu, saya yang menawarkan, berarti saya sudah siap untuk di repotkan." Jawab Jupri.
Ratih dan Lenna tersenyum.
Kemudian Ratih merogoh kantong kain yang dia bawa sejak tadi, lalu mengeluarkan beberapa koin mata uang Belanda untuk dia berikan kepada Jupri sebagai tanda trimakasih.
"Oh ya, Jupri. Ini ambillah. Maaf tidak seberapa, anggap saja sebagai rasa terimakasihku karna sudah mau mengantar kami berdua." Ucap Ratih.
"Tidak usah bu, tidak usah. Saya ikhlas mengantar." Ucap Jupri.
"Tidak baik loh menolak rejeki, Jupri." Ucap Ratih.
"Bukan saya menolak rejeki, saya ikhlas bu. Karna kita sesama manusia harus saling peduli dan melindungi." Balas Jupri.
Karna merasa bingung dengan perkataan Jupri, Ratih pun kembali memasukkan koin pada kantong kainnya.
Ratih jadi merasa tidak enak hati akan hal itu.
"Ya sudah, bu, Neng, saya langsung pamit dulu. Hari sudah semakin malam." Ucap Jupri.
Ratih dan Lenna mengangguk.
"Iya, Jupri, trimakasih banyak ya. Apa kamu tidak ingin mampir dulu?" Ucap Ratih.
"Tidak bu. Saya langsung saja. Lagipula tidak enak juga jika saya bertamu tengah malam begini.” Jawab Jupri.
“Ya sudah jika begitu. Sekali lagi saya terimakasih ya. Kamu hati-hati di jalan.” Ucap Ratih
“Iya sama-sama bu. Ya sudah, saya pamit dulu. Mari bu Ratih, Lenna.” Ucap Jupri pamit
Ratih dan Lenna mengangguk, “Hati-hati di jalan.” Ucap mereka berdua.
Lalu Jupri bergegas pulang menuju rumahnya.
Ratih dan Lenna langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
Setibanya di rumah, mereka langsung pergi ke kamar sumur untuk mencuci kaki dan wajah mereka. Setelah itu, mereka bergegas masuk dalam rumahnya menuju kamar untuk beristirahat. Karena merasa lelah dengan perjalanan yang mereka tempuh dengan berjalan kaki.
———————————————————-
Keesokannya, pagi hari pun tiba.
Terdengar suara ayam yang mulai berkokok menyambut datangnya pagi.
Terlihat Lenna dan Ratih yang baru saja terbangun subuh itu.
"Ibu, apa ibu hari ini akan kembali berangkat pagi buta seperti kemarin?" Tanya Lenna.
"Tidak, nak. Hari ini ibu akan bekerja di jam biasa. Kemarin ibu berangkat pagi buta karna akan ada tamu dari Gubernur Belanda yang akan datang." Jawab Ratih.
“Oh begitu.”
Lalu Lenna bergegas menuju sumur untuk mencuci wajahnya.
Dan Ratih sendiri bergegas ke dapur untuk menyalakan api tungku guna menghangatkan tubuhnya. Sambil ia merebus air.
Setelah itu barulah dia pergi ke sumur untuk mencuci wajahnya.
Dari arah sumur, terlihat Lenna menghampiri ibunya yang tengah mengambil beras yang baru ia dapat kemarin.
Ia berniat membantu ibunya pagi itu.
"Sini bu, biar Lenna saja yang memasak nasi." ucap Lenna.
Ratih tersenyum, "Iya, nak.”
"Ibu mau cuci muka dulu ya," sahutnya lagi.
Lenna mengangguk. “Iya bu.”
Lenna mengambil air dalam gentong besar dan mencuci beras yang hendak dia masak.
Setelah itu kemudian dia memasaknya di atas tungku.
Sembari menunggu nasi matang, Lenna bergegas mengambil dedek untuk memberi makan ayam-ayamnya.
Lenna memang memelihara beberapa ekor ayam di belakang rumahnya.
Jika ayamnya sudah mulai dewasa, ibunya biasa menjualnya ke pasar. Dan menyisakan beberapa ekor anak ayam dengan indukan dan pejantannya untuk kembali di ternakan.
Tak lupa juga, Lenna memberi makan juga kucing kesayangannya yang sedari tadi mengelus-elus kakinya.
Pagi itu terlihat matahari yang mulai memunculkan sinarnya.
Pemandangan alam pedesaan yang asri, pohon-pohon yang masih terlihat rimbun, serta kabut tebal yang menyelimuti, membuat suasana alam semakin sejuk dan damai sekitar rumah itu.
Kondisi alam yang damai pada pagi itu seakan membuat mereka lupa jika negeri mereka tercinta sedang dalam masa penjajahan.
Lalu Ratih yang baru selesai mencuci mukanya, ia bergegas mempersiapkan sarapan untuk dia dan putrinya.
Lenna lalu menghampiri ibunya.
"Lenna, tolong ibu kupaskan bawang ya. Pagi ini ibu ingin membuatkanmu oseng bayam." ucap Ratih.
"Iya, Bu." tutur Lenna.
Melihat nasi yang sudah matang, Ratih mengangkat dandangnya yang berada di atas tungku itu.
"Mmmmm.. Harum sekali aroma nasinya bu." ucap Lenna.
Ratih tersenyum, "Iya, ini beras bagus yang ibu ambil kemarin dari tuan Belanda itu. Orang bangsawan pasti lah berasnya juga sebagus ini." tutur Ratih.
"Pasti harga beras itu sangatlah mahal bu" ucap Lenna.
"Mungkin untuk kita mahal, tapi untuk bangsawan seperti mereka pasti di anggap murah." tutur Ratih.
“Padahal, beras-beras seperti ini pun berasal dari kita sendiri, tapi kita sangat kesulitan untuk mendapatkannya.” imbuhnya lagi.
Lenna hanya terdiam mendengar ucapan ibunya.
Lenna yang baru saja selesai mengupas bawang, kemudian ia mengiris bawang dan membantu menyiapkan bahan lain untuk ibunya memasak.
Bahan masakan kala itu tidak selengkap bahan masakan di jaman modern sekarang. Mereka menggunakan bahan seadanya. Terkadang mereka memanfaatkan bahan umbi-umbian yang mereka tanam sendiri guna menghemat.
Setelah semua selesai, Lenna kemudian mencuci bayam yang hendak ia masak.
Lalu mengiris bayam itu dan memberikannya pada ibunya.
Kemudian ibunya memulai berkutat dengan peralatan dapurnya untuk memasak.
"Lenna, tolong siapkan piring. Masakannya sudah matang." ucap Ratih.
"Iya bu." jawab Lenna
Lalu Lenna pun menyiapkan piring.
Ia menyiapkan pula nasi yang ia tuangkan pada piring untuk ibunya.
"Nah, sudah matang. Ayo atuh makan. Mumpung masih panas." ucap Ratih.
"Iya, bareng atuh dengan ibu." ucap Lenna.
Lalu mereka pun berdua sarapan bersama pagi itu. Mereka selalu melakukan apapun bersama-sama saat di rumah.
Tak lama setelah mereka berdua sarapan, kemudian Ratih bergegas kembali untuk berangkat menuju istana tuan Belanda untuk bekerja.
"Lenna, ibu akan bersiap-siap dulu pergi ke istana tuan Belanda." ucap Ratih.
Lenna mengangguk, "Iya, bu."
"Ibu, apa boleh Lenna ikut untuk membantu pekerjaan ibu disana?" tanya Lenna.
"Lenna bosan jika harus dirumah sendiri tanpa kegiatan. Lagipula Lenna sudah dewasa, tidak mungkin Lenna hanya berdiam diri saja tanpa ikut membantu ibu bekerja." ucapnya lagi.
Sejenak Ratih terdiam. Ia berpikir ada benarnya tentang perkataan Lenna.
Benar juga apa yang di katakan Lenna, lagipula jika dia berada di rumah sendirian setiap hari, akan dirasa kawatir juga jika ada sekelompok gerombolan orang jahat yang datang.
Kemudian Ratih mengangguk. Mengiyakan permintaan Lenna.
"Baiklah jika itu tujuanmu. Ibu mengizinkan. Terlebih ibu memang ada rasa kawatir jika kamu bekerja disana bersama ibu. Ibu kawatir kamu di godai oleh pria-pria Belanda disana.” Ucapnya.
“Ibu jangan kawatir, Lenna akan menjaga diri sebaik mungkin.” Ucap Lenna.
“Baiklah. Tapi kalau kamu ikut membantu ibu disana, kamu tidak akan mendapat upah apa-apa, karena kamu bukan termasuk pegawai di istana Belanda itu." tutur Ratih.
"Tidak apa-apa bu, yang penting Lenna bisa membantu pekerjaan ibu yang Lenna bisa disana. Hitung-hitung Lenna meringankan beban pekerjaan ibu disana.” ucap Lenna.
"Ya sudah, ayo kita bersiap-siap berangkat." kata Ratih.
"Iya, bu." jawab Lenna tersenyum.
Lenna merasa senang karena ia di ijinkan untuk ikut bekerja dengan ibunya.
Kemudian mereka berdua bersiap dan bergegas menuju istana tuan Belanda.
Seperti biasa, mereka berjalan menuju jalur pedesaan untuk mencari andong yang akan di tungganginya. Terkadang, Ratih pun suka berjalan kaki menuju istana tuan Belanda-nya itu.
Tapi karena ia membawa Lenna, ia merasa tak tega jika harus berjalan kaki. Terlebih jarak yang di tempuh pun lumayan jauh.
Lalu mereka berdua mendapat andong dan menaikinya.
Setelah setengah jam perjalanan yang mereka tempuh dengan andong, sampailah mereka berdua di depan pintu gerbang masuk istana.
Lenna merasa terkagum dengan bangunan yang ada di depan matanya itu. Terlihat sangatlah besar dan megah kala itu.
Sesampainya disana, mereka langsung bergegas masuk menuju istana Belanda itu.
Saat hendak masuk, mereka di cegah oleh salah seorang penjaga Belanda yang ada di pintu masuk itu.
"Siapa yang kamu bawa ini? Apa dia seorang pegawai baru disini?" ucap salah satu penjaga Belanda yang berjaga di pintu masuk istana.
"Dia putriku, dia hanya ingin membantuku disini." ucap Ratih.
Penjaga itu mengangguk, "Baik. Masuklah." ucapnya.
Kemudian mereka masuk tanpa di periksa oleh penjaga tadi.
Didalam istana itu Lenna membantu pekerjaan ibunya yang dia bisa.
Saat sedang mengerjakan pekerjaan disana, Van Heots selaku tuan rumah istana yang melihat kehadiran Lenna langsung bertanya pada Ratih.
"Siapa ini?" ucapnya.
Lenna yang melihat hal itu tertunduk dan sedikit merasa takut.
Karna dia masih benar-benar polos untuk berhadapan dengan seorang Belanda. Terlebih orang yang ada di hadapannya adalah si tuan rumah itu sendiri sekaligus petinggi Belanda.
Ratih yang melihat hal itu segera menghampiri Lenna dan berbicara pada Van Heots.
"Maaf atas kelancangan saya, Tuan. Dia putri saya Tuan, dia hanya ingin membantu pekerjaan saya disini. Dia tidak keberatan jika tidak di bayar sekalipun." ucap Ratih.
"Hmm. Baiklah. Lakukan saja apa yang menjadi pekerjaanmu disini." ucap Van Heots.