Setelah Lenna selesai mandi, dia bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian.
Setelah selesai berpakaian, lalu ia menghampiri ibunya yang masih berada di balai depan.
Terlihat Ratih yang masih terdiam mengingat apa yang tadi di beritakan oleh Lenna mengenai Enyo.
Memanglah baginya terdengar cukup aneh apa yang di ceritakan Lenna.
Tapi ia percaya bahwa Lenna adalah anak yang lugu, polos, dan jujur. Tidak mungkin ia mengarang cerita seperti itu.
Lenna yang mengetahui ibunya tengah melamun itu, kemudian bergegas menghampirinya.
"Ibu, kenapa ibu melamun seperti itu?" Tanya Lenna.
Ratih sedikit terkejut dengan Lenna yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Ibu hanya sedikit terkejut mendengar kabar soal Enyo. Perasaan hari kemarin dia masih terlihat sehat-sehat saja." Jawab Ratih.
“Tapi waktu Lenna berada disana, kata orang-orang Enyo memang sudah sakit sejak beberapa hari yang lalu. Karna tidak ada yang bisa menjamin akses kesehatan, Enyo hanya di rawat di rumah saja.” Ucap Lenna
"Apa nanti ibu akan pergi melayat ke rumah bi Suri?" Tanya Lenna.
Ratih mengangguk, "Iya, ibu pasti akan pergi kesana untuk melayat. Bagaimanapun juga, Suri adalah teman baik ibu saat dulu ibu masih muda. Pasti perasaan Suri sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya.” Jawab Ratih.
"Ya sudah, ibu mau bersiap mandi dulu. Setelah itu nanti kita pergi kesana sehabis maghrib." Sambung Ratih.
Lenna mengangguk, "Iya, bu."
Lalu Ratih meninggalkan Lenna, dia bergegas menuju sumur untuk segera mandi.
Selesai mandi, Ratih masuk ke dalam kamar untuk memakai baju.
Ia berdandan dengan memakai baju hitam.
Kemudian dia menghampiri Lenna yang masih duduk di balai depan.
Dia lalu ikut duduk di sebelah kursi Lenna.
Hari sudah semakin gelap. Suara Adzan pun terdengar. Yang disusul dengan suara lonceng besar yang berada di tengah kota saat itu yang terdengar sesuai waktu jam yang di tunjukkan.
Lonceng itu terdengar menggema bersama suara Adzan.
Kala itu belum terlalu ramai seperti di era modern saat ini, saat itu suasana masih sepi. Belum ada hingar bingar perkotaan yang ramai. Jadi suara lonceng raksasa itu bisa terdengar jelas terbawa angin. Bahkan untuk sebuah arloji atau jam dinding, itu hanya bisa di miliki oleh kalangan konglomerat saja pada masa itu.
Jadi pemerintah Belanda menggunakan lonceng itu sebagai penunjuk jam, dengan ukuran raksasa itu mampu menghasilkan suara yang sangat nyaring hingga terdengar sangat jauh.
Selain digunakan sebagai penunjuk jam dan fungsi lain, lonceng itu juga merupakan sebuah hadiah dari VOC untuk Raden Adhipati Aria Prawiradiredja II, Bupati Cianjur kala itu. Sebagai wujud apresiasi dari VOC dan pemerintah Hindia Belanda karna Cianjur adalah wilayah yang mampu menghasilkan rempah-rempah terbanyak untuk di jual belikan pada masa itu. Seperti cengkeh, lada, biji pala, dan lain-lain.
Tidak tanggung-tanggung, pada masa itu pemerintah Belanda pun memesan lonceng itu dari perajin terkemuka yang sangat terkenal di Eropa. Lonceng itu sendiri di buat pada tahun 1774 oleh Johan Christian Borchhard seorang perajin terkemuka yang berasal dari Eropa.
Lonceng itu pun menjadi salah satu barang berharga bagi warga Cianjur pada masa itu. Karna sebagai bentuk apresiasi dari hasil kekayaan alam Cianjur.
(Pada masa sekarang lonceng itu pun masih berdiri kokoh dan masih di rawat secara berkala oleh pemerintah Cianjur, lonceng itu saat ini berada di pusat alun-alun/kantor Pemda kota Cianjur.)
"Kamu sudah makan nak?" Tanya Ratih.
"Hari ini Lenna hanya makan saat sarapan saja bu." Jawab Lenna.
"Kita makan yuk, hari ini ibu kebetulan dapat nasi dan ada beberapa lauk yang ibu bawa dari rumah tuan Belanda." Ucap Ratih.
"Wah, benarkah bu?" Ucap Lenna.
Ratih mengangguk dan tersenyum.
Terlihat Lenna yang begitu tampak kegirangan mendengar ibunya yang membawa nasi dan beberapa lauknya.
Karna memang Lenna dan ibunya sangat jarang mendapat beras pada masa itu.
Mereka makan hanya dari umbi-umbian saja.
Bahkan upah dari ibunya bekerja pun hanya cukup untuk membeli bahan pangan lain. Karna beras pada masa itu benar-benar sulit di dapat.
Kondisi yang sulit saat itu membuat mereka melakukan apa saja demi bertahan hidup.
Bahkan, makanan sisa dari tamu-tamu Belanda yang Ratih bawa dari sana pun tetap terlihat sangat enak untuk mereka.
Walau begitu, mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka dapat dan selagi masih bisa di nikmati.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Sudah hampir maghrib juga." Ajak Ratih.
Lenna mengangguk. “Iya bu. Lenna sudah tidak sabar ingin makan.”
Kemudian mereka berdua bergegas menuju ruang makan yang terletak berdampingan dengan dapur mereka.
"Oh ya bu, tadi Lenna sempat masak sup singkong, Lenna sudah sisihkan sebagian untuk ibu. Apa ibu mau mencobanya?" Ucap Lenna.
Ratih tersenyum, "Boleh, pasti buatan kamu lebih enak dari buatan ibu." Puji Ratih
Lenna terkekeh, "hehe.. Ibu bisa saja. Cobalah dulu bu. Lenna ambilkan ya.”
Lalu Lenna mengambil mangkuk yang berisi sup singkong yang sudah ia sisihkan untuk ibunya.
Ratih tersenyum dan mengangguk.
"Tapi supnya sudah dingin, Lenna harus panaskan dulu. Sini bu, sekalian semua makanannya Lenna panaskan dulu. Agar lebih nikmat nantinya.” Sahut Lenna.
Ratih mengangguk, "iya, nak."
Lalu Lenna mengambil semua makanan yang dibawa oleh ibunya untuk di panaskan kembali.
Agar lebih terasa nikmat saat dinikmati nanti.
Kemudian Lenna menyalakan api tungku.
Lalu memanaskan semua makanannya.
Setelah semua makanan sudah selesai di panaskan, Lenna membawa semua makanan itu ke atas meja untuk di hidangkan bersama ibunya.
Lalu mereka berdua makan bersama dengan lahapnya.
Sungguh sebuah kebahagiaan terpancar dari kehidupan Lenna dan Ratih.
Walau hidup dengan keadaan yang sangatlah sulit, tapi mereka masih bisa mensyukuri dan menikmati apa yang mereka dapatkan dan dinikmati bersama.
Mereka menikmatinya dengan senyuman.
Melihat anaknya bisa makan pun Ratih merasa sangat bahagia di tengah hidup sebagai bangsa yang sedang di jajah oleh bangsa lain.
"Bagaimana bu, apa sup buatan Lenna enak?" Tanya Lenna.
"Mmmm.. Enak. Ibu sangat menyukai ini. Coba juga sayurnya nak, ada ayam gorengnya juga. Mumpung ada, ayo habiskan. Jangan di sia-siakan. Jika di simpan untuk besok, makanan ini akan basi.” Jawab Ratih yang kemudian menawarkan makanan lain yang ia bawa.
Lenna tersenyum senang.
Hari sudah menunjukkan pukul 19:00 yang di tandai dengan bunyinya lonceng raksasa yang kembali bergema di pusat kota Cianjur sebanyak 7 kali.
Tak terasa waktu sudah malam.
Jika hari itu sudah menunjukkan waktu sudah pukul jam 7 malam.
"Sudah jam 7 malam bu, apa ibu mau berangkat sekarang?" Tanya Lenna.
"Iya. Kita selesaikan dulu makan malamnya, lalu setelah itu baru kita bersiap untuk berangkat." Jawab Ratih.
“Iya bu.”
Lalu merekapun menyelesaikan makan malamnya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka bergegas hendak bersiap untuk berangkat menuju kediaman Suri.
"Apa minyak untuk obor masih ada, nak?" Tanya Ratih pada Lenna.
"Masih bu. Masih lumayan banyak." Jawab Lenna sambil mengecek minyaknya.
"Ya sudah, ayo kita bersiap untuk berangkat." Ucap Ratih.
Lenna mengangguk.
Kemudian mereka bersiap-siap untuk berangkat.
Ratih mengambil obor dan menyalakannya untuk penerangan mereka di tengah perjalanan.
Saat semuanya sudah siap, lalu mereka berdua bergegas berangkat.
Mereka berjalan melalui jalur pedesaan yang tidak terlalu gelap. Untuk menghindari bahaya dari sekelompok gerombolan.
Di tengah perjalanan sesuatu yang tidak mereka harapkan pun terjadi, mereka berpapasan dengan sekelompok prajurit Belanda yang menggodanya.
Sekelompok tentara Belanda itu tergoda dengan paras cantik Lenna. Kulit kuning langsat yang terawat, serta tubuh yang molek.
Membuat mata tentara itu tertuju pada Lenna.
Ratih yang menyadari hal itu segera berjalan dengan buru-buru. Guna menghindari para kelompok tentara itu.
Dia tidak mau sampai terjadi hal yang tak di inginkan pada anaknya.
"Lenna, ayo cepat pergi." Titah Ratih.
Lenna hanya mengangguk sambil berjalan cepat.
Sangat untung bagi mereka, tentara itu hanya sekedar menggodanya tanpa melakukan apapun terhadap mereka.
Jalanan desa jika sudah mulai malam memang terlihat sepi.
Sesampainya mereka di rumah Suri, mereka melihat suasana rumah yang masih tampak ramai oleh warga sekitar.
Terlihat masih ada beberapa warga yang berada di rumahnya walau hanya sekedar untuk saling mengobrol.
Ratih dan Lenna yang baru saja tiba segera masuk untuk menemui Suri dan Yanto.
"Punten." Ucap Ratih.
"Mangga.." ucap beberapa warga yang menyambut.
Kemudian mereka berdua menemui Suri dan Yanto.
"Suri, maaf aku baru sempat melayat. Karna aku baru saja mendapat kabar dari Lenna. Dan sejak pagi pun aku bekerja di rumah tuan Belanda. Aku turut berduka cita atas meninggalnya putramu." Ucap Ratih.
"Semoga kamu dan Yanto di beri ketabahan." Imbuhnya.
"Iya, Ratih. Tidak apa-apa. Trimakasih" ucap Suri.
Terlihat Suti yang masih banyak diam dan lemas. Dia tidak banyak bicara seperti biasanya.
Sedangkan Yanto kini sudah mulai terlihat biasa kembali.
Mungkin dia sudah ikhlas dengan semua yang terjadi.
"Aku merasa ini semua salahku. Kesulitan ekonomi membuatku sulit untuk mencukupi keluargaku. Mungkin putraku meninggal karna sakit dan kelaparan.” Ucap Yanto dengan sedih dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai kepala keluarga.
"Sudahlah, Yanto. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini sudah takdir dari Gusti. Doakan saja putramu agar dia tenang disana." Ucap Ratih menghibur.
Yanto mengangguk, "Iya, trimakasih Ratih."
Ratih tersenyum. Lalu dia menoleh ke arah Suri.
"Suri, janganlah kamu berlarut dalam kesedihan. Pasti anakmu disana juga tidak mau melihatmu sedih begitu." Ucap Ratih.
"Betul, Bi. Sedih itu merupakan hal yang wajar, tapi jangan sampai berlarut-larut dalam kesedihan." Sahut Lenna.
Suri hanya mengangguk lemas.
Kemudian setelah mereka berbincang-bincang.
Ratih dan Lenna hendak bersiap untuk pamit.
Karna hari yang sudah semakin malam.
"Suri, Yanto, aku dan Lenna akan pamit dulu ya. Hari sudah semakin malam." Ucap Ratih.
"Iya, kalau kamu mau pulang, kamu pulang bersama pak Jupri saja. Dia juga searah denganmu. Biar kamu dan Lenna ada yang menemani. Malam-malam begini takut ada terjadi apa-apa." Ucap Yanto.
"Iya Ratih, apalagi kamu dan Lenna perempuan, takut terjadi apa-apa di tengah perjalanan.” Sahut Suri.
"Iya." Ratih mengangguk.
"Trimakasih ya Ratih, Lenna, sudah mau datang melayat. Dan menghiburku.” Ucap Suti.
Ratih dan Lenna mengangguk.
"Iya, sama-sama Suri. Aku harap kamu tidak kembali berlarut dalam kesedihanmu." Ucap Ratih.
Suri mengangguk.
"Bu Ratih dan neng Lenna, mau pulang?" Tanya Jupri. Jupri merupakan warga yang tempat tinggalnya tak jauh dari rumah Ratih.
"Iya pak." Ucap Ratih.
"Ayo atuh, pulang bareng bersama saya." Ajak Jupri.
"Ya sudah, Suri, Yanto, aku pamit pulang dulu ya." Ucap Ratih.
"Iya, hati-hati dijalan." Ucap Suri dan Yanto.
Lalu mereka berdua pun pulang dengan di temani pak Jupri.
Kebetulan Jupri juga membawa patromak saat itu. Jadi tidak terlalu gelap untuk mereka saat di tengah perjalanan.
Mereka kembali melewati jalanan pedesaan yang kian sepi.