Di sepanjang jalan bersama Ratih, Darius merasa sangat bahagia bisa menikmati momen berdua dengam Ratih. Walau itu hanya di jalan saja.
Sesekali Darius mencuri pandang ke arah Ratih yang sambil mengobrol dengannya.
"Ratih, sudah 25 tahun sejak suamimu meninggal, kamu masih tetap menjanda sampai sekarang." Ucap Darius.
"Memangnya kenapa?" Tanya Ratih.
"Aku masih mencintaimu Ratih. Apa kamu tidak ingin menikah lagi?" Tanya Darius.
Ratih menggeleng, "Aku belum terpikir akan hal itu"
Darius hanya tertegun mendengarnya.
Dia hanya bertanya-tanya dalam hatinya. Tentang bagaimana cara mendapatkan hati Ratih.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan hatimu Ratih." Batin Darius.
Tiba-tiba Ratih bertanya pada Darius, "Kenapa kamu hanya tertuju padaku? Apa selama ini tidak ada wanita lain yang kamu sukai selain aku?"
Darius menggeleng. "Tidak ada." Jawabnya.
"Entah kenapa juga hatiku selama ini hanya tertuju padamu saja." Sahutnya lagi.
Namun, diam-diam pun sebenarnya Ratih menyimpan perasaan pada Darius, tapi ia pandai menyembunyikannya. Karna ia malu sebagai wanita jika ia harus mengungkapkannya terlebih dulu.
"Sebenarnya aku juga menyimpan perasaan terhadapmu Darius. Tapi entah kenapa aku belum siap." Batin Ratih.
Sore itu jalan yang mereka lalui memang tampak sudah agak sepi. Sudah hampir tidak terlihat orang-orang yang berlalu lalang disana.
Karna memang jika sudah menjelang maghrib, para warga selalu enggan untuk keluar, karna di wilayah itu terdapat suatu kelompok pemberontak yang tidak mau hidup dalam kemiskinan. Jadi para kelompok pemberontak itu pun nekat menjarah warga yang di anggap mempunyai banyak harta, terkadang pemberontak itu pun nekat menjarah dan merampok orang Belanda yang di pandang memiliki harta yang tinggi.
Orang-orang di wilayah itu menyebut kelompok pemberontak itu dengan sebutan Gerombolan.
Tapi nampaknya Ratih yang sudah terbiasa melalui jalanan sepi seperti itu tampak biasa saja.
Walau memang ia tak pernah mendapati dirinya di jarah oleh para gerombolan.
Darius nampak terlihat takut saat hari sudah menjelang gelap. Tapi ia menyembunyikan perasaan takutnya.
Karna ia sedang berada di samping wanita pujaannya, ia tak mau terlihat lemah di hadapan Ratih.
“Darius, kenapa kamu terlihat kaku seperti itu? Apa kamu takut?” Tanya Ratih yang melihat tingkah Darius yang di rasa seperti menyembunyikan rasa takutnya.
“Eh, tidak. Aku tidak takut. Mana mungkin aku takut, lagipula aku sedang mengawal wanita pujaanku, jadi aku tidak akan takut pada siapapun.” Ucapnya dengan percaya diri. Walau sebenarnya memang ia merasa takut, takut jika ada Gerombolan yang datang untuk menjarahnya.
Lalu tak lama setelah itu mereka berdua pun tiba di depan rumah Ratih.
Darius yang melihatnya pun merasa lega. Karna tujuannya sudah sampai.
"Akhirnya sampai juga." Ucap Darius.
"Kamu tidak mau mampir dulu? Itung-itung istirahat dulu." Ucap Ratih basa-basi.
"Emm.. Bolehlah." Jawab Darius.
"Ya sudah, ayo ke rumah." Ucap Ratih.
Lalu mereka berdua segera menuju rumah.
Baru pertama kali ini untuk Darius bertamu di rumah Ratih. Itupun karna dia yang berniat mengantarkan Ratih pulang.
Sejak dulu, saat sebelum Ratih menikah pun ia tidak pernah mampir ke rumahnya, karna ia takut pada orang tua Ratih saat mereka masih hidup. Hingga sampai akhirnya Ratih menikah dengan Edmund suaminya, ia hanya bisa menemui Ratih di kebun teh saat Ratih bekerja disana.
Bahkan sampai saat suaminya meninggal, ia tetap tidak sempat berkunjung di rumah Ratih.
Sampai pada akhirnya Ratih bekerja menjadi pelayan istana, disitulah kesempatan Darius untuk ikut bekerja disana sebagai tukang kebun agar bisa selalu bertemu dengan Ratih.
"Ayo masuk." Ucap Ratih.
"Tidak usah, aku di balai saja. Tidak enak kalau aku masuk. Takut di kira yang bukan-bukan oleh tetangga." Jawab Darius.
Ratih tersenyum, "Ah lagipula tetangga juga jauh. Tidak akan ada yang menilai macam-macam."
"Tapi, ya sudah kalau itu maumu. Aku masuk dulu ya." Sahut Ratih.
Darius mengangguk sambil tersenyum.
Lalu tiba-tiba Ratih berbalik badan dan kembali pada Darius.
"Oh ya, Darius. Kamu mau minum apa?" Tanya Ratih yang menawarkan minuman.
"Emm.. Aku mau teh panas saja." Jawab Darius.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju dulu." Ucap Ratih.
Kemudian Ratih kembali masuk ke dalam rumahnya lalu menuju kamar untuk berganti pakaian.
Sedangkan Darius berada di balai depan rumah sambil duduk santai disana.
Ratih yang sedang berada di kamar, lalu melepas pakaiannya, ia juga melepas sanggulnya.
Lalu mengambil baju dari lemarinya untuk dia kenakan.
Selesai mengganti pakaiannya, Ratih bergegas menuju dapurnya untuk membuatkan minuman untuk Darius.
Namun dia baru sadar kalau sedari tadi saat dia baru tiba di rumah, dia tidak melihat Lenna.
"Lenna. Lenna.." ucap Ratih memanggil putrinya itu.
Namun tak ada jawaban dari Lenna.
"Ada dimana ya putriku. Apa dia lagi mandi ya?" Gumamnya.
Ratih kemudian berjalan melewati dapur untuk mengecek Lenna, tapi di dapur dia tidak melihat Lenna.
Lalu ia beranjak ke sumur, tapi disana ia juga tidak menemukan Lenna.
Dia berjalan kesana kemari tapi tak menemukan Lenna.
"Hmm. Mungkin dia sedang berada di pekarangan." Gumamnya.
Kemudian ia berjalan menuju sumur untuk mengambil air. Lalu ia pergi ke dapur.
Ia menyalakan api tungku untuk merebus air untuk dibuatkan minuman.
Setelah air mendidih dan matang, lalu ia membuatkan segelas teh panas untuk di suguhkan pada Darius.
Lalu ia membawanya menuju tempat Darius menggunakan nampan.
Terlihat Darius yang kini duduk sambil meluruskan kakinya di salah satu kursi. Ia juga terlihat memejamkan matanya.
"Darius, ini tehnya. Silahkan di minum." Ucap Ratih.
Darius yang mendengar itu terkaget dan beranjak duduk kembali.
"Eh, Ratih. Maaf aku hampir ketiduran." Ucap Darius.
Ratih tersenyum, "Tidak apa-apa. Apa kamu lelah?"
Darius menggeleng, "Lumayan. Tapi seketika lelahku hilang saat lihat kamu. Hehehe" goda Darius.
"Hmm. Kamu terlalu banyak merayuku.” Ucap Ratih
"Ini tehnya diminum dulu, mumpung masih panas." Lanjut Ratih.
"Iya-iya. Terimakasih." Jawab Darius.
Slluuuurrrrpppp. Darius menyeruput tehnya.
Darius terlihat begitu menikmati sruputan teh yang dibuatkan oleh Ratih.
Ratih hanya sambil tersenyum melihatnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong putrimu ada dimana?" Tanya Darius membuka pembicaraan.
"Aku juga tidak tau, daritadi aku mencarinya di belakang, tapi tidak ada. Mungkin dia lagi di pekarangan." Jawab Ratih.
“Sudah gelap begini di pekarangan? Memangnya sedang apa dia?” Tanya Darius yang heran.
“Biasanya dia mencari kayu bakar.” Jawab Ratih
“Mencari kayu bakar? Apa dia tidak takut jika ada Gerombolan yang bisa saja datang tiba-tiba? Apalagi dia perempuan. Jika terjadi seperti itu, dia tidak mungkin bisa melawan.” Ucap Darius
“Jangan bicara seperti itu. Tapi aku yakin Lenna bisa menjaga dirinya.” Imbuh Ratih.
“Tapi kan itu hanya kekawatiranku pada seorang perempuan. Terlebih dia gadis yang masih muda, tentunya akan menggoda di mata laki-laki.” Imbuh Darius.
Ratih yang mendengar perkataan Darius hanya bisa diam dan sempat berpikir sejenak. Ada benarnya memang perkataan Darius.
Lalu ia pun semakin merasa kawatir dengan Lenna yang tak kunjung pulang.
Ia pun berusaha mengalihkan topik pembicaraan walau hatinya masih di liputi rasa was was.
“Sudahlah. Lupakan saja perkataanmu itu.” Ucap Ratih.
“Iya. Semoga tidak terjadi apa-apa pada anakmu.”
"Oh ya, Sekarang Lenna sudah umur berapa? Sudah lama aku tidak melihat putrimu itu." Sambung Darius.
"Sekarang dia sudah berumur 28 tahun." Jawab Ratih.
"Wah, cepat sekali ya. Tidak terasa waktu secepat itu. Terakhir aku bertemu Lenna saat dia masih umur 20 tahunan." Sahut Darius.
Saat di tengah asyiknya perbincangan mereka berdua, lalu terlihatlah Lenna sedang berjalan menuju rumah.
Ibunya yang melihat Lenna merasa heran kenapa Lenna berpakaian seperti itu, tidak seperti biasanya.
"Loh, itu dia Lenna. Habis darimana ya dia?. Tumben berpakaian rapi begitu." Ucap Ratih sengan perasaan lega mengetahui anaknya telah pulang dengan keadaan yang baik-baik saja.
Lalu tak lama Lenna tiba di rumah dan menghampiri mereka berdua.
Saat Lenna baru tiba, dia melihat ke arah sosok laki-laki yang duduk di depan ibunya.
Dia merasa tidak asing dengan pria itu.
Lalu Lenna mendekat ke arah ibunya dan memberi salam.
Ia mengulurkan tangan pada ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.
"Ibu." Ucap Lenna sambil tersenyum pada ibunya.
"Eh, Lenna. Darimana kamu nak? Kamu membuat ibu kawatir nak.” Tanya Ratih tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Lenna.
"Oh ya, ini ada pak Darius. Apa kamu masih ingat nak?" Sahut Ratih memperkenalkan Darius pada Lenna.
Darius hanya menunduk dan tersenyum pada Lenna.
Lenna yang melihat wajah Darius merasa lupa-lupa ingat dengan sosok pria itu yang kini terlihat jauh berbeda.
Yang kemudian ia berusaha mengingatnya.
"Oh, iya bu. Lenna masih ingat. Lenna kira siapa. Dari jauh agak pangling." Jawab Lenna sambil tersenyum.
Lalu Lenna mengulurkan tangannya pada Darius dan mencium punggung tangan Darius juga.
"Bagaimana kabarmu Lenna, sudah lama ya kita tidak ketemu." Ucap Darius tersenyum.
Lenna tersenyum, "Kabar saya sehat pak, bagaimana dengan bapak?" Tanya Lenna.
"Puji Tuhan saya juga sehat." Jawab Darius.
(Darius, Ratih, dan Lenna, mereka adalah orang Kristen. Ratih yang dulunya muslim lalu menjadi seorang Kristen karna suaminya dulu yang juga seorang Nasrani Belanda. Lenna sudah jelas mengikuti kepercayaan mereka sejak lahir.
Sedangkan Darius sama halnya seperti Lenna.
Ayah Darius juga seorang Nasrani dari Belanda yang menikahi seorang wanita muslim pribumi.)
"Syukurlah, pak." Ucap Lenna sembari tersenyum.
"Oh ya, Nak, kamu habis darimana? Tumben berpakaian rapi seperti ini." Tanya Ratih.
"Ibu belum tau ya, ada berita duka dari keluarga bibi Suri dan mang Yanto.” Ucap Lenna.
"Berita duka? Siapa yang meninggal nak?" Tanya Ratih kaget.
Darius melongo mendengar itu. Lalu seketika Darius juga bertanya pada Lenna.
"Apa ada lagi yang dibunuh Belanda?" Tanya Darius
Lenna menggeleng, "Bukan pak,"
"Itu bu, Enyo, anak bi Suri. Dia meninggal tadi pagi." Sahut Lenna lagi.
"Apa!! Enyo meninggal!? Meninggal kenapa nak?" Tanya Ratih kaget.
Lenna hanya menggeleng, "Lenna juga tidak tau penyebab pastinya bu. Tapi menurut orang-orang, Emyo meninggal karna demam.”
"Suri itu siapa, Ratih?" Tanya Darius.
"Itu, tetangga desa sebelah. Dia akrab dengan keluargaku dan juga Lenna." Tutur Ratih.
"Tapi ada hal aneh yang Lenna alami bu." Sahut Lenna.
"Hal aneh apa, Nak?" Tanya Ratih.
"Tadi pagi saat Lenna mau memasak, tiba-tiba ada Enyo yang kemudian datang secara tiba-tiba ke dalam dapur entah darimana yang mengagetkan Lenna. Padahal pintu dapur saat itu masih terkunci. Lenna berusaha tidak mempedulikan itu. Lalu Lenna menyuruh Enyo untuk membantu memasak. Saat Lenna mau menyiapkan makanan untuk Enyo, dia tiba-tiba menghilang entah kemana. Padahal pintu juga masih tertutup.” Ucap Lenna secara singkat menjelaskan pada mereka berdua.
"Lalu setelah Lenna selesai sarapan, Lenna berniat untuk mengantarkan makanan ke rumah Enyo, karna Enyo sudah membantu Lenna memasak. Tapi saat Lenna sampai di rumah Enyo dan bertemu ibunya, ibunya mengatakan kalau Enyo masih tertidur dan tidak kemana-mana. Lalu ibunya mengecek Enyo di kamarnya, dan saat itu ibunya baru tau kalau ternyata Enyo meninggal dan sudah terbujur kaku di kamarnya. Yang membuat Lenna merasa aneh, itu siapa yang datang pagi-pagi kemari dengan wujud Enyo. Yang padahal Enyo sudah meninggal saat Lenna sampai di rumahnya." Sambung Lenna.
Ratih dan Darius heran, melongo akan hal itu yang mereka dengar dari Lenna.
"Waduh, Ratih, kalau sudah cerita begini, aku jadi takut. Apa jangan-jangan itu hantu ya." Ucap Darius.
"Ah, kamu ini. Masa laki-laki takut sama hantu." Jawab Ratih.
"Ah Sudahlah, jangan mengira yang macam-macam. Tidak baik mengira macam-macam terhadap orang yang baru meninggal." Sambungnya lagi.
"Ya sudah, bu, pak Darius. Lenna mau masuk dulu ya." Ucap Lenna.
"Iya, Nak." Ucap mereka berdua.
Lalu Lenna masuk ke dalam rumah.
Ia bergegas menuju kamarnya. Melepas semua pakaian yang ia kenakan sehabis melayat.
Lalu ia memakai kemben.
Ia melepas gulungan ikatan rambutnya dan bergegas ke sumur untuk mandi. Karna menurut kepercayaan orang sekitar, setelah melayat di wajibkan harus mandi.
"Sllluuuurrrrpppp!"
Darius kembali menyeruput tehnya.
Lalu ia menghabiskannya.
Karna hari semakin gelap. Darius ingin berniat pamit pada Ratih.
Rumah Darius memang terletak lumayan jauh dari rumah Ratih. Persisnya hampir mendekati pusat kota Cianjur saat itu.
Dia takut kemalaman sampai rumahnya kalau dia terus-terusan berada di rumah Ratih.
"Ratih, sudah semakin sore. Aku mau pulang dulu ya. Takut kemalaman sampai rumah." Ucap Darius.
"Oh, iya silahkan. Memang kamu berani pulang sendiri?" Tanya Ratih meledek.
"Berani lah." Ucap Darius sambil mengusap tengkuk lehernya. Yang sebenarnya ia memang merasa takut setelah mendengar cerita dari Lenna.
Ratih memutar mata malas, "Hm. Tadi saja dengar cerita begitu dari Lenna kamu merasa takut. Iya kan." Ledek Ratih.
"Hehehe. Aku tadi hanya bercanda. Aku lebih takut di tembak Belanda daripada hantu." Ucap Darius percaya diri.
Kemudian ia beranjak dari duduknya.
Kemudian pamit pada Ratih.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Ratih. Pamitkan juga pada Lenna." Ucap Darius.
Ratih mengangguk, "Iya, nanti aku sampaikan. Kamu hati-hati dijalan."
"Iya." Ucap Darius.
"Oh ya, Darius, terimakasih ya sudah mau jauh-jauh mengantarku pulang. Maaf jadi merepotkanmu." Ucap Ratih.
Darius tersenyum, "Iya tidak apa-apa. Dengan senang hati aku melakukannya.”
Lalu Darius beranjak pulang dari rumah Ratih.
Dia hanya berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya.
Ratih lalu melambaikan tangan pada Darius.
Darius juga membalas dengan melambaikan tangan pada Ratih.