"Enyooo!!"
Terdengar suara teriakan dari ibu Enyo yang terdengar histeris dari kamarnya.
Lalu Lenna pun bergegas menghampiri ke arah yang berada di kamar rumah itu.
Terlihat wanita paruh baya itu yang sedang menangis di samping tubuh Enyo, anaknya.
Dan di ketahui nama wanita paruh baya itu adalah Suri.
Lenna yang melihat itu kemudian langsung menghampiri Suri yang tergeletak lemas di atas ranjang dengan memeluk tubuh anaknya yang sudah tak bernyawa itu.
"Bibi! Ada apa bi?" Tanya Lenna kaget.
"Enyo tidak bernafas, Lenna." Jawab Suri sambil menangis.
"Enyo meninggal, bibi tidak tau, bibi kira dia hanya tidur, ternyata dia sudah terbujur kaku begini." Sahutnya lagi sambil semakin menangis.
"Apa! Enyo meninggal?" Ucap Lenna tak percaya mendengar hal itu.
Lenna yang kaget mendengarnya, seolah tak percaya dengan hal itu. Bagaimana mungkin? Karna baru tadi pagi Enyo yang disangkanya berkunjung ke rumahnya, tiba-tiba sudah di terbujur kaku tak bernyawa di kamarnya.
Lantas ia berpikir jika Enyo yang mengunjunginya tadi adalah arwahnya.
Pantas saja saat itu Enyo bisa datang dan pergi tanpa sepengetahuan Lenna.
Melihat Suri yang terus-terusan menangis, membuat hati Lenna merasa sedih pula. Ia ikut terbawa oleh suasana duka pada pagi itu.
Mata Lenna mulai berkaca-kaca.
Dia merasakan apa yang Suri rasakan saat itu. Terlebih Suri hanya memilik satu orang anak saja yaitu Enyo itu sendiri.
Namun Lenna hanya bisa terdiam, bingung, dan tidak percaya dengan apa yang di alaminya hari ini.
"Bibi!!" Lenna kaget melihat Suri yang tiba- tiba pingsan.
"Bibi! Bibi kenapa bi!" Ucap Lenna sambil menepuk-nepuk lengan Suri.
"Tolong!! Tolong!! Tolong!!" Teriak Lenna yang panik dengan situasi ini hanya bisa berteriak berharap ada yang mendengar dan datang membantunya.
Karna tak kunjung ada yang datang, lalu Lenna segera keluar meminta pertolongan warga sekitar.
Diluar rumah Lenna berteriak meminta pertolongan.
Lalu ada salah seorang warga yang mendengarbdan menghampirinya.
"Neng! Ada apa neng!" Ucap seorang bapak-bapak usia paruh baya yang menghampirinya.
"Pak tolong pak! Bi Suri pingsan di dalam! Enyo meninggal!" Ucap Lenna terengah-engah.
"Apa! Iya-iya. saya periksa dulu ke dalam" ucap bapak itu.
Karna melihat Lenna yang panik sambil berteriak, kemudian banyak warga yang menghampiri Lenna.
Lalu beberapa masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan di dalam.
"Pak, mang Yanto sekarang ada dimana?" Tanya Lenna pada salah satu warga.
Bapak-bapak itu memberi tahu dimana mang Yanto berada.
Mang Yanto adalah ayah dari Enyo. Yang hanya bekerja sebagai petani di salah satu lahannya.
"Kalau tidak salah mang Yanto tadi mah ada di sawah, Neng." Ucap bapak itu memberitahu Lenna.
"Trimakasih, pak" ucap Lenna sambil bergegas hendak pergi.
Melihat Lenna yang hendak pergi menyusul pak Yanto, salah seorang warga mencegahnya.
"Neng, neng. Sudah biar kami saja yang menghampiri mang Yanto. Neng disini saja." Ucap warga itu sambil bergegas pergi mencari mang Yanto bersama beberapa warga lain.
Lenna hanya mengangguk.
Lalu Lenna kembali ke dalam rumah Suri.
Dalam situasi itu, perasaan Lenna benar-benar merasa campur aduk. Antara bingung, kaget, sedih, dan lain-lain. Lenna hanya bisa terdiam dalam situasi itu.
Tak lama kemudian datanglah mang Yanto, ayah dari Enyo. Ia datang sambil terburu-buru karna kabar yang ia dapat.
Mang Yanto langsung masuk ke dalam rumah.
Ia menuju kamar anaknya dan mendapati istrinya yang pingsan disamping tubuh sang anak.
Dan langsung memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa itu.
Lenna kemudian bergegas untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang Lenna hanya terdiam. Sambil membawa kembali sup singkong yang tadinya dia ingin berikan pada Enyo
Sesampainya di rumah, Lenna masuk dan meletakkan rantang yang berisi makanan itu pada meja.
"Apa iya sosok anak kecil itu hantu dari Enyo?" Batin Lenna.
"Baru kali ini aku di temui hantu, di pagi-pagi hari seperti ini.”
Lalu Lenna bersiap untuk mandi. Untuk datang kembali melayat di rumah Suri.
Lenna masuk ke dalam kamarnya, melepas bajunya, lalu ia hanya memakai kemben untuk menuju kamar mandinya yang berada di luar rumah.
Ia kemudian menggulung rambut hitamnya yang panjang itu.
Dia langsung berjalan keluar menuju sumur yang berada di samping rumahnya.
Saat akan menuju sumur, diluar dia melihat lagi sosok anak kecil yang tak lain itu adalah Enyo.
"Enyo?” Gumam Lenna sambil mengucek matanya.
"Kalau itu memang hantu Enyo, tapi masa iya ada hantu di hari menjelang siang begini. Kata ibu hantu itu adanya kan hanya di malam hari." Gumamnya lagi dengan polosnya.
Tanpa rasa takut, ia lalu memberanikan diri bergegas menghampiri Enyo untuk memastikan.
Ternyata benar. Yang di depannya saat ini adalah sosok Enyo.
Lenna berjongkok dan meraih kedua tangan Enyo yang dirasanya begitu dingin dan terlihat pucat.
Dengan memberanikan diri, Lenna mencoba bertanya pada sosok anak kecil itu.
"Apa kamu arwah Enyo?”
Sosok itu hanya mengangguk.
"Kenapa kamu masih disini?" Tanya Lenna lagi.
Arwah Enyo tidak menjawab. Dia hanya terdiam sambil ia melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Lenna.
Lalu sosok itu perlahan berjalan ke arah pekarangan belakang rumah Lenna.
Di pekarangan itu terdapat banyak sekali pohon bambu yang lebat. Saking lebatnya pekarangan itu terlihat gelap oleh rimbunnya pohon bambu. Di tambah lagi hawa yang masih berkabut yang membuatnya sedikit menyeramkan.
Lenna hanya terdiam melihat itu dari kejauhan.
Arwah Enyo berjalan ke arah salah satu pohon bambu, dan secara tiba-tiba menghilang disana.
"Kenapa dia menghilang di pohon bambu itu?" Batin Lenna.
Ia berpikir mungkin saja Enyo sudah kembali ke alamnya.
Tanpa mempedulikan hal itu, kemudian Lenna kembali berjalan ke arah sumur.
Ia menimba air dan menampungnya di dalam gentong yang terbuat dari bahan tanah liat.
Ia kemudian membuka kemben yang melilit pada tubuhnya. Ia lalu menyiramkannair pada tubuhnya, dan perlahan menggosok setiap bagian tubuhnya itu.
Setelah selesai mandi, Lenna bergegas ke kamar untuk mengganti bajunya.
Ia kini memakai kebaya berwarna hitam, dengan jarit yang dipakai untuk bawahannya.
Ia juga memakai selendang hitam untuk menutupi ujung kepalanya.
Dan kemudian ia berangkat melayat menuju rumah Suri.
—————————————————————
Pada siang harinya, terlihat warga sudah banyak berdatangan untuk melayat di rumah Suri.
Lenna yang baru saja tiba, langsung masuk ke dalam rumah itu.
Terlihat Suri yang sudah sadar dari pingsannya kini berada di samping jenasah Enyo dengan di temani mang Yanto, suaminya.
Di tengah iringan-iringan doa dari pelayat yang mengelilingi jenasah Enyo, Suri masih terus menangisi anaknya itu.
Ia masih tidak menyangka jika anaknya akan pergi secepat itu.
Di duga, Enyo meninggal karna penyakit demam, karna memang sudah beberapa hari Enyo mengalami demam, dan memang karna fasilitas kesehatan saat itu sangatlah sulit di dapatkan, jadi ia hanya bisa mengurusnya sendiri di rumah.
Lenna lalu menghampiri Suri.
"Bi Suri, mang Yanto, saya turut berduka atas meninggalnya Enyo.” Ucap Lenna pada mereka berdua.
"Iya, Neng. Trimakasih" jawab Yanto.
Suri hanya mengangguk sambil menangis dalam pelukan sang suami.
Lenna yang melihat Suri yang masih terus menangis, ia merasa tidak tega.
Ia kemudian mencoba menenangkannya.
"Bi, bibi yang sabar ya. Ikhlaskan kepergian Enyo. Agar Enyo tenang disana. Semoga bibi dan mang Yanto di beri ketabahan." Ucap Lenna.
Lenna pun tidak menceritakan kejadian yang baru ia alami jika ia sempat bertemu kembali dengan arwah Enyo, karna ia pikir jika ia bercerita hanya akan menambah kesedihan bagi keluarga yang di tinggalkannya.
Kemudian Lenna bergabung bersama pelayat lain untuk mendoakan jenasah Enyo.
Hari sudah menjelang sore.
Setelah semua selesai, kemudian jenasah Enyo siap untuk di makamkan.
Beberapa orang turut membantu menggotong keranda jenasahnya.
Lalu jenasah Enyo di berangkatkan menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.
Suri dan Yanto mengikuti dari belakang keranda bersama pelayat yang mengiringi jenasah tersebut.
Lenna pun mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di pemakaman, terlihat seorang kyai yang memimpin jalannya upacara pemakaman.
Suri dan Yanto terlihat sangat terpukul dengan kematian anaknya yang benar-benar secara tiba-tiba.
Lenna yang melihat hal itu pun turut bersedih.
Saat jenasah sudah di masukkan ke dalam liang kubur dan akan di timbun tanah, Lenna melihat kembali sosok arwah Enyo.
Kini sosok itu berada di samping ibunya, arwah Enyo itu menatap ibunya yang tengah menangisi kematiannya.
Tapi satupun tak ada orang yang mengetahui kehadiran sosok arwah Enyo itu di tengah-tengah mereka.
Hanya Lenna yang tau akan hal itu.
Lenna hanya terdiam melihat itu.
Saat jenasah sudah benar-benar dikuburkan, barulah arwah Enyo turut serta menghilang saat itu juga.
Ingatlah, jika kematian itu datang seperti pencuri. Tidak tau kapan dan saatnya datang.
Jadi, hargailah waktu yang ada selagi kita masih bisa menghirup udara, dan sayangilah orang-orang yang ada di sekitar kita selagi mereka masih ada. Karna jika sudah tidak ada, akan percuma menangisi gundukan tanah yang tidak bisa bicara.
Apa yang berasal dari tanah, akan kembali kepada tanah.
Dan apa yang berasal dari Yang Kuasa, akan kembali pula kepada-Nya.
—————————————————————
Setelah semua tamu selesai menikmati hidangan yang di sajikan tuan rumah, para pelayan itu kembali merapikan meja dan membersihkan bekas-bekas piring dan gelas yang ada di atas meja.
"Teh, sejak tadi aku membayangkan pria Belanda itu terus." Ucap Rahel pada Ratih sambil mengelap meja.
"Kira-kira namanya siapa ya?"
"Aku tidak tau, coba saja kamu tanyakan pada supir pribadinya." Ucap Ratih sambil ia mengerjakan pekerjaannya.
"Ah, aku tidak berani."
Kemudian mereka kembali ke dapur untuk mencuci semua piring dan bekas peralatan makan lainnya bersama para pelayan lain.
Lalu sore pun tiba.
Ratih dan Rahel kemudian pun tengah bersiap untuk pulang.
Tidak lupa, Ratih juga membawa beberapa sisa makanan yang tersisa untuk di bawa pulang dan di berikan pada Lenna.
Ia selalu ingat pada anak semata wayangnya itu. Karna ia tidak mau memakan makanan enak seorang diri tanpa menikmatinya bersama anak tercintanya.
Lalu di depan pintu gerbang istana saat ia hendak pulang, terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
"Ratih!"
Seorang pria paruh baya itu memanggil Ratih sambil berlari menghampirinya. Dengan setelan rambut kinclong rapi, kemeja putih, kerah baju yang dikancingkan hingga leher, memakai celana coklat, dan sandal selop.
Pria itu bernama Darius.
Darius adalah pria yang menyukai Ratih sejak dulu sebelum ia menikah. Sampai sekarang menjadi janda pun Darius masih menyukai dan menyimpan perasaannya pada Ratih.
Namun Ratih selalu bersikap biasa saja menyikapi Darius.
Ratih menoleh ke arah pria itu, "Eh, Darius."
Darius terengah-engah saat sudah menghampiri Ratih.
"Tidak perlu berlari-lari seperti itu, seperti di kejar Belanda saja. Jadi capek kan." Ucap Ratih.
Darius tersenyum, "Hehehe, tidak setelah melihat kamu, Ratih."
"Hm, Bohong" Ketus Ratih.
"Kamu pulang sendiri?" Tanya Darius.
"Tidak, aku sedang menunggu Rahel. Dia sedang mengambil upahnya dulu." Jawab Ratih.
Tak lama setelah itu kemudian Rahel datang menghampiri mereka.
"Eh, Darius, sudah lamakah?" Tanya Rahel.
"Belum, belum lama kok." Darius dengan senyum lugunya.
Lalu Ratih mengajak mereka pulang, "Ya sudah ayo kita langsung pulang atuh, takut hari semakin sore."
"Darius, kamu mau pulang bersama kami?" Tanya Rahel.
Darius tersenyum, "hehehe, iya atuh. Biar bisa ikut menemani Ratih."
Ratih yang mendengarnya hanya memberikan ekspresi wajah datar.
"Hm." Ratih memutar wajah malas.
Lalu mereka bertiga pulang bersama.
Ditengah perjalanan, Rahel berpisah karna jalan menuju rumah Rahel berbeda dengan jalan menuju rumah Ratih.
Karna melihat Rahel yang sudah pulang dengan arah lain, Darius yang melihat kesempatan ini pun menawarkan diri untuk menemani Ratih pulang sampai pada rumahnya.
"Ratih, sudah sore begini, aku temani kamu pulang ya. Biar tidak terjadi apa-apa denganmu." Ucap Darius.
Tapi sepertinya Ratih yang sudah terbiasa pulang sendirian setelah berpisah dengan Rahel, tampak tidak menghiraukan tawaran Darius.
"Aku sudah terbiasa berangkat maupun pulang sendirian. Bahkan malam hari sekalipun." Jawab Ratih.
"Tetap saja aku kawatir, kamu ini perempuan. Nanti kalau kamu di apa-apakan sama Belanda bagaimana?" Sahut Darius.
"Hm. Jangan berlagak kawatir. Ya sudah kalo kamu mau mengantarku. Tapi jangan macam-macam!" Tegas Ratih.
Darius yang senang karna di ijinkan menemani Ratih pulang pun dengan senang hati menerimanya.
"Hehehe. Iya. Aku tidak akan macam-macam" ucap Darius kegirangan.
Kemudian Darius tersenyum senang karna dia di perbolehkan mengantarkan Ratih ke rumahnya.
Lumayan, bisa menikmati perjalanan berduaan.
“Oh ya Ratih, bagaimana kabar anakmu? Apa dia sehat-sehat saja?” Tanya Darius membuka obrolan.
“Iya. Dia baik-baik saja.” Ucap Ratih.
“Syukurlah. Apa aku boleh mampir sejenak di rumahmu? Sudah lama juga aku tidak berjumpa dengan Lenna.” Ucap Darius.
“Silahkan saja. Tapi aku tidak punya sesuatu untuk di suguhkan jika kamu mampir.”
“Ah, tidak apa-apa. Dengan melihat kamu dan anakmu saja sudah menjadi suguhan tesendiri buatku. Pasti Lenna sudah dewasa dan semakin cantik.” Ucap Darius.
“Sembarangan saja! Jangan asal bicara! Memangnya aku ini barang suguhan!” Ucap Ratih kesal.
“Hehehe. Jangan marah-marah begitu. Aku hanya bercanda.”
Lalu keduanya pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Ratih.