(Di istana tuan Belanda)..
Pagi itu, setelah selesai menyiapkan segala hidangan di atas meja, para pelayan itu kemudian berdiri berjajar di depan istana rumah tersebut untuk menyambut kedatangan tamu Belanda itu yang baru saja tiba di depan balai istana rumah.
Terlihat Van Heots sang tuan rumah bersama beberapa pengawalnya menyambut tamu yang baru saja tiba itu.
Ratih dan teman pelayannya pun ikut berbaris sejajar untuk ikut menyambut kedatangan tamu itu.
"Rahel, lihatlah. Banyak sekali tamu hadir."
Ucap Ratih pada salah satu temannya.
Rahel mengangguk.
"Iya, pantas saja banyak sekali yang di persiapkan dari kemarin."
Van Heots tersenyum dan menjabat tangan salah satu pimpinan para tamu itu.
"Welkom in mijn paleisresidentie (Selamat datang di istana rumahku)."
Para pelayanpun serentak turut mengucapkan salam.
"Welkom meneer (Selamat datang tuan)."
"Rahel! Kau harus menunduk. Jangan menatap seperti itu pada tamu tuan Belanda." Ucap salah satu pelayan pria memperingatkan Rahel.
"Uh."
Rahel seketika tersadar dari lamunan sejenaknya itu setelah di peringatkan oleh pelayan pria tadi. Dan langsung menundukan wajahnya.
Rupanya Rahel terkagum-kagum melihat ketampanan salah satu anggota tamu Belanda itu.
"Teteh, apa tadi lihat salah satu pria Belanda yang muda itu? Dia terlihat gagah dengan seragamnya." Rahel bertanya pada Ratih.
"Jangan mimpi kamu, dia itu anggota perwira Belanda." Ucapnya Ratih sambil memandangi pria yang di maksud oleh Rahel.
Seketika Ratih jadi teringat akan almarhum suaminya dulu. Yang sama-sama tampannya seperti orang Belanda yang di maksud oleh Rahel dan menjadi perwira militer Belanda kala itu.
Ternyata para tamu Belanda itu adalah rombongan anggota petinggi VOC Belanda seluruhnya. Yang di pimpin oleh seorang Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal itu bernama Jeremias Van Riemsdijk. Ia adalah Gubernur yang juga memegang penuh kekuasaan atas wilayah Cianjur kala itu.
Tempat istana rumah yang besar itu memang kerap di jadikan sebagai tempat peristirahatan/persinggahan para Gubernur Jenderal Hinda-Belanda kala itu saat perjalanan menuju Bandung-Batavia(Jakarta), ataupun sebaliknya.
Karna udaranya yang bersih, segar, dingin serta sejuk. Di sertai dengan pemandangan yang indah dari Gunung Gede. Tempat itu juga memiliki fasilitas pemandian air panas kala itu. Yang sering di gunakan oleh para pejabat tinggi Belanda yang hendak ingin memanjakan tubuhnya disana.
"Ober, begeleid alstublieft mijn gasten om van de maaltijd te genieten.(Para pelayan, tolong antar para tamuku untuk menikmati hidangan.)" Perintah Van Heots pada para pelayannya untuk segera menjamu tamunya.
"Ja meneer.(Baik, Tuan.)" Ucap pelayan serentak.
Semua pelayan disana memang sudah mahir dalam berbahasa Belanda. Karna hampir setiap harinya mereka berkomunikasi dengan bahasa Belanda disana.
Lalu semua pelayan itu mengantarkan para tamu menuju ruang makan yang megah untuk di suguhkan dengan hidangan yang sudah di siapkan.
Para pelayan mempersilakan tempat duduk untuk para tamu itu.
————————————————————
"Hufh. Sudah cukup." Terlihat Lenna yang baru saja selesai mengikat tumpukan ranting kayu untuk di gunakan sebagai kayu bakar.
Setelah dirasa semuanya berea, Lenna bergegas kembali pulang menuju rumahnya.
Setelah sampai dirumahnya, kemudian Lenna berkutat dengan peralatan masaknya.
Dia menyiapkan segala bahan yang diperlukannya. Dengan bahan yang dibilang seadanya, ia lalu memasaknya menggunakan tungku.
Dan ketika Lenna sedang fokus mengolah masakannya, lalu tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengagetkannya.
"Dooorr!!!"
Sontak seketika Lenna kaget bukan main. Terlihat seorang anak kecil mengagetkan Lenna dari belakang. Ternyata itu adalah anak dari tetangganya yang berlokasi tak jauh dari rumahnya.
Yang memang anak itu sering bermain di pekarangan hingga sering bermain bersama Lenna.
"Eehhh, Enyo! Kamu mengagetkan teteh saja. Kamu darimana? Dengan siapa kamu kesini?" Tanya Lenna pada anak itu yang bernama Enyo.
"Sendirian, Teh. Teteh lagi mau masak apa? Tanya Enyo pada Lenna yang terlihat kembali memasak.
Entah dari mana anak kecil yang bernama Enyo itu muncul. Seperti yang di ketahui Lenna yang padahal pintu dapur ada di samping sedikit ke depan dari posisi Lenna. Kalaupun ada orang masuk pasti jelas terlihat olehnya. Tapi anak itu muncul dari belakang Lenna, yang pada dasarnya di belakang Lenna itu adalah tempat tungku api yang tidak jauh darinya.
Tapi anehnya, Lenna ini tidak menyadari keanehan itu. Ia hanya fokus pada masakan yang sedang ia buat. Dan Lenna hanya berpikir jika adalah anak dari tetangga yang tidak jauh dari rumahnya itu.
"Teteh sedang masak sup singkong, apa kamu mau membantu teteh? Nanti teteh akan berikan sebagian untuk kamu bawa pulang.” Ucap Lenna pada Enyo sembari ia tersenyum.
Mendengar jika ia akan di beri bagian makanan dari Lenna, Enyo pun menyanggupinya untuk membantunya memasak. "Baik, teh. Sini Enyo bantu."
"Tolong teteh ambilkan dandang itu." Ucap Lenna sambil menunjukkan ke arah dandang tembaga yang tergantung pada dinding dapurnya.
"Iya, teh."
Lalu Lenna kemudian menggoreng beberapa bahan rempah yang sudah ia siapkan untuk campuran kuah supnya.
Disamping Lenna Enyo terlihat sedang diam memandangi api tungku. Mungkin saja dia kedinginan. Karna hawa di daerah itu memang sangatlah dingin.
Lalu Lenna mulai mengupas singkong, lalu mencucinya untuk kemudian singkong itu ia kukus dalam dandang.
Setelah semuanya matang, Lenna lalu bergegas mengambil mangkuk untuk supnya.
Tak lupa ia juga menyiapkan sebagian untuk Enyo yang dari tadi masih duduk terdiam di dekat api tungku.
Lenna masih sibuk membereskan sisa alat yang baru saja ia pakai.
Lalu ia sambil menyiapkan makanannya yang sudah matang itu.
Setelah selesai menyiapkan sup di meja makan yang berada tidak jauh dari tungku, Lenna berniat ingin menawarkan juga pada Enyo yang tadi sudah sedikit membantunya.
Namun saat Lenna membalikkan badan ke arah tungku, betapa terkejutnya ia saat melihat Enyo yang sudah tidak ada lagi disana.
Ia melihat sekeliling dapurnya, mencari Enyo yang ia pikir bersembunyi di bawah meja, tapi tidak menemukannya.
Lenna melihat jika pintu dapurnya masih tertutup dan terkunci.
Jika pun Enyo keluar dari pintu dapur harusnya ia mengetahui saat ia membuka kunci pintunya. Dan jika Enyo keluar melalui pintu dalam, harusnya pun ia mengetahui saat Enyo berjalan. Namun, ia tidak melihat sedikitpun tanda-tanda Enyo keluar dari dapurnya.
"Hah!? Kemana perginya Enyo? Bukankah dia tadi baru saja ada di dekat tungku? Lalu kenapa sekarang tidak ada?" Lenna yang merasa panik dan ada sedikit rasa takut, hanya bisa duduk dan terdiam sambil melihat sekelilingnya.
Tapi Lenna masih mencoba untuk berpikif positif bahwa apa yang ia alami bukanlah kejadian mistis.
"Hmmm. Ya sudah lah, mungkin dia pulang." Tepis Lenna dalam pikirannya untuk mengusir sedikit rasa takutnya.
"Lebih baik ini aku pisahkan saja untuk makan ibu nanti sore saat ibu pulang."
Karna sudha merasa sangat lapar, Lenna berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, lalu Lenna pun makan dengan dengan lahapnya.
Walau hanya sebatas sup singkong, namun seperti sangat lezat saat Lenna menikmati masakannya itu.
Tak ada nasi, tak ada apapun selain singkong yang ia cabut kemarin dari hasil tanamannya sendiri di belakang rumahnya.
Baginya, memakan makanan seperti itu sudahlah sangat nikmat di jamannya. Mengingat pada masa penjajahan sangatlah sulit bagi orang pribumi untuk mendapatkan beras.
Walau beras itu di tanam pada lahan warga sendiri, tapi setiap warga wajib menyetorkan hasil panennya pada pihak Belanda kala itu.
Setelah selesai sarapan, dia berniat untuk memberikan pula sup yang ia buat pada Enyo. Karna ia masih berpikir jika Enyo mungkin pulang secara diam-diam dan mengendap-endap.
Dia berniat mengantarkan ke rumahnya, karna rumahnya berada tidak jauh dari rumah Lenna.
"Lebih baik aku antarkan saja sup ini ke rumahnya, tadi dia juga sudah membantuku memasak." Batin Lenna, sambil ia menyiapkan sup buatannya itu ke dalam rantang.
Lalu Lenna bergegas pergi menuju rumah Enyo.
Di sepanjang jalan dia berpapasan dengan warga desa setempat yang mulai beraktifitas.
Lenna saling tegur sapa dengan warga yang ia temui.
Setelah ia sampai di rumah Enyo, ia pun segera mengetuk pintu rumahnya.
"Tok..tok..tok.. Punten.." tutur Lenna sembari mengetuk pintu.
Lalu terlihatlah seorang ibu-ibu paruh baya membukakan pintu untuk Lenna.
"Ehhh. Teh Lenna, bibi kira siapa. Tumben pagi-pagi kesini?" Ucap sesosok ibu itu yang tak lain ternyata itu adalah ibu dari Enyo.
Lenna tersenyum, "Iya bi.”
Walau hanya sebatas tetangga desa, Lenna selalu memanggil ibu Enyo dengan sebutan "Bibi".
"Ayo sini masuk dulu teh." Ucap ibu Enyo mengajak Lenna untuk masuk.
Lenna pun berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Lalu mereka duduk di ruang tengah.
"Begini bi, ini saya mau mengantarkan sup buat Enyo, karna tadi Enyo datang dan membantu saya memasak." Ucap Lenna menjelaskan pada wanita itu.
Seketika wanita itu terkejut mendengar perkataan Lenna. Bagaimana tidak? Enyo yang di ketahui ibunya itu masihlah tertidur di dalam kamarnya.
"Hah!? Enyo tadi datang ke rumah teteh? Sama siapa tadi Enyo datang ke rumah teteh?" Tanya wanita itu.
Lenna pun menjawab "Iya bi, tadi Enyo datang sendiri ke rumah saya waktu saya sedang di dapur." Tutur Lenna.
"Memangnya kenapa ya bi? Ada apa? Kok bibi terlihat kaget seperti itu"
Seketika wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa kok teh, apa teteh yakin kalau i-i-tu Enyo?" ucap wanita itu terbata-bata.
"Iya, bi. Saya jelas kok kalo yang saya lihat itu Enyo. Memangnya kenapa ya bi?”
"Soalnya teh, Enyo sejak tadi itu belum bangun. Dia masih tertidur di kamarnya." Ucap wanita itu.
"Apa!”
Sontak Lenna sangat kaget mendengarnya.
Karna jelas-jelas yang ia lihat tadi itu adalah Enyo. Lenna pun berpikir apakah yang ia temui tadi itu adalah hantu?
Tapi ia menepisnya jika tidak mungkin ada hantu muncul di pagi hari.
"Tunggu sebentar, saya akan lihat dulu Enyo di kamarnya, saya mau pastikan dulu." Ucap wanita itu.
"Iya bi." Jawab Lenna yang kemudian ia kembali termenung sejenak.