Lalu pagi itu juga terlihat Lenna dan Ratih yang baru saja tiba di rumah istana tuan Heots.
Mereka yang baru saja turun dari andong segera berjalan memasuki gerbang istana.
"Lenna, ayo kita langsung masuk saja. Kita hampir kesiangan. Banyak pekerjaan yang belum di selesaikan pastinya.” ucap Ratih.
"Iya bu. Ayo kita masuk.” jawab Lenna.
Terlihat mereka langsung bergegas memasuki istana tuan Belanda dan kembali pada posisi pekerjaan mereka masing-masing.
Disisi lain, terlihat pula Edler yang baru saja tiba disana menggunakan kereta kudanya yang langsung memasuki gerbang rumah.
Sudah jelas, maksud dan tujuan kedatangan dia adalah tak lain dan tak bukan untuk kembali menemui wanita pujaannya, Lenna.
"Selamat pagi, Tuan." ucap salah satu penjaga pintu masuk rumah.
"Ya. Selamat pagi." sahut Edler.
Kemudian Edler berjalan memasuki istana tuan Belanda itu.
Bertepatan itu datanglah juga Darius yang baru saja tiba pula di depan pintu masuk.
Dia melihat Edler yang baru saja memasuki istana tuan Belanda itu.
"Loh, bukankah itu Edler? Kenapa dia datang kemari seorang diri saja ya? Tidak seperti biasanya yang selalu dengan rombongannya." gumam Darius.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku langsung masuk saja."
Tanpa berpikir panjang Darius pun segera berjalan memasuki istana tuan Belanda itu.
Setelah sampai dalam rumah tuan Belanda, ia berpapasan dengan Ratih.
"Hallo, Ratih." sapa Darius.
"Hallo." sahut Ratih.
Ratih heran melihat penampilan Darius yang tak sperti biasanya.
Dia melihat dari kaki sampai ke ujung kepala.
"Wah, tumben sekali kamu hari ini berpenampilan rapih begitu. Kamu itu mau jadi babu atau mau pesta?" ucap Ratih.
"Hehe. Tidak kok, perasaan aku biasa saja. Memangnya kenapa dengan penampilanku?" tanya Darius.
"Emm. Tidak apa-apa. Terlihat tampan sih." ucap Ratih.
Darius terkejut mendengar ucapan Ratih baru saja.
Dia tidak menyangka akan di bilang tampan oleh wanita pujaannya itu.
"Wah! Benarkah? Kamu bilang aku tampan?" tanya Darius terkejut.
"Ah tidak kok. Aku hanya salah sebut saja." ucap Ratih malu.
"Ah, kamu jangan bohong. Bagaimana? Aku tampan kan? hehe." ucap Darius percaya diri sambil bergaya.
"Sudahlah, kalau kamu tampan sekalipun, tetap saja kamu disini bekerja sebagai babu Belanda." ucap Ratih.
"Cepatlah, kembali bekerja." tutur Ratih kembali.
"Hehe. Baiklah. Sampai nanti lagi ya, Ratih." ucap Darius.
Lalu Darius melangkah meninggalkan Ratih.
Kemudian ia menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sering ia gunakan saat bekerja.
Dia sengaja berpenampilan rapih layaknya orang-orang Belanda umumnya, hanya untuk menarik perhatian Ratih.
"Hmm. Tapi di lihat-lihat, Darius jika sudah berpenampilan seperti itu lumayan tampan juga." batin Ratih.
———————————————————-
"Lenna." sapa Edler.
Lenna terlonjak kaget mendengar suara yang memanggil namanya itu.
Lalu ia menoleh ke arah suara itu, dan dia melihat Edler yang berdiri di belakangnya.
"Eh, Tuan. Baru datang?" tanya Lenna gugup.
Edler tersenyum mendengar jawaban dari Lenna.
"Iya. Aku baru saja tiba." jawab Edler.
"Kamu datang bersama siapa? Apa kamu datang bersama keluargamu?" tanya Lenna.
"Tidak, aku datang seorang diri saja. Aku sengaja datang kemari hanya untuk ingin bertemu denganmu." ucap Edler.
"Emm. Tapi aku tidak bisa menemanimu, karna aku harus mengerjakan tiap pekerjaanku disini." jelas Lenna.
"Tidak masalah. Biarkan aku yang menemanimu sambil bekerja." ucap Edler tersenyum.
Mendengar jawaban Edler, hati Lenna merasa senang, ada laki-laki yang mau menemaninya dalam pekerjaannya. Walau masih ada sedikit kecanggungan dari Lenna.
Wajar saja, selama ini dia belum pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta, maupun bergaul dengan laki-laki.
"Oh ya, dimana ibumu?" tanya Edler.
"Mungkin ibu ada di aula tengah." jawab Lenna sembari ia mengelap-ngelap meja.
Edler hanya mengangguk-ngangguk.
"Oh ya Lenna, apa boleh aku meminta tolong sesuatu?" tanya Edler.
"Apa, Tuan? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Lenna.
"Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja aku dengan namaku." jelas Edler.
“Emm. Tapi itu terdengar tidak sopan untuk orang kalangan sepertimu.” Ucap Lenna
“Tidak apa-apa. Aku lebih nyaman di panggil namaku sendiri olehmu.” Ucap Edler.
"Emm. Baik, Tuan. Eh! Maksudku E-E-Edler." jawab Lenna gugup.
Edler tersenyum, “Oh ya, aku lapar. Aku belum sarapan pagi ini. Bolehkah aku dimasakkan sesuatu olehmu?" tanya Edler.
"Boleh, kamu mau makan apa?" tanya Lenna.
"Terserah kamu saja. Apapun masakanmu, aku akan memakannya." jelas Edler.
"Baiklah, tunggulah dulu disini. Aku akan membuatkannya untukmu.” ucap Lenna.
Edler tersenyum dan mengangguk menanggapi perintah Lenna.
Kemudian Lenna bergegas menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk Edler.
Rumah istana Belanda itu memang di bebaskan untuk pengunjung-pengunjung tamu sesama Belanda yang hendak singgah maupun hanya sekedar beristirahat.
Tak lama kemudian, saat Edler menunggu sambil menghisap cerutunya, datanglah Van Heots.
Ia melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu yang tak asing di matanya.
Lalu ia menghampirinya.
"Edler?" tanya Van Heots.
"Oh, Tuan! Selamat pagi. Maaf kedatanganku tidak lebih dulu menemuimu." ucap Edler.
Mereka saling berjabat tangan.
"Hahaha, tidak masalah. Dengan siapa kau kemari? Apa kau di utus ayahmu untukku?" tanya Van Heots.
"Tidak, Tuan. Aku hanya datang seorang diri. Kedatanganku kemari hanya untuk bertujuan menemui salah satu pelayanmu." ucap Edler menjelaskan.
"Oh, begitu. Kalau boleh tau, Siapa pelayan itu?" tanya Van Heots.
"Lenna." jawab Edler.
"Oh. Lenna. Dia pelayanku yang paling cantik disini. Apa kau menyukainya?" tanya Van Heots.
Edler hanya tersenyum mendengar ucapan Van Heots.
"Sepertinya begitu, Tuan." jawab Edler.
"Hahaha. Sudah ku duga dari ucapanmu kemarin. Jika kau menyukainya, kau harus bersaing dengan pria lain. Karna banyak pria dari bangsa kita yang bertamu kemari dan menyukainya dan jelas ingin memilikinya juga." jelas Van Heots.
"Hehe. Aku tidak takut bersaing. Jika memang Lenna juga menyukaiku, jelas saja dia tak akan memilih orang lain." ucap Edler.
"Hahaha. Aku mendukungmu. Silahkan, berbuatlah sesukamu di istanaku ini. Anggap saja ini rumahmu juga." ucap Van Heots.
"Trimakasih, tuan. Atas wewenang yang anda berikan.” jawab Edler tersenyum.
Van Heots mengangguk, "Baiklah, aku permisi lebih dulu."
Edler mengangguk. “Baik tuan. Sampai nanti.”
Van Heots hanya tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Edler.
Sembari menunggu sarapan yang dibuatkan Lenna, Edler berjalan menuju taman bunga di sekitar istana.
Ia melihat-lihat seluruh bunga yang tumbuh disana.
Ia mencari bunga mana yang cocok di berikan untuk Lenna.
Lalu matanya tertuju pada bunga mawar kuning yang sedang indah-indahnya mekar.
Ia memetiknya, lalu ia simpan di balik jas putih yang ia kenakan.
Ia membayangkan Lenna akan menerima bunga ini.
Setelah selesai memetik bunga, ia kembali menuju ruang samping tempat semula ia bersama Lenna tadi.
————————————————————
Saat di dapur, salah seorang temannya yang melihat Lenna membuat sarapan bertanya kepadanya. Dia bernama Tuti.
"Lenna, kau buatkan sarapan untuk siapa? Apa ada tamu yang datang?" tanya Tuti, teman sepekerjaan dengannya.
"Iya, Ti. Ada orang Belanda yang kemarin datang. Hari ini dia datang kembali." ucap Lenna.
“Orang Belanda yang mana? Apa kamu mengenalnya?” Tanya Tuti.
“Tidak, dia sendiri yang memperkenalkan diri padaku saat di ruang makan kemarin. Dia bernama Edler. Pria Belanda yang paling muda saat datang bersama rombongannya kemarin.”
“Oh. Pria Belanda yang tampan itu?” Ucap Tuti.
"Apa dia bersama rombongannya?" Ucapnya lagi.
"Tidak. Dia hanya sendirian saja." jawab Lenna.
"Oh, tumben dia datang seorang diri. Ada perlu apa dengan tuan Heots ya?” tanya Tuti penasaran.
"Tidak ada keperluan apa-apa. Katanya, dia sengaja datang hanya untuk menemuiku." jawab Lenna dengan polosnya.
"Wah! Benarkah? Apa jangan-jangan dia menyukaimu?" ucap Tuti.
"Aku tidak tau. Tapi ya sudahlah. Lagipula aku tidak terlalu menanggapi dan tidak terlalu memikirkannya.” jelas Lenna.
“Kalau dia ada maksud dan menyukaimu, kamu benar-benar beruntung. Bisa di sukai oleh pria bangsawan Belanda sekaligus petinggi juga.” Ucap Tuti.
“Emm. Entahlah. Aku tidak terlalu peduli soal itu.” Ucap Lenna.
“Ya sudah, kamu buatkan saja makanan yang terbaik. Aku akan melanjutkan pekerjaanku yang lain dulu ya.” Ucap Tuti sembari ia berjalan meninggalkan dapur.
“Iya.” Ucap Lenna
Lalu Lenna pun kembali berkutat dengan peralatan dapurnya dan melanjutkan membuat makanan untuk Edler. Ia menyiapkan makanan terbaik yang bisa ia buatkan dengan baham yang ada di dapur itu.
Setelag Lenna selesai dengan masakannya itu, kemudian Lenna berjalan keluar dapur dengan nampan yang di bawanya.
Ia mencari Edler di ruangan yang tadi ia temui, namun Lenna tidak menemukannya.
Lalu Lenna keluar ruangan untuk mencari Edler. Dan kemudian ia mendapati Edler yang sedang berjalan santai di taman samping.
Ia bergegas berjalan menuju Edler dan menawarkan makanan yang sudah ia bawa di atas nampannya itu.
Di atas nampan itu ada roti sandwich, s**u panas, dan jenis sayuran salad.
"Edler. Silahkan. Ini sarapanmu sudah siap." ucap Lenna.
Lalu Edler menoleh ke arah Lenna.
"Wah. Trimakasih banyak, sayang." jawab Edler tersenyum.
Lenna terbelalak mendengar ucapan Edler baru saja.
Dia memanggilnya dengan sebutan "Sayang".
"Sayang? Apa maksudmu Edler?" tanya Lenna gugup.
"Ah! Maaf, maksudku terimakasih banyak, Lenna." jawab Edler malu yang secara spontan melontarkan kata-kata itu pada Lenna.
Dia memang tak sengaja menyebut Lenna seperti itu.
Dia terlalu di mabuk kepayang oleh perasaannya dan kecantikan Lenna.
"Hmmm.. Silahkan, sarapan saja dulu. Semoga kamu suka dengan makanan buatanku.” ucap Lenna sambil meletakkan nampan yang berisi makanan itu dan menaruhnya di kursi panjang yang ada di taman itu.
"Baiklah. Terimakasih ya, Lenna.” ucap Edler.
“Iya sama-sama.” Ucap Lenna.