Lalu Edler pun segera menikmati menu sarapannya itu. Karena ia merasa lapar.
Sambil melahap makanannya, ia pun menawarkan Lenna yang masih berdiri depannya itu.
"Apa kamu mau?" ucap Edler menawarkan sarapannya.
"Tidak. Aku tidak begitu menyukai makanan luar negeri." jawab Lenna sambil memandangi Edler sarapan.
Terlihat Edler begitu lahap menikmati menu sarapan buatan Lenna.
"Oh ya. Menurutmu bagaimana masakanku? Apa terasa enak untukmu?” tanya Lenna sambil mengernyit.
"Mmmmmmmm.. Masakanmu sangat lezat. Ternyata kamu pandai memasak makanan orang Belanda ya.” jawab Edler sambil mengunyah makanannya.
Lenna tersenyum mendengar jawaban Edler.
"Benarkah? Syukurlah jika terasa enak untukmu.” jawab Lenna tersenyum.
"Ya. Mmmm.. ini sangat enak. Kamu sangat pandai memasak. Siapa yang mengajarimu?" tanya Edler yang sembari mulutnya masih mengunyah.
"Ibuku. Dia yang selalu mengajariku tentang masakan luar negri, karna ibuku sudah sangat lama bekerja pada orang Belanda." jawab Lenna menjelaskan.
"Oh begitu, pantas saja masakanmu sangat lezat. Pasti masakan ibu juga tidak kalah enaknya dengan masakanmu.” ucap Edler.
"Terimakasih.” ucap Lenna tersenyum.
Lalu Edler menghabiskan sarapannya tanpa tersisa sedikitpun.
Setelah ia menghabiskan sarapannya, ia berniat memberikan bunga mawar kuning yang tadi sempat ia petik.
Ia ingin memberikannya pada Lenna, pujaannya itu.
Agar Lenna tau jika ia benar-benar menyukainya.
"Sudah selesai?” ucap Lenna.
“Sudah. Ini sudah cukup mengenyangkan buatku.” Ucap Edler.
“Syukurlah. Biarkan aku saja yang merapikannya.” Ucap Lenna yang kemudian merapikan sisa peralatan makannya.
“Terimakasih ya, Lenna. Kamu sangat ramah terhadapku.” Ucap Edler tersenyum ke arah Lenna.
“Iya sama-sama. Sudah menjadi tugas dan kewajibanku.” Balas Lenna.
Saat Lenna sedang membersihkan meja, Edler lalu bangkit berdiri dari diduknya dan berjalan membelakangi Lenna.
Edler lalu mengeluarkan sekuntum mawar kuning yang tadi ia petik.
Lalu seketika Edler sedikit memeluk Lenna dari belakang, sambil memberikan bunga itu pada Lenna.
Lenna sangat terkejut dengan perlakuan Edler.
"Lenna, maukah kamu menerimanya untukku?" ucap Edler sambil memberikan bunga itu.
Lenna terdiam, jantungnya berdegup kencang.
Baru pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti ini dari laki-laki.
Lalu Lenna meletakkan nampannya dan membalikkan badannya.
Dan seketika itu juga Edler melepas tangannya yang melingkar pada pinggang Lenna.
Dengan perasaan gugup, Lenna menatap Edler.
"Maukah kamu menerimanya untukku?" tanya Edler sekali lagi.
"E-e-edler, apa maksudmu?" tanya Lenna gugup.
Edler lalu meraih tangan Lenna.
Ia memegangnya. Tangan yang putih, mulus.
"Jujur saja. Aku menyukaimu Lenna." ucap Edler.
Lenna hanya bengong mendengar ucapan Edler. Ia bingung, sekaligus merasa heran dengan apa yang ia alami saat ini.
Dia merasa ini seperti mimpi.
"Apa! Dia menyukaiku? Yang benar saja. Apa ini mimpi?" batinnya dalam hati.
"Lenna." ucap Edler.
Mendengar Edler memanggilnya, seketika Lenna tersadar dari diamnya.
Lalu ia sadar dan ia merasa yakin jika ini bukan mimpi.
"Apa kamu mau menerimanya?" ucap Edler.
Tanpa diawali sepatah kata pun, tangan Lenna meraih bunga yang Edler genggam di tangannya.
Setelah menerima bunga dari Edler, Lenna lalu mencium bunga itu.
"Harum sekali bunga ini. Apa kamu memetiknya dari taman di sekitar sini?” ucap Lenna tersenyum.
“Benar. Aku sengaja memetiknya untukmu.” Ucap Edler.
“Indah dan harum sekali bunga ini.” Ucap Lenna tersenyum.
Edler tersenyum senang melihat Lenna menerima dan mencium bunga pemberiannya itu.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Edler.
Lenna mengangguk dan tersenyum, "Iya, aku sangat menyukainya. Bunga ini sangat cantik dan harum."
"Iya, bunga itu secantik parasmu, hehe." ucap Edler.
Lenna yang mendengar hal itu hanya tersipu malu dengam raut wajah memerah.
"Bawalah bunga itu, itu tanda dari perasaanku untukmu, Lenna." ucap Edler.
"Iya, terimakasih banyak. Aku akan membawa dan menyimpannya.” jawab Lenna tersenyum.
"Oh ya, nanti malam maukah kamu makan malam bersamaku?" ajak Edler.
"Makan malam? Dimana?" tanya Lenna.
"Aku ingin mengajakmu makan malam di sebuah restoran hotel di Buitenzorg (Bogor). Apa kamu mau?" ucap Edler.
"Umm. Boleh. Tapi aku harus meminta ijin dari ibuku." jawab Lenna.
"Oh baiklah. Tidak masalah. Jika ibumu mau, aku ingin mengajaknya juga sekalian.” jelas Edler.
"Baiklah kalau begitu. Nanti akan aku sampaikan pada ibuku." jawab Lenna tersenyum.
Edler pun membalasnya pula dengan senyuman.
"Iya. Aku tunggu kabar baiknya.” jawab Edler.
"Iya. Ya sudah aku permisi dulu. Aku harus melanjutkan pekerjaanku yang lain." ucap Lenna.
"Iya silahkan." jawab Edler tersenyum.
Lalu Lenna menyimpan bunga pemberian Edler itu di balik bajunya.
Selepas itu, ia segera bergegas berjalan ke arah dapur untuk membersihkan tempat bekas sarapan Edler tadi.
Setelah mencuci alat-alat makan, ia berniat menemui ibunya.
Ia berjalan ke arah aula tengah tempat ibunya sering mengerjakan pekerjaan disana.
Sesampainya pada ibunya, ia menceritakan perihal perbincangannya bersama Edler tadi.
"Ibu." ucap Lenna.
"Ya, Nak. Ada apa? Kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Ratih.
Lenna mengangguk, "Sudah bu. Oh ya bu. Ada yang ingin aku ceritakan pada ibu." ucapnya.
"Benarkah? Memangnya ada apa Lenna?" tanya Ratih.
"Ada Edler disini." ucap Lenna memberitahu.
"Oh ya? Apa dia datang kemari bersama keluarganya?" tanya Ratih.
"Tidak. Dia datang kemari seorang diri saja. Katanya tujuannya kemari hanya untuk menemuiku, Bu." jawab Lenna.
"Hah? Menemuimu? Memangnya ada perlu apa dia denganmu, Nak?" tanya Ratih.
"Tidak ada sih bu. Hanya ingin berbincang saja denganku." ucap Lenna.
Lalu Lenna mengeluarkan sekuntum bunga dari balik bajunya yang Edler berikan tadi padanya.
"Oh ya bu. Tadi Edler memberikanku bunga indah ini. Bagaimana? Cantik sekali bunganya ya bu." ucap Lenna sambil memperlihatkan bunga mawar kuning pada ibunya.
"Benarkah? Dia memberimu bunga ini?" tanya Ratih sambil meraih bunga itu dari tangan Lenna.
"Coba ibu cium. Harum sekali baunya." ucap Lenna tersenyum.
Lalu Ratih mendekatkan bunga itu ke arah hidungnya dan mencium bunga itu.
"Iya. Harum sekali bunga ini. Juga terlihat cantik sepertimu, Nak." ucap Ratih tersenyum.
"Saat memberikan bunga itu, Edler juga mengatakan hal yang sama seperti ibu, jika dia menyukaiku bu." ucap Lenna.
"Benarkah? Ibu rasa dia orang Belanda yang baik nak. Dia sampai memberimu bunga ini untuk membuktikan perasaannya. Jika sudah mengenai perasaan, ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi kamu pun harus tetap menjaga dirimu. Dan tetap hati-hati.” jelas Ratih.
Seketika pun Ratih teringat masalalunya saat perjumpaan awal dengan suaminya.
Yang dimana dia di perlakukan hampir sama seperti Lenna.
Dulu suaminya juga pernah memberinya sekuntum bunga saat ia mengungkapkan perasaannya pada Ratih waktu dulu.
Tanpa sadar, Ratih menitikkan air matanya.
Hal itu di ketahui oleh Lenna.
"Ibu, kenapa ibu menangis?" tanya Lenna.
Lalu Ratih mengusap air matanya.
"Melihat bunga ini, ibu jadi teringat pada almarhum ayahmu. Dulu saat ibu masih muda, saat pertama kali bertemu dengan ayahmu, ayahmu pernah memberikan ibu bunga seperti ini. Dan disaat itu juga dia mengungkapkan perasaannya pada ibu. Tapi semua itu sudah menjadi masalalu." jawab Ratih menjelaskan masalalunya pada Lenna.
Lenna hanya terdiam mendengar cerita singkat tentang masalalu ibunya dan ayahnya kala itu.
"Ayahmu adalah orang Belanda yang baik. Dia sosok tentara yang selalu memihak pada rakyat kita. Dia pernah bilang, seseorang yang memberikan bunga pada orang lain, entah itu pasangan ataupun kerabat, adalah orang penuh dengan kasih sayang." ucapnya lagi.
"Lalu, apa menurut ibu, apa Edler itu orang baik?" tanya Lenna polos.
"Dari yang ibu lihat sepertinya begitu. Dia tidak menunjukkan sikap-sikap yang jahat. Dia juga terlihat sangat sopan. Tapi tetap saja ibu tidak tau yang sebenarnya. Setidaknya, kita tetap hati-hati saja.” ucap Ratih.
"Apa yang menurut ibu baik, semoga selalu baik." ucap Lenna.
"Oh ya bu, Edler mengajakku dan ibu makan malam hari ini. Apa ibu mau ikut?" ajak Lenna.
"Apa? Makan malam? Tapi ibu merasa malu. Ibu belum pernah berkunjung ke tempat seperti itu. Lagipula ibu juga tidak punya baju yang bagus untuk pergi ke sana." jawab Ratih.
"Lalu bagaimana bu? Ibu ikut ya. Aku juga ingin tau restoran itu tempat seperti apa, dan kota Buitenzorg(Bogor) itu seperti apa." ucap Lenna memohon.
Lenna memang semasa hidupnya belum pernah mengunjungi tempat-tempat mewah seperti itu.
Jangan tempat mewah, makan sehari-hari saja dia dan ibunya hanya seadanya.
Jadi maklumlah jika dia diliputi rasa senang dan penasaran. Karna mumpung ada yang mengajaknya secara cuma-cuma malam nanti.
"Hmm. Baiklah. Ibu akan ikut. Tapi, apa Edler tidak malu membawa orang rendahan seperti kita ini?" tanya Ratih.
"Sudahlah bu. Jangan dipikirkan dulu. Yang penting kita malam nanti bisa jalan-jalan." ucap Lenna tersenyum.
"Hmm. Iya. Kamu itu seperti orang yang belum pernah bepergian saja." sahut Ratih.
"Memang iya kan bu. Lenna selama ini belum pernah samasekali bepergian ke tempat-tempat mewah milik orang Belanda seperti itu." ucap Lenna polos.
Ratih berpikir sejenak.
Apa yang di katakan Lenna benar juga. Sejak kecil, sampai dia dewasa sekarang ini, belum pernah sekalipun mengunjungi tempat-tempat mewah hanya untuk sekedar bepergian.
"Hmm. Iya juga sih." ucap Ratih.