————————————————————
"Ibu, lama sekali menunggu sore. Ini baru jam siang. Aku tidak sabar sekali menunggu malam nanti." ucap Lenna.
"Jangan di tunggu-tunggu begitu. Jika terus ditunggu, waktu akan terasa lama. Jika kamu tidak merasa menunggu, nanti juga tidak akan terasa." jawab Ratih.
"Lagipula, kenapa kamu terlihat seperti tidak sabar begitu?”
“Emm, aku hanya ingin tau suasana keramaian kota di luar sana bu.”
"Ya sudah. Lebih baik kamu makan siang dulu, lalu kembali selesaikan pekerjaanmu yang lain." ucap Ratih.
Lenna mengangguk, "Iya bu.”
Lalu Lenna pun bergegas ke dapur untuk membuat makan siangnya dan ibunya.
Tak lama kemudian, datanglah Darius menghampiri Ratih.
"Ratih, tadi ku lihat Edler datang menghampirimu dan Lenna. Ada perlu apa dia menghampiri kalian?" tanya Darius penasaran.
"Oh, bukan apa-apa. Tadi dia mengajak Lenna untuk makan malam hari ini. Dia juga mengajakku untuk ikut." jelas Ratih.
"Oh begitu. Jadi kamu mau ikut?" ucap Darius.
"Iya. Memang kenapa?” Ratih bertanya.
"Emm, tidak apa-apa. Memangnya nanti malam dia ingin mengajakmu makan malam dimana?" tanya Darius.
"Dia bilang ingin mengajakku dan Lenna makan malam di restoran hotel di Buitenzorg(Bogor)." jawab Ratih.
"Baiklah jika begitu. Tetap hati-hati dan jaga dirimu baik-baik bersama Lenna." ucap Darius.
"Iya. Itu pasti." jawab Ratih.
"Aku harus memantau mereka diam-diam. Untuk memastikan mereka baik-baik saja. Jika terjadi apa-apa, barulah aku akan bertindak." ucap Darius dalam batin seolah ia perduli terhadap keselamatan mereka.
Disisi lain, Darius memang terlihat cemburu mengetahui Ratih akan pergi bersama pria lain, walau itu bersama anaknya.
"Ya sudah. Aku kembali ke pekerjaanku dulu." ucap Darius.
Ratih mengangguk, "Iya."
———————————————————-
Setelah beberapa saat perjalanan, sampailah Edler dan Marinus di tempat tujuan mereka. Di area Villa milik Marinus.
Lalu mereka berdua turun dari kereta kuda.
Disana terlihat banyak rumah-rumah besar dan mewah milik Darius yang di perjual belikan pada kaum-kaum konglomerat Belanda maupun pribumi.
Terlihat Edler sedang mengamati satu per satu rumah-rumah itu.
"Bagaimana? Apa ada yang membuatmu tertarik?" tanya Marinus.
"Semuanya terlihat mewah dan megah. Aku sampai bingung memilihnya." ucap Edler.
"Hahaha. Tidak perlu bingung. Ayolah, lihat saja satu per satu. Kalau kau mau, nanti kita lihat-lihat saja ke dalamnya.” ucap Marinus mengajak.
"Baiklah." jawab Edler.
Lalu mereka bergegas berjalan menelusuri satu per satu rumah-rumah itu.
"Apa kamu ada saran untukku?" tanya Edler.
"Hmm. Ok. Aku ada 3 rumah yang spesial. Banyak yang ingin membeli rumah itu, tapi dengan tawaran yang sangat murah. Jadi aku masih menahannya." ucap Marinus.
"Baguslah, ayo kita ke sana. Aku ingin melihatnya." ucap Edler.
"Ayo." jawab Marinus.
Lalu mereka berdua menuju rumah yang di maksud oleh Marinus.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya mereka tiba di rumah yang di maksud oleh Marinus.
Ada 3 rumah yang berjarak tidak jauh dari rumah lainnya.
Rumah-rumah itu sangat terlihat besar, megah, dan mewah.
Rumah itu memiliki arsitektur ala bangunan eropa. Yang bisa dikatakan benar-benar mewah pada jaman itu.
Lalu mereka berdua memasuki salah satu rumah yang di maksud Marinus.
Mereka memasuki tiap-tiap ruangan dengan arahan Marinus.
"Mungkin rumah ini pantas untukmu. Rumah 2 lantai ini memiliki 6 kamar, 4 kamar mandi, 3 ruang utama, 2 dapur di atas dan di bawah, disamping rumah memiliki 4 ruang untuk bersantai, ada pula taman yang luas di belakang yang mengarah ke arah pemandangan Gunung Gede. Jadi kamu bisa menikmati waktu santaimu disini. Dan rumah seperti ini cocok untukmu menampung seluruh keluargamu saat datang kemari.” ucap Marinus menjelaskan.
Edler hanya mengangguk-ngangguk.
"Lalu bagaimana dengan kedua rumah lain yang kamu maksud?" tanya Edler.
"Tidak jauh berbeda dengan rumah ini. Hanya model arsitekturnya saja yang terlihat berbeda." ucap Marinus.
"Baiklah. Di awal aku hanya bermaksud membeli 1 rumah, tapi kali ini aku akan membeli 2 rumah." ucap Edler.
"Apa? 2 rumah? Lalu untuk siapa rumah satunya itu? Apa untuk orang tuamu? Bukankah orang tuamu sudah memiliki beberapa rumah mewah juga?" tanya Marinus.
"Bukan untuk orang tuaku. Tapi rumah satunya akan kujadikan hadiah untuk seseorang." ucap Edler.
"Hmm. Pasti hadiah untuk seorang perempuan. Iya kan?" tanya Marinus.
"Ah sudah ku bilang itu bukan urusanmu. Kamu ini mau rumahmu ku beli atau tidak? Yang penting aku membayar untukmu." ucap Edler.
"Hmm. Iya. Lalu rumah satunya lagi kau mau ambil yang mana? Yang bersebrangan itu atau yang arah sampingnya?" tanya Marinus.
"Hmm. Yang sampingnya saja. Itu terlihat lebih elegan." jawab Edler.
"Baiklah jika begitu." ucap Marinus.
"Lalu berapa yang harus ku bayar untuk kedua rumah itu?" tanya Edler.
"Karna kamu sahabatku, jadi ku berikan harga 300.000 Gulden saja." jawab Marinus.
"Baiklah. Aku sudah menyiapkan seluruh koinnya di peti." jawab Edler.
Lalu setelah Edler menemukan rumah yang cocok, mereka pun bertransaksi saat itu juga.
Edler membeli ke 2 rumah itu seharga 300.000 Gulden.
Atau mungkin setara dengan harga sekitar 2,5 Milyar Rupiah di zaman sekarang.
Marinus pun menyerahkan beberapa surat-surat kepemilikan dan surat lain pada Edler.
Edler yang awalnya hanya ingin membeli rumah untuk dirinya saja, kini memutuskan untuk membeli 2 rumah mewah saat itu.
Ia berniat memberikan 1 rumah itu untuk Lenna dan ibunya.
Karna di awal ia mengetahui rumah yang di tempati Lenna dan ibunya sangatlah sederhana.
Disisi lain, ia juga ingin di pandang positif oleh Ratih.
Dan berharap Lenna mau menerima cintanya nanti.
“Kau hitung dulu saja uangnya. Siapa tau ada kekurangan.” Ucap Edler
“Baiklah. Aku hitung dulu jumlahnya.” Jawab Marinus.
Lalu Marinus pun menghitung seluruh koin yang di bawa oleh Edler dalam petinya itu.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Edler pun berniat mengantarkan kembali Marinus ke pabriknya.
"Apa ada kekurangan?" tanya Edler.
"Tidak. Semua sudah pas." jawab Marinus
"Baiklah. Mari kita langsung pulang saja." ucap Edler.
Marinus mengangguk. “Oke.”
Lalu mereka berdua kembali pada kereta kuda beserta koin uang di peti dan bergegas kembali pulang.
Hari itu sudah siang, di tengah perjalanan Edler merasa lapar.
Ia berniat untuk mampir dulu di sebuah restoran di pusat kota.
"Marinus, apa kau lapar?" tanya Edler.
"Ya. Lumayan. Tenggorokanku juga terasa haus." jawab Marinus.
"Baiklah kita singgah dulu di restoran di pusat kota. Aku juga sudah merasa lapar." ucap Edler.
"Pak, kita singgah dulu di restoran Roxelle yang ada di pusat kota." ucap Edler pada kusirnya.
"Baik, tuan." ucap kusir.
Tak berselang lama, mereka pun tiba di restoran yang mereka tuju.
Mereka berdua turun dari kereta kudanya dan memasuki restoran itu.
Pak kusirnya hanya menunggu mereka berdua di kereta kudanya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Edler pada Marinus.
"Aku lebih suka ayam panggang." jawab Marinus.
"Pilihlah menu sesukamu." ucap Edler.
Lalu mereka memesan menu masing-masing.
Setelah memesan menu, mereka berjalan mencari meja yang kosong.
Siang itu terlihat sangat ramai suasana di restoran.
Di penuhi oleh orang-orang elite kala itu yang sedang mengisi perut mereka.
Setelah sudah menemukan meja yang kosong, tak lama setelah itu datanglah menu makanan yang mereka pesan.
"Silahkan, Tuan." ucap pelayan wanita sambil menyerahkan makanan di atas meja mereka.
"Trimakasih." ucap Edler.
"Lihatlah. Pelayan Indonesia itu sangat cantik ya. Manis sekali parasnya." ucap Marinus.
"Hahaha. Hey! Ingatlah anak istrimu. Kamu sudah memiliki istri dan anak! Bertobatlah." ucap Edler mengingatkan.
"Hmm. Aku laki-laki. Wajar saja jika mataku terpana kalau ada wanita cantik di depanku." ucap Marinus.
"Hahaha. Sudahlah. Kita makan saja. Aku sudah lapar." ucap Edler.
Lalu mereka berdua pun makan dengan lahapnya.
Setelah selesai makan siang, mereka menuju kasir untuk membayar makanan mereka.
Tak lupa juga Edler memesan makanan yang di bungkus untuk kusir yang selalu setia mengantarkannya itu.
"Nona, aku pesan ayam barbeque 1 untuk dibungkus." ucap Edler pada pelayan wanita.
"Baik, Tuan." ucap pelayan itu.
"Hey. Kamu pesan 1 makanan di bungkus untuk siapa?" tanya Marinus.
"Untuk kusirku yang selalu setia mengantarkan aku kemanapun." jawab Edler.
"Baik hati sekali kamu ini pada rakyat pribumi." ucap Marinus.
"Begini-begini aku juga manusia. Aku masih punya hati Tidak sepertimu. Kita ini sesama manusia. Lagipula kusirku itu belum makan sejak pagi tadi. Jadi aku pesankan yang istimewa untuk mengenyangkan perutnya." jelas Edler.
"Hmm. Perlakuan yang bagus." jawab Marinus.
Setelah menunggu beberapa saat di meja dekat kasir, datanglah pelayan membawakan makanan pesanan Edler.
"Ini tuan, pesanannya." ucap pelayan itu.
"Trimaka kasih." jawab Edler.
"Sama-sama tuan." ucap pelayan itu.
"Ayo. Kita pulang." ajak Edler.
Lalu mereka berdua berjalan ke arah pintu keluar restoran.
Cuaca siang itu sangat terik.
"Pak, ini untukmu. Untuk makan siangmu." ucap Edler.
"Wah. Trimakasih tuan. Trimakasih banyak." ucap kusirnya.
Edler tersenyum, "Sama-sama. Ayo kita pulang."
"Baik, tuan." ucap kusirnya.
Lalu mereka pun berangkat pulang menuju pabrik untuk mengantarkan Marinus kembali.