—————————————————————
Hari itu terlihat sudah menjelang sore.
Terlihat Lenna yang berada di dapur sangat bersemangat untuk segera menyelesaikan sisa pekerjaannya.
"Lenna, kamu terlihat bersemangat sekali hari ini. Tidak seperti hari-hari biasanya." ucap Tuti temannya.
"Iya. Aku sedang merasa bahagia hari ini." ucap Lenna tersenyum.
"Benarkah? Apa yang membuatmu sebahagia ini?" tanya Tuti.
"Hari ini aku dan ibuku akan di ajak makan malam bersama Edler." ucap Lenna memberi tahu.
"Wah! Benarkah? Memang ada apa dia sampai sebaik itu terhadapmu dan ibumu?" tanya Tuti.
"Entahlah. Mungkin dia ingin mendekatiku." ucap Lenna.
"Jangan-jangan dia menyukaimu Lenna?" ucap Tuti.
"Iya benar. Dia memang menyukaiku. Dia sendiri yang mengatakannya. Lalu tadi pun dia sempat memberikanku bunga." jawab Lenna dengan polosnya.
"Wah. Sungguh beruntung kamu Lenna. Ada pria Belanda kaya yang menyukaimu. Tapi, kamu tetap harus berhati-hati. Jangan percaya begitu saja. Kamu tau bagaimana orang Belanda terhadap bangsa kita." jelas Tuti.
"Iya aku tau. Aku juga masih menilai orang itu." jawab Lenna.
"Syukurlah. Tetap jaga dirimu Lenna." ucap Tuti.
"Iya. Aku selalu menjaga diriku." jawab Lenna.
Tuti tersenyum.
————————————————————-
"Akhirnya sampai juga di gerbang neraka panas ini." ucap Edler.
Mereka baru saja tiba di pabrik milik Marinus.
Terlihat Edler yang masih duduk di kursi kereta kudanya.
Ia enggan untuk masuk karna hawa di dalam sangatlah panas.
"Cukup disini saja aku mengantarmu." ucap Edler.
"Kamu tidak ingin mampir dulu?" tanya Marinus.
"Tidak! Cukup disini saja. Ruanganmu sangatlah panas." jawab Edler.
"Hahaha. Baiklah. Aku masuk dulu. Trimakasih untuk transaksinya. Semoga tidak mengecewakanmu, Edler." ucap Marinus.
"Okey. Sama-sama. Aku langsung pergi saja. Ada urusan lain yang harus ku selesaikan hari ini." jawab Edler.
"Baiklah. Sampai jumpa lagi." ucap Marinus.
Lalu Marinus turun dari kereta kuda milik Edler.
Dan mereka berdua berpisah disitu.
Edler kembali melanjutkan perjalanannya.
Kini ia berniat mampir ke sebuah toko baju di pusat kota
Ia ingin membeli beberapa setel pakaian gaun untuk Lenna dan Ibunya makan malam nanti.
"Pak, kita kembali ke pusat kota. Aku ingin ke toko baju dulu." ucap Edler.
"Baik, tuan." ucap kusirnya.
Lalu mereka menuju pusat kota.
Hari sudah menjelang sore.
Setelah beberapa saat perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan.
Edler langsung bergegas turun dari kereta kudanya dan menuju toko pakaian di depannya.
"Tunggu dulu disini." ucap Edler pada kusirnya.
"Baik, tuan." jawab kusirnya.
Lalu Edler berjalan memasuki toko itu.
Sesampainya di dalam toko, terdapat banyak jenis gaun, dan pakaian lain disana.
Terlihat Edler bingung memilih pakaian yang cocok untuk Lenna dan ibunya.
Terlebih dia tidak mengetahui ukuran apa baju mereka.
Ia kesana kemari memilih pakaian dan mencari yang cocok untuk Lenna dan ibunya.
Sambil memilih, ia sambil membayangkan baju-baju itu di pakai oleh Lenna. Cocok atau tidaknya.
Hanya bermodalkan feeling, ia memilih gaun pendek berwarna merah untuk Lenna.
Yang sudah ia bayangkan jika gaun itu cocok di pakai oleh Lenna.
Lalu ia kembali memilih gaun panjang untuk ibunya.
Gaun itu berwarna cream.
Ia membayangkan pula jika itu cocok untuk Ratih.
Setelah selesai memilih beberapa pakaian, ia kemudian berjalan ke kasir untuk membayar semua yang ia beli.
"Berapa semua ini?" tanya Edler pada kasir.
"Semuanya seluruhnya 18.000 Gulden tuan." ucap kasir.
"Baiklah." jawab Edler.
Lalu ia mengeluarkan tas yang ia bawa. Yang berisikan koin seluruhnya.
Setelah ia selesai melakukan pembayaran, ia kembali keluar menuju kereta kudanya.
"Ayo. Kita pulang menuju istana tuan Heots." ucap Edler.
"Baik, tuan." jawan kusirnya.
Kemudian kusir menghentakkan kudanya dan mereka memulai perjalanan menuju istana tuan Heots.
Selama perjalanan, Edler selalu membayangkan kecantikan Lenna memakai gaun yang ia berikan nanti.
Tak lama setelah perjalanan, tibalah mereka di depan pintu istana tuan Heots.
Kereta kuda mereka memasuki pintu masuk istana tuan Heots.
Sesampainya disana, Edler turun dari kereta kudanya.
Ia meminta pada salah satu pelayan disana untuk memberikan kamar untuknya.
Kamar-kamar di istana tuan Heots memang sengaja di sewakan untuk tiap tamu yang datang, yang ingin beristirahat.
"Pelayan, tolong siapkan kamar untukku. Aku ingin menyewa 1 kamar." perintah Edler pada salah satu pelayan di istana tuan Heots.
"Baik tuan." ucap pelayan itu.
"Pak kusir, tolong bawakan barang-barangku menuju kamar yang di tunjukkan pelayan itu." ucap Edler.
"Baik tuan." jawab kusirnya.
Lalu Edler pun mengikuti pelayan itu yang akan mengantarkan dia pada kamarnya untuk istirahat.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya, pelayan itu kemudian memberikan kunci kamar tersebut pada Edler.
"Silahkan tuan, ini kamar untuk tuan. Dan ini kuncinya." ucap pelayan itu.
"Trimakasih." jawab Edler.
"Sama-sama tuan, permisi." ucap pelayan itu.
"Tolong bawakan masuk barang-barangku dalam kamar." ucap Edler pada kusirnya.
"Baik tuan." ucap kusirnya.
Lalu kusirnya itu membawa masuk semua barang yang Edler bawa dalam kamar.
"Sudah selesai tuan." ucap kusir.
"Baik. Trimakasih banyak. Sekarang kamu boleh kembali." ucap Edler.
"Baik tuan. Permisi." ucap kusir.
Seharian ini sangat melelahkan bagi Edler.
Penuh perjalanan. Badan pun menjadi terasa lusuh.
Lalu ia berniat untuk mandi dengan air hangat belerang, yang memang sengaja di salurkan ke istana tuan Heots dari pusatnya di kaki Gunung Gede, Cipanas.
Setelah selesai mandi dan merasa tubuhnya kembali segar, ia kembali berdandan rapi menggunakan setelan jasnya.
Dan setelah itu, ia berniat kembali menemui Lenna dan ibunya. Karna ia sudah berjanji akan menjemputnya.
Ia berjalan keluar dari kamar, dan menyusuri tiap-tiap ruangan guna mencari keberadaan Lenna.
Tak sengaja pula, ia kembali bertemu dengan sang tuan rumah, Van Heots.
"Hallo, Edler. Kapan kau kembali?" tanya Van Heots.
"Oh, tuan Heots. Baru saja. Belum lama aku tiba. Aku juga baru saja menyewa kamar disini." ucap Edler.
Van Heots tersenyum, "Kau tidak perlu membayar uang sewa kamarnya. Pakailah saja jika kau mau." ucap Heots.
"Oh ya, kau sedang menjadi perbincangan pelayan-pelayanku disini." sahutnya lagi.
"Oh ya? Perbincangan soal apa?" tanya Edler kaget.
"Ya. Ku dengar dari mereka, kau akan mengajak Lenna makan malam bersamamu?" jawab Heots.
"Ya. Tentu. Itu benar. Baru saja tadi pagi aku membuat janji, tapi sudah terdengar oleh banyak orang. Cepat sekali." gumam Edler.
"Hahaha.. Ya begitulah. Disini, perkataan satu jengkal, bisa menjadi satu kilometer. Tapi jika kabar ini sampai ke telinga orang tuamu, pastilah mereka akan murka terhadapmu." jelas Heots.
"Aku tidak peduli. Aku yang menjalani kehidupanku. Bukan orang tuaku. Jadi aku berhak memilih jalanku sendiri." jawab Edler.
Van Heots tersenyum mendengar pernyataan Edler.
"Aku kagum padamu, Edler. Lalu, apa kau kemari untuk menjemput wanitamu itu?" tanya Heots.
"Benar, tuan. Aku sudah berjanji akan menjemputnya, karna itulah aku kembali datang kemari." jelas Edler.
"Baguslah jika begitu. Oh ya, apa kau sedang mencari Lenna?" tanya Heots.
"Benar. Istanamu ini sangat luas. Aku kesulitan mencarinya. Apa anda tau dimana Lenna?" tanya Edler.
"Tentu saja aku tau. Dia sedang berada pavilliun sebelah kiri istanaku. Dia sedang bersiap pulang bersama ibunya." ucap Van Heots memberi tahu.
"Baguslah kalau begitu. Waktu yang tepat sekali. Jika begitu, aku permisi dulu tuan." ucap Edler.
"Silahkan. Semoga acaramu menyenangkan." ucap Van Heots tersenyum.
"Trimakasih banyak, tuan." jawab Edler.
Lalu Edler melangkahkan kakinya menuju pavilliun yang di tunjukkan oleh Van Heots padanya.
Dan benar saja. Sesampainya ia disana, ia menemukan Lenna dan ibunya yang sedang mencuci kaki dan tangan dan hendak bersiap pulang.
Edler langsung bergegas menghampiri mereka.
"Lenna!" teriaknya.
Seketika Lenna menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Dan ia melihat Edler sedang berlari ke arahnya.
"Lenna, Edler datang." ucap ibunya.
Lenna tersenyum bahagia melihat kedatangan Edler.
Ia merasa seperti di hampiri oleh kekasihnya sendiri.
Yang pada dasarnya mereka berdua belum menjalin hubungan asmara.
"Edler!" ucap Lenna tersenyum.
"Akhirnya aku menemukanmu. Tempat ini sangat luas, aku kesulitan untuk menemukanmu." ucap Edler.
"Hallo, ibu." sapa Edler pada Ratih sambil mengulurkan tangannya.
Ratih membalas dengan senyuman dan meraih tangan Edler untuk berjabat tangan.