"Apa kalian sudah akan pulang?" tanya Edler.
"Iya. Sudah waktunya kita untuk pulang." ucap Lenna.
"Baiklah. Akan ku antarkan kalian pulang. Kita pulang bersama saja." ucap Edler mengajak.
Ratih dan mengangguk, "Iya." ucapnya.
"Oh ya. Aku ada beberapa pakaian yang baru ku beli tadi. Untuk kalian di pakai nanti malam." ucap Edler.
Mendengar hal itu, perasaan Lenna pun sangat senang. Karena sebelumnya ia tidak pernah memakai yang namanya pakaian baru.
"Benarkah?" ucap Lenna dengan raut wajah senang.
"Iya, ya sudah, ayo kita langsung pulang saja. Nanti lihatlah sendiri apakah kalian menyukainya atau tidak.” ucap Edler.
Lenna tersenyum dan mengangguk. “Iya.”
“Terimakasih Edler. Maaf jika sudah merepotkanmu.” Ucap Ratih.
“Tidak apa-apa bu.” Edler tersenyum.
Lalu disisi lain, terlihat Darius yang sedang memantau mereka bertiga dari kejauhan.
Dia berniat untuk membuntuti mereka.
Kebetulan juga Darius sudah waktunya pulang sore itu.
Karena Darius merasa kawatir jika nanti ada apa-apa dengan mereka.
Edler dan Lenna serta ibunya berjalan menuju kereta kuda milik Edler yang sudah terparkir di halaman depan istana.
Disusul dengan Darius yang secara diam-diam mengikuti mereka dari arah belakang.
"Pak, tolong ambilkan semua barang-barangku yang diletakkan di kamar tadi. Bawa kemari." perintah Edler.
"Baik, Tuan." ucap kusirnya.
Lalu kusirnya itu bergegas masuk ke dalam istana untuk mengambil barang-barang Edler yang berada di kamar.
Setelah mengambilnya, kusirnya itu pun menata barang-barang belanjaan Edler di bagian belakang andongnya.
Lalu mereka pun berangkat menuju rumah Lenna.
Kemudian Darius pun mengikuti mereka menggunakan jasa delman lain dari arah belakang.
“Pak, antar aku mengikuti kereta kuda putih itu.” Darius menghampiri salah satu delman yang sedang berhenti.
“Baik, pak.” Ucap kusir delman itu.
“Tetap jaga jarak. Jangan sampai terlalu dekat.” Ucap Darius.
“Baik, pak.”
Tidak ada yang mengetahui jika Darius membuntuti mereka semua.
Darius memang pandai memata-matai.
Di sepanjang perjalanan, Edler sedikit berbincang dengan Lenna dan Ratih.
Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di gang arah masuk rumah Lenna.
Lalu mereka bertiga turun dari kereta kudanya.
"Akhirnya kita sampai. Aku ingin segera mandi." ucap Lenna.
"Iya, begitupun dengan ibu. Ibu juga merasa lusuh dan ingin segera mandi." sahut Ratih.
"Pak, tolong bawakan semua barang menuju rumah." perintah Edler pada kusirnya.
"Baik, tuan." ucapnya.
"Mari Lenna, ibu. Kita turun." ucap Edler.
Mereka berdua mengangguk.
Lalu kusirnya menurunkan dan membawa semua barang-barang Edler.
Dan seketika itu juga Darius tiba disana yang tak jauh dari lokasi kereta kuda milik Edler.
"Aku turun disini saja pak. Ini pak, uangnya." ucap Darius sambil memberi koin untuk membayar kusirnya itu.
"Trimakasih pak." ucap kusirnya.
"Sama-sama." jawab Darius.
Lalu Darius pun turun dan mencari tempat untuk dia menunggu dan bersembunyi.
Saat Edler, Lenna, dan ibunya sudah terlihat akan berangkat, barulah ia akan mengikutinya kembali.
Sesampainya di rumah Lenna. Ratih segera menyuruh Edler untuk duduk di balai depan.
"Silahkan duduk dulu, Edler." ucap Ratih.
"Tuan, barang-barang ini akan di letakkan dimana?" tanya kusirnya.
"Oh, letakkan saja di balai kursi itu." ucap Edler.
"Baik, tuan." jawab kusirnya.
"Pak kusir, silahkan duduk dulu. Maaf jika rumah saya kotor." ucap Ratih pada kusir.
"Iya, tidak apa-apa. Trimakasih neng." ucap kusirnya sembari tersenyum.
"Oh ya. Nama bapak siapa?" tanya Ratih pada kusir itu.
"Nama saya Broto, neng." jawabnya.
"Oh, pak Broto. Sudah berapa lamakah bekerja untuk tuan Edler?" tanya Ratih lagi.
"Belum lama neng, baru beberapa bulan. Karena tuan juga baru-baru berada disini.” jawab Broto.
"Oh begitu. Baiklah, Pak Broto dan Edler tunggu dulu sebentar ya. Aku akan membuatkan minuman untuk kalian." ucap Ratih.
"Ah, tidak usah repot-repot bu." jawab Edler.
"Iya, bu. Tidak usah repot-repot." jawab Broto.
"Tidak apa-apa, kalian adalah tamu di rumahku. Sudah sewajarnya aku menjamu kalian." ucap Ratih.
"Lenna, tolong temani dulu mereka berdua ya. Ibu mau membuatkan minuman dulu untuk mereka." ucapnya lagi pada Lenna.
Lenna mengangguk, "Iya bu." jawab Lenna.
Sampai sekarang baru di ketahui jika kusir pribadi Edler itu bernama Broto.
Dia baru beberapa bulan bekerja pada Edler dan setia menjadi kusir pribadi dari Edler.
Karna Edler baginya adalah seorang tuan Belanda yang baik.
Tidak seperti orang tuanya bahkan saudara-saudaranya yang lain.
Tak lama setelah itu, datanglah Ratih dengan nampan yang berisi minuman teh panas yang akan di suguhkan untuk kedua tamunya itu.
"Silahkan Edler, pak Broto, minumannya. Maaf ya jika hanya ada minuman seperti ini yang bisa di suguhkan." ucap Ratih.
"Tidak apa-apa bu, terimakasih banyak." ucap Edler.
"Iya tidak apa-apa neng. Terimakasih banyak." ucap Broto juga.
"Oh ya bu. Ini ada beberapa barang yang sengaja ku belikan untuk ibu dan Lenna. Untuk di kenakan pada acara makan malam nanti." ucap Edler.
"Wah. Benarkah? Aduh. Ibu jadi merasa tidak pantas menerima itu." ucap Ratih.
"Tidak apa-apa. Semua manusia pantas-pantas saja jika memakai pakaian dan perhiasan." ucap Edler.
"Aku harap ibu dan Lenna mau menerimanya." ucap Edler lagi.
Terlihat raut wajah bahagia dari Lenna.
Melihat ia yang baru pertama kali di belikan pakaian elite dan indah dari seseorang yang menyukainya.
"Terimakasih banyak Edler." ucap Lenna dengan senyum bahagia.
Edler hanya tersenyum sambil memandangi wajah Lenna yang tampak ceria saat itu.
"Oh ya. Itu sudah ku pisahkan untuk kalian berdua. Yang satu di kiri itu untuk Lenna, dan yang sebelah kanan itu untuk Ibu." ucap Edler.
"Bu, coba buka bu. Aku ingin melihat pakaiannya." ucap Lenna.
"Iya, sabarlah dulu." ucap Ratih.
Lalu Ratih membuka satu per satu bungkusan yang berisi gaun, dan barang lainnya.
"Wah. Indah sekali gaun ini. Pasti sangatlah mahal harganya." ucap Ratih.
"Ibu, lihat! Bagus sekali gaun ini! Warna dan modelnya sangat indah." ucap Lenna kegirangan.
"Iya. Itu pasti akan membuatmu terlihat lebih cantik jika sudah kamu pakai nak." ucap Ratih.
"Hah. Ibu lihatlah, ada topi, ada parfum, ada kalung juga!" ucap Lenna.
Lalu Lenna mengambil topi yang bermodel Cartwheel Hat itu dan mencoba memakainya.
Topi model Cartwheel Hat itu memang kerap di gunakan oleh kaum bangsawan kala itu.
Edler membelikannya pula agar Lenna terlihat seperti bangsawan lainnya.
"Ibu, apa aku pantas memakai topi ini?" tanya Lenna.
Ratih tersenyum, "Kamu terlihat lebih cantik nak." ucap Ratih.
"Aku yakin jika kamu memakai semua ini, akan terlihat seperti seorang bangsawan." ucap Edler.
"Trimakasih banyak untuk semua ini, Edler." ucap Lenna gembira.
"Iya, aku sangat berterimakasih Edler." ucap Ratih juga.
"Iya sama-sama." jawab Edler tersenyum.
“Apa kalian menyukainya?” Tanya Edler.
“Iya, aku sangat menyukainya.” Ucap Lenna.
“Iya. Terimakasih banyak Edler. Aku tidak bisa membalasnya.” Ucap Ratih.
“Tidak apa-apa bu. Semoga ukuran pakaian itu pas di tubuh kalian.” Ucap Edler.
“Edler, aku ingin mandi dulu ya. Aku tidak sabar ingin mencoba pakaian ini.” Ucap Lenna.
“Iya, silahkan.” Jawab Edler.
"Ibu, ayo kita mandi bu. Aku ingin mandi bersama ibu." ucap Lenna.
"Kamu ini. Kalau kita berdua mandi, lalu siapa yang akan menemani mereka berdua?" ucap Ratih.
"Tidak apa-apa bu. Jika kalian ingin mandi, silahkan mandi. Aku disini saja bersama Broto." sahut Edler.
"Ehm. Tapi.. Itu tidak sopan jika tuan rumah meninggalkan tamunya." ucap Ratih.
"Tidak apa-apa. Anggap saja kita saudara. Agar tidak ada yang membatasi dari segi derajat." ucap Edler.
"Baiklah kalau begitu." jawab Ratih.
"Ya sudah bu, ayo kita mandi. Sudah lama kita tidak mandi bersama bu." ajak Lenna.
"Iya. Edler, pak Broto, maaf ya aku tinggal dulu." ucap Ratih.
"Iya tidak apa-apa bu." jawab Edler.
"Iya neng. Tidak apa-apa." jawab Broto.
Lalu Ratih dan Lenna segera bergegas menuju sumur untuk mandi.
Mereka berdua memang sudah terbiasa mandi bersama sejak Lenna kecil.
Jadi tak heran walau Lenna sudah dewasa, tanpa malu ia mengajak ibunya untuk mandi bersama jika ada waktu.
Mereka hanya menggunakan kemben setelah menggantinya di kamar.
Sesampainya di sumur yang terletak di samping rumah, Lenna menimba air untuk di isi dalam bak.
Setelah air dalam bak penuh, mereka kemudian melepas kemben yang mereka kenakan lalu mengguyur seluruh badannya.
Mereka saling mengguyur bergantian.
Lalu mereka juga saling menggosok tubuh satu sama lain.
"Ibu, tolong gosokkan punggungku." ucap Lenna.
"Iya. Cobalah berbalik." jawab Ratih.
Lalu Lenna membalikkan tubuhnya memunggungi ibunya.
Dan Ratih kemudian mulai menggosok-gosok punggung Lenna.
"Nanti gantian punggung ibu ya." ucap Ratih.
"Iya, bu." jawab Lenna.
Setelah selesai menggosok punggung anaknya itu, lalu Ratih berbalik memunggungi Lenna.
“Coba tolong gosokkan punggung ibu.”
“Iya, sini bu.” Ucap Lenna.
Dan kini giliran Lenna menggosok punggung ibunya.
Ia menggosok seluruh punggung ibunya yang berwarna kuning langsat itu.
Tak hanya area punggung, ia pun menggosok area samping tubuh ibunya.
Lalu ia pun membersihkan area paha ibunya. Dari belakang hingga kedepan.
Setelah selesai menggosok punggung Ratih, lalu mereka saling berhadapan, dan saling bergantian menggosok d**a dan perut mereka.
"Lenna! Jangan main-main begitu!" ucap Ratih sedikit kesal karna Lenna memainkan sambil sedikit meremas-remas kecil kedua buah dadanya itu yang masih terlihat berisi itu.
"Hehehe. Aku jadi teringat masa kecilku bu. Yang suka memainkan d**a ibu saat aku masih suka menyusu." ucap Lenna.
"Itu kan dulu waktu kamu masih bocah! Lagi pula sekarang kamu juga sudah punya sendiri! Lihat ini, malah lebih besar dari punya ibu." jawab Ratih sambil menyentuh-nyentuh d**a Lenna yang memang terlihat sedikit lebih besar dari ibunya.
"Aduh ibu. Geliii atuhhh." ucap Lenna.
"Makanya itu, jangan main-main! Sudah punya sendiri-sendiri." ucap Ratih.