“Panas!”
“Iya, tapi itu aurat ayah dan di sini ada Titin! Dosa!”
Ayah terdiam. Menurut.
“Ayah katanya mau kencing, sudah?”
Ayah menggeleng lemah dan berkata lirih, “Enggak bisa.”
“Bisa! Jangan bilang enggak bisa! Dicoba dulu!”
Aku merasa dari nada kalimat ibu, sepertinya ibu mulai diliputi perasaan kesal.
“Pokoknya, kalau mau kencing atau b***k di pampers! Jangan minta ke kamar mandi! Enggak akan ada yang sanggup bawa ayah ke sana!”
Ibu kemudian menatapku. “Arini, ibu mau sholat dulu ya. Ibu belum sholat, waktunya sudah mau habis.”
Aku mengangguk. “Iya bu.”
Ibu kembali bicara pada ayah dan kini persis di dekat daun telinganya. Tetap dengan nada tinggi, sebab pendengaran ayah memang telah berkurang drastis akhir-akhir ini. “Mau sholat dulu ya? Sudah mau akhir waktunya.”
Ayah mengangguk.
“Ada Arini di sini. Titin biar suruh teruskan makannya dulu.”
Ayah kembali mengangguk.
“Tin, kamu lanjutkan saja makannya.”
“Iya bu.” Perempuan yang kiranya baru dua puluhan itu pun berlalu. Sementara ibu hendak pula pergi, namun urung.
Ibu kembali mendekati ayah dan bicara lagi tepat di daun telinganya. “Ayah mau sholat?”
Ayah mengangkat satu tangannya, tanda menolak. Ibu hanya bisa menghela nafas panjang.
“Arini, ibu sholat dulu ya!”
“Iya bu.”
“Kalau perlu apa-apa panggil Titin. Jangan kamu lakukan sendiri kalau memang berat dan tidak mampu. Ingat, kamu sedang hamil dan harus menjaga baik-baik kandunganmu itu. Apalagi ini sudah masuk bulannya kamu melahirkan. Jadi kamu jangan terlalu capek. Biar ayahmu, ibu dan Titin saja yang mengurus. Kamu cukup menjaganya saja. Jangan berbuat apa-apa selainnya, ya?”
“Iya bu.”
Ibu kemudian berlalu dan aku kembali memperhatikan ayah. Perasaan iba kini menggerogoti batinku. “Mau sampai kapan ayah begini? Keadaan ayah sudah sangat lemah dan semakin hari, ayah semakin tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Ya Allah, berikanlah hidayah-Mu,” aku berkata dalam hati.
Aku menelan ludah dan mencoba melanjutkan upaya ibu. Aku berkata pelan pada ayah, “Yah, waktu sholat dzuhur sudah mau habis. Ayah sholat dulu ya! Arini bantu.”
Ayah malah mencoba memiringkan tubuhnya. Tangannya menarik kain seprai dengan memaksimalkan seluruh tenaga, lalu mendorong tubuhnya. Aku terdiam sesaat dan aku mengerti, jika ayah sengaja melakukan itu karena ia tidak ingin menggubris kalimatku. Sebelum-sebelumnya ia pun sering melakukan semacam itu. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan agar ayah mau sholat?
Hatiku masih merasa belum ikhlas dengan apa yang kulihat. Ayah sakit dan di tengah kesadarannya yang mulai berkurang banyak, kedekatannya kepada Tuhan masih juga belum terbangun. Jika saja ayah mau mulai melaksanakan sholat, mungkin aku bisa lebih tabah dalam menemaninya. Tetapi bukankah Allah Maha Membolak-balikan hati manusia? Siapa tahu Allah berkenan membalikan hati ayah justru di saat seperti sekarang. Tetapi kapan? Semakin hari kondisi ayah semakin menurun dan aku khawatir tiada kesempatan baginya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Tapi bukankah tak satupun hati manusia yang tahu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan? Mungkin di dalam hati ayah selalu mengingat Ia, meski tidak melisankannya dan Asmaul Husna senantiasa tertancap dalam hatinya. Semoga. Andai aku bisa membaca isi hatinya!
“Yah, Arini di depan ya! Kalau mau apa-apa panggil.”
Ayah mengangguk.
Aku kemudian beranjak dan melangkahkan kaki ke luar kamar.
Aku memilih duduk berdiam di teras dan mengungkap kembali apa-apa yang berada di dalam pikiranku tentang ayah. Aku tak mau berada di sini lebih lama, jika hanya sekadar untuk menemani ayah, tetapi aku ingin lebih dari itu. Menemani dan membersamai dalam mengingat Tuhan secara penuh dan seluruh.
Ayah baik dan aku sangat bersyukur bisa menjadi salah satu putrinya. Ia adalah lelaki yang selalu berusaha untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Membahagiakan kami dengan kelimpahan materi yang alhamdulillah bisa diraihnya berkat jabatan pimpinan yang saat itu diembannya. Selepas pensiun, ia juga bisa dengan mudahnya mengajar di salah satu perguruan tinggi terbaik yang berada sekitaran kota saat itu dan gajinya pun lumayan tinggi. Nama baik ayah senantiasa terjaga dan ibu menurut pandangan banyak orang, teramat beruntung menjadi istri ayah. Entah mereka bisa menilai dari mana dan aku jelas tak sependapat.
Dalam kesendirian yang membuatku seakan tenggelam ke masa lalu terbuyarkan oleh suara dering telepon yang berasal dari saku gamis yang kupakai. Akupun mengeluarkannya dan menatap layar. Tertera tulisan ‘My Husband’. Tentu itu dari Mas Iman yang katanya siang ini hendak membawa ayah ke rumah sakit.
Aku mengangkatnya, “Assalamualaikum mas.”
“Waalaikumussalam sayang. Ini mas sudah di jalan dan sebentar lagi sampai.”
“Iya mas. Kita semua sudah menunggu.”
“Sayang, sebaiknya kamu dan ibu di rumah saja. Biar mas yang bawa ayah.”
“Mas, memangnya mas bisa? Ayah berat loh mas!”
“Sayang, di rumah sakit nanti kan banyak perawat yang bisa membantu. Kamu tidak perlu khawatir. Insya Allah mas bisa. Yang penting kondisikan saja beberapa orang lelaki di sana. Tetangga atau kalau ada tukang becak yang mangkal untuk bantu mas membopong ayah.”
Aku menghela nafas. “Iya mas.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Aku bergegas menuju dapur dan bertanya kepada Titin yang saat itu tengah meneguk segelas air putih, “Tin, yang mau dibawa ke rumah sakit sudah lengkap kan ya?”
“Sudah mba.”
“Sebentar lagi suami saya datang. Saya mau ke depan dulu. Siapa tahu ada tenaga lelaki yang bisa dimintai tolong. Tetangga atau tukang becak. Kan tidak mungkin kita.”
“Iya mba.”
Aku tergesa ke luar dan di pintu pagar rumah, aku menengok ke kanan dan kiri. Barangkali ada tetangga terdekat yang tidak bekerja di hari itu dan sedang berada di rumah. Namun sayang, setelah kuamati beberapa saat, hampir rumah-rumah terdekat justru sepi. Sama seperti hari-hari lainnya. Aku pun bergerak beberapa langkah menuju perempatan jalan. Biasanya ada tukang becak mangkal. Namun nihil. Aku memilih menetap sebentar, siapa tahu ada lelaki dewasa yang tengah berjalan kaki dan bisa dimintai tolong.
Pandanganku terus tertuju ke keramaian jalan, sementara pendengaranku masih tajam menangkap suara-suara apa saja yang masuk.
Terdengar suara pintu gerbang terbuka dari arah belakang dan aku langsung menoleh. Ternyata Pak RT, tetangga yang tinggal di depan rumah kedua orang tuaku hendak mengeluarkan sepeda motornya dan bersamaan dengan itu bunyi klakson mobil dari arah lainnya menyita perhatianku. Aku kembali menarik pandangan ke arah semula. Rupaya mobil Mas Iman sedang bergerak mendekat. Aku segera menghampiri Pak RT.
“Assalamualaikum Pak Bambang.”
“Waalaikumussalam Arini. Lagi di sini?”
Pak Bambang memarkir motornya di depan pagar rumah.
“Iya pak. Pak maaf, saya boleh minta tolong?”