BAB 3:
"Lewati aku dulu."
Suaraku bergetar, tetapi kakiku tidak mundur satu langkah pun.
Di depanku berdiri Guru Orion. Jubahnya robek, dan di kepalanya tumbuh dua tanduk kecil. Matanya berwarna emas, seperti mata ular yang sedang mengincar mangsa.
Di belakangku, Lyra sedang menekan bahunya yang berdarah dengan satu tangan.
"Kau tidak mengerti, Kael," kata Orion. Suaranya terdengar lembut, seperti saat dia mengajar di kelas dulu. "Aku bukan musuhmu. Aku adalah keluargamu."
"Jangan pernah sebut kata itu," potongku. Api di tangan kananku menyala semakin besar. "Keluarga tidak akan pernah menusuk dari belakang."
Orion tertawa pelan. "Bagus. Semangat itu bagus. Tapi sayangnya, semangat saja tidak cukup."
Dia menjentikkan jarinya.
DUG.
Pintu batu besar di belakangnya terbuka dengan sendirinya. Dari dalamnya keluar bau kertas tua, debu, dan sihir yang sudah lama terkubur.
"Ini adalah Perpustakaan Terlarang," kata Orion. "Tempat semua kebenaran disembunyikan. Dan juga tempat kau akan mati hari ini."
Lyra menarik ujung bajuku. "Jangan dengarkan dia. Kita masuk sekarang."
Aku mengangguk. Kami berlari masuk, dan Orion tidak mengejar kami.
Dia hanya berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. "Aku beri kalian waktu sepuluh menit. Setelah itu, pasukan akan datang."
Pintu batu itu tertutup. DUG.
Suasana langsung menjadi gelap total.
"Lyra?" panggilku.
"Aku di sini," jawabnya. Suara busurnya terdengar saat dia menarik talinya. "Jangan lepaskan tanganku."
Sebuah bola cahaya kecil muncul di telapak tangan Lyra. Ruangan itu menjadi terang perlahan-lahan.
Dan kami berdua ternganga.
Ruangan itu sangat besar. Tingginya mencapai lima lantai. Rak-rak buku menjulang sampai ke langit-langit. Ada tangga yang melayang sendiri, ada buku-buku yang terbang kesana kemari, dan ada rantai besar yang mengikat gulungan-gulungan sihir.
Di tengah ruangan, ada sebuah meja batu. Di atas meja itu tergeletak sebuah buku yang sangat tebal. Sampulnya berwarna hitam, dan tubuhnya diikat dengan rantai.
*"KITAB SEIMBANG"*
Itu tulisan yang ada di sampulnya, dengan huruf emas.
"Gerbang Neraka terbuka karena segelnya melemah," kata Lyra sambil berjalan cepat. "Segel itu dibuat seribu tahun lalu oleh dua raja. Dan bahannya adalah darah."
Aku mengikutinya dari belakang. Tanda di dadaku terasa semakin panas. "Darah siapa?"
"Darah 'Anak Penengah'," jawab Lyra. Dia mulai membuka laci-laci meja. "Anak dari Cahaya dan Kegelapan. Yaitu kau."
Jantungku berdegup kencang. "Jadi aku adalah kuncinya?"
"Dan kau juga adalah ledakannya," kata Lyra pelan. "Jika Gerbang tidak ditutup sebelum tengah malam hari ketiga, maka tubuhmu akan hancur. Dan Gerbang akan terbuka sepenuhnya."
Aku terdiam.
Jadi aku ini bom berjalan.
Tiba-tiba, rak buku di sebelah kami bergerak.
SRET.
Sebuah buku besar melayang dan menghantam ke arah kami.
"Turun!" teriak Lyra.
Kami langsung menghindar. Buku itu menghantam lantai dan pecah menjadi ribuan kertas.
"Buku di sini hidup," kata Lyra. "Jadi hati-hati."
Kami berpisah untuk mencari informasi. Aku pergi ke rak sebelah kiri, dan Lyra pergi ke rak sebelah kanan.
Tanganku gemetar saat menyentuh buku-buku itu. Semuanya tertulis dalam bahasa kuno yang tidak kumengerti.
"Ketemu!" teriak Lyra dari atas tangga melayang.
Dia melompat turun sambil membawa sebuah gulungan perkamen.
"Ini dia catatannya," kata Lyra. Napasnya terengah. "Dengarkan baik-baik. Untuk menutup Gerbang, hanya ada dua cara."
Dia membentangkan perkamen itu di atas meja.
"Cara pertama adalah Pengorbanan. Kau harus mati. Darahmu akan digunakan untuk menguatkan segel selama seribu tahun ke depan."
Dadaku terasa sesak.
"Lalu, cara kedua apa?" tanyaku.
"Cara kedua adalah Penyeimbang. Kau harus memasukkan kedua kekuatanmu ke dalam 'Jantung Gerbang'. Tapi tubuhmu harus cukup kuat untuk menahannya. Jika tidak, maka kau akan meledak bersama Gerbang."
Aku mengepalkan tanganku. "Berarti ujung-ujungnya tetap mati?"
"Tidak," kata Lyra cepat. "Ada cara ketiga. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi tidak ada satu orang pun yang pernah mencobanya. Karena caranya terlalu berbahaya."
Sebelum Lyra sempat menjelaskan lebih lanjut, pintu batu itu mulai bergetar.
DUG. DUG. DUG.
Itu adalah suara langkah kaki. Dan jumlahnya banyak.
"Mereka datang," bisik Lyra. Dia langsung mengambil Kitab Seimbang dari atas meja. Rantai yang mengikatnya patah begitu disentuh.
"Kita harus pergi. Sekarang," katanya.
Kami berlari menuju pintu lain yang ada di ujung ruangan. Namun pintunya terkunci.
"Lyra, di belakang!" teriakku.
Guru Orion sudah masuk. Bersama dengan sepuluh orang penyihir iblis. Mereka semua mengenakan jubah hitam, dan mata mereka berwarna merah.
"Serahkan bukunya," kata Orion. "Atau aku akan mengambilnya dari mayat kalian."
Lyra melempar kitab itu ke arahku. "Kael, tangkap!"
Aku menangkapnya. Buku itu berat, dan terasa panas.
Tanda di dadaku bereaksi. Retakan kecil muncul di sampul kitab, dan dari dalamnya keluar cahaya berwarna abu-abu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Orion. Alisnya berkerut.
"Aku tidak tahu!" kataku panik.
Tiba-tiba, dari kitab itu keluar gelombang energi yang sangat besar.
BUUUUM.
Semua rak buku bergetar hebat. Tangga yang melayang runtuh.
"Ini jebakan!" teriak salah satu penyihir iblis.
"Kesempatan kita," kata Lyra. Dia menarik tanganku. "Lari!"
Kami berlari melewati kekacauan. Buku-buku beterbangan seperti pisau.
Di belakang kami, Orion berteriak. "TANGKAP MEREKA!"
Kami sampai di pintu keluar darurat. Lyra menempelkan telapak tangannya ke pintu.
"Buka!"
Pintu itu terbuka. Kami langsung terjun ke dalam saluran air lagi.
Di belakang kami, perpustakaan itu meledak.
Cahaya berwarna abu-abu menyembur ke langit.
Kami terdampar di tepi sungai bawah tanah. Kami batuk-batuk. Tubuh kami basah dan kotor.
Tetapi kami masih hidup.
Lyra terbatuk. "Kau... baik-baik saja?"
Aku mengangguk. Aku memeluk kitab itu erat-erat. "Kitabnya aman."
Kami terdiam. Hanya terdengar suara air yang mengalir.
"Lyra," kataku. "Cara ketiga itu sebenarnya apa?"
Lyra menatapku dalam waktu yang lama. Wajahnya serius.
"Cara ketiga adalah dengan menyatukan kedua kekuatan tanpa menghancurkan diri sendiri," katanya. "Menggunakan cinta sebagai jangkar."
Aku mengerutkan dahi. "Cinta?"
"Di dalam ramalan itu tertulis," lanjut Lyra. "Hanya 'hati yang memilih' yang bisa menutup Gerbang tanpa harus ada darah yang tertumpah."
Hening.
"Berarti... aku tidak harus mati?" tanyaku pelan.
"Aku tidak tahu," jawab Lyra jujur. "Tapi kita akan mencobanya. Bersama-sama."
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada secercah harapan.
Bukan harapan untuk hidup. Tetapi harapan bahwa aku bisa dipilih.
Tiba-tiba, tanda di dadaku berdenyut dengan sangat keras.
AH.
Aku memegangi dadaku. Retakan pada tanda itu bertambah satu lagi.
"Sudah masuk hari kedua," kata Lyra. Wajahnya menjadi pucat. "Waktu kita hanya tinggal satu hari lagi."
Aku berdiri. Kakiku terasa lemas. "Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu."
Lyra juga ikut berdiri. Dia menyeka wajahnya. "Tujuan kita selanjutnya adalah Menara Mahkota. Tempat itu ada di tengah Jurang Kelam. Di sanalah 'Jantung Gerbang' berada."
"Bagaimana cara kita ke sana?"
"Kita harus melewati perang," jawab Lyra datar. "Karena kedua kerajaan sudah mengerahkan seluruh pasukannya. Mereka akan berperang di sana."
Aku menatap langit-langit gua. Di atas sana, dunia sedang bersiap untuk membunuhku.
Tetapi di sampingku, ada satu orang yang ingin menyelamatkanku.
Aku menggenggam tangan Lyra.
"Kalau begitu, kita ikut berperang juga."
Lyra tersenyum. Senyumnya kecil. "Ya. Kita ikut berperang."
Dari atas kami, suara genderang perang mulai terdengar.
Hari kedua telah dimulai.
BAB 3 - TAMAT