BAB 4. Jembatan tulang
Genderang perang.
Suara itu mengguncang d**a, bahkan dari jarak lima kilometer.
Kami keluar dari saluran air saat fajar menyingsing.
Di depan kami terbentang *Jurang Kelam*. Jurang itu selebar dua kilometer, dan membelah dunia menjadi dua.
Di sisi kiri jurang, berdiri pasukan Kerajaan Aetheria. Mereka mengenakan baju zirah putih, membawa panji emas, dan menunggangi kuda bersayap cahaya.
Di sisi kanan jurang, berdiri pasukan Neraka. Kulit mereka abu-abu, bertanduk, dan membawa tombak yang berlumuran racun.
Dan di tengah jurang itu, hanya ada satu jalan.
*Jembatan Tulang.*
Jembatan itu terbuat dari tulang naga raksasa. Panjangnya dua kilometer, dan lebarnya hanya tiga meter. Di bawahnya tidak ada dasar. Hanya ada kegelapan yang tak berujung.
"Menara Mahkota ada di tengah," kata Lyra. Dia menunjuk ke titik tengah jembatan. "Di sanalah 'Jantung Gerbang' berada."
Aku menatap tanda di dadaku. Retakannya sudah menjalar sampai ke tulang selangka.
"Waktu kita tinggal delapan belas jam," kataku.
Lyra menggenggam tanganku. "Kita pasti bisa."
Kami mulai berjalan menyusuri tepi jurang. Kami tidak bisa melewati tengah, karena sihir perang akan membunuh kami seketika.
Tetapi kami tidak sendirian.
"Berhenti di situ."
Suara itu membuat darahku menjadi dingin.
Guru Orion.
Jubahnya robek. Tanduk di kepalanya sudah tumbuh sepanjang dua puluh sentimeter. Di belakangnya, berdiri lima puluh Iblis Elit.
"Putri Pengkhianat," kata Orion. "Dan Anak Kutukan. Raja memerintahkan agar kami membawa kalian berdua. Hidup atau mati."
Lyra maju selangkah. Busurnya sudah terpasang. "Kalau begitu, majulah."
Aku menariknya ke belakang. "Bahu mu belum sembuh."
"Aku bisa," bisik Lyra. "Percayalah padaku."
Aku menatapnya, lalu mengangguk.
Ini adalah pertama kalinya aku percaya pada orang lain.
"MAJU!" teriak Orion.
Lima puluh iblis itu langsung berlari ke arah kami.
Aku mengangkat tangan kananku. Api Emas menyala.
Aku mengangkat tangan kiriku. Asap Hitam keluar.
Kali ini, aku tidak panik.
Dengan satu ayunan, apiku membakar lima iblis sampai menjadi abu.
Dengan satu hentakan, asapku melempar lima iblis lainnya ke dalam jurang.
Di sampingku, Lyra juga bertarung. Setiap anak panah yang dia lepaskan tidak pernah meleset. Satu anak panah, satu tenggorokan.
"Kalian hebat," kata Orion sambil bertepuk tangan. "Tetapi ini belum selesai."
Dia menghilang.
Lalu dia muncul tepat di belakang Lyra. Cakarnya mengarah ke leher Lyra.
Waktu seakan berhenti.
Tanda di dadaku meledak karena sakit. Darah berwarna emas menetes.
"TIDAK!"
Dari punggungku, sepasang sayap meledak keluar.
Sayap kananku berwarna putih dan bercahaya.
Sayap kiriku berwarna hitam dan berduri.
Dengan satu kali kepakan, aku menabrak Orion. Kami berdua jatuh bersamaan dari tebing.
"Menyerahlah," desis Orion di telingaku. "Darah iblis di dalam dirimu itu lapar."
Aku menatap matanya. "Darahku bukan hanya iblis."
Aku mengepalkan tangan. Api dan Asap kutabrakkan tepat di dadanya.
BOOOOM.
Ledakan itu membelah awan.
Kami terpental ke arah yang berbeda. Aku jatuh di sisi manusia. Orion jatuh di sisi iblis.
Aku batuk darah. Tanda di dadaku semakin retak.
"Kael!"
Lyra melompat turun. Dia langsung memelukku. "Kau bodoh! Kau bisa mati!"
"Aku tidak boleh membiarkan dia menyentuhmu," kataku lemah. "Tidak akan pernah."
Lyra mengangkat tubuhku. "Kita harus pergi. Ke jembatan."
Kami berjalan dengan terpincang-pincang.
Di sekeliling kami, perang sudah dimulai.
Para penyihir saling melempar bola api. Para ksatria saling menusuk.
Tetapi tidak ada satu orang pun yang berani mendekati kami. Aura dari tanda di dadaku membuat mereka takut.
Setiap seratus meter, aku harus berhenti untuk beristirahat.
Dan setiap kali itu, Lyra selalu menyeka darah di bibirku.
"Berapa lama lagi?" tanyanya.
"Dua belas jam," jawabku. "Sampai tengah malam."
Langit semakin memerah. Retakan di langit itu sudah sebesar gerbang istana.
Dari dalamnya, terdengar suara bisikan. Jutaan suara iblis sedang memanggil.
Saat sore tiba, kami akhirnya sampai di pangkal Jembatan Tulang.
Jembatan itu terlihat mengerikan. Tulangnya berwarna putih, dan besarnya seperti rumah. Permukaannya licin.
Dan di bawahnya, hanya ada kegelapan.
Di tengah jembatan, berdiri seseorang.
*Kepala Sekolah Elaina.*
Tetapi ini bukan Elaina yang kami kenal.
Kulitnya mengelupas, dan memperlihatkan otot berwarna hitam. Tanduknya bercabang tiga. Ekornya menyapu lantai tulang.
"Selamat datang, Putra Mahkota," desisnya. Suaranya seperti suara seratus orang yang berbicara bersamaan.
"Ayahmu mengutusku. Untuk mengantarmu pulang."
Lyra mendorongku ke belakang. "Jangan mendekat."
Elaina tertawa. "Kau tidak akan bisa melindunginya, Putri. Dia adalah milik Neraka."
Dia mengangkat tangannya. Dari tulang jembatan, muncul seratus prajurit kerangka.
Pertarungan kedua pun dimulai.
Kali ini terasa lebih berat. Bahu Lyra kembali berdarah. Aku harus membagi tenagaku, untuk melindunginya, dan juga untuk melawan.
Tanda di dadaku semakin terasa panas. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang memanggil dari dalam. Sesuatu yang gelap, dan lapar.
"Kael," bisik Lyra. Lengannya tertusuk. "Lakukan apa yang harus kau lakukan."
Aku memejamkan mata.
Aku teringat malam di gua. Aku teringat tangannya yang menghapus darah di wajahku.
Aku teringat kata "Kael" yang keluar dari bibirnya.
Aku tidak berteriak.
Aku hanya mengangkat kedua tanganku.
Api Emas dan Asap Hitam tidak bertabrakan.
Mereka berputar. Saling mengelilingi satu sama lain.
Hingga akhirnya membentuk pusaran berwarna *abu-abu*.
Pusaran itu meledak.
Seratus kerangka hancur seketika. Elaina terpental dan menjerit kesakitan.
Saat asap menghilang, aku jatuh berlutut.
Lyra langsung memelukku dari belakang.
"Kita... berhasil," bisiknya.
Di depan kami, ada ujung jembatan. Dan juga ada Menara Mahkota.
Pintu menara itu terbuka, seolah sedang menunggu kami.
Namun di langit, retakan itu sudah terbuka setengah.
Tangan-tangan hitam mulai keluar dari celahnya.
"Hari kedua," kata Lyra. "Enam jam lagi."
Aku berdiri, dengan bantuan Lyra.
Kami melangkah menuju Menara.
Dua orang buronan. Dua anak yang dibuang oleh dunia.
Dan kami adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Dari belakang, Elaina berteriak. "Kau tidak akan bisa! Darahmu akan menghancurkanmu!"
Aku tidak menoleh.
Aku hanya menggenggam tangan Lyra lebih erat.
Karena jika aku harus mati,
maka aku ingin mati sambil menggenggam tangannya.
BAB 4 TAMAT