BAB 5: Pintu menara
Angin di atas Jembatan Tulang sangat kencang.
Rasanya seperti ribuan pisau yang menggores kulit, dan setiap tarikan napas terasa perih.
Di depan kami berdiri Menara Mahkota.
Tingginya menjulang sampai menembus awan. Dindingnya berwarna hitam dan putih yang saling bertabrakan, seperti pertarungan abadi antara cahaya dan kegelapan. Di puncaknya, ada retakan langit yang semakin besar. Dari sana, tetesan darah merah jatuh ke tanah, membuat bunyi tes, tes, yang menyeramkan.
"Waktu kita tinggal enam jam," kata Lyra. Suaranya pelan, tapi tegas.
Aku mengangguk. Tanda di dadaku berdenyut seperti mau pecah. Setiap detaknya membuat kepalaku berdenyut.
Kami saling berpandangan.
Tidak ada kata-kata lagi. Hanya ada langkah.
Kami melangkah masuk.
Di dalam menara gelap gulita. Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Hanya ada tangga spiral yang naik ke atas tanpa ujung, dan di tengah ruangan ada bola cahaya berwarna abu-abu yang melayang.
Jantung Gerbang.
Bola itu berdenyut. Dug, dug, dug.
Setiap denyutnya membuat tanda di dadaku ikut sakit. Seolah jantungku dan jantung itu terhubung.
Tiba-tiba, lantai bergetar hebat.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Dari kegelapan, muncul dua sosok yang membuat udara menjadi berat.
Raja Aetheria.
Jubahnya emas, mahkotanya bercahaya seperti matahari. Wajahnya tampan, dingin, dan tanpa emosi. Di tangannya ada tongkat yang ujungnya bercahaya.
Raja Iblis Malvyr.
Tubuhnya besar, hampir tiga meter. Tanduknya bercabang seperti mahkota duri. Matanya merah menyala. Senyumnya sinis, dan di punggungnya ada sayap yang sobek.
Mereka berdua menatapku.
Dua raja. Dua darah. Dua neraka.
"Anakku," kata Raja Aetheria. Suaranya bergema.
"Akhirnya kau datang," kata Malvyr. Suaranya serak.
Aku berdiri di tengah, diapit oleh Lyra. Tangan kami masih saling menggenggam.
"Kalian berdua," kataku. Suaraku bergetar, tapi aku paksa keluar. "Kalian yang menyebabkan semua ini. Perang, kematian, aku dibuang."
Raja Aetheria melangkah maju. Cahaya dari tongkatnya menyinari wajahku.
"Kau harus kembali ke istana. Sebagai pangeran cahaya. Tempatmu adalah di sampingku. Memimpin manusia."
Malvyr tertawa. Suaranya mengguncang dinding.
"Tidak. Dia harus kembali ke Neraka. Sebagai pangeran kegelapan. Tempatmu adalah di singgasanaku. Menghancurkan dunia."
"CUKUP!"
Aku berteriak. Gema suaraku memantul di dinding menara berkali-kali.
Mereka berdua terdiam. Bahkan Jantung Gerbang berhenti berdenyut sesaat.
"Aku bukan milik kalian," kataku. "Aku bukan s*****a. Aku bukan tumbal. Aku bukan perjanjian. Aku Kael. Dan aku memilih jalanku sendiri."
Lyra menggenggam tanganku. Erat. Hangat.
Itu memberiku kekuatan.
Raja Aetheria menyipitkan mata. "Kau tidak punya kekuatan untuk memilih, anak. Kau lahir dari darah kami."
"Benar," jawabku. "Aku tidak punya kekuatan. Tapi aku punya pilihan. Dan itu lebih berbahaya dari kekuatan apa pun."
Aku berjalan ke arah Jantung Gerbang. Setiap langkah membuat dadaku terasa terbakar. Kulitku seperti disayat dari dalam.
Retakan di tanda mahkota sudah menjalar sampai ke leher.
"Jika aku mati di sini," kataku tanpa menoleh. "Gerbang akan tertutup selama seribu tahun. Tapi perang akan terus berlanjut. Kalian akan cari anak lain."
"Jika aku memasukkan kekuatanku," lanjutku. "Aku bisa meledak. Dan kalian berdua akan mati bersamaku. Sekaligus."
Malvyr menggeram. Urat di lehernya menonjol. "Kau mengancam kami?"
"Bukan," kata Lyra. Dia maju selangkah, berdiri di sampingku. "Dia menawarkan jalan ketiga."
Kedua raja menatapnya dengan jijik.
"Jalan apa?" tanya Raja Aetheria dingin.
Lyra menatapku. Lalu dia menatap mereka. Matanya tidak gentar.
"Cinta," katanya. "Ramalan itu bilang, hanya hati yang memilih yang bisa menutup Gerbang tanpa darah. Bukan pengorbanan. Bukan kehancuran. Tapi pilihan."
Hening.
Bahkan suara tetesan darah dari atas berhenti.
Malvyr tertawa sinis. "Cinta? Omong kosong manusia lemah."
"Kalau begitu buktikan bahwa kalian lebih kuat dari omong kosong itu," kataku. Aku menatap mereka berdua. "Tanda tangani perjanjian damai. Sekarang. Di sini. Di depan Jantung Gerbang."
Aku mengeluarkan belati kecil dari pinggangku. Tanganku gemetar.
Lalu aku menyayat telapak tanganku. Darah merah menetes ke lantai batu. Tes, tes.
"Aku anak kalian berdua. Dan aku menolak kebencian kalian. Jika kalian benar-benar ayahku, maka buktikan."
Raja Aetheria terdiam lama. Wajahnya tidak bisa k****a.
Lalu dia mengeluarkan belati emasnya. Dia juga menyayat telapak tangannya. Darah emas keluar, bercahaya.
"Aku setuju," katanya pelan. "Demi perdamaian. Dan demi kau."
Malvyr mendengus. Dia menatapku, menatap Raja Aetheria, lalu menatap darah kami.
"b******k," geramnya. Akhirnya dia mencakar telapak tangannya sendiri. Darah hitam menetes, mengepul.
"Aku setuju. Bukan untukmu. Untuk menghindari aib bahwa anakku lebih berani dariku."
Begitu tiga tetes darah itu jatuh ke lantai dan bersentuhan, Jantung Gerbang bergetar hebat.
Cahaya abu-abu menyelimuti seluruh menara. Cahaya itu hangat, tidak panas, tidak dingin.
Di atas kami, retakan di langit mulai menutup. Perlahan.
Garis hitam itu menyatu. Suara geraman iblis memudar.
Aku jatuh berlutut. Tenagaku habis. Seluruh tubuhku terasa kosong.
"Kael!"
Lyra menangkapku sebelum kepalaku menghantam lantai.
"Berhasil?" tanyaku lemah. Napasku tersengal.
"Berhasil," bisik Lyra di telingaku. Air matanya jatuh di pipiku. "Kau berhasil. Kau menyelamatkan semua orang."
Raja Aetheria berjalan mendekat. Dia menatapku dari atas.
"Kau akan ikut denganku. Belajar menjadi raja."
"Tidak," kata Lyra. Dia berdiri di depanku, melindungiku. "Dia bebas memilih."
Raja Aetheria menatap Lyra lama. Lalu dia menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa." Dia menatapku. "Pintu istana selalu terbuka untukmu, anak."
Malvyr juga mendekat. Dia menatapku dari atas. Bau belerang keluar dari tubuhnya.
"Mata dan keras kepalamu mirip ibumu," katanya pelan. Ada sedikit nada bangga.
Lalu dia berbalik. Sayapnya terbentang dan dia terbang menembus lubang di atap, kembali ke arah Neraka.
Aku ditinggal sendirian. Di tengah menara. Bersama Lyra.
Di luar, suara perang berhenti.
Tidak ada lagi teriakan. Tidak ada lagi sihir.
Digantikan suara orang-orang yang menangis dan berpelukan.
Perang, selesai.
Aku bersandar di bahu Lyra. Badanku terlalu berat.
"Jadi, kita mau ke mana sekarang?" tanyaku.
"Ke mana pun kau mau," jawab Lyra. Dia tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyumnya lebar dan tulus. "Rumah."
Aku menutup mata.
Tanda di dadaku tidak sakit lagi.
Hanya ada hangat. Hangat dari tangan Lyra yang menggenggam tanganku.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam seribu tahun,
langit di atas Aetheria berwarna biru.
Tanpa retakan.
Tanpa darah.
Hanya ada bintang. Dan angin yang tenang.
BAB 5 - TAMAT