"Apa ibu kucing juga menungguku?" Bian menatap Dine penuh harap.
Dine menahan senyum sambil berdiri di ambang pintu. Seharusnya ia menjawab tidak. Lelaki itu datang untuk melihat Dre, bukan menemuinya. Namun jantungnya yang berdebar sejak menerima pesan kepulangan Bian membuat kebohongan sederhana itu terasa sulit diucapkan.
"Ibu kucing sedang memastikan pasiennya tidak dijemput sembarang orang," jawab Dine. "Masuklah. Jangan berisik, hewan-hewan lain sudah tidur."
Bian mengikuti Dine melewati pet shop yang gelap. Hanya lampu lorong serta ruang perawatan yang dinyalakan. Ia memperhatikan rambut Dine yang diikat seadanya dan pakaian rumah yang tertutup kardigan. Penampilannya jauh lebih sederhana daripada saat mengenakan jas dokter, tetapi justru membuat Bian kesulitan mengalihkan pandangan.
"Kamu baru tiba dan langsung ke sini?" tanya Dine.
"Aku sudah berjanji akan datang malam ini."
"Besok pagi juga bisa."
"Besok terlalu lama."
Dine membuka pintu ruang perawatan agar tidak perlu menanggapi kalimat itu. Dre yang sedang berbaring langsung mengangkat kepala ketika mendengar suara mereka.
"Halo, little fighter." Bian mendekati kandang dan mengulurkan tangannya. Dre mengendus jari Bian sebelum mengeong pelan. "Ayah pulang."
"Kondisinya sudah jauh lebih baik. Hasil darahnya juga membaik. Kalau malam ini tidak ada masalah, besok Dre boleh pulang," jelas Dine.
"Pulang ke mana?"
"Tentu saja ke rumahmu. Kamu sudah memutuskan mengadopsinya."
Bian terdiam. Kediaman keluarga Emery memiliki staf yang dapat merawat puluhan kucing, tetapi Dine mengenalnya sebagai relawan biasa. Ia tidak dapat begitu saja menjelaskan rumah besar dan orang-orang yang bekerja untuknya.
"Tempat tinggalku belum siap untuk kucing," katanya akhirnya.
Dine mengerutkan kening. "Kamu mengadopsi hewan tanpa mempersiapkan tempat?"
"Aku menemukannya dalam keadaan sekarat. Saat itu yang kupikirkan hanya menyelamatkannya."
"Setelah itu kamu punya beberapa hari untuk mempersiapkan."
Nada Dine berubah menjadi serius. Bian menyadari kecantikan dokter itu dapat membuatnya lupa bahwa perempuan di hadapannya memiliki standar tegas tentang kesejahteraan hewan.
"Aku akan mempersiapkannya besok," kata Bian. "Tempat makan, pasir, kandang perjalanan, pemeriksaan keamanan rumah. Beri aku daftar lengkap."
"Bukan hanya membeli barang. Dre perlu lingkungan tenang dan orang yang benar-benar hadir."
"Aku akan hadir."
Dine menatapnya seolah menilai apakah perkataan tersebut dapat dipercaya. Bian tidak mengalihkan mata.
"Kalau belum siap, Dre bisa tinggal di pet hotel beberapa hari," kata Dine. "Tapi kamu tetap harus datang agar dia mengenalmu."
"Aku akan datang setiap hari."
"Untuk Dre?"
"Untuk dua Dre."
Dine memalingkan wajah, tetapi senyumnya telanjur terlihat. Ia memeriksa cairan dan mencatat suhu Dre. Bian berdiri di sampingnya, cukup dekat untuk mencium aroma sabun dari rambut Dine.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Dine.
"Pekerjaannya selesai untuk sementara."
"Pekerjaan apa? Kamu bilang relawan, tapi bepergian ke Australia dan Selandia Baru secara mendadak."
Bian tahu pertanyaan itu akan datang. "Aku juga membantu usaha keluarga yang berhubungan dengan peternakan."
"Membantu sebagai apa?"
"Banyak hal."
"Jawabanmu tidak menjelaskan apa pun."
"Aku akan menceritakannya. Hanya bukan malam ini."
Ekspresi Dine sedikit berubah. "Aku tidak suka rahasia."
Kalimat itu menusuk lebih dalam karena Bian tahu perempuan tersebut sedang dikelilingi rahasia. Banan menyembunyikan perselingkuhan. Sahabat Dine menyembunyikan pengkhianatan. Bian sendiri menyembunyikan nama serta kedudukannya.
"Rahasiaku tidak akan membahayakanmu," kata Bian.
"Semua orang yang menyimpan rahasia mungkin mengatakan begitu."
Ponsel Dine bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal kembali muncul.
Jangan merasa menang hanya karena dia datang menemuimu.
Dine membaca pesan itu dua kali. Warna wajahnya berubah.
"Ada apa?" tanya Bian.
"Bukan apa-apa."
Dine membalikkan ponselnya, tetapi Bian sempat melihat beberapa kata. Ia tidak mengambil perangkat itu atau memaksa Dine memperlihatkan isinya.
"Kalau seseorang mengganggumu, kamu bisa menceritakannya."
"Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Aku tidak bilang kamu tidak bisa."
Jawaban itu membuat Dine menatapnya kembali. Banan sering menyebut dirinya terlalu perasa setiap kali ia menyampaikan kegelisahan. Bian tidak menolak perasaannya, meski belum mengetahui masalahnya.
Terdengar bunyi dari luar. Bian refleks bergerak ke depan Dine. Bayangan seseorang melintas di balik kaca pet shop, lalu menghilang.
"Mungkin hanya orang lewat," kata Dine, walaupun suaranya tidak meyakinkan.
Bian memeriksa pintu depan. Tidak ada siapa-siapa. Di tepi jalan, sebuah mobil berwarna gelap baru saja bergerak menjauh. Ia tidak melihat nomor kendaraan, tetapi bentuk mobil itu terasa familier.
Saat kembali ke ruang perawatan, Dine sudah memasukkan ponselnya ke saku.
"Aku akan pulang setelah memastikan pintu serta jendela terkunci," kata Bian.
"Tidak perlu. Aku sudah biasa tinggal sendiri."
"Kebiasaanmu tidak membuat bayangan tadi hilang."
Dine hendak membantah, tetapi suara Dre membuat keduanya menoleh. Kucing kecil itu berdiri dengan kaki yang masih goyah dan mencoba mendekati tangan mereka.
Bian serta Dine bersamaan mengulurkan jari. Dre menyentuh keduanya dengan hidungnya.
"Dia memilih kita," bisik Bian.
"Dia mencari makanan."
"Biarkan aku menikmati khayalanku sebentar."
Dine tertawa kecil. Ketegangan di ruangan itu berkurang, walaupun pesan misterius masih berada dalam sakunya.
Setelah memeriksa semua pintu, Bian berdiri di depan flat Dine. Ia tidak meminta masuk lebih jauh.
"Kunci pintunya setelah aku pergi."
"Iya, Ayah Kucing."
"Besok aku datang membawa semua perlengkapan Dre."
"Jangan membeli sembarangan. Aku kirimkan daftarnya."
Bian berjalan mundur beberapa langkah. "Selamat malam, Ibu Kucing. Dan untuk menjawab pertanyaanku tadi—"
"Aku tidak menjawab apa pun."
"Senyummu sudah menjawab."
Dine langsung menutup pintu, tetapi Bian sempat melihat pipinya memerah.
Di balik pintu, Dine bersandar sambil mendengarkan langkah Bian menjauh. Ia baru mengenal lelaki itu beberapa hari, tetapi keberadaannya sudah mengacaukan batas yang selama ini ia banggakan. Dine menyentuh cincin pertunangannya dan mengingatkan diri bahwa rasa nyaman bukan izin untuk mengkhianati sebuah janji. Sayangnya, cincin itu tidak lagi mampu menghilangkan pertanyaan tentang Banan.
Begitu kunci diputar dari dalam, senyum Bian lenyap. Ia menghubungi Zhian.
"Cari rekaman kamera di sekitar Animalia Pet World. Ada mobil yang baru pergi. Aku ingin tahu siapa pemiliknya."
"Ada masalah, Bos?"
Bian menatap jalan yang kembali sepi. "Aku belum tahu. Tapi seseorang sedang mengawasi Dine."