Pagi berikutnya, Dine terbangun dengan ponsel masih berada di tangannya. Ia telah membaca pesan misterius itu berkali-kali tanpa menemukan arti yang pasti.
Jangan merasa menang hanya karena dia datang menemuimu.
Siapa yang dimaksud dengan dia? Bian? Kalau benar, bagaimana pengirim mengetahui Bian datang? Pesan itu masuk saat mobil gelap melintas di depan klinik. Berarti seseorang memang memperhatikan mereka.
Dine mempertimbangkan memberi tahu Banan, tetapi urung. Banan mungkin melarangnya bertemu Bian dan mengubah persoalan itu menjadi kecemburuan. Ia juga tidak ingin menjelaskan mengapa kedatangan Bian malam-malam membuatnya begitu senang.
Menjelang siang, Banan datang membawa katalog tempat pernikahan. Ia mencium kening Dine, lalu duduk seolah tidak pernah mengabaikan telepon dan janji.
"Aku sudah memilih tiga tempat yang bisa kita lihat minggu depan," katanya.
"Bukannya kamu menyerahkan pilihan tempat kepadaku?"
"Aku hanya membantu."
Dine membalik halaman katalog tanpa minat. Dalam salah satu foto terdapat taman besar dengan panggung putih. Ia membayangkan berdiri di sana bersama Banan, tetapi bayangan itu tidak lagi memberikan kehangatan.
"Kamu masih ingin menikah denganku, kan?" tanya Banan tiba-tiba.
Dine mengangkat kepala. "Kenapa bertanya seperti itu?"
"Akhir-akhir ini kamu sering curiga. Aku takut kamu berubah pikiran."
"Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa kamu takut?"
Banan menegang. "Kamu mulai lagi."
"Aku hanya bertanya."
"Dan aku sudah menjawab berkali-kali. Masalah kantor membuatku sibuk."
Ponsel Banan bergetar di atas meja. Nama pengirim tidak terlihat karena layar hanya menampilkan pemberitahuan dari aplikasi yang dikunci. Banan segera memasukkannya ke saku.
"Siapa?" tanya Dine.
"Orang kantor."
"Orang kantor yang mana?"
"Kenapa aku harus melaporkan setiap pesan?"
Nada tinggi itu membuat salah satu staf yang melintas menoleh. Dine menahan diri agar tidak memperpanjang pertengkaran di depan pegawainya.
Banan berdiri. "Aku kembali ke kantor. Kita bicara saat kamu sudah tidak emosional."
"Aku tidak emosional, Banan."
Namun lelaki itu telah pergi. Dari balik kaca, Dine melihat Banan berjalan menuju mobil. Sesaat sebelum masuk, Banan berhenti dan menoleh ke seberang jalan. Seolah memastikan tidak ada yang melihatnya.
Tidak lama setelah mobil Banan menghilang, sebuah kendaraan pengantar berhenti. Empat orang menurunkan kandang, tempat memanjat, pasir, makanan, mainan, serta berbagai perlengkapan kucing dalam jumlah berlebihan.
"Ini semua atas nama Bian SE," kata petugas.
Dine menekan pelipis. Ia mengirim pesan kepada Bian.
Dine: Kamu mau membuka pet shop saingan di rumahmu?
Bian: Aku mengikuti daftar yang kamu kirim.
Dine: Daftarnya berisi pilihan, bukan berarti semuanya dibeli.
Bian: Sekarang Dre punya pilihan.
Dine: Kamu dimana?
Bian: Di tempat kerja. Aku datang sore.
Dine: Jangan lupa, Dre belum boleh pulang sebelum aku melihat tempat tinggalnya.
Bian: Dokternya mau datang ke rumahku?
Dine baru menyadari akibat kalimatnya. Ia tentu harus memastikan rumah pengadopsi aman, tetapi pergi ke rumah lelaki yang baru dikenal terasa tidak pantas.
Dine: Kirim foto dan video saja.
Bian: Baik, Dokter Galak.
Di lantai teratas Emery Holding, Bian tersenyum membaca pesan tersebut. Zhian berdiri di hadapannya membawa tablet berisi rekaman kamera.
"Mobil yang semalam melintas menggunakan pelat palsu," kata Zhian. "Tapi kami mengikuti pergerakannya melalui beberapa kamera jalan. Mobil masuk ke parkiran gedung Emery Holding pagi tadi."
Bian menatap layar. "Karyawan kita?"
"Kemungkinan. Rekaman parkiran menunjukkan pengemudinya perempuan, tetapi wajah tertutup masker dan topi. Mobil terdaftar atas nama perusahaan sewa."
"Cari siapa yang menyewa tanpa melanggar akses data pribadi. Gunakan dokumen resmi dari pengelola parkir."
Zhian mengangguk. "Ada satu hal lagi. Logan mengirim laporan awal dari Abram Creeks. Salah satu kamera di area utara dimatikan dua hari sebelum serangga pembawa virus ditemukan."
"Siapa yang punya akses?"
"Tiga orang. Manajer operasional, kepala keamanan, dan teknisi sistem. Teknisi mengaku menerima perintah pemeliharaan melalui surel."
"Dari siapa?"
"Alamatnya menyerupai alamat kantor pusat kita, tetapi domainnya berbeda satu huruf."
Bian berdiri dari kursinya. Sabotase itu disusun oleh seseorang yang mengenal sistem internal Emery. Kemunculan wabah dan kebocoran di Jakarta mungkin merupakan bagian dari masalah yang lebih besar.
"Periksa hubungan keuangan ketiga orang itu. Jangan menuduh sebelum ada bukti," perintah Bian.
Zhian hendak keluar, tetapi Bian menghentikannya.
"Bagaimana pemeriksaan Banan Aleric?"
"Secara pekerjaan, ada beberapa transaksi promosi yang sedang diaudit. Secara pribadi..." Zhian ragu. "Dia beberapa kali bertemu seorang perempuan di gedung ini dan di apartemen. Saya belum memasukkan namanya karena Anda meminta bukti lengkap."
"Aku melihat mereka sendiri di rooftop."
"Masalahnya bukan hanya perselingkuhan. Perempuan itu memiliki akses ke bagian komunikasi internal. Jika dia orang yang sama dengan pengemudi mobil semalam, dia mungkin tahu pergerakan Anda."
Bian menatap foto buram di tablet. Bentuk tubuh perempuan itu menyerupai sosok di rooftop, tetapi wajahnya tidak terlihat.
"Jangan sampai Dine berada dalam bahaya karena urusan perusahaan atau karena lelaki itu," katanya.
"Anda mau memberitahunya?"
Bian terdiam. Mengungkap perselingkuhan tanpa bukti yang dapat diperlihatkan hanya akan membuat Dine menganggapnya hendak merusak pernikahan. Terlebih Bian juga belum jujur mengenai identitasnya sendiri.
"Belum," jawabnya. "Tapi aku akan memastikan apa yang sebenarnya terjadi."
Sore itu, ketika Bian keluar melalui lift khusus, sesosok perempuan berdiri di balik kaca koridor lantai lain. Ia melihat mobil Bian meninggalkan gedung, lalu mengirim sebuah pesan.
Perempuan itu menunggu sampai pintu lift tertutup sebelum beranjak. Kartu aksesnya digenggam terlalu kuat hingga meninggalkan bekas pada telapak tangan. Selama ini ia yakin dapat memisahkan urusan Banan, persahabatannya dengan Dine, dan pekerjaan di Emery Holding. Kedatangan Bian merusak semua batas palsu tersebut. Jika sang pemilik perusahaan mulai memperhatikan, kebohongan mereka tidak akan bertahan lama.
Dia menuju tempat Dine lagi.
Balasan datang dari ponsel rahasia Banan.
Jangan lakukan apa-apa. Aku akan mengurusnya.
Perempuan itu membaca balasan tersebut dengan senyum pahit. Banan selalu berkata akan mengurus semuanya, padahal yang dilakukannya hanya menunda pilihan sambil mempertahankan dua perempuan sekaligus. Kali ini ia tidak yakin masih mau menunggu perintah.