Suatu pagi Bian menemukan pintu balkon apartemen terbuka sedikit. Angin masuk tipis, menggerakkan tirai, dan membawa bau embun bercampur aspal basah dari jalan di bawah. Ia berdiri beberapa detik menatap celah itu sambil mengingat kapan terakhir kali menguncinya.
Dre tidak berada di tempat tidurnya, bawah sofa, atau ruang lain. Bian memeriksa keranjang kain di sudut, lemari yang pintunya sering ditinggal terbuka, bahkan kolong ranjang yang biasanya menjadi tempat sembunyi favorit. Pengaman jendela masih utuh, tetapi jejak kaki kecil terlihat di balkon yang terhubung dengan jalur perawatan gedung.
Ada rasa dingin yang menjalar dari tengkuk sampai ujung jari. Bian pernah menghadapi ruang rapat berisi orang yang ingin menjatuhkannya, dan tidak satu pun terasa seperti pagi itu, ketika sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan hilang tanpa suara.
Bian menghubungi pengelola, keamanan, dan Dine. Kepanikan membuat perintahnya bertumpuk sampai Zhian memintanya berhenti dan membagi pencarian berdasarkan lantai. Zhian berbicara dengan nada datar yang sengaja, menyebut nomor lantai satu per satu, lalu menempelkan denah gedung di meja makan.
Bian menyadari suaranya sendiri terlalu keras. Ia menarik napas, menurunkannya, dan membiarkan orang lain memegang urutan. Itu bukan kebiasaannya, dan pagi itu ia terpaksa berlatih.
Dine datang membawa kandang, makanan beraroma kuat, dan kain yang biasa dipakai Dre. Ia tidak berlari, tidak bertanya banyak, dan langsung meletakkan barang-barangnya di lantai lift seperti orang yang sudah sering melakukan ini.
"Jangan berteriak terus. Kucing yang takut justru bersembunyi," katanya.
Bian menutup mulut. Ia baru sadar sudah setengah jam memanggil nama Dre di koridor, dan setiap panggilan itu mungkin mendorong kucingnya makin dalam ke tempat gelap.
Mereka mencari dari lantai ke lantai. Koridor berbau pengharum ruangan murah. Lampu darurat berkedip di dekat tangga. Dine berjalan pelan, berhenti setiap beberapa langkah, dan meletakkan sedikit makanan di sudut-sudut yang lembap. Bian menyalahkan dirinya karena tidak memeriksa pintu balkon setelah petugas membersihkan kaca.
"Cari dulu. Menyalahkan diri nanti kalau masih perlu," kata Dine.
Kalimat itu terasa kasar dan menenangkan pada saat yang sama. Bian menurut. Ia menghitung pintu, mencatat lantai yang sudah diperiksa, dan berhenti menceritakan kesalahannya sendiri kepada siapa pun yang lewat.
Di lantai delapan, seorang penghuni membuka pintu dan menawarkan memeriksa gudang kecil miliknya. Di lantai lima, seorang anak menunjuk arah tangga darurat sambil berkata ada suara mengeong semalam. Semua petunjuk itu dikejar, sebagian buntu, dan waktu terasa berjalan dua kali lebih lambat daripada jam di dinding lift.
Dua jam kemudian terdengar suara lirih dari ruang mesin. Suaranya hampir tenggelam oleh dengung kompresor dan bunyi pipa yang memuai. Dine mengangkat tangan meminta semua orang diam. Dre terjebak di balik pipa dan tidak berani keluar. Matanya memantulkan cahaya senter, bulunya kotor oleh debu abu-abu.
Bian ingin menariknya, tetapi Dine menghentikan. Tangannya menyentuh lengan Bian, cukup untuk menahan, tidak lebih dari itu.
"Biarkan dia mengenali suara dan aroma."
Dine duduk di lantai, berbicara pelan, dan meletakkan makanan. Ia menaruh kain milik Dre di dekat celah, lalu diam. Bian belajar sesuatu di menit itu: menunggu ternyata bisa menjadi bentuk usaha yang paling sulit. Dre akhirnya merangkak keluar, ragu, berhenti dua kali, lalu menempelkan kepalanya ke kain. Salah satu kakinya lecet, tetapi tidak patah.
Bian memeluk kandang setelah Dre dimasukkan. Dadanya naik turun, dan suaranya keluar tanpa sempat disaring.
"Aku hampir kehilangan satu-satunya alasan kamu mau menemuiku dulu."
Dine menutup pengait kandang, lalu menoleh.
"Dre bukan alat hubungan kita."
Bian terdiam. Ia mendengar kalimatnya sendiri terulang di kepala dan mengerti kenapa kalimat itu salah.
"Aku tahu. Maaf."
Pemeriksaan dilakukan di klinik. Dine membersihkan luka kecil di kaki Dre, memeriksa suhu, dan menekan perut kucing itu dengan gerakan yang tenang. Bau antiseptik memenuhi ruang periksa. Setelah memastikan Dre aman, Dine membantu Bian menyusun prosedur baru dengan pengelola apartemen. Petugas harus mencatat akses dan pintu balkon diperiksa dua orang.
Dine menuliskan prosedur itu di selembar kertas klinik, bukan di dokumen resmi, supaya siapa pun yang berjaga bisa membacanya dalam sepuluh detik. Ia menempelkan salinannya di sisi dalam pintu balkon. Bian memperhatikan cara perempuan itu bekerja: tidak ada rapat, tidak ada laporan tebal, hanya satu kalimat jelas yang diletakkan di tempat yang benar-benar dilihat orang.
"Aku bisa memindahkan Dre ke rumah utama. Lebih banyak staf," kata Bian.
"Lebih banyak staf tidak otomatis lebih aman. Yang penting tanggung jawab jelas."
Bian memutar ulang kalimat itu sepanjang perjalanan pulang. Ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan menambah orang, menambah biaya, menambah lapisan. Dine baru saja menunjukkan bahwa lapisan yang tidak punya nama pemilik hanya membuat semua orang mengira orang lain sudah memeriksanya.
Bian memilih tetap merawat Dre di apartemen, tetapi mengurangi perjalanan mendadak. Ia menandai jadwalnya sendiri, menolak dua penerbangan yang bisa diwakilkan, dan meminta asistennya berhenti menyusun agenda yang mengharuskannya pergi malam itu juga. Ia juga belajar melakukan pemeriksaan sederhana tanpa mengubah perhatian menjadi kecemasan berlebihan.
Sore itu, Dine duduk di sofa sambil menggendong Dre. Cahaya masuk miring lewat jendela, membuat debu halus terlihat melayang. Dre tidur dengan satu kaki terjulur, seakan pagi tadi tidak pernah terjadi. Bian membuat teh yang terlalu manis dan menyerahkannya dengan wajah orang yang tahu hasilnya tidak bagus.
Dine meminum seteguk, mengernyit, lalu tetap menghabiskannya. Di luar, langit berubah jingga dan suara klakson dari jalan terdengar samar lewat kaca. Ada rasa lelah yang menyenangkan di kaki dan punggungnya, jenis lelah yang muncul sesudah pekerjaan selesai dengan benar. Ia menyadari sudah lama tidak duduk di ruangan mana pun tanpa memikirkan letak pintu keluar.
"Ini pertemuan ketiga kita?" tanyanya.
"Ini keadaan darurat kucing."
Bian tersenyum sedikit, menyandarkan punggung, dan memilih kalimat berikutnya dengan hati-hati.
"Boleh keadaan daruratnya berakhir menjadi makan malam?"
Dine mempertimbangkan. Ia menatap Dre di pangkuannya, lalu ke arah jendela, lalu ke Bian. Ada bagian dirinya yang masih memasang jarak, dan ia memutuskan jarak itu tidak harus berarti menolak semuanya.
Dine mengangguk. "Pesan makanan biasa. Jangan memanggil koki hotel."
Mereka makan dari kotak sederhana di lantai. Nasi masih hangat, kuahnya terlalu asin, dan sendok plastiknya berbunyi setiap kali menyentuh dasar kotak. Tidak ada kamera, pengawal di dalam ruangan, atau rahasia jabatan. Untuk pertama kali sejak berbulan-bulan, ruangan itu hanya berisi dua orang dan seekor kucing yang tidur.
Ketika tangan mereka bersentuhan saat mengambil makanan, keduanya tidak langsung menarik diri. Sentuhan itu berlangsung beberapa detik lebih lama daripada yang bisa disebut kebetulan, dan tidak ada yang berpura-pura tidak menyadarinya.
Dine yang akhirnya melepaskan lebih dahulu. "Perlahan."
"Perlahan," ulang Bian.