Ruang pemeriksaan di lantai tiga itu berbau kopi instan yang sudah dingin dan kertas arsip yang terlalu lama disimpan di lemari besi. Pendingin udara berdengung di sudut, sesekali berhenti, lalu menyala lagi dengan bunyi tersendat seperti orang yang menahan batuk. Dine duduk di kursi yang salah satu kakinya sedikit goyang, menatap meja logam yang permukaannya penuh goresan halus bekas ujung pulpen orang-orang sebelum dia.
Pendamping hukumnya duduk di sebelah kiri, meletakkan map tipis, dan berbisik bahwa Dine boleh meminta jeda kapan pun ia merasa perlu. Dine mengangguk sekali. Di dalam hatinya ia sudah memutuskan tidak akan meminta jeda. Kalau ia berhenti di tengah, ia harus mengumpulkan keberanian yang sama dari awal di hari lain, dan ia tahu persediaannya tidak sebanyak itu.
Dine memberikan kesaksian tambahan dengan pendamping hukum. Ia menceritakan pembuatan kunci tanpa izin, pesan anonim, dan pertemuan terakhir dengan Banan. Ia menyusun urutannya pelan-pelan, menyebut tanggal sebelum menyebut perasaan, karena ia tahu perasaan yang diletakkan lebih dulu membuat orang mengira ia sedang membesar-besarkan.
Ketika sampai pada bagian kunci, jarinya menekan ujung meja tanpa sadar. Ia mengingat bunyi gerendel yang terlalu mulus di malam itu, bunyi yang seharusnya membuatnya curiga jauh lebih awal. Penyidik mencatat tanpa memotong. Suara ketikan di sudut ruangan terdengar seperti hujan kecil yang tidak pernah berhenti.
Penyidik yang duduk di seberang meja meminta Dine mengulang satu bagian: kapan persisnya ia sadar kunci itu digandakan. Dine menutup mata sebentar, mengingat urutan sore itu, dan menjawab dengan menyebut jam serta warna langit di luar jendela, karena hanya itu penanda yang ia punya. Pendamping hukumnya menoleh sekali, memastikan Dine masih baik-baik saja, lalu kembali menunduk ke catatannya sendiri.
Rekaman ruang tamu diserahkan dalam bentuk asli. Dine sengaja tidak memangkas bagian yang membuat dirinya terdengar bimbang, juga tidak menghapus detik-detik ketika suaranya bergetar. Ia ingin berkas itu bekerja sebagai bukti, bukan sebagai pembelaan diri yang sudah dirapikan lebih dulu.
Banan berada di ruangan berbeda, hanya terpisah satu koridor dan dua pintu yang selalu tertutup. Melalui pengacaranya, ia meminta kesempatan meminta maaf langsung. Permintaan itu disampaikan dengan nada sopan, hampir memohon, dan justru karena itu terasa berat di telinga Dine.
Dine menolak. Ia menahan diri untuk tidak menjelaskan panjang lebar, sebab ia tahu penjelasan yang panjang akan terdengar seperti pintu yang masih bisa didorong. Proses hukum bukan tempat untuk memperoleh pengampunan pribadi. Kalau Banan ingin merasa lebih ringan, itu bukan pekerjaan yang boleh dititipkan kepada orang yang ia lukai.
Orin juga menjadi saksi yang bekerja sama. Dine melihatnya sekilas ketika pintu ruang sebelah terbuka: rambutnya diikat asal, matanya bengkak, dan ia memeluk tasnya seperti orang yang kedinginan di ruangan yang sebenarnya panas. Ia mengakui memakai anggaran vendor untuk menyewa mobil dan mengikuti Dine.
Pengacaranya berusaha menggambarkan tindakan itu sebagai kecemburuan tanpa maksud kejahatan. Kalimatnya dipilih hati-hati, dibungkus istilah tentang tekanan pekerjaan dan luka masa kecil, seolah kata-kata itu bisa menipiskan jarak yang sudah terlanjur dilewati.
Penyidik meletakkan pulpennya lebih dulu sebelum menjawab.
"Mengikuti seseorang dan mengawasi rumahnya tetap pelanggaran batas, meski pelakunya merasa sedang jatuh cinta," kata penyidik.
Ruangan itu diam beberapa saat. Dine merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, bukan kemenangan, melainkan kelegaan bahwa akhirnya ada orang berseragam yang menyebut hal itu dengan nama yang benar.
Orin menerima tuduhan penyalahgunaan akses serta keterlibatan dalam transaksi. Setelah pemeriksaan, ia menunggu Dine di lorong tanpa mendekat. Ia berdiri di dekat jendela, dua meter dari jalur berjalan, memberi ruang seakan sedang memperbaiki satu hal kecil yang dulu tidak pernah ia jaga.
Lampu lorong berkedip sekali. Langkah Dine melambat sendiri, bukan karena ia ingin bicara, melainkan karena tubuhnya masih menyimpan kebiasaan lama untuk berhenti setiap kali melihat perempuan itu.
"Aku tidak akan meminta kamu memaafkan," katanya. "Aku hanya ingin bilang aku akan bertanggung jawab."
Dine berhenti. Ia menimbang beberapa kalimat, membuang semuanya, dan menyisakan satu yang paling jujur.
"Bertanggung jawablah karena itu benar, bukan supaya aku kembali menjadi sahabatmu."
Orin menunduk. Bahunya turun sedikit, seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat dan menyadari beban itu memang miliknya sendiri.
"Iya."
Mereka berpisah tanpa salaman, tanpa janji bertemu lagi. Dine berjalan menuju parkiran, menekan tombol kunci mobil dua kali karena tangannya bergetar. Ia menangis di dalam mobil, bukan karena ingin Orin kembali, tetapi karena masih mengingat masa ketika persahabatan itu sungguh terasa nyata. Kaca depan mengembun. Ia membiarkannya sebentar, seolah embun itu memberinya ruang tertutup untuk selesai menangis.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, isinya hanya menanyakan apakah ia boleh menelepon. Dine membalas satu huruf. Bian menelepon setelah mendapat izin melalui pesan.
"Kamu ingin ditemani?"
"Aku ingin pulang sendiri."
"Baik."
Dine menyalakan mesin, menatap jalan keluar gedung, lalu menambahkan sesuatu yang tidak ia rencanakan.
"Tapi boleh tetap bicara sampai aku tiba?"
Bian menemani melalui sambungan. Ia membicarakan Dre yang menjatuhkan pot tanaman dan tidak bertanya tentang isi kesaksian. Ceritanya bertele-tele soal tanah yang berhamburan ke karpet, tentang bagaimana kucing itu duduk di samping pecahan pot dengan wajah tidak bersalah. Dine tertawa kecil di lampu merah kedua, suaranya masih serak.
Di persidangan awal, Banan mengaku menerima komisi ilegal tetapi menyangkal mengetahui sabotase. Ia berbicara dengan kepala tegak, memakai kemeja yang disetrika rapi, seakan pakaian masih bisa mengembalikan sebagian wibawa yang sudah runtuh.
Jaksa menunjukkan rekaman bahwa ia tetap memberi akses setelah mengetahui pengiriman biologis mencurigakan. Layar di ruang sidang memantulkan cahaya biru ke wajah orang-orang di barisan depan. Statusnya bukan perencana utama, tetapi kelalaiannya dilakukan dengan sadar demi uang, dan justru bagian itu yang membuat Dine merasa dingin.
Marcus dan Edrick saling menyalahkan. Keduanya duduk berjauhan, saling menunjuk lewat pengacara masing-masing dengan bahasa yang sopan tetapi tajam. Edrick mengklaim penculikan terjadi karena panik, sedangkan bukti pesan menunjukkan rencana menggunakan Dine sudah disusun sebelumnya.
Kasus itu diperkirakan berlangsung panjang. Jadwal sidang berikutnya disebutkan seperti daftar belanja, berbulan-bulan ke depan. Dine menerima bahwa tidak semua penutupan datang dalam satu putusan. Ia pernah mengira ada satu hari yang akan mengakhiri semuanya sekaligus, dan hari itu ternyata tidak pernah ada.
Saat tiba di rumah, ia mematikan mesin dan duduk sebentar dalam gelap sebelum bicara.
"Aku sudah sampai."
"Istirahatlah."
"Terima kasih karena tidak bertanya."
"Kalau kamu ingin bercerita, aku mendengar. Kalau tidak, aku tetap di sini."
Dine menutup panggilan dengan perasaan tenang. Ia berdiri di depan pintu flatnya, mendengar suara televisi tetangga yang samar, dan menyadari bahunya tidak setegang tadi pagi. Kepercayaan belum penuh, tetapi satu lapisan baru telah diletakkan.