Bian tiba lima belas menit lebih awal di kedai yang dipilih Dine. Tempat itu kecil, berlantai ubin lama, dengan kipas langit-langit yang berputar tidak rata dan bau kopi tubruk yang menempel di dinding. Tidak ada pengawal di meja, meski dua petugas keamanan berjaga di luar dalam jarak wajar. Ia mengenakan pakaian sederhana, tetapi kali ini tidak meminjam sepatu Zhian atau menyembunyikan kendaraan.
Ia memilih meja di dekat jendela, memesan satu gelas, dan tidak menyentuhnya sampai Dine datang. Menunggu tanpa memegang kendali adalah hal baru baginya, dan ia sengaja tidak melawan rasa itu.
Di meja sebelah, dua orang berdebat soal harga cabai. Di belakang mesin kasir, radio memutar lagu lama dengan suara serak. Bian menyadari bahwa dahulu ia akan memilih tempat yang bisa ia kuasai sepenuhnya, tempat yang bisa ia kosongkan dengan satu telepon. Sekarang ia duduk di antara orang-orang yang tidak peduli siapa dirinya, dan itu terasa lebih jujur daripada semua ruangan mahal yang pernah ia pesan.
Dine datang membawa tas kerja. Ia baru selesai memeriksa pasien dan masih mengenakan kemeja dengan logo Animalia Pet World. Ada sedikit bulu putih menempel di lengannya, dan ia tidak repot membersihkannya.
"Abian Savero Emery?" sapanya.
"Adine Edrea?"
Mereka berjabat tangan seperti baru berkenalan. Telapak Bian sedikit dingin karena gelas, dan genggaman itu berlangsung setengah detik lebih lama daripada perkenalan biasa. Kecanggungan itu membuat keduanya tertawa.
Tawa tersebut memecah sesuatu yang sejak tadi menggantung di antara mereka, dan sesudahnya duduk berhadapan terasa jauh lebih mungkin. Dine menaruh tas kerjanya di kursi kosong di sebelah, bukan di pangkuan, dan gerakan kecil itu sendiri sudah merupakan keputusan untuk tinggal lebih lama.
"Mulai hari ini tidak ada identitas yang disingkat untuk menyesatkan," kata Dine.
Bian mengangguk. Ia meletakkan ponselnya menelungkup di meja, jauh dari jangkauan tangannya sendiri. Ia menceritakan hidupnya di Abram Creeks, kematian kedua orang tuanya, dan alasan menghindari sorotan. Suaranya melambat di beberapa bagian, terutama ketika menyebut tahun-tahun sesudah pemakaman. Dine mendengarkan tanpa menganggap trauma sebagai pembenaran atas kebohongan.
Ia tidak menyela, tidak menyentuh tangan Bian untuk menenangkan, dan tidak memberikan kalimat penghibur yang mudah. Ia hanya menunggu sampai lelaki itu selesai bicara.
Ada bagian cerita yang membuat Dine ingin marah untuk anak lelaki di dalamnya, dan pada saat bersamaan tetap ingat perempuan yang berdiri di area akad beberapa bulan lalu, kaget dan dipermalukan di depan banyak orang. Dua hal itu tidak saling membatalkan. Ia membiarkan keduanya berdiri bersebelahan tanpa memaksa salah satunya menang.
"Aku bisa memahami kenapa kamu bersembunyi," katanya. "Tetapi memahami tidak sama dengan menyetujui."
"Aku tahu."
Kipas di atas mereka berderak sekali. Seseorang di meja sebelah menuang gula lalu mengaduknya lama-lama.
Dua kata itu, aku tahu, diucapkan tanpa membela diri. Dine mencatat hal tersebut dalam hati. Selama berbulan-bulan ia mendengar lelaki lain menjawab tuduhan dengan penjelasan berlapis sampai kesalahannya tampak seperti kesalahpahaman. Mendengar seseorang berhenti pada pengakuan, tanpa menambahkan apa pun, ternyata terasa seperti udara segar.
Dine juga menjelaskan hubungannya dengan Banan. Ia berbicara pelan, menatap permukaan meja lebih sering daripada menatap Bian. Ia mengakui pernah mempertahankan pertunangan karena takut memulai kembali setelah kehilangan orang tua. Pernikahan terasa seperti janji memiliki keluarga, meski tanda-tanda ketidakjujuran sudah muncul.
Mengucapkannya dengan suara keras ternyata lebih ringan daripada menyimpannya, meskipun ada rasa panas yang naik ke matanya di tengah kalimat.
"Aku tidak mau menjadikanmu bukti bahwa aku sudah melewati Banan," katanya.
"Dan aku tidak mau menjadi penyelamat dalam ceritamu."
Keduanya diam sebentar setelah itu, dan diam tersebut tidak terasa berat.
Pertemuan berlangsung dua jam tanpa sentuhan romantis. Mereka membicarakan hal-hal kecil juga: pasien yang menolak makan, rapat yang terlalu panjang, kebiasaan Dre menyerang tali sepatu. Gelas kedua datang, lalu ikut mendingin. Sesekali salah satu dari mereka berhenti di tengah kalimat karena teringat sesuatu dari malam di gudang, dan yang lain menunggu tanpa memaksa cerita itu keluar.
Dine memperhatikan bagaimana Bian menyebut nama pamannya: pelan, tanpa gelar, tanpa dendam yang dipertontonkan. Ia belum tahu apakah itu tanda sudah selesai atau tanda luka yang ditutup rapat. Untuk sekarang ia memilih tidak menyimpulkan apa pun, karena terlalu cepat menyimpulkan tentang seorang lelaki adalah kesalahan yang sudah pernah ia bayar mahal.
Ketika Bian menawarkan mengantar, Dine menolak karena membawa kendaraan sendiri.
"Boleh aku mengajakmu bertemu lagi?" tanyanya.
"Boleh. Minggu depan, di tempat yang kupilih."
Bian tersenyum. "Itu terdengar seperti kemajuan."
"Itu terdengar seperti jadwal."
Mereka keluar ketika matahari mulai turun dan cahayanya jatuh miring di kaca kedai. Bian membayar di kasir tanpa berdebat soal siapa yang menraktir, dan Dine membiarkannya karena hal sekecil itu tidak layak dijadikan medan pembuktian.
Di parkiran, seorang wartawan mencoba mengambil foto. Ia muncul dari balik mobil dengan kamera sudah terangkat, dan Bian melihatnya lebih dulu. Bian tidak menutupi wajah Dine atau menariknya ke mobil. Ia bertanya apakah Dine ingin menjawab, mengabaikan, atau meminta keamanan membantu.
Pertanyaan itu diucapkan pelan, hanya untuk Dine, dan justru bagian itulah yang paling diingatnya kemudian.
"Aku akan menjawab satu kalimat," kata Dine.
Ia menatap kamera. "Kami sedang berbicara sebagai dua orang dewasa. Tidak ada hubungan yang perlu diumumkan."
Bian tidak menambahkan apa pun. Ia berdiri sedikit di belakang, tangan di saku, membiarkan Dine berbicara untuk dirinya sendiri. Mereka pergi dengan kendaraan masing-masing.
Malam itu, Dine menerima surat pemberitahuan bahwa perkara Banan segera masuk tahap penuntutan. Amplopnya tebal dan resmi, dan ia membukanya sambil masih berdiri di dekat pintu. Ia akan dipanggil sebagai saksi mengenai kunci duplikat dan ancaman.
Ia meletakkan surat itu di meja, di samping tas kerja yang belum sempat dibuka. Lampu dapur menyala satu, dan di luar terdengar sepeda motor lewat lalu menjauh. Ia duduk di kursi tanpa melepas sepatu, membaca kalimat pemberitahuan itu untuk kedua kalinya, dan menyadari bahwa tangannya tidak gemetar.
Menjadi saksi berarti ia harus mengucapkan kembali semuanya di ruangan penuh orang asing: kunci yang pernah ia serahkan dengan sukarela, pesan-pesan ancaman, malam ketika ia dibawa pergi. Tidak satu pun dari itu akan lebih ringan hanya karena hari ini berjalan baik.
Masa lalu belum selesai hanya karena ia mulai menikmati satu sore bersama Bian.