Edrick menjalani perawatan dalam tahanan. Lengannya dibalut, dan seorang petugas berjaga di depan pintu kamar sepanjang hari. Ia menolak berbicara kepada siapa pun kecuali pengacaranya, dan bahkan kepada pengacaranya ia lebih banyak diam. Kemarahan yang ia pelihara puluhan tahun ternyata tidak punya kalimat penutup. Marcus, mantan petugas keamanan, Banan, dan Orin diperiksa dalam perkara terpisah sesuai peran masing-masing. Bukti menunjukkan Banan menerima komisi serta membantu akses dokumen, tetapi tidak mengetahui rencana penculikan atau pembakaran.
Kenyataan itu tidak membuat siapa pun merasa lebih baik. Ada bentuk keterlibatan yang tidak perlu memegang korek api untuk tetap menyalakan api. Banan tidak merencanakan malam di gudang itu, tetapi tanpa kunci yang ia salin diam-diam, malam tersebut tidak akan pernah terjadi dengan cara seperti itu.
Orin bekerja sama dengan penyidik dan mengembalikan seluruh uang yang diterimanya. Ia datang ke setiap panggilan tanpa terlambat, menjawab semuanya, dan tidak sekali pun mencoba memperkecil bagiannya. Kerja samanya dipertimbangkan, tetapi tidak menghapus pelanggaran maupun pengkhianatan pribadi.
Dine mengetahui hal itu dari berkas, bukan dari mulut Orin sendiri, dan ia tidak yakin mana yang lebih ia inginkan.
Dine kembali ke flat setelah sistem keamanan diperbaiki. Ada kunci baru, kamera baru, dan bau cat di sekitar kusen jendela belakang. Malam pertama terasa asing. Setiap suara membuatnya memeriksa pintu: lift yang berhenti di lantai lain, pipa yang berdenting, langkah tetangga di koridor. Ia memutuskan menemui psikolog trauma dan meminta Nola tinggal dua malam, bukan berpura-pura langsung kuat.
Keputusan tersebut terasa lebih sulit daripada menendang lutut seorang lelaki bersenjata. Meminta ditemani berarti mengakui bahwa dirinya belum utuh, dan pengakuan seperti itu tidak pernah nyaman.
Pada pertemuan pertama dengan psikolog, ia diminta menyebutkan satu hal yang paling sering muncul di kepalanya. Ia mengira jawabannya akan berupa pistol atau gudang. Ternyata yang muncul adalah bunyi penyiram air, dan rasa dingin yang tiba-tiba turun dari langit-langit ketika ia tidak tahu apakah masih akan hidup semenit lagi.
Animalia Pet World dibuka bertahap. Hari pertama hanya empat jam, dengan dua staf dan satu ruang periksa. Para pelanggan membawa bunga, tetapi Dine meminta sebagian biaya hadiah dialihkan kepada yayasan yang sempat dievakuasi.
Ia menempelkan pengumuman kecil di dekat kasir, ditulis tangan, tanpa nama sponsor dan tanpa foto dirinya.
Pada hari kedua, seekor kucing tua milik pelanggan lama datang untuk kontrol. Dine mendengarkan jantungnya lewat stetoskop, dan untuk beberapa menit ruangan itu kembali menjadi tempat kerja biasa, bukan lokasi perkara. Ia tidak menyadari betapa ia merindukan hal sesederhana itu sampai suaranya sendiri terdengar normal lagi ketika menjelaskan dosis obat.
Banan mengirim surat permintaan maaf melalui pengacaranya. Kertasnya resmi, bermeterai, dan disusun oleh orang yang dibayar untuk memilih kata. Ia mengakui perselingkuhan, manipulasi, dan pembuatan kunci tanpa izin. Dine membaca sekali lalu menyimpannya sebagai bagian bukti. Ia tidak membalas.
Orin meminta kesempatan bertemu. Dine menolak untuk sekarang.
"Aku belum tahu apakah persahabatan kita bisa kembali," tulis Dine. "Pemulihanku tidak boleh menjadi tenggat untuk pengampunanmu."
Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali sebelum mengirimnya, dan tidak menghapus satu kata pun.
Bian sibuk memulihkan Emery Holding. Pekerjaannya sekarang lebih banyak berupa penjelasan daripada keputusan: menghadap regulator, menemui perwakilan peternak, membaca laporan yang tebalnya sama setiap minggu. Audit terbuka membuktikan tanda tangannya dipalsukan. Produk yang aman kembali didistribusikan setelah pemeriksaan regulator. Ia membentuk komite kesejahteraan hewan dan keamanan biologis yang dipimpin ahli independen, bukan dirinya. Beberapa pemegang saham menganggapnya berlebihan, dan ia membiarkan anggapan itu berdiri tanpa dibantah.
Sebulan berlalu sebelum Bian datang ke klinik bersama Dre. Ia membuat janji resmi dan menunggu seperti pelanggan lain, duduk di kursi ruang tunggu di antara seorang bapak dengan kelinci dan seorang anak yang menggendong kucing dalam keranjang.
Ketika namanya dipanggil, ia berdiri dan berjalan masuk seperti orang yang tidak pernah punya nama besar. Dine memperhatikan hal itu dan tidak berkomentar.
Dre kini sehat dan bertambah besar. Bulunya lebih tebal, dan bobotnya sudah cukup untuk membuat kandang bergoyang. Begitu kandang dibuka, kucing itu berjalan ke arah Dine dan mengeong keras.
"Sepertinya dia masih menganggapmu ibunya," kata Bian.
Dine menatapnya. "Batas rayuan kita belum dicabut."
"Itu laporan perilaku pasien."
Dine tersenyum tipis, lalu buru-buru menunduk ke meja periksa agar senyum itu tidak terbaca terlalu lama. Setelah pemeriksaan, ia mengatakan Dre sehat dan hanya perlu kontrol rutin.
Bian membayar biaya pemeriksaan tanpa meminta perlakuan khusus. Ia mengantre di kasir seperti orang lain dan menyimpan struknya ke saku. Sebelum pergi, ia menyerahkan laporan penghapusan data pribadi yang pernah dikumpulkan tim keamanan. Dokumen itu membuktikan seluruh salinan yang tidak terkait perkara telah dimusnahkan di bawah pengawasan.
"Aku berjanji membangun kepercayaan melalui tindakan," katanya.
"Satu tindakan tidak langsung membangunnya."
"Aku tahu."
Dine memandang Dre yang memainkan ujung jasnya, menarik benangnya dengan cakar kecil yang belum sepenuhnya terkendali. "Aku belum siap memiliki hubungan."
"Aku juga sedang belajar tidak mengubah keinginan menjadi tuntutan."
"Tapi aku mau mengenalmu dari awal. Dengan nama lengkap, pekerjaan sebenarnya, dan tanpa penyelidikan diam-diam."
Bian nyaris tersenyum terlalu lebar. "Sebagai teman?"
"Sebagai dua orang yang belum menentukan apa-apa."
"Aku bisa menerimanya."
"Dan jangan menyewa seluruh restoran untuk pertemuan pertama."
"Aku bahkan belum mengajakmu."
"Aku mencegah sebelum terjadi."
Mereka sepakat bertemu di kedai biasa minggu berikutnya. Tidak ada janji cinta, cincin, atau rahasia yang sengaja disimpan. Hanya nama tempat, hari, dan jam.
Dine menuliskannya di buku jadwal kliniknya, di antara janji vaksin dan kontrol pasca operasi, dengan tinta yang sama. Ia sengaja tidak memberinya tanda khusus. Hal-hal yang diberi tanda khusus cenderung dibebani harapan, dan ia sedang belajar tidak membebani apa pun terlalu cepat.
Ketika Bian membawa Dre keluar, Dine berdiri di ambang pintu. Tempat itu pernah menjadi lokasi ancaman dan kebohongan. Kini pintunya terbuka pada siang hari, dengan staf serta pelanggan bergerak seperti biasa, dan suara mesin cuci kandang berderak pelan dari ruang belakang.
Dine menyentuh bekas pucat cincin yang hampir hilang. Kulit di situ hampir menyamai warna sekelilingnya sekarang. Ia tidak sedang berpindah dari Banan kepada Bian. Ia kembali kepada dirinya sendiri terlebih dahulu.
Baru setelah itu, jika kepercayaan tumbuh, ia akan memilih siapa yang boleh berjalan di sampingnya.