Nola ditemukan pingsan di dapur akibat obat penenang. Gelas air masih berdiri di meja, setengah penuh, dengan bekas bibir di tepinya. Setelah sadar, ia mengatakan Dine dibawa seorang lelaki yang menyamar sebagai petugas keamanan pengganti. Lelaki itu memperlihatkan kartu resmi dan mengatakan lokasi mereka bocor.
Nola menangis saat menceritakannya, bukan karena takut, melainkan karena ia sempat merasa lega ketika membuka pintu. Kartu itu terlihat asli, dengan foto, nomor, dan lambang yang benar. Ia mengulang kalimat tersebut beberapa kali, seakan mencari titik di mana seharusnya ia curiga, dan tidak menemukannya.
Dine sempat mengirim pesan sebelum ponselnya direbut. Pesan itu tidak terkirim, tetapi perangkat merekam lokasi terakhir di jalan menuju kawasan gudang utara.
Petugas memungut ponsel yang pecah itu dengan sarung tangan, memotretnya di tempat sebelum diangkat, lalu mencatat waktu pada lembar yang menempel di papan jalan. Semua dikerjakan tenang dan berurutan, dan justru ketenangan itu yang membuat ruangan terasa semakin sesak.
Bian diberi tahu di ruang aman kantor, sebuah ruangan tanpa jendela dengan dinding berlapis peredam. Ia mendengar kalimat itu sampai selesai, lalu duduk sangat pelan, seperti orang yang takut gerakannya sendiri akan membuat kabar tersebut menjadi lebih nyata. Edrick menghubunginya beberapa menit kemudian melalui panggilan video. Dine terlihat duduk dengan tangan terikat, tetapi sadar.
Di layar, cahaya di belakang Dine kekuningan dan bergoyang. Ada bunyi logam berdentang jauh di belakang, dan Bian menyimpan bunyi itu di kepalanya tanpa sempat berpikir kenapa. Seorang teknisi di sudut ruangan langsung merekam panggilan tersebut, sementara petugas lain menulis setiap suara latar pada papan putih dengan huruf besar-besar.
"Serahkan akses pemulihan tanda tangan digital dan tarik laporan terhadapku," kata Edrick. "Datang sendiri."
Bian menahan kemarahan. "Aku mau bicara dengan Dine."
Kamera diarahkan kepadanya. Rambut Dine lepas dari ikatannya dan menempel di pelipis yang basah, tetapi matanya jernih dan tidak kosong.
"Jangan datang sendiri," kata Dine cepat. "Dia membutuhkanmu hidup untuk membuka—"
Edrick memutus suara dan memukul meja di sampingnya. Suara pukulan itu terdengar sepersekian detik sebelum audio benar-benar mati. Ia tidak menyakiti Dine, tetapi ancamannya jelas.
Bian mengikuti arahan polisi. Setiap dorongan di dadanya menyuruhnya berlari ke pintu, dan setiap dorongan itu ia tahan dengan mengingat satu hal sederhana: yang paling ingin ia selamatkan justru yang paling mudah dikorbankan kalau ia salah melangkah. Ia berpura-pura menyetujui pertukaran sambil menjaga Edrick tetap berbicara. Sinyal panggilan berpindah-pindah melalui pengacak lokasi, tetapi suara kereta barang serta pesawat membantu mempersempit kawasan.
Di gudang, Dine memperhatikan sekeliling. Langit-langitnya tinggi, sengnya berkarat, dan udara di dalam terasa panas serta berdebu. Ikatan tangannya menggunakan kabel plastik yang menggigit kulit setiap kali ia menarik. Sebuah pecahan logam berada dekat kaki kursi. Saat Edrick sibuk berbicara, ia menggesernya perlahan dengan sepatu, sedikit demi sedikit, seperti orang yang sedang tidak melakukan apa-apa.
"Kenapa melibatkan saya?" tanya Dine untuk memperpanjang waktu.
"Karena Abian Emery selalu merasa dapat hidup tanpa siapa pun. Kita lihat apakah kali ini dia masih sedingin ayahnya."
Edrick bercerita bahwa Abram pernah mengambil kendali perusahaan dan mengeluarkannya. Ia berbicara panjang, dengan nada orang yang sudah puluhan tahun melatih pidato ini di dalam kepalanya. Ia merasa bagian warisan dirampas, meski dokumen keluarga menunjukkan kepemilikannya dibeli dengan nilai wajar setelah penyelewengan terbukti.
Dine mendengarkan, dan pada saat yang sama menghitung jarak dari kursinya ke peti kayu, lalu ke dinding tempat kotak merah kecil menempel. Ia sudah terbiasa bekerja sambil mengukur: berapa detik sebelum obat bius bekerja, berapa langkah dari meja periksa ke lemari alat. Kebiasaan itu kini dipakainya untuk hal yang sama sekali berbeda.
Ia juga menyadari sesuatu yang membuat dadanya lebih tenang daripada seharusnya. Selama Edrick masih ingin didengar, selama lelaki itu masih butuh seseorang menyaksikan kemarahannya, ia belum akan melakukan apa-apa. Maka Dine terus bertanya, dan pertanyaan itu adalah alat, bukan rasa ingin tahu.
"Jadi semua ternak dan pekerja itu harus membayar dendam keluarga?" tanya Dine.
"Kerugian dapat dipulihkan."
"Tidak bagi makhluk yang mati."
Edrick marah dan mendekat. Sepatunya berderak di lantai berdebu, dan bayangannya jatuh menutupi Dine. Dine menggunakan kesempatan itu untuk menendang lututnya. Kursi ikut jatuh, tetapi pecahan logam sudah berada di tangannya. Ia memotong kabel sambil berguling di balik peti, menahan pekik ketika sudut peti menghantam bahunya.
Edrick mengeluarkan pistol. Dine tidak berlari lurus menuju pintu. Ia menekan alarm kebakaran di dinding, membuat sirene dan penyiram air menyala. Air dingin turun serentak dari langit-langit, menghantam debu, mengubah lantai menjadi cermin gelap. Suara itu memberi petunjuk terakhir kepada polisi yang berada di kompleks gudang.
Edrick menarik Dine keluar dari persembunyian tepat ketika pintu didobrak. Ia menjadikan Dine perisai. Dine menghentakkan tumit ke kakinya dan menunduk. Polisi menembak lengan Edrick saat pistol diarahkan.
Bian menunggu di pusat komando, bukan menerobos operasi. Ia berdiri di belakang deretan layar, mendengarkan radio, dengan tangan menggenggam tepi meja sampai buku jarinya memutih. Ketika kabar Dine aman datang, lututnya hampir kehilangan tenaga.
Ia tidak bersuara. Ia hanya menunduk sebentar, dan seorang petugas di sebelahnya berpura-pura tidak melihat.
Sepanjang hidupnya ia diajari bahwa orang yang memegang kendali tidak boleh terlihat goyah. Malam itu ia mengerti bahwa aturan tersebut dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah benar-benar menunggu kabar tentang seseorang yang mereka pedulikan.
Ia tiba di rumah sakit setelah Dine diperiksa. Koridornya terang dan berbau antiseptik. Ada memar di pergelangan dan bahu, tetapi tidak ada luka berat.
Bian berhenti di ambang pintu. "Boleh aku masuk?"
Dine mengangguk.
Bian tidak memeluknya sebelum Dine sendiri mengulurkan tangan. Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang dan menunggu, dan menunggu terasa jauh lebih lama daripada seluruh malam itu. Ketika akhirnya mendekat, ia merasakan tubuh Dine masih gemetar.
"Kamu tidak datang sendiri," kata Dine.
"Aku ingin. Tapi itu akan membahayakanmu."
"Terima kasih karena tidak bermain menjadi pahlawan."
"Kamu yang menyalakan alarm dan menyelamatkan dirimu."
Dine menyandarkan kepala sebentar pada dadanya. Rambutnya masih lembap oleh air penyiram, dan bau gudang belum sepenuhnya hilang dari kainnya. "Aku tetap membutuhkan orang lain datang."
"Membutuhkan bantuan tidak menghapus keberanianmu."
Di luar jendela, langit mulai berubah abu-abu. Pelukan itu bukan awal hubungan baru. Ia hanya dua orang yang selamat dari malam panjang dan tidak lagi berpura-pura tidak saling peduli.