Dine dan Bian sepakat mencoba hubungan eksklusif tanpa mengumumkannya kepada media. Kesepakatan itu dibuat di meja dapur flat Dine, di antara dua cangkir kopi yang mulai mendingin, bukan di tempat mewah mana pun. Mereka membicarakannya seperti orang menyusun daftar belanja: pelan, jelas, dan tanpa musik latar.
Mereka tidak menyembunyikan dari orang terdekat, tetapi juga tidak menjadikannya kampanye pemulihan citra Emery. Dine sudah cukup lama menjadi bahan tulisan orang lain. Ia tidak ingin hubungannya berubah menjadi bab penutup yang manis di sebuah artikel yang sebenarnya bicara soal saham.
Nola menjadi orang pertama yang diberi tahu. Ia mendengarkan sambil melipat handuk klinik, berhenti sebentar di tengah lipatan, lalu meneruskan seakan tidak terjadi apa-apa. Baru setelah handuk terakhir selesai, ia bicara.
"Aku senang, tapi aku tetap akan curiga kalau dia membuatmu menangis," katanya.
"Itu hakmu sebagai sahabat," jawab Dine.
Nola mengangguk puas. Ada rasa hangat yang aneh di dada Dine, karena kecurigaan itu justru terasa seperti perlindungan, bukan gangguan.
Mereka melanjutkan pekerjaan seperti biasa: menimbang kucing yang menolak diam, mengganti alas kandang, dan menjawab telepon pemilik anjing yang cemas berlebihan. Di sela itu Nola bertanya hal-hal praktis, seperti siapa yang membayar makan malam dan apakah Dine masih tidur cukup. Pertanyaan semacam itu terasa lebih menenangkan daripada ucapan selamat.
Bian bertemu Nola tanpa staf komunikasi. Ia datang sendiri, memarkir mobilnya di seberang jalan, dan duduk di kursi plastik di ruang tunggu klinik seperti pemilik hewan biasa. Ia menjawab pertanyaan mengenai tempat tinggal, jadwal, keamanan, dan kebiasaannya mengambil keputusan sendiri.
Nola bertanya tanpa basa-basi, mencatat sebagian jawaban di ponselnya, dan tidak berpura-pura sungkan. Bian menjawab tanpa melirik jam, meski Dine tahu ada rapat yang sedang menunggu.
"Kalau Dine bilang tidak, apa yang kamu lakukan?" tanya Nola.
"Memastikan aku mendengar dengan benar, lalu berhenti."
"Jawaban aman."
"Karena pertanyaannya mendasar."
Nola mendengus kecil, tetapi sudut bibirnya naik. Sejak hari itu ia berhenti menyebut Bian dengan nada mengejek.
Hubungan mereka segera diuji ketika Bian harus berada di Australia selama dua minggu untuk restrukturisasi Abram Creeks. Ia memberi tahu Dine lebih awal, bukan sehari sebelum berangkat, dan mengajak berdiskusi mengenai pola komunikasi.
Dine sempat merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya ketika mendengar kata dua minggu. Bukan curiga, melainkan ingatan tubuh dari masa ketika jarak selalu berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Ia memilih menyebut kebutuhannya, bukan ketakutannya.
"Aku tidak membutuhkan laporan setiap jam," kata Dine. "Satu kabar pagi dan satu malam cukup. Kalau ada keadaan darurat, beri tahu saat bisa."
Bian mengikuti kesepakatan. Kabar paginya sering berupa foto langit dari jendela hotel; kabar malamnya kadang hanya satu baris tentang makanan yang tidak enak. Ia tidak mengirim hadiah mahal sebagai pengganti kehadiran.
Di hari kelima, Dine sempat menyadari dirinya menunggu pesan itu lebih daripada yang ia rencanakan. Ia menutup ponsel, memasukkannya ke laci, dan kembali bekerja. Bukan karena menunggu itu salah, melainkan karena ia ingin memastikan hidupnya tidak kembali disusun mengikuti jadwal orang lain. Ketika pesan itu akhirnya datang menjelang malam, ia membacanya dengan tenang.
Dine juga tidak menganggap keterlambatan satu pesan sebagai bukti pengkhianatan; Bian menjelaskan ketika rapat berlangsung lebih lama. Penjelasan itu datang tanpa diminta, singkat, tanpa nada membela diri, dan justru itu yang membuat Dine perlahan berhenti menghitung menit.
Di Abram Creeks, sistem keamanan biologis diperbaiki. Jalur masuk barang dipisah, pencatatan dilakukan dua lapis, dan orang yang memegang kunci tidak lagi sama dengan orang yang menyetujui pengiriman. Pekerja yang sempat dicurigai mendapat pemulihan nama, sedangkan kerugian peternak mitra diganti melalui mekanisme terbuka yang bisa dilihat siapa pun.
Ketika Bian kembali, ia datang ke klinik dengan Dre di dalam tas gendong khusus. Bau pesawat masih menempel di jaketnya. Kali ini Dine memeluknya lebih dulu, cepat, sebelum sempat berpikir panjang. Pelukan itu singkat, tetapi membuat Bian terdiam beberapa detik dengan tangan menggantung di udara.
"Jangan besar kepala," kata Dine.
"Terlambat."
Mereka makan malam di flat Dine. Meja kecil itu terlalu sempit untuk dua piring dan satu wadah sayur, jadi wadahnya diletakkan di kursi ketiga. Bian melihat foto kedua orang tua Dine di rak dan meminta izin mendengar cerita mereka.
Dine menceritakan bagaimana keduanya membangun rumah yang kemudian menjadi Animalia Pet World: dimulai dari satu ruangan depan, satu meja periksa, dan seekor anjing tetangga yang ditolong tanpa dibayar. Suaranya berubah lebih pelan di bagian akhir.
Ia menunjukkan sudut foto tempat ayahnya berdiri memegang papan nama yang catnya belum kering. Ibunya memegang ember, tertawa, rambutnya berantakan kena angin. Bian memandangi foto itu lama, lalu berkata bahwa ia baru mengerti kenapa Dine begitu keras menolak setiap tawaran yang mengubah bangunan tersebut. Dine tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.
"Aku takut semua ini hilang waktu Edrick mengancam membakarnya," katanya.
"Kamu berhasil mempertahankannya."
"Dengan bantuan banyak orang."
"Itu tetap keberhasilanmu."
Menjelang pulang, Bian berdiri di depan pintu. Ia memegang gagang pintu tanpa memutarnya, dan tidak beranjak. Dine tahu lelaki itu menunggu, tetapi tidak mendesak. Tidak ada kalimat rayuan, tidak ada langkah maju yang memaksa jarak menjadi lebih pendek.
Dine merasakan detak jantungnya sendiri di telinga. Ia sadar sedang memilih, dan sadar bahwa memilih adalah hal yang selama ini paling sering dirampas darinya.
"Kamu boleh menciumku," katanya.
Bian bertanya sekali lagi, "Kamu yakin?"
Dine mengangguk. Kecupan pertama mereka lembut dan singkat, hanya beberapa detik, dengan tangan Bian berhenti di sisi wajahnya tanpa menekan. Tidak menjadi ledakan yang menghapus trauma atau keraguan. Hanya sebuah pilihan yang dibuat dengan sadar.
Setelah Bian pergi, Dine bersandar di balik pintu beberapa saat, lalu mengambil ponselnya. Dine menerima pesan dari nomor yang telah lama tidak muncul.
Orin: Aku diterima bekerja di klinik rehabilitasi satwa di luar kota. Aku tidak meminta jawaban. Aku hanya ingin kamu tahu aku mencoba membangun hidup tanpa kembali menyakiti hidupmu.
Dine membaca pesan itu dua kali. Ia menunggu marah datang, dan yang datang hanya lelah yang tenang. Lalu membalas.
Dine: Semoga kamu sungguh berubah. Aku belum siap menjadi sahabatmu lagi.
Orin: Aku mengerti.
Tidak ada balasan lain sesudah itu. Dine duduk di tepi ranjang beberapa menit, memikirkan bagaimana sebuah persahabatan bertahun-tahun bisa selesai dalam tiga baris pesan. Ia tidak merasa kejam. Ia hanya merasa untuk pertama kali menutup sesuatu tepat pada waktunya, bukan setelah terlambat.
Dine mematikan layar dan meletakkan ponsel telungkup di meja. Di luar, mobil Bian belum bergerak. Lelaki itu menunggu sampai lampu flat menyala, lalu pergi tanpa meminta pesan tambahan.
Hubungan mereka bukan rahasia, tetapi juga bukan milik penonton. Untuk pertama kali, Dine menjalani cinta tanpa rencana pernikahan yang terburu-buru dan tanpa kewajiban membuktikan kebahagiaan kepada siapa pun.