Bian mengundang Dine ke kediaman keluarga Emery setelah sebulan mereka berpacaran. Ia menyampaikannya sambil menyiapkan makanan Dre, dengan nada seringan mungkin, seakan takut undangan itu terdengar seperti ujian. Ia tidak menyebutnya acara resmi, tetapi Dine tetap merasa sedang memasuki dunia yang selama ini hanya diceritakan kepadanya.
Gerbang tinggi terbuka pelan tanpa suara. Jalan masuknya panjang, diapit pohon yang dipangkas seragam, dan kerikilnya berbunyi halus di bawah ban. Taman luas terhampar di kanan, dengan air mancur yang airnya jatuh terlalu rapi untuk terasa alami. Staf membungkuk saat Bian lewat, dan gerakan serempak itu membuat langkah Dine melambat.
Ia menyadari tangannya sendiri menggenggam tali tas terlalu erat. Bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya sedang mengukur jarak antara rumah ini dan rumah tempat ia dibesarkan, dan hasil pengukuran itu tidak menyenangkan.
Rumah masa kecilnya mungkin muat dua kali di dalam ruang tamu rumah ini. Dine tidak menganggap itu penghinaan; ia hanya mencatatnya, seperti mencatat suhu ruangan. Yang membuatnya waspada bukan luas bangunannya, melainkan betapa mudah tempat sebesar ini membuat penghuninya lupa bahwa ada dunia lain di luar gerbang.
"Kamu tumbuh di sini?" tanyanya.
"Iya. Tapi sekarang aku lebih sering tinggal di apartemen bersama Dre."
Bian memperkenalkan setiap staf dengan nama, bukan sekadar jabatan. Ia menyebut nama juru masak, penjaga taman, dan perempuan yang mengurus lantai atas, lengkap dengan sedikit keterangan yang menunjukkan ia benar-benar mengingat orangnya. Dine melihat ia dihormati, tetapi juga terbiasa memberi keputusan tanpa dipertanyakan.
Dua hal itu berdampingan di dalam diri Bian, dan Dine mencatatnya diam-diam. Rasa hormat yang tidak pernah ditantang bisa berubah menjadi kebiasaan berbahaya, dan Dine sudah pernah melihat ke mana kebiasaan semacam itu bermuara.
Di koridor menuju sayap timur, seorang pelayan menawarkan mengambilkan tas Dine. Dine menolak halus dan menahannya sendiri. Bian melihat itu, tidak berkomentar, tetapi sesudahnya ia berhenti meminta staf melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa mereka kerjakan berdua. Perubahan kecil itu tidak diucapkan, dan justru karena tidak diucapkan, Dine mempercayainya.
Di ruang kerja Abram Emery, udara terasa lebih dingin dan berbau kayu tua bercampur pengawet furnitur. Rak buku menjulang sampai langit-langit. Bian menunjukkan foto orang tuanya, sebuah bingkai perak yang kacanya bersih tanpa satu pun bekas jari.
Ia menceritakan masa setelah kecelakaan pesawat yang merenggut keduanya dan keputusannya pergi ke Australia. Suaranya berubah lebih pelan, dan ia berbicara sambil menatap foto, bukan menatap Dine.
"Aku pikir kalau tinggal jauh, rumah ini tidak akan terus mengingatkanku bahwa mereka tidak pulang," katanya.
"Berhasil?"
"Tidak. Kenangannya ikut pindah."
Dine memahami kehilangan itu. Ia tahu persis bagaimana rasanya membuka pintu dan setengah berharap ada suara yang menyambut. Mereka duduk dalam diam tanpa mencoba membandingkan siapa yang lebih menderita, dan diam itu terasa lebih dekat daripada semua kalimat penghiburan yang pernah ia terima.
Di luar jendela ruang kerja itu, tukang kebun sedang menyapu daun, dan bunyi sapunya masuk teratur seperti napas. Dine memperhatikan meja kerja yang masih tersusun rapi, pulpen yang tidak pernah dipindah, dan kalender lama yang belum diganti. Rumah ini menyimpan orang yang sudah tiada dengan cara yang sangat sopan, dan mungkin itulah yang dulu membuat Bian ingin pergi sejauh mungkin.
Makan siang disajikan di ruangan yang mejanya terlalu panjang untuk dua orang. Piring diletakkan tanpa bunyi, dan setiap gerakan pelayan seperti sudah dilatih. Makan siang berubah tegang ketika seorang kerabat bernama Helena Emery datang tanpa pemberitahuan.
Helena masuk sambil melepas kacamata hitam, meletakkan tasnya di kursi kosong, dan duduk seolah tempat itu memang disediakan untuknya. Ia memandang Dine dari kepala sampai kaki dan bertanya apakah hubungan mereka akan diumumkan untuk memperbaiki citra perusahaan.
"Dine bukan strategi komunikasi," kata Bian.
"Publik sudah mengenalnya. Lebih baik narasinya dikelola."
Dine merasakan panas naik ke lehernya. Ia menghitung sampai dua, meletakkan sendok dengan hati-hati supaya tidak berbunyi, dan memastikan suaranya keluar tenang.
"Saya tidak membutuhkan narasi keluarga Emery untuk menjelaskan hidup saya."
Helena tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kamu harus terbiasa. Siapa pun yang bersama Abian menjadi bagian dari perusahaan."
"Tidak," jawab Bian. "Pasanganku bukan aset."
Kalimat itu dijatuhkan tanpa suara tinggi, dan justru karena itu ruangan langsung terasa berbeda. Helena mengambil tasnya, mengucapkan basa-basi singkat, lalu pergi dengan langkah yang sengaja dibuat tidak terburu-buru.
Setelah Helena pergi, Dine mengaku merasa kecil di rumah itu. Ia mengatakannya sambil menatap taman di balik jendela, karena mengaku sambil bertatapan terasa terlalu telanjang. Bian hampir mengatakan semua kekayaan tersebut dapat menjadi milik mereka, tetapi menyadari jawaban itu justru menguatkan masalah.
Ia menahan kalimat tersebut di ujung lidah. Menawarkan kepemilikan berarti menyetujui bahwa ukuran seseorang di rumah ini memang ditentukan oleh apa yang dimilikinya. Ia menelan kalimat itu, lalu menggantinya dengan pertanyaan.
"Apa yang kamu butuhkan agar tetap menjadi dirimu ketika masuk ke duniaku?" tanyanya.
Dine menoleh. Ia tidak menjawab cepat, karena pertanyaan itu ternyata pertanyaan pertama yang benar-benar ingin ia jawab sejak masuk gerbang tadi.
"Hak untuk pergi dari acara, menolak wawancara, dan tetap bekerja meski keluargamu menganggap klinikku tidak sebanding dengan Emery."
"Kamu memilikinya."
"Bukan hanya dari kamu. Aku perlu melihat kamu menegakkan itu di depan mereka."
Bian diam sebentar. Ia mengerti bedanya: janji yang diucapkan berdua bisa dibatalkan diam-diam, sedangkan janji yang ditegakkan di depan orang lain menjadi aturan yang bisa ditagih siapa pun.
Ia juga mengerti bahwa Dine tidak sedang meminta perlindungan. Perempuan itu meminta bukti bahwa dirinya tidak akan menjadi bahan tawar-menawar ketika Bian berada di ruangan yang tidak ia hadiri. Perbedaan antara keduanya tipis, tetapi Bian tahu tepat di mana letaknya, dan ia memutuskan tidak akan berpura-pura tidak tahu.
Bian setuju. Malam itu juga ia mengirim aturan tertulis kepada tim keluarga: tidak ada penggunaan nama, foto, klinik, atau hubungan Dine tanpa izin langsung darinya. Ia menuliskannya sendiri, bukan lewat staf komunikasi, dan mengirimkan salinannya juga kepada Dine supaya perempuan itu tahu persis isinya.
Helena memprotes lewat dua panggilan dan satu surat elektronik panjang tentang tata krama keluarga. Aturan tetap diberlakukan.
Dine tidak diberi tahu isi protes itu satu per satu, tetapi ia diberi tahu bahwa protes tersebut ada. Bian menyebutkannya sendiri, tanpa diminta, dan menambahkan bahwa keputusannya tidak berubah. Bagi Dine, dua kalimat itu bernilai lebih daripada seluruh isi rumah tersebut.
Saat pulang, Dine membawa satu foto orang tua Bian yang telah disalin atas izinnya. Ia memegangnya di pangkuan sepanjang perjalanan, hati-hati, seakan kertas itu bisa robek hanya karena guncangan mobil. Sebagai gantinya, ia berjanji memperlihatkan album keluarganya, album tebal bersampul kain yang sudah lama tidak dibuka siapa pun.
Dunia mereka berbeda ukuran, tetapi kehilangan di dalamnya memiliki bahasa yang sama.