Beberapa hari kemudian, sebuah perusahaan properti menawarkan membeli bangunan Animalia Pet World dengan harga tiga kali nilai pasar. Surat penawarannya datang pagi-pagi, dibawa kurir berseragam rapi, dan diserahkan di meja resepsionis di antara kartu vaksin dan struk pembelian pakan.
Dine membacanya sambil berdiri. Angka yang tertulis di sana lebih besar daripada semua uang yang pernah ia pegang seumur hidup, dan justru karena itu terasa seperti tangan yang menepuk bahunya terlalu keras. Ia menolak, tetapi perusahaan tersebut kembali menawarkan kerja sama pembangunan rumah sakit hewan mewah.
Penawaran kedua datang dengan berkas presentasi berwarna: denah tiga lantai, ruang tunggu berpendingin, dan nama merek yang belum ada tetapi sudah dibuatkan logonya. Dine membalik halaman terakhir dan menemukan daftar pemegang saham.
Ruang resepsionis pagi itu ramai. Ada anjing kecil yang menyalak setiap kali pintu terbuka, ada pemilik kucing yang menunggu sambil menghitung uang di dompetnya, dan ada bau makanan basah yang baru dibuka di ruang belakang. Dine menutup berkas presentasi itu dan menaruhnya di bawah tumpukan kartu vaksin, seakan menyembunyikannya dari klinik yang sedang bekerja.
Nama salah satu pemegang sahamnya terhubung dengan Emery Capital. Dine membaca baris itu tiga kali. Sesuatu di dadanya mengeras, cepat, sebelum ia sempat berpikir jernih. Dine langsung mengira Bian berada di belakang tawaran itu.
Sepanjang perjalanan menuju tempat mereka berjanji bertemu, ia menyusun kalimat, membuangnya, lalu menyusun lagi. Ia berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan berteriak, dan hanya sebagian janji itu yang bertahan.
Yang paling mengganggunya bukan angka di surat itu, melainkan pola yang ia kenali. Dulu Banan juga mengatur banyak hal atas namanya, selalu dengan alasan menolong, selalu tanpa bertanya. Dine tahu ia sedang menimpakan wajah lama ke orang yang berdiri di depannya, dan ia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menuduh.
"Kamu ingin memperbesar klinikku tanpa bertanya?" tanyanya saat bertemu Bian.
Bian terlihat benar-benar bingung. Alisnya bertaut, dan ia meminta berkas itu untuk dibaca sendiri. Ia meminta waktu memeriksa, tetapi Dine menganggap jawaban itu sebagai penundaan.
"Aku sudah bilang klinik ini bukan proyek yang perlu kamu selamatkan."
"Dan aku tidak membelinya."
"Perusahaanmu ada di belakang penawaran."
"Emery memiliki investasi di ratusan perusahaan. Itu tidak berarti aku mengetahui setiap proposal."
Dine menarik napas. Kemarahannya belum turun, tetapi ada bagian dirinya yang tahu kalimat itu masuk akal, dan justru kenyataan itu yang membuat semuanya terasa lebih menakutkan.
"Itulah masalahnya. Kekuasaanmu dapat masuk ke hidupku bahkan tanpa kamu menggerakkannya sendiri."
Bian tidak membantah. Ia meletakkan berkas di meja, diam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. Ia mengerti bahwa membantah di titik ini sama saja dengan meminta Dine berhenti melihat apa yang sudah jelas terlihat.
Bian juga menyadari sesuatu yang tidak nyaman: selama bertahun-tahun ia bangga karena tidak mencampuri urusan investasi kecil, dan kebanggaan itu ternyata sama saja dengan tidak mengawasi. Uang keluarganya bergerak sendiri ke tempat-tempat yang tidak pernah ia periksa. Untuk pertama kali ia melihat kekuasaannya bukan sebagai alat, melainkan sebagai arus yang bisa menabrak orang tanpa perintahnya.
Ia meminta tim kepatuhan menyelidiki tanpa membatalkan penawaran secara sepihak. Alasannya sederhana: kalau ia membatalkan lebih dulu, jejaknya ikut hilang, dan mereka tidak akan pernah tahu siapa yang mendorong. Hasilnya keluar dalam sepuluh hari.
Hasilnya menunjukkan Helena mendorong perusahaan properti mengakuisisi klinik agar mudah dikembangkan menjadi jaringan bermerek Emery Animal Care. Ada surat elektronik, ada catatan rapat, dan ada satu lampiran berisi data pribadi Dine yang tidak seharusnya berada di tangan siapa pun di luar dirinya.
Bian marah dan ingin memecat semua orang yang terlibat. Rahangnya mengeras, dan ia sudah mengangkat telepon sebelum sempat berpikir. Dine meminta keputusan mengikuti tata kelola, bukan kemarahannya.
"Kalau kamu menghukum dengan marah, orang berikutnya akan belajar menyembunyikan, bukan berhenti," katanya. Bian meletakkan telepon kembali ke meja.
Helena dicopot dari komite investasi setelah pemeriksaan membuktikan konflik kepentingan dan penggunaan informasi pribadi Dine. Perusahaan properti menarik tawaran serta meminta maaf secara tertulis, dengan surat yang bahasanya kaku dan penuh istilah hukum.
Dine tetap merasa terganggu. Surat maaf tidak menghapus kenyataan bahwa ada orang yang sempat menghitung berapa mudahnya klinik itu berpindah tangan. Ia meminta audit independen terhadap status tanah serta merek Animalia agar tidak mudah disentuh pihak lain.
Bian menawarkan membayar. Tawaran itu keluar cepat, hampir seperti refleks, dan Dine menolaknya dengan sama cepat. Dine memilih biaya sendiri, meski itu berarti menunda pembelian mesin periksa yang sudah lama ia incar.
"Aku boleh membantu tanpa membeli kendali," kata Bian.
"Kali ini bantu aku menemukan tiga auditor. Aku yang memilih dan membayar."
Bian memberikan daftar tanpa rekomendasi tersembunyi. Ia tidak menandai satu nama pun, tidak menelepon lebih dulu, dan menyerahkan kontak apa adanya. Dine memeriksa ketiganya, mewawancarai dua, lalu memilih yang biayanya paling masuk akal.
Audit berjalan tiga minggu. Orang-orangnya datang membawa berkas lama, mengukur batas tanah, dan membuka arsip yang sudah menguning di lemari gudang. Audit menemukan izin perlu diperbarui dan merek belum didaftarkan dalam kelas layanan tertentu.
Dine memperbaikinya satu per satu, menandatangani berkas di sela jam praktik, dan menyimpan salinannya dalam map baru. Ancaman akuisisi justru membuat Animalia memiliki perlindungan hukum lebih kuat daripada sebelumnya.
Nola menempelkan salinan sertifikat merek di dinding ruang staf, setengah bercanda, setengah serius, supaya semua orang tahu klinik itu punya kaki hukum sekarang. Dine membiarkannya. Ada kelegaan tertentu ketika sesuatu yang selama ini hanya dijaga oleh kepercayaan akhirnya dijaga juga oleh dokumen.
Malam ketika berkas terakhir selesai, mereka duduk di ruang tunggu klinik yang lampunya tinggal satu.
"Aku minta maaf karena langsung menuduhmu," kata Dine.
"Kecurigaanmu punya dasar. Sistem keluargaku memang memasuki ruangmu."
"Tetap saja aku seharusnya bertanya sebelum memutuskan kamu bersalah."
Bian tidak menjadikan permintaan maaf itu alat tawar. Ia hanya mengangguk, lalu menuang air ke dua gelas plastik dan menyerahkan satu.
Mereka duduk di kursi tunggu yang busanya sudah tipis, mendengar suara kipas dari ruang rawat inap dan sesekali dengkur pelan seekor anjing yang menginap. Tidak ada yang buru-buru pulang. Malam itu terasa seperti jeda pendek yang mereka izinkan untuk diri sendiri, dan keduanya tahu jeda semacam itu tidak pernah panjang.
Mereka tidak mengubah konflik menjadi bukti bahwa hubungan mereka gagal. Keduanya memeriksa apa yang salah dan memperbaiki bagian masing-masing, seperti dua orang yang membongkar mesin bersama, bukan saling melempar kunci pas.
Namun Helena belum selesai. Ia memberikan dokumen lama kepada media yang menunjukkan tanah Animalia pernah menjadi jaminan utang orang tua Dine.
Judul berita menyebut klinik itu mungkin bukan sepenuhnya milik Dine.