Meja makan di flat Dine berubah menjadi ruang arsip. Ia menurunkan seluruh kotak peninggalan orang tuanya, kotak yang selama bertahun-tahun hanya berpindah dari satu lemari ke lemari lain tanpa pernah benar-benar dibuka. Begitu tutupnya diangkat, bau kertas tua naik ke udara, campuran debu, tinta yang mengering, dan sesuatu yang samar seperti aroma rumah yang lama tidak ditinggali. Dine menyusun map demi map menurut tahun. Tangannya bergerak cepat karena ia tahu, kalau melambat, ia akan berhenti pada foto yang terselip di antara lembaran dan tidak melanjutkan apa pun malam itu.
Sertifikat tanah yang sedang diributkan orang berada di lapisan paling bawah, dilindungi plastik yang sudah menguning. Dine membaca catatan di baliknya dua kali sebelum yakin. Tanah itu memang pernah dijadikan jaminan untuk membangun laboratorium, persis seperti yang diberitakan. Yang tidak diberitakan adalah lembar berikutnya: utang tersebut tercatat lunas setahun penuh sebelum kedua orang tuanya meninggal, lengkap dengan tanggal, nomor rekening, dan cap bank yang tintanya sudah pudar di sudut.
Masalahnya ada pada satu langkah administratif yang tidak pernah diselesaikan siapa pun. Surat pelepasan hak tanggungan memang terbit, tetapi tidak pernah diperbarui dalam arsip digital. Di layar petugas mana pun, tanah itu masih tampak terikat. Dine menatap perbedaan antara kertas di tangannya dan data di sistem, dan menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia hidup di atas kesalahan pencatatan yang hanya menunggu waktu untuk meledak.
Ia menyiapkan penjelasan tertulis, rapi dan tanpa emosi. Media mengabaikan penjelasan itu. Yang mereka kejar adalah kalimat yang lebih enak dibaca, dugaan bahwa Bian akan membayar utang tersembunyi kekasihnya, seolah warisan orang tuanya hanyalah lubang yang menunggu ditutup uang orang lain. Dine membaca judul demi judul dengan rahang mengeras, lalu menutup ponselnya sebelum sempat mengetik balasan yang akan ia sesali.
Ia mengadakan konferensi kecil bersama notaris. Bukan panggung besar, hanya ruang rapat yayasan dengan sepuluh kursi lipat, satu meja panjang, dan pendingin udara yang berdengung terlalu keras. Notaris duduk di sebelahnya, menumpuk berkas asli dalam urutan yang sudah mereka latih sejak pagi. Dine bisa mendengar suara jepretan kamera menumpuk seperti hujan kecil di atas seng ketika ia menarik kursinya.
Ia memperlihatkan bukti pembayaran, satu per satu, tanpa membuka nilai seluruh warisan. Itu keputusan yang ia ambil semalam sebelumnya, dan ia mempertahankannya meski pengacaranya sempat menyarankan sebaliknya. Angka utuh hanya akan menjadi bahan baru untuk ditimbang orang asing, dan ia menolak menyerahkan seluruh isi hidup keluarganya hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak berutang.
"Animalia Pet World dibangun dari aset keluarga saya dan pendapatan usaha. Emery Holding tidak memiliki saham maupun kendali," katanya.
Bian tidak hadir. Itu juga keputusan yang mereka bicarakan, dan bukan keputusan yang mudah baginya. Kalau ia berdiri di ruangan itu, setiap kalimat Dine akan tenggelam di balik namanya, dan besok yang tertulis bukan bukti pelunasan melainkan kehadiran seorang CEO. Maka ia menonton dari kantornya, layar diperbesar, tangan terlipat di depan dada. Ketika seorang wartawan bertanya apakah Dine memanfaatkan hubungannya dengan CEO, Bian merasakan dorongan lama itu datang, dorongan untuk mengangkat telepon dan menyelesaikan semuanya dalam lima menit. Ia menahan diri. Ia membiarkan Dine menjawab dengan suaranya sendiri.
Setelah data pertanahan diperbaiki, pemberitaan mereda secepat ia datang. Sisa persoalannya justru jatuh ke tempat lain. Helena menghadapi pemeriksaan etik tambahan karena menyebarkan dokumen pribadi, dan untuk pertama kalinya nama perempuan itu muncul di berita bukan sebagai penjaga reputasi keluarga, melainkan sebagai pihak yang sedang diperiksa.
Dine bertemu Helena atas permintaan perempuan itu. Ia memilih tempat umum, sebuah kafe hotel dengan langit-langit tinggi tempat suara memantul dan tidak ada percakapan yang bisa disangkal belakangan, dan ia datang ditemani pengacaranya. Helena sudah lebih dulu duduk, punggung tegak, cangkir yang belum disentuh mengepul di depannya.
"Saya hanya ingin memastikan Abian tidak kembali terluka," kata Helena.
Dine meletakkan tasnya pelan di kursi kosong sebelum menjawab, memberi dirinya waktu satu tarikan napas.
"Dengan melukai orang yang bersamanya?"
Helena memutar cangkirnya setengah lingkaran, gerakan kecil yang mungkin tidak ia sadari sendiri.
"Kamu tidak memahami beban nama Emery."
"Dan Anda tidak memahami bahwa Bian bukan anak yang harus dipilihkan hidupnya."
Helena tidak langsung membantah. Ia beralih ke serangan yang jelas sudah disiapkannya, menuduh Dine akan meninggalkan Bian begitu tekanan membesar, menyebut orang-orang seperti Dine selalu pergi ketika sorotan menjadi panas. Dine memperhatikan bahwa tuduhan itu diucapkan tanpa nada tinggi, datar seperti pembacaan laporan. Ia tidak menjanjikan hubungan mereka abadi. Janji semacam itu akan menjadi kebohongan pertama yang ia berikan kepada perempuan ini, dan ia sudah cukup kenyang oleh kebohongan.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi sepuluh tahun lagi. Tapi ketidakpastian tidak memberi Anda hak mengendalikan hari ini."
Pertemuan berakhir tanpa perdamaian. Tidak ada jabat tangan, tidak ada kalimat penutup yang melunakkan apa pun. Helena pergi lebih dulu, langkahnya rata, dan Dine tetap duduk sampai pintu kaca menutup di belakang perempuan itu. Namun beberapa minggu kemudian intervensi itu berhenti dengan sendirinya, bukan karena percakapan mereka, melainkan karena dewan keluarga membatasi aksesnya.
Malamnya Bian datang ke flat dengan wajah orang yang sudah menyusun permintaan maaf sepanjang perjalanan. Ia berdiri di ambang dapur, jasnya bahkan belum dilepas.
"Maaf. Keluargaku mengusik peninggalan orang tuamu."
"Kamu tidak melakukan tindakan Helena," kata Dine sambil menuang air. "Tapi aku memperhatikan bagaimana kamu menanganinya."
Bian mengangkat alis. "Dan hasil penilaianmu?"
"Kamu tidak membeli klinikku dan tidak membungkam media. Nilaimu sementara cukup."
Bian tertawa, suara pendek yang tulus, dan bahunya akhirnya turun. "Sementara?"
"Kepercayaan tidak punya kontrak permanen."
Mereka memasak makan malam di flat. Dapur itu sempit, dua orang harus bergantian di depan kompor, dan Bian jelas lebih terbiasa memesan daripada mengaduk. Ia meninggalkan sausnya terlalu lama di atas api, dan bau gosong menyebar sebelum salah satu dari mereka sempat bereaksi. Bian sudah meraih ponsel, hampir memesan makanan mahal sebagai pengganti, ketika Dine mengambil benda itu dari tangannya dan menyerahkan sebutir telur.
"Goreng," katanya. "Api sedang."
Bian menurut, dahinya berkerut serius seperti sedang membaca dokumen dewan. Mereka makan telur, nasi, dan sisa saus yang masih bisa diselamatkan, di meja yang tadi pagi masih penuh sertifikat.
Di tengah hidup yang berkali-kali dibesarkan oleh berita dan kekayaan, makan malam sederhana itu mengembalikan mereka pada ukuran dua manusia biasa.