Setahun setelah meninggalkan Jakarta, Orin kembali. Bukan karena rindu, dan bukan karena diundang. Ia datang untuk memenuhi evaluasi masa pengawasan, kewajiban yang tanggalnya sudah ditetapkan orang lain dan tidak bisa ia tawar. Selama setahun itu ia bekerja di klinik rehabilitasi satwa di kota kecil, membersihkan kandang sejak subuh, dan ia membawa surat rekomendasi yang menyatakan pekerjaannya baik. Kertas itu ia bawa dalam map plastik bening, sudutnya sudah melunak karena terlalu sering dipegang.
Ia meminta bertemu Dine sekali lagi. Permintaan itu datang lewat jalur resmi, sopan, dengan kalimat yang jelas ditulis ulang beberapa kali sebelum dikirim. Kali ini Dine menyetujui. Ia tidak menyembunyikan pertemuan itu dari siapa pun; Nola mengetahui lokasi mereka, jam mulai, dan jam yang seharusnya menjadi batas.
Mereka bertemu di sebuah kedai dekat stasiun, tempat yang tidak menyimpan kenangan apa pun bagi keduanya. Dine sengaja memilihnya karena alasan itu. Kedai dengan meja kayu yang sudah tergores nama-nama orang asing, lantai yang selalu sedikit lengket, dan bau kopi yang bercampur dengan asap dari jalan. Tidak ada sudut di sana yang akan mengingatkannya pada tahun-tahun ketika mereka masih saling menyimpan rahasia yang menyenangkan.
Orin tampak berbeda. Tidak ada pakaian mencolok, tidak ada gelang yang berbunyi setiap kali ia menggerakkan tangan, dan tidak ada candaan untuk menutupi ketegangan. Rambutnya diikat asal, dan kulit tangannya lebih gelap serta lebih kasar daripada yang Dine ingat, tanda pekerjaan yang dilakukan di luar ruangan. Ia duduk dengan kedua tangan di atas meja, seperti orang yang sudah diajari bahwa menyembunyikan tangan membuat orang lain gelisah.
Setelah minuman datang dan tidak ada yang menyentuhnya, Orin mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul abu-abu. Isinya daftar kebohongan yang pernah dibuatnya, satu per satu, dengan tanggal dan kepada siapa kebohongan itu diucapkan, serta langkah pertanggungjawaban yang sudah dan belum ia kerjakan. Ia mendorongnya sedikit ke tengah meja, tidak sampai menyentuh sisi Dine.
"Terapisku bilang aku tidak boleh memberikan ini kalau tujuannya memaksa kamu memaafkan," katanya. "Kalau kamu tidak mau membacanya, aku bawa pulang."
Dine memandangi sampul itu beberapa saat. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak, karena menerima terasa seperti memberi izin masuk. Ada bagian lain yang tahu benda itu bukan hadiah, melainkan beban yang sedang dipindahkan dari satu pundak ke pundak lain. Ia juga tahu bahwa membaca daftar itu sekarang akan membuatnya menghabiskan berminggu-minggu memeriksa ulang setiap kenangan yang ia kira aman, mencocokkan tanggal, mencari tahu percakapan mana yang ternyata palsu. Ia belum siap membayar harga itu hari ini. Ia menarik buku tersebut dan meletakkannya di sisi mejanya sendiri. Tetapi ia tidak membukanya. Tidak hari itu.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanyanya.
Orin tidak buru-buru menjawab. Kipas di langit-langit berputar pelan, dan dari luar terdengar pengumuman kereta yang tidak jelas kata-katanya.
"Awalnya aku iri. Kamu punya klinik, hubungan, dan hidup yang terlihat pasti. Banan membuatku merasa dipilih. Setelah tahu dia tetap akan menikahimu, aku ingin menang meski itu berarti menghancurkanmu."
Dine menunggu kelanjutannya, kalimat yang biasanya menyusul, tentang keadaan, tentang tekanan, tentang siapa yang lebih dulu bersalah. Kalimat itu tidak datang.
"Kamu bisa pergi kapan saja."
"Iya. Aku memilih bertahan."
Pengakuan tanpa alasan itu membuat amarah Dine terasa berbeda di dadanya. Tidak hilang. Ia masih di sana, padat dan dingin. Tetapi ia tidak lagi harus berdebat dengan pembenaran, tidak lagi harus menyiapkan bantahan untuk setiap dalih. Marah yang tidak dilawan ternyata lebih mudah dipegang daripada marah yang harus terus membuktikan dirinya benar.
"Aku tidak bisa kembali menjadi sahabatmu seperti dulu," kata Dine.
"Aku mengerti."
"Tapi aku juga tidak ingin terus membawa kebencian. Aku memaafkanmu sejauh aku mampu hari ini. Itu bukan undangan masuk kembali ke hidupku."
Orin menangis. Bukan tangis yang meminta apa-apa, hanya air yang jatuh sementara wajahnya tetap diam, dan ia mengangguk beberapa kali seolah menyimpan kalimat itu supaya tidak lupa. Dine memperhatikan bahwa perempuan itu tidak menyeka wajahnya, tidak berusaha memperbaiki penampilan di depannya, dan entah kenapa justru itu yang paling meyakinkan. Mereka berdiri hampir bersamaan. Mereka berpisah tanpa berpelukan, dan tidak ada dari keduanya yang mencoba.
Di trotoar, Dine sempat berhenti sebentar dan menoleh. Punggung Orin sudah bergabung dengan kerumunan yang menuju stasiun, tidak lagi bisa dibedakan dari siapa pun. Dulu ia akan mengenali punggung itu dari jarak berapa pun. Sekarang tidak. Ia berdiri di bawah panas siang sampai matanya perih, lalu berbalik.
Nola menjemputnya di depan kedai dan tidak bertanya apa pun sampai mobil masuk jalan besar.
"Kamu lega?"
"Sedikit. Sedih juga. Memaafkan tidak mengembalikan orang yang kukira kukenal."
Nola mengangguk dan menyalakan radio pelan, membiarkan sisa perjalanan diisi suara lain.
Bian tidak menilai keputusan itu. Ia tidak bertanya apakah Dine terlalu lunak, dan tidak menyarankan apa yang seharusnya dikatakan. Malam itu ia duduk di lantai ruang tamu, punggung bersandar ke sofa, dan hanya membaca bagian buku yang Dine pilih ceritakan. Halaman lain tetap tertutup, dan ia tidak memintanya. Dine mengamatinya dari kursi, memperhatikan bagaimana lelaki itu menahan diri untuk tidak membalik ke halaman berikutnya, dan menyadari bahwa menahan diri semacam itu jauh lebih sulit daripada memberi nasihat.
Pada minggu yang sama, kabar lain datang dari arah yang sudah lama sunyi. Banan mengirim pesan melalui pengacara bahwa ia mengikuti program rehabilitasi serta bekerja di perpustakaan lembaga pemasyarakatan. Kalimatnya pendek, tanpa permintaan apa pun. Dine membacanya sekali, lalu meletakkan telepon di meja dan membiarkannya di sana sampai layarnya padam. Ia tidak menjawab. Pengampunan kepada Orin tidak otomatis berlaku untuk semua orang atau membuka komunikasi kembali, dan ia menolak diseret oleh gagasan bahwa satu pintu yang terbuka mengharuskan semua pintu ikut terbuka.
Malam itu Bian bertanya apakah masa lalu membuat Dine meragukan hubungan mereka. Ia bertanya sambil membereskan piring, tidak menatap langsung, cara orang bertanya ketika takut pada jawabannya.
"Kadang," jawabnya jujur. "Tapi aku tidak mau menghukummu atas perbuatan Banan."
Bian meletakkan piring terakhir dan berbalik menghadapnya.
"Kalau aku melakukan sesuatu yang mengingatkanmu kepadanya, katakan."
"Dan jangan langsung defensif."
Ia tersenyum tipis, mengakui bahwa itu memang kelemahannya yang paling sering muncul.
"Kesepakatan."
Hubungan mereka tumbuh bukan karena masa lalu selesai, melainkan karena masa lalu dapat dibicarakan tanpa mengambil seluruh ruang.