Dua tahun setelah putusan, surat itu datang tanpa didahului kabar apa pun. Amplopnya biasa saja, dan Dine membukanya di antara tumpukan tagihan klinik, sehingga isinya sempat terbaca setengah sebelum ia sadar apa yang sedang dipegangnya. Orin memperoleh pengakhiran masa pengawasan lebih cepat karena memenuhi restitusi dan tidak melakukan pelanggaran. Ia memutuskan tetap tinggal di luar Jakarta, di kota yang sama tempat ia mulai bekerja, dan menuliskan keputusan itu dalam satu kalimat pendek seolah takut kalimat yang lebih panjang akan terdengar seperti permintaan.
Dine membaca kalimat itu dan menunggu dirinya merasakan sesuatu yang besar. Yang datang hanya kelegaan tipis, sejenis rasa yang muncul ketika sebuah pintu yang lama terbuka akhirnya ditutup dari sisi seberang. Ia melipat surat itu dan menyimpannya di laci, bukan membuangnya.
Banan belum bebas. Tetapi pengacaranya mengajukan pengurangan hukuman berdasarkan kerja sama mengungkap Marcus, dan berita itu muncul di layar Dine pada malam biasa, terselip di antara dua pesan tentang jadwal operasi. Ia membacanya sambil berdiri di dapur, dan tidak beranjak untuk waktu yang lama. Malam itu ia kembali sulit tidur, dan malam-malam sesudahnya juga.
Ia tahu hukum harus menilai peran Banan secara proporsional. Ia bahkan bisa menjelaskan alasannya dengan tenang kalau ada yang bertanya. Namun pengetahuan itu berhenti di kepala dan tidak pernah sampai ke dadanya. Gagasan bahwa lelaki itu akan kembali berada di kota yang sama memicu ketakutan lama, jenis ketakutan yang tidak membutuhkan bukti untuk bekerja, yang membuatnya memeriksa kunci dua kali dan terbangun hanya oleh suara lift.
Dine mendiskusikannya dalam terapi, bukan supaya ketakutan itu hilang, melainkan supaya ia tahu harus meletakkannya di mana. Terapisnya memintanya memisahkan dua hal yang selama ini selalu tercampur: apa yang benar-benar berbahaya, dan apa yang hanya terasa berbahaya karena pernah terjadi. Latihan itu terdengar sederhana dan ternyata memakan waktu berminggu-minggu.
Dari sana ia menyusun rencana keamanan yang wajar: memperbarui daftar orang yang boleh masuk, mempertahankan kamera yang sudah ada, dan meminta semua komunikasi Banan melalui pengacara. Tiga hal, ditulis di satu halaman, dan semuanya bisa ia jalankan sendiri tanpa meminta izin siapa pun. Itu bagian yang paling penting baginya, meski ia butuh waktu untuk bisa menjelaskan kenapa.
Bian punya daftar yang jauh lebih panjang. Ia ingin menempatkan petugas tetap di klinik, dua orang bergantian, dua puluh empat jam, dengan mobil yang selalu siap di halaman belakang. Ia bahkan sudah menghitung biayanya sebelum bertanya, dan menyodorkan angkanya seolah angka itu sendiri sudah cukup menjadi alasan. Dine memandangi kertas itu dan merasakan sesuatu yang lama mengeras di dadanya. Ia menolak karena tidak ada ancaman baru, dan penolakan itu keluar lebih keras daripada yang ia rencanakan.
"Ketakutanku bukan izin untuk mengubah klinik menjadi benteng," katanya.
"Aku hanya ingin memastikan—"
"Tanyakan apa yang kubutuhkan, jangan mulai dari apa yang ingin kamu pasang."
Kalimat itu menggantung di antara mereka, dan ruangan yang tadinya biasa saja mendadak terasa terlalu sunyi bagi keduanya. Bian menutup mulutnya, menurunkan tangan yang tadi terangkat, dan diam cukup lama sampai Dine sempat menyesali nada suaranya sendiri, sebelum akhirnya lelaki itu meminta maaf. Bukan permintaan maaf yang buru-buru, melainkan yang diikuti pertanyaan lanjutan tentang apa yang sebenarnya ia butuhkan. Mereka menyepakati tombol darurat di dua titik klinik serta pemeriksaan sistem berkala, tanpa penjagaan mencolok, tanpa apa pun yang membuat pemilik hewan merasa sedang memasuki tempat yang berbahaya.
Beberapa bulan kemudian permohonan Banan dikabulkan sebagian. Ia masih harus menjalani sisa hukuman, tetapi tanggal bebas menjadi lebih dekat, dan tanggal itu kini punya bentuk yang bisa dibayangkan, sesuatu yang bisa dilingkari di kalender kalau seseorang cukup nekat untuk melakukannya. Dine tidak melingkarinya. Ia mencatatnya sekali di buku terapinya, lalu menutup buku itu.
Melalui pengacara, Banan menegaskan tidak akan menghubungi Dine. Pesannya hanya itu, tanpa penjelasan dan tanpa permintaan maaf, dan justru ketiadaan itu yang membuat Dine sedikit percaya. Permintaan maaf akan menuntut jawaban darinya, dan menuntut berarti masih ingin mengambil sesuatu.
Orin mengirim pesan serupa pada minggu yang sama. Ia memberi tahu bahwa Banan pernah mencoba menitipkan surat kepadanya, tetapi ia menolak menerimanya, dan ia menyampaikan hal itu bukan untuk dipuji melainkan supaya Dine tidak mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Ia menulis kejadian itu apa adanya, tanpa menjadikannya bukti bahwa dirinya sudah berubah, tanpa satu pun kalimat yang meminta dibaca ulang.
Dine membalas terima kasih. Dua kata, dikirim setelah dipikirkan agak lama, dan sempat dihapus sekali sebelum akhirnya diketik kembali persis sama. Itu menjadi percakapan pertama mereka yang tidak terasa seperti luka terbuka, dan Dine memperhatikan bahwa dadanya tidak mengencang saat mengetiknya.
Di sisi lain, ketenangan itu tidak berlaku merata. Edrick mengajukan banding dan kembali menuduh Bian merekayasa perkara demi kendali perusahaan, tuduhan lama yang dipoles ulang dengan kalimat baru. Bukti kuat membuat permohonannya ditolak. Tetapi pemberitaan tetap melakukan pekerjaannya, dan dalam prosesnya kembali mengangkat penculikan Dine, memuat ulang rincian yang sudah bertahun-tahun ia usahakan agar tidak lagi menjadi hal pertama yang orang ingat tentang dirinya.
Selama beberapa hari Dine menolak semua permintaan. Ia sudah belajar bahwa diam kadang merupakan pilihan yang paling waras. Tetapi kemudian datang pesan dari seorang perempuan yang tidak ia kenal, yang menulis bahwa ia mengalami hal serupa dan tidak tahu harus mulai dari mana, dan pesan itu tidak bisa ia tutup begitu saja.
Dine memilih memberikan satu wawancara. Satu, dengan syarat tertulis mengenai apa yang boleh ditanyakan dan apa yang tidak. Studio itu dingin, lampunya terlalu terang, dan ia bisa mendengar suara napasnya sendiri di mikrofon sebelum pertanyaan pertama diajukan. Ia bicara mengenai pemulihan korban, bukan rincian penculikan, dan setiap kali pewawancara mencoba menarik percakapan kembali ke malam itu, ia mengembalikannya dengan sabar ke pertanyaan yang menurutnya lebih berguna bagi orang yang menonton di rumah.
Ia mengatakan keselamatan bukan berarti hidup tanpa ketakutan, melainkan memiliki pilihan serta dukungan ketika takut datang.
Bian menonton dari Adelaide, sendirian, di ruang kerja yang lampunya belum ia nyalakan, dengan layar kecil yang cahayanya menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Ia memutar bagian itu dua kali, lalu sekali lagi tanpa suara, hanya untuk memperhatikan wajah perempuan itu ketika mengucapkannya. Ia memahami pesan itu juga ditujukan kepadanya: mencintai Dine berarti mendukung pilihannya, bukan membuat semua bahaya menghilang melalui kekuasaan.