Masa penugasan enam bulan Bian berakhir tanpa upacara apa pun. Pusat keamanan biologis itu akhirnya dapat berjalan di bawah tim lokal: prosedurnya sudah tertulis, orangnya sudah terlatih, dan tidak ada lagi keputusan yang harus menunggu tanda tangannya dari jarak ribuan kilometer. Karena itu jadwalnya kembali lebih banyak di Jakarta. Ia baru menyadari betapa lama ia hidup dari koper ketika membuka lemari apartemennya dan mendapati kemeja-kemejanya masih tergantung persis dalam urutan yang ia tinggalkan setengah tahun lalu, dengan debu tipis di bahu setiap gantungan.
Pada makan malam pertama setelah kepulangan, Bian tidak membawa cincin. Ia sudah memikirkannya di pesawat, bahkan sempat menyimpan nomor sebuah toko di ponselnya, lalu menghapus nomor itu sebelum roda menyentuh landasan. Yang ia bawa ke meja adalah selembar kertas terlipat dua, berisi daftar pertanyaan yang ditulis tangan. Tintanya biru, beberapa barisnya dicoret lalu ditulis ulang di sisi kanan, tanda kertas itu dikerjakan berkali-kali dan bukan dalam sekali duduk.
Dine membuka lipatannya di bawah lampu meja. Uap dari mangkuk di antara mereka naik pelan, dan di luar jendela hujan turun tanpa suara karena kacanya terlalu tebal. Ia membaca dua baris pertama, lalu mengangkat alis.
"Ini terlihat seperti agenda rapat," kata Dine.
Bian menggeser gelasnya sedikit untuk memberi ruang bagi kertas itu. Ia tahu bentuknya kaku. Ia juga tahu kebiasaan lamanya adalah menyelesaikan sesuatu dengan cara mempercepatnya, dan justru kecepatan itulah yang paling ditakuti Dine. Karena itu ia memilih daftar. Daftar memaksanya berhenti di setiap baris, dan berhenti adalah keterampilan yang paling tidak ia kuasai. Ia sudah berlatih membaca urutan pertanyaan itu di kamar hotel dua malam berturut-turut, keras-keras, supaya suaranya tidak berubah menjadi suara rapat ketika sampai ke bagian yang paling ia takuti.
"Kamu melarangku melamar sebelum kita membicarakan pernikahan."
Mereka mulai dari alasan ingin menikah. Bian menjawab lebih dulu, dan suaranya lebih pelan daripada biasanya. Ia menginginkan keluarga dan komitmen yang diakui, sesuatu yang punya nama di depan orang lain, bukan hubungan yang selalu harus dijelaskan ulang. Tetapi ia juga mengakui satu hal yang tidak nyaman diucapkan: ia tidak ingin pernikahan menjadi cara memastikan Dine tidak pergi. Ia pernah memakai surat dan perjanjian untuk mengikat orang, dan ia tidak mau mengulanginya pada perempuan yang duduk di hadapannya.
Dine menunggu beberapa detik sebelum menjawab, memutar sendok di dalam mangkuk tanpa benar-benar makan. Ia ingin membangun rumah bersama; ia sudah lelah membangun sendirian. Tetapi ia takut kehilangan kemandirian, dan lebih takut lagi Animalia larut ke dalam kekayaan keluarga Emery sampai tidak lagi terlihat sebagai kliniknya. Ia menyebutkan ketakutan itu apa adanya, tanpa melunakkannya, karena konseling belum dimulai pun ia sudah tahu bahwa yang ditahan akan berubah menjadi kemarahan.
Mereka membahas tempat tinggal. Dine tidak mau meninggalkan flat sepenuhnya; tempat itu bukan sekadar bangunan, melainkan bukti bahwa ia pernah berdiri tanpa siapa pun. Bian bersedia tinggal bergantian, dan ia menuliskannya di kertas itu agar tidak menjadi janji lisan yang menguap sebelum pagi. Tetapi ia mengajukan satu hal teknis: keamanan kediaman perlu diperbaiki. Dine setuju, dengan batas yang ia sebut dua kali supaya jelas, yaitu perbaikan itu tidak boleh mengubah klinik menjadi properti Emery.
Soal anak membuat percakapan lebih panjang daripada bagian mana pun. Piring mereka sudah dingin ketika mereka masih tertahan di baris yang sama. Dine belum yakin ingin hamil dalam waktu dekat; ia menyebut jadwal operasi, tenaga yang habis di akhir minggu, dan tahun-tahun yang masih ia butuhkan agar Animalia dapat berdiri tanpa dirinya hadir setiap hari. Bian ingin anak suatu hari. Ia mengatakannya jujur, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jujur lagi: ia mengakui belum memahami dampaknya terhadap karier Dine, dan ia tidak mau berpura-pura sudah memahaminya.
"Kalau aku tidak bisa atau tidak ingin hamil?" tanya Dine.
Bian tidak menjawab cepat. Ia meletakkan pena, menatap permukaan meja beberapa saat, membiarkan pertanyaan itu berdiri utuh tanpa buru-buru ditutup dengan kalimat manis. Dine memperhatikan rahang lelaki itu bergerak sekali. Ia menghargai jeda tersebut lebih daripada jawaban apa pun yang datang tanpa jeda.
"Aku perlu jujur bahwa aku akan bersedih. Tapi aku tidak mau menjadikan tubuhmu syarat mencintaimu."
Ada bunyi sendok tersentuh di suatu tempat di ruangan, lalu sunyi lagi. Dada Dine melonggar sedikit, meski tidak sepenuhnya. Mereka sepakat pembicaraan itu belum selesai, dan mereka menuliskannya begitu di bawah baris tersebut dengan huruf kecil: belum selesai. Bukan ditunda, bukan disetujui.
Masalah aset juga dibahas, dan di bagian ini suara Bian kembali ke nada kerjanya. Ia mengusulkan perjanjian pranikah yang melindungi Animalia dari klaim keluarga serta memisahkan kepemilikan Emery dari apa pun yang mereka bangun berdua. Ia bahkan menegaskan bahwa ia tidak akan memilihkan siapa pun. Dine akan memilih pengacara sendiri, dibayar dari rekeningnya sendiri, supaya tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang bekerja untuk dua pihak sekaligus.
"Kamu belum melamar, tapi sudah bicara perceraian," kata Dine.
Kalimat itu keluar setengah bercanda, tetapi Bian menanggapinya serius. Ia melipat tangan di atas meja dan menunggu sampai ia yakin nadanya tidak akan terdengar seperti membela diri.
"Perjanjian bukan harapan bercerai. Itu cara memastikan tidak ada orang bertahan karena takut kehilangan hidupnya."
Dine menghargai jawaban tersebut. Ia pernah melihat perempuan-perempuan yang bertahan karena tidak memiliki apa-apa di luar rumah suaminya, dan ia tahu betul bahwa yang menahan mereka bukan cinta melainkan hitungan yang tidak pernah berani mereka selesaikan. Ia mengangguk pelan, lalu menandai baris itu dengan ujung kukunya sampai kertasnya berbekas. Di tempat lain, kalimat semacam tadi akan terdengar dingin. Malam itu kalimat tersebut justru terasa seperti pintu yang dibiarkan tidak dikunci, dan Dine baru menyadari betapa lama ia hidup di ruangan yang pintunya selalu dikunci orang lain.
Percakapan berakhir tanpa keputusan menikah. Tidak ada saat ketika salah satu dari mereka berkata baiklah, ayo kita lakukan. Yang mereka lakukan justru menjadwalkan konseling pasangan, bukan karena hubungan mereka bermasalah, melainkan karena pertanyaan yang baru saja mereka buka terlalu penting untuk diselesaikan dalam satu malam di atas dua mangkuk sup yang telanjur mendingin.
Bian mengantar Dine pulang dan tidak naik ke atas. Sesampainya di apartemen, ia menyimpan daftar itu di antara dokumen paling pribadinya, di map yang sama dengan surat-surat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Untuk pertama kalinya, ia merasa menyiapkan lamaran bukan soal memilih cincin, melainkan menerima bahwa jawaban Dine dapat saja belum.