Konseling pasangan berlangsung tiga bulan, setiap Rabu sore, di sebuah ruangan kecil dengan dua kursi yang sengaja tidak diletakkan berhadapan langsung. Ada jam dinding yang detiknya terdengar setiap kali salah satu dari mereka berhenti bicara terlalu lama. Di ruangan itu mereka menemukan bahwa konflik terbesar mereka bukan kekayaan atau jarak, melainkan kecenderungan Bian bertindak cepat dan kebiasaan Dine menahan kebutuhannya sampai kebutuhan itu berubah menjadi kemarahan.
Keduanya sempat menyangkal. Bian merasa kecepatan adalah bentuk tanggung jawab, dan Dine merasa diam adalah bentuk kedewasaan. Setelah beberapa sesi, keduanya berhenti membela diri. Bian mulai mengenali detik ketika tangannya sudah bergerak mengambil ponsel sebelum ia sempat bertanya. Dine mulai mengenali rasa panas kecil di tengkuknya, tanda ia sedang menelan sesuatu yang seharusnya ia ucapkan.
Sebagai latihan, mereka diminta membuat keputusan bersama yang tidak terlalu besar. Sesuatu yang nyata, yang punya akibat, tetapi tidak akan meruntuhkan apa pun bila keliru. Konselor menjelaskan alasannya dengan sabar: pasangan yang belum bisa memutuskan hal kecil tanpa salah satu mengalah diam-diam akan menyelesaikan hal besar dengan cara yang sama, hanya dengan kerugian yang jauh lebih mahal. Mereka pulang membawa tugas itu dan berdebat kecil di mobil tentang apa yang cukup kecil untuk dijadikan latihan. Mereka memilih tempat tinggal Dre.
Dre selama ini berpindah antara apartemen Bian dan flat Dine, diantar dalam kotak jinjing yang sudah lecet di sudutnya. Kucing itu jelas lebih nyaman di Animalia; di sana ia hafal bunyi pintu, hafal bau ruang periksa, dan tidur di rak yang sama setiap sore. Tetapi Bian merasa kehilangan jika Dre menetap di sana. Ia tidak mengucapkannya di sesi pertama. Ia mengucapkannya di rumah, dengan kalimat yang berputar-putar dulu sebelum sampai.
"Kita sedang membahas kebutuhan Dre, bukan siapa yang paling merindukannya," kata Dine.
Kalimat itu menohok, dan Bian membiarkannya menohok. Dahulu ia akan membalas dengan alasan, atau lebih buruk lagi, dengan penawaran: ia akan menyewa orang untuk menjaga Dre, ia akan mengubah jadwalnya, ia akan membeli sesuatu. Kali ini ia diam beberapa saat, memperhatikan kuku-kuku Dre yang menggaruk kain di dalam kotak jinjing, dan mengakui dalam hati bahwa yang sedang ia perjuangkan sebenarnya bukan kenyamanan kucing itu. Ia mengangguk, lalu mengambil kertas.
Mereka mencatat rutinitas, ruang, dan waktu kehadiran masing-masing. Berapa jam Dre sendirian di apartemen. Berapa kali dalam sebulan Bian menginap di kota lain. Di mana kucing itu mau makan tanpa harus dibujuk. Hasil di kertas itu tidak bisa dibantah: flat Dine paling stabil. Bian menerima, tanpa menawar dan tanpa mencari klausul pengganti, dengan jadwal kunjungan yang disepakati terbuka namun tidak otomatis memberinya hak masuk ke rumah kapan saja ia mau.
Keputusan kecil itu membuka pertanyaan yang lebih besar tentang rumah mereka kelak. Kalau menentukan tempat tidur seekor kucing saja membutuhkan tabel, tentu rumah tidak bisa diputuskan lewat satu telepon. Mereka memilih membeli rumah netral dekat Animalia setelah menikah, atas nama bersama sesuai kontribusi yang disepakati dan ditulis. Flat tetap milik Dine dan apartemen tetap milik Bian. Tidak ada yang harus melepas pintu keluarnya sendiri demi membuktikan cinta.
Pengacara menyusun perjanjian pranikah selama beberapa minggu, dengan revisi yang dikirim bolak-balik sampai kalimatnya tidak bisa ditafsirkan dua arah. Animalia, warisan Dine, dan aset Emery tetap terpisah. Aset yang dibangun bersama dibagi secara transparan dengan cara perhitungan yang bisa dibaca siapa saja. Tidak ada klausul yang memberi keluarga Emery kuasa atas pekerjaan Dine, bahkan tidak dalam bentuk hak meninjau. Dine membaca seluruh dokumen itu sendiri, dua malam berturut-turut, dengan pensil di tangan dan kamus hukum terbuka di layar ponselnya. Ia menandai empat kalimat yang menurutnya masih terlalu lentur, dan keempatnya diubah. Bian tidak pernah menanyakan yang mana; ia hanya menandatangani versi terakhir setelah pengacara Dine menyatakan puas.
Setelah seluruh pembicaraan itu selesai, Bian mengajak Dine ke Yayasan Satwa Dwipantara, tempat mereka dahulu bekerja bersama. Sore itu langit berwarna tembaga dan bau jerami di kandang belakang masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Tidak ada tamu, tidak ada media, tidak ada dekorasi. Hanya lampu gantung tua di koridor dan suara langkah mereka di lantai semen. Dre berada dalam kandang jinjingnya di dekat Zhian.
"Kamu melibatkan Dre?" tanya Dine curiga.
"Dia saksi, bukan pembawa cincin."
Dine tertawa kecil, tetapi jantungnya sudah bekerja lebih cepat. Ia mengenali bentuk sore itu. Ia hanya belum tahu bahwa Bian masih akan menghormati satu hal terakhir.
Bian tidak berlutut sebelum memastikan Dine memahami apa yang sedang terjadi. Ia berdiri sejarak satu langkah, tangannya di saku, dan menunggu sampai Dine benar-benar menatapnya.
"Kita sudah membicarakan pernikahan. Apakah hari ini aku boleh bertanya?"
Dine tersenyum. "Boleh."
Bian berlutut dan membuka kotak kecil. Lututnya menyentuh lantai berdebu dan ia tidak peduli. Suaranya tidak sepenuhnya rata ketika ia mulai bicara.
"Adine Edrea, maukah kamu menikah denganku tanpa meninggalkan dirimu sendiri?"
Dine tidak langsung menjawab. Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung beberapa detik, bukan karena ragu, melainkan karena ia ingin mengingat detik itu persis seperti adanya. Ia melihat sekeliling: koridor tempat mereka pertama kali belajar bekerja berdampingan, meja logam yang dahulu selalu kekurangan lampu, sudut tempat mereka pernah bertengkar soal jadwal. Kemudian ia melihat kepada Dre yang mengeong panjang seolah tidak sabar menunggu manusia menyelesaikan urusannya.
"Iya," katanya. "Dengan semua kesepakatan yang sudah kita buat."
Bian memasangkan cincin setelah meminta tangan Dine, bukan mengambilnya begitu saja. Jari perempuan itu dingin karena angin sore, dan cincinnya masuk dengan gerakan yang nyaris terlalu pelan. Tidak ada orang bertepuk tangan kecuali Zhian yang segera berhenti ketika menyadari dirinya sendirian, tangannya menggantung canggung di udara sebelum akhirnya ia pura-pura membetulkan kerah.
Dine tertawa dan memeluk Bian. Bahu lelaki itu bergetar sedikit di dalam pelukannya, dan hanya Dine yang tahu. Ia menahan pelukan itu lebih lama daripada yang ia rencanakan, mencium bau kemeja yang bercampur debu kandang, mendengar Zhian berdeham dari kejauhan seperti orang yang ingin mengingatkan bahwa ia masih berdiri di situ. Angin sore masuk lewat pintu belakang dan membawa suara kandang lain, gemerisik yang sudah mereka kenal sejak bertahun-tahun lalu.
Lamaran itu bukan kejutan yang merampas pilihan. Tidak ada kamera, tidak ada penonton yang menuntut jawaban ya di depan umum. Ia menjadi kesimpulan sementara dari percakapan panjang, dan awal dari percakapan berikutnya.