Pencarian rumah berlangsung lebih sulit daripada menyusun perjanjian pranikah. Perjanjian setidaknya punya bentuk: pasal, angka, dan pengacara yang dibayar untuk berdebat mewakili mereka. Rumah tidak punya pasal. Rumah hanya punya rasa, dan rasa dua orang itu ternyata bertolak belakang. Bian menyukai lahan luas dan keamanan tinggi, dengan jarak antara pagar dan pintu depan yang cukup untuk memberi waktu. Dine menginginkan tempat yang dapat dicapai berjalan kaki dari Animalia, supaya ia bisa datang tengah malam tanpa menunggu siapa pun menyiapkan mobil.
Rumah pertama terlalu besar. Mereka berjalan dari ruang ke ruang dan langkah mereka bergema di lantai batu yang dingin; Dine berhenti di tengah ruang tamu, memandang langit-langit yang tingginya dua lantai, lalu berkata bahwa ia merasa sedang menyewa aula. Agen properti tertawa, mengira itu lelucon, dan Dine tidak meralatnya. Rumah kedua berada dalam kompleks dengan aturan yang melarang banyak hewan, dan aturan itu tertulis hitam-putih di lembar yang disodorkan agen, lengkap dengan batas jumlah dan sanksi bagi yang melanggarnya. Dine mengembalikan lembar tersebut tanpa membaca sampai halaman terakhir. Rumah ketiga cocok hampir dalam segala hal, sampai Bian membaca nama pemiliknya di dokumen dan berhenti membalik halaman: rumah itu dimiliki perusahaan afiliasi Emery.
"Aku tidak mau membeli rumah darimu dengan uang kita sendiri," kata Dine.
Bian menutup map itu tanpa membantah. Ia sempat berpikir bahwa harganya bisa dibuat wajar, bahwa tidak ada yang perlu tahu, bahwa dokumen dapat disusun sedemikian rupa sampai jejaknya tidak terbaca siapa-siapa. Lalu ia menyadari bahwa pikiran itu sendiri adalah masalahnya, dan bahwa ia baru saja menyusun rencana rapi untuk menipu perempuan yang akan ia nikahi. Ia mengembalikan map tersebut kepada agen sore itu juga.
Mereka akhirnya menemukan rumah lama dua lantai di antara klinik dan apartemen Bian. Ukurannya sedang, catnya sudah pudar sampai warna aslinya harus ditebak, dan ada halaman kecil dengan tanah yang keras. Di dalamnya berbau kayu dan debu lama. Lantai atasnya berderit di tiga titik. Rumah itu membutuhkan renovasi besar, dan justru karena itu keduanya menyukainya: tidak ada yang sudah diputuskan orang lain untuk mereka.
Bian ingin menyelesaikannya dalam dua bulan dengan kontraktor perusahaan yang biasa menangani gedung-gedungnya. Dine memilih arsitek independen dan jadwal enam bulan.
"Kenapa harus lama kalau bisa cepat?"
"Karena aku ingin ikut memilih, bukan menerima rumah yang sudah selesai sebelum sempat bicara."
Bian menahan jawabannya beberapa detik, mengenali dorongan lama di dadanya, lalu mengalah. Ia mulai belajar bahwa cepat tidak selalu merupakan bentuk kasih sayang. Kadang cepat hanyalah cara memastikan tidak ada yang sempat membantah. Ia menelepon kontraktor perusahaannya malam itu dan membatalkan penawaran yang belum sempat ia beri tahukan kepada siapa pun, termasuk kepada Dine, dan itu adalah pembatalan pertama dari beberapa yang akan menyusul.
Proses itu memakan waktu berminggu-minggu dan tidak selalu menyenangkan. Ada sore ketika mereka berdebat soal jendela dan berhenti bicara sampai keesokan paginya. Ada pula sore ketika mereka menghabiskan dua jam di lantai kosong lantai atas, hanya duduk, memperhatikan cahaya bergeser di dinding, tanpa memutuskan apa-apa. Mereka membagi ruang dengan pensil di atas denah yang dicetak besar dan dibentangkan di lantai. Lantai bawah memiliki area yang aman bagi Dre dan hewan titipan darurat, lengkap dengan permukaan yang mudah dibersihkan dan pintu yang bisa ditutup terpisah. Dine mendapat ruang kerja menghadap halaman. Bian mendapat ruang untuk rapat dengan pintu kedap agar suaranya tidak memenuhi seisi rumah. Keduanya sepakat kamar utama tidak boleh menjadi kantor kedua, dan mereka menuliskan kesepakatan itu di pinggir denah supaya tidak lupa ketika sedang lelah.
Konflik muncul beberapa minggu kemudian, saat Bian menambahkan sistem keamanan biometrik tanpa membahasnya lebih dulu. Dine mengetahuinya ketika datang ke lokasi dan melihat kabel-kabel baru serta panel kecil di dekat pintu. Bian menganggap itu kebutuhan setelah penculikan Dine, sesuatu yang terlalu jelas untuk perlu dirapatkan.
Dine meminta pemasangan dihentikan. Suaranya tidak keras, tetapi tangannya gemetar sedikit ketika menunjuk panel itu. "Kamu kembali menggunakan ketakutanku untuk mengambil keputusan."
"Aku tidak mau kejadian itu terulang."
"Aku juga tidak mau. Tapi rumah yang mengingatkanku pada ancaman setiap kali masuk bukan rumah aman."
Tukang-tukang di belakang mereka berhenti bekerja sejenak, lalu pura-pura sibuk. Bau semen basah dan serbuk gergaji menggantung di udara, dan suara bor dari lantai atas berhenti sendiri seolah bangunan itu ikut menunggu. Bian berdiri diam cukup lama, sampai ia bisa mendengar suara Dine dan bukan hanya suara ketakutannya sendiri. Ia teringat malam ketika ia menerima kabar Dine hilang, dan bagaimana sejak malam itu setiap keputusannya diam-diam dirancang agar malam tersebut tidak pernah terulang. Ia baru mengerti bahwa Dine juga hidup dengan malam yang sama, hanya saja dari sisi dalam, dan yang ia bangun untuk melindungi perempuan itu justru mengurung perempuan itu kembali.
Mereka lalu berkonsultasi dengan ahli keamanan, duduk bertiga selama dua jam, dan memilih sistem yang tidak menyimpan data biometrik pada server perusahaan. Ada tombol darurat di beberapa titik serta kamera luar yang mengawasi pagar dan garasi, tetapi tidak ada kamera di ruang pribadi. Dine memeriksa sendiri di mana rekaman itu tersimpan dan siapa saja yang dapat membukanya.
Bian meminta maaf kepada kontraktor karena perubahan mendadak yang membuat pekerjaan seminggu terbuang, dan membayar biaya yang timbul dari uang pribadinya, bukan dari anggaran rumah bersama. Ia melakukannya tanpa mengumumkan apa-apa, dan Dine baru mengetahuinya dari kuitansi yang tertinggal di meja.
Ketika renovasi selesai tahap pertama, mereka menanam pohon kecil di halaman. Tanahnya masih keras dan Bian harus mencangkul lebih lama daripada perkiraannya; kemejanya basah di punggung dan ia tertawa untuk pertama kalinya sepanjang minggu itu. Dine menolak papan nama keluarga Emery di gerbang, meskipun sudah ada yang menawarkan membuatkannya dari kuningan.
"Rumah ini milik Bian dan Dine," katanya. "Bukan cabang perusahaan."
Bian setuju. Ia berdiri di halaman sore itu, memandang bangunan yang catnya belum selesai dan pohon yang masih terlalu pendek untuk memberi bayangan, lalu menyadari sesuatu yang sederhana namun asing baginya. Untuk pertama kalinya ia memiliki rumah yang tidak diwariskan dan tidak dibangun atas nama ayahnya. Setiap dinding di dalamnya adalah hasil percakapan, termasuk percakapan yang membuatnya kalah, dan justru itulah yang membuatnya merasa boleh masuk lewat pintu depan tanpa harus membuktikan apa-apa kepada siapa pun.