Banan dibebaskan setelah menyelesaikan hukuman serta program reintegrasi. Tidak ada yang menjemputnya selain kakaknya, dan tidak ada berita pada hari itu. Sesuai janjinya, ia tidak menghubungi Dine, bahkan tidak lewat perantara. Ia tinggal bersama kakaknya di pinggir Jakarta, di rumah petak dengan atap seng yang berbunyi setiap kali hujan, dan bekerja sebagai staf pemasaran usaha kecil yang menjual perlengkapan rumah tangga.
Pekerjaan itu sederhana: menelepon toko-toko kecil, mencatat pesanan, sesekali ikut mengangkut kardus. Gajinya kurang dari seperlima gaji lamanya, dan ia menerimanya tanpa menawar. Selama beberapa bulan hidupnya nyaris tidak terlihat siapa pun. Kemudian media menemukan keberadaannya dan mendatangi tempat kerja: dua orang dengan kamera dan satu orang dengan mikrofon, berdiri di depan toko pada jam ramai. Pemilik usaha memberhentikannya dua hari sesudah itu, dengan alasan yang diucapkan sambil menunduk, yaitu takut reputasi perusahaannya terganggu.
Banan tidak melawan. Ia hanya, melalui pengacara, meminta Emery menyatakan bahwa ia telah menjalani hukuman dan tidak lagi terikat perkara perusahaan. Permintaan itu masuk ke meja Bian dalam bentuk map tipis, dan menimbulkan perdebatan panjang. Dewan ingin diam. Diam tidak berbiaya, kata salah seorang dari mereka. Bian menyetujui pernyataan faktual, meski dewan menahannya sampai rapat kedua.
"Kalau kita terus memakai nama perusahaan untuk menutup pintu hidupnya, hukuman tidak pernah selesai," kata Bian.
Ia mengucapkannya tanpa nada mulia, dengan suara datar seorang yang sedang membacakan angka. Ia tidak sedang memaafkan siapa pun. Ia masih dapat mengingat bunyi telepon pada malam Dine hilang, dan ingatan itu tidak menjadi lebih ringan hanya karena waktu berjalan. Ia hanya menolak menjadi orang yang menahan seseorang di dasar seumur hidup lalu menyebut hal itu keadilan. Ada perbedaan antara membiarkan seseorang menanggung akibat perbuatannya dan memastikan orang tersebut tidak pernah punya jalan keluar; ayahnya dahulu tidak pernah membedakan keduanya, dan Bian sudah memutuskan untuk berhenti mewarisi cara itu.
Dine mengetahui keputusan itu dari berita, bukan dari Bian, dan mendukungnya. Ia membaca satu paragraf pernyataan tersebut dua kali di layar ponselnya, lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah. Dukungan bukan berarti ia ingin bertemu. Kedua hal itu berdiri terpisah, dan ia tidak merasa perlu menjelaskannya kepada siapa pun, termasuk kepada dirinya sendiri. Ia menyelesaikan jadwal sore itu seperti biasa, memeriksa tiga pasien, menandatangani dua resep, lalu pulang tanpa membuka berita itu lagi.
Suatu sore, Banan datang ke Animalia membawa seekor anjing terluka yang ditemukannya di jalan. Bulu anjing itu kusut dan basah, kaki belakangnya menggantung, dan darahnya menempel di kemeja Banan. Ia berhenti di luar pintu kaca ketika melihat Dine berdiri di dalam, lalu meminta staf lain menerima hewan tersebut, cukup dengan gerakan tangan supaya ia tidak perlu masuk.
Dine dapat memilih masuk ke ruang belakang. Tidak ada yang akan menyalahkannya; dua staf sudah bergerak menutupi pandangan tanpa diminta. Namun ia mendekati pintu, dengan langkah yang ia rasakan sendiri terlalu keras di lantai. Bukan karena ia sudah siap. Ia mendekat justru karena ada makhluk yang sedang kehabisan darah di depan pintunya, dan karena selama bertahun-tahun ia melatih dirinya agar tidak pernah mundur dari meja pemeriksaan apa pun alasannya. Jantungnya berdegup di telinga. Ia menghitung sampai tiga, seperti yang diajarkan terapisnya, lalu membuka pintu itu sendiri.
"Letakkan anjingnya di meja pemeriksaan," katanya.
Banan mematuhi tanpa mencoba berbicara tentang masa lalu. Ia meletakkan anjing itu dengan hati-hati, mundur dua langkah, dan menjaga jarak sepanjang waktu. Selama penanganan ia berdiri di dekat dinding dan tidak sekali pun menyebut nama Dine. Wajahnya lebih kurus daripada yang diingat Dine, rambutnya dipotong pendek sekali, dan ada sesuatu di caranya berdiri yang membuatnya tampak lebih kecil daripada ruangan itu. Dine tidak menatapnya lebih dari dua detik. Ia menatap luka, menatap jarum, menatap monitor, dan itu sudah cukup untuk membuat tangannya tetap stabil.
Setelah kondisi anjing stabil dan napasnya kembali teratur, ia menyerahkan biaya perawatan yang mampu dibayarnya, uang yang dilipat rapi dan jelas tidak banyak jumlahnya.
"Tidak cukup," katanya. "Saya akan mencicil."
"Klinik punya dana penyelamatan hewan jalanan. Kamu tidak perlu membayar semuanya."
Banan mengangguk. Ia tidak berdebat, tidak pula berterima kasih secara berlebihan, dan tidak mencoba menawar agar tetap boleh membayar. Uang itu tetap ia letakkan di meja kasir, lalu ia menarik tangannya cepat-cepat seperti orang yang takut sentuhannya tertinggal terlalu lama di tempat itu. Sebelum pergi, ia berhenti sebentar di ambang pintu dan berkata, "Selamat atas pertunanganmu."
"Terima kasih."
Tidak ada permintaan maaf baru atau harapan tersembunyi di balik kalimat itu. Tidak ada tatapan yang bertahan terlalu lama, dan tidak ada kalimat yang sengaja digantung agar dijawab di lain hari. Pertemuan itu berlangsung kurang dari sepuluh menit, dan pintu kaca menutup dengan bunyi yang sama seperti pada hari-hari biasa.
Dine tetap gemetar setelah Banan pergi. Tubuhnya tidak mengikuti keputusannya; tangannya justru mulai bergetar ketika semuanya sudah selesai, dan ia harus duduk di kursi ruang staf sambil menunggu dadanya berhenti berdegup terlalu cepat. Ia menelepon terapisnya, bukan Bian terlebih dahulu, dan ia melakukannya dengan sadar. Bukan karena ia menyembunyikan sesuatu, melainkan karena ia ingin menenangkan dirinya sendiri lebih dulu supaya ceritanya sampai sebagai kabar, bukan sebagai permintaan tolong. Setelah tenang, ia menceritakannya kepada tunangannya malam itu juga, dari awal sampai akhir, tanpa ada bagian yang dipotong.
Bian mendengarkan sampai selesai. Ia mengakui cemburu dan marah, dan ia menyebut kedua kata itu terang-terangan, karena menyembunyikannya hanya akan berubah menjadi racun di kemudian hari. Tetapi ia tidak menuntut rekaman kamera, tidak menanyakan berapa lama pertemuan itu, dan tidak meminta satu pun staf mengonfirmasi apa yang terjadi.
"Apa yang kamu butuhkan dariku?" tanyanya.
"Percaya bahwa aku dapat bertemu masa lalu tanpa kembali kepadanya."
"Aku percaya."
Banan kemudian mengadopsi anjing tersebut setelah sembuh, mengurus surat-suratnya seperti orang asing biasa yang datang ke klinik. Dine menyerahkan prosesnya kepada dokter lain sejak awal, dan ia tidak merasa bersalah karena itu. Batas tetap ada, dijaga rapi seperti pagar rendah yang jelas terlihat dari kedua sisi, tetapi kebencian tidak lagi diperlukan untuk menjaganya. Dine menyadari hal itu beberapa hari kemudian, ketika nama Banan muncul di kartu pasien dan dadanya tidak lagi mengencang membacanya. Yang tersisa hanyalah nama, dan nama tidak memiliki kuasa apa-apa atas hidupnya.