Pemilihan gaun membawa Dine kembali pada hari pernikahan yang gagal. Ia tidak menduganya sama sekali. Ia masuk ke butik itu dengan daftar dan jadwal, sebagaimana ia masuk ke ruang operasi, dan baru di dalam ruang pas semuanya berbalik. Kain berdesir di sekitar kakinya, bau kain baru bercampur dengan parfum ruangan, dan cermin tiga sisi memantulkan punggungnya dari sudut yang tidak pernah ia lihat sendiri. Ia teringat meminta Bian melepaskan kancing gaunnya setelah perselingkuhan itu terbuka, jari-jari yang bergetar di belakang tubuhnya, satu per satu kancing kecil yang seakan tidak ada habisnya, dan sunyi panjang yang mengikutinya sesudah itu. Ia bahkan ingat bunyi kain yang jatuh ke lantai, dan bagaimana ia tidak sanggup menoleh ke cermin waktu itu. Kenangan itu membuatnya sesak di ruang pas, dan udara terasa terlalu sedikit untuk dibagi.
Nola menemani sejak pagi, duduk di kursi dengan gelas air yang tidak ia sentuh, dan segera menutup tirai ketika melihat Dine pucat. Ia tidak bertanya apa-apa terlebih dahulu, dan tidak menyuruh Dine menarik napas panjang seperti yang biasa dilakukan orang yang panik melihat orang lain panik. Ia hanya berdiri di antara Dine dan pintu, memunggungi ruangan, memberi perempuan itu satu ruang kecil yang tidak bisa dilihat siapa pun.
"Kita bisa pulang," katanya.
Dine menggeleng pelan. Ia menunggu sampai napasnya kembali ke ritme yang bisa ia hitung.
"Aku tidak mau gaun mengendalikan hari ini."
Dine memilih beristirahat lebih dulu. Ia duduk di lantai beralas karpet, meminum air yang disodorkan Nola, dan membiarkan waktu berjalan tanpa berusaha mempercepatnya. Ia menghitung benda-benda di sekitarnya satu per satu, cara lama yang diajarkan terapisnya untuk mengembalikan diri ke ruangan: empat gantungan kayu, dua kursi beludru, satu kotak jarum pentul, dan bayangan kakinya sendiri di cermin bawah. Setengah jam kemudian ia berdiri lagi dan mencoba model yang sama sekali berbeda dari yang tertulis di daftarnya. Ia menolak warna putih murni, dan ia menjelaskan alasannya kepada Nola supaya alasan itu tidak salah dipahami: bukan karena ia merasa ternoda, melainkan karena ia tidak ingin pakaian membawa gagasan bahwa nilai perempuan ditentukan oleh kesucian.
Gaunnya berwarna gading sederhana, dengan jahitan rapi dan tanpa hiasan yang menuntut perhatian. Bagian punggungnya dirancang agar ia dapat mengenakannya tanpa bantuan orang lain. Ia mencobanya sendiri di ruang pas, dua kali, sampai ia yakin tangannya sampai ke semua kaitnya. Ketika akhirnya berhasil, ia berdiri lama di depan cermin, dan yang ia rasakan bukan haru, melainkan lega. Ia tidak akan bergantung pada siapa pun untuk keluar dari pakaiannya sendiri. Detail sekecil itu tidak akan disadari seorang tamu pun nanti, dan justru karena itu ia memilihnya: gaun tersebut dirancang untuk dirinya, bukan untuk mata orang di kursi.
Bian tidak melihat desainnya. Ia bahkan menolak mendengar ketika Nola nyaris menyebutkan warnanya di telepon. Namun ketika Dine menceritakan serangan panik yang terjadi di ruang pas, ia mendengarkan sampai habis tanpa memotong sekali pun, meski tangannya mengepal di bawah meja. Dorongan pertamanya adalah menyelesaikan sesuatu, membatalkan sesuatu, memindahkan sesuatu. Ia menahan dorongan tersebut sampai lewat, lalu bertanya dengan hati-hati apakah persiapan pernikahan perlu ditunda, dan ia bertanya sebagai pertanyaan sungguhan, bukan sebagai keputusan yang sudah ia ambil sendiri.
"Tidak. Aku hanya perlu cara berbeda."
Mereka mengubah susunan akad malam itu juga, di meja makan, dengan kertas dan pensil di antara dua cangkir. Dine akan berjalan sendiri sampai pertengahan, lalu Bian menemuinya di titik itu dan mereka berjalan bersama untuk sisanya. Tidak ada simbol penyerahan dari satu keluarga kepada keluarga lain. Tidak ada tangan yang dilepaskan seseorang untuk diberikan kepada orang lain.
Helena menolak. Ia menyebut tradisi Emery mengharuskan pengantin perempuan didampingi kerabat laki-laki, dan menyodorkan dua nama paman yang bersedia. Dine tidak memiliki ayah, dan ia tidak mau seseorang menggantikan peran itu hanya demi foto yang akan dipajang bertahun-tahun. Ia menyampaikannya dengan tenang, meski jarinya menekan sisi meja sampai putih. Ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana sebuah upacara dapat berubah menjadi urusan pemindahan hak, dari tangan satu keluarga ke tangan keluarga lain, dengan perempuan yang berdiri di tengahnya sebagai barang yang diserahterimakan. Ia tidak akan berdiri di tengah upacara semacam itu untuk kedua kalinya.
"Tradisi yang tidak cocok dapat berhenti pada kami," kata Bian.
Ia mengatakannya langsung di depan ibunya, bukan lewat pesan, dan tidak menambahkan apa pun sesudahnya. Helena tidak menjawab malam itu. Ia menatap piringnya, membetulkan letak sendok yang sudah lurus, lalu berpindah membicarakan bunga. Ia juga tidak mengangkat persoalan tersebut lagi di kemudian hari, dan Dine memahami diamnya sebagai bentuk persetujuan yang paling jauh dapat diberikan perempuan itu.
Mereka juga mengurangi jumlah tamu, dan pengurangan itu ternyata menjadi bagian yang paling banyak menimbulkan telepon. Karyawan Emery tidak otomatis diundang berdasarkan jabatan, sesuatu yang selama puluhan tahun dianggap sebagai hak yang melekat pada kursi. Pelanggan klinik pun tidak dijadikan penonton; Dine menegaskan bahwa orang yang menitipkan hewannya kepadanya bukan pengisi kursi cadangan. Daftar akhir muat dalam dua halaman, dan setiap nama di dalamnya adalah orang yang benar-benar mereka kenal wajah dan suaranya. Bian membacanya sekali lagi sebelum tidur dan merasa lega dengan cara yang sulit ia jelaskan.
Di sesi konseling berikutnya, dengan jam dinding yang berdetak seperti biasa, Dine mengaku takut pernikahan menghidupkan kembali bayangan Banan. Ia mengatakannya sambil menatap lantai, dan Bian tidak menyela sedikit pun.
"Hari itu pernah hampir menjadi miliknya," katanya.
"Tidak," jawab konselor. "Hari itu milik Anda. Banan hanya bagian yang gagal menghormatinya."
Kalimat itu masuk seperti sesuatu yang selama ini berada di dekatnya tetapi tidak pernah ia ucapkan sendiri. Dine menuliskan kalimat tersebut di halaman belakang buku catatannya, dengan tangan yang sedikit terburu supaya tidak hilang. Ia membacanya lagi di dalam mobil, dan sekali lagi sebelum tidur, sampai kalimat itu terdengar seperti suaranya sendiri dan bukan suara orang lain yang meminjamkan keberanian kepadanya.
Pernikahan berikutnya bukan pengganti dari acara lama. Bukan tambalan, bukan pengulangan yang diperbaiki. Ia adalah keputusan baru bersama lelaki berbeda dan diri Dine yang juga telah berubah. Perempuan yang dahulu berdiri di ruang rias itu tidak sedang diselamatkan sekarang; ia sedang memilih, dengan mata terbuka, sesuatu yang seluruh syaratnya ia susun sendiri.